JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG

JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG
Masa Lalu Versus Calon Masa Depan


__ADS_3

Sepasang insan yang sedang diselimuti gairah bergumul di atas tempat tidur di kamar sebuah hotel. Mereka asyik menikmati percintaan mereka. Deru nafas berpacu dengan adrenalin karena aktivitas panas mereka, tanpa memikirkan jika mereka berdua adalah pasangan yang belum terikat dalam suatu ikatan pernikahan sah.


Kedua orang itu adalah Rey dan Joice. Setelah kepergok oleh Airin bersama Liliana dan Ambar, nyatanya hubungan Rey dan Joice tidak berakhir begitu saja. Rey sudah candu dengan service yang memuaskan yang diberikan oleh Joice. Sementara Joice, tentu saja tidak mungkin melepas ladang rupiahnya, karena jabatan Rey sebagai seorang manager.


"Honey, kapan kamu akan menikahiku? Kamu sudah bercerai empat bulan dengan mantan istrimu itu. Tapi, kita masih seperti ini saja!" keluh Joice ketika mereka saling mengatur nafas sesaat setelah aktivitas penuh dosa mereka berakhir dengan pelepasan.


"Sabarlah, Honey. Aku belum bicarakan hal ini dengan orang tuaku." Rey sepertinya masih menimbang-nimbang jika akan menikahi Joice, karena berita perceraian dirinya dengan Airin masih membuat orang tuanya syok dan belum bisa memaafkan kesalahannya.


"Honey, kamu itu laki-laki, tanpa restu dari orang tuamu pun, kita bisa menikah!" Joice kesal karena Rey terlihat tidak serius dengan janji Rey yang ingin menikahnya.


"Kamu harus sabar dulu, Honey." Rey meminta Joice agar tidak menekannya untuk segera menikahi wanita itu.


"Kamu ini serius tidak ingin menikahiku? Setiap aku tanya bilangnya nanti, sabar! Kalau kamu memang tidak serius ingin menikahi aku, sebaiknya kita berpisah saja! Biar aku bisa mendapatkan pria yang mau serius dan mau menikah denganku!" Joice merajuk dengan mengertak Rey.


"Honey, jangan seperti itu! Orang tuaku tahu jika alasan perceraianku dengan Airin karena aku berselingkuh denganmu. Kalau kita paksakan untuk menikah, orang tuaku semakin tidak mau menerimaku di rumah." Rey memberi alasan soal hubungannya dengan orang tuanya yang memburuk pasca perceraiannya dengan Airin.


"Ck, kamu kenapa takut banget sama orang tua kamu!?" Joice tidak suka karena Rey terlihat lemah pada orang tuanya sendiri.


"Honey, orang tuaku itu punya sebidang tanah seharga lima belas milyar. Kalau aku melawan mereka, yang ada mereka akan mencoret aku dari daftar pewaris keluarga. Jika seperti itu, aku tidak akan mendapat apa-apa." Rey menuturkan alasan utama tidak ingin terburu-buru menikah dengan Joice.


"Saat ini saja, aku tidak diijinkan ke rumah orang tuaku karena perceraianku kemarin. Kalau aku tetap memaksa menikahi denganmu, kamu mau, aku tidak mendapat bagianku?" Rey bahkan menakuti Joice agar Joice mengerti.


"Kamu bersabarlah, Honey. Cepat atau lambat, aku pasti akan menikahimu. Hanya menunggu waktu saja." Rey mencoba meyakinkan Joice agar wanita itu tidak terus menuntutnya.


***


Tok tok tok


Pintu ruang kerja Gagah diketuk dari luar hingga muncullah Sandi, marketing manager PT Bintang Departemen Store yang Gagah pimpin.


"Permisi, Pak." Sandi bermendekati Gagah.


"Ada apa, Pak Sandi?" Gagah merapatkan punggungnya ke sandaran kursi singgasananya.


"Siang ini rencananya saya ingin bertemu dengan perwakilan dari Sumber Rejeki Otomotif, Pak. Menurut rencana awal, hanya perwakilan dari pihak marketingnya saja yang akan datang berkunjung untuk survey tempat acara expo bulan depan, Pak. Tapi, teryata pihak Sumber Rejeki mengabari kalau bosnya akan turun langsung meninjau venue untuk expo, Pak." Pak Sandi memberitahu Gagah tentang perubahan rencana kunjungan PT Sumber Rejeki Otomotif, sebagai panitia pengadaan expo otomotif yang rencananya akan di adakan di hall Bintang Departemen Store.


"Apa Pak Gagah akan bertemu dengan pimpinan Sumber Rejeki?" lanjut Sandi.


"Kapan rencana pertemuannya?" tanya Gagah.


"Setelah makan siang ini, Pak. Sekitar jam setengah dua," jawab Sandi.


Gagah lalu menekan tombol di intercom lalu berbicara dengan sekretarisnya.


"Wi, ke ruangan saya sebentar." Gagah memanggil Dewi untuk menanyakan jadwalnya hari ini.


Dalam hitungan detik, Dewi sudah tiba di ruang kerja Gagah.


"Ada apa, Pak?" tanya Dewi saat masuk ke dalam ruangan Gagah


"Wi, hari ini saya ada jadwal apa saja?" tanya Gagah.


"Hari ini Bapak ada jadwal bertemu Pak Erwin dari PT. Bahana Samudra jam sebelas nanti, Pak. Setelah itu jam dua ada jadwal rapat evaluasi kepala cabang se wilayah Jabodetabek, Pak." Dewi menjelaskan jadwal kerja Gagah hari ini.


"Oke, tolong kamu panggilkan Pak Erlan kemari, Wi." perintah Gagah kemudian.


"Baik, Pak." sahut Dewi kemudian melaksanakan apa yang dititahkan Gagah kepadanya.


Satu menit kemudian, Erlan yang menjabat sebagai executive vice president sudah muncul di hadapan Gagah saat ini.

__ADS_1


"Bapak memanggil saya?" tanya Erlan kemudian melirik ke arah Sandi yang duduk di kursi depan meja Gagah. Dia pun menarik kursi di sebelah Sandi.


"Pak Erlan, hari ini ada rapat evaluasi dengan kepala cabang retail kita setelah makan siang. Sepertinya saya berhalangan hadir, karena Pak Sandi bilang, pimpinan PT. Sumber Rejeki Otomotif sebagai panitia cara expo otomotif ingin datang kemari. Jadi saya tugaskan Pak Erlan untuk memimpin rapat evaluasi nanti." Gagah menjelaskan tugas yang diberikan kepada Pak Erlan serta alasannya dia tidak dapat menghadiri rapat tersebut.


"Baik, Pak." sahut Pak Erlan, "Kapan jadwal event expo, Pak Sandi?" tanya Pak Erlan. Dia sudah tahu soal even tersebut, tapi dia tahu jadwal pastinya.


"Bulan depan, Pak Erlan. Hari ini pimpinan PT. Sumber Rejeki ingin melihat langsung venue yang akan digunakan." Sandi menerangkan pada Pak Erlan. Dan Pak Erlan merespon dengan menganggukkan kepalanya.


"Saya permisi dulu, Pak." Setelah urusannya dianggap beres, Sandi berpamitan meninggalkan ruang kerja Gagah, sementara Gagah dan Pak Erlan melanjutkan perbincangan seputar urusan perusahaan.


***


Gagah hanya punya waktu sekitar setengah jam untuk beristirahat setelah menyelesaikan pertemuan dengan pimpinan PT. Bahana Samudra, karena tiga puluh menit ke depan dia harus bertemu dengan pimpinan PT. Sumber Rejeki Otomotif yang mendadak ingin berkunjung ke Bintang Departement Store.


Setelah menyelesaikan sholat Dzuhur. Gagah mencoba menghubungi Tante Mira, karena dia ingin berbicara dengan Luna. Karena kemarin dia berjanji pada Luna untuk datang kembali menemui Luna.


"Assalamualaikum, Tante." sapa Gagah saat panggilan teleponnya tersambung dengan Tante Mira.


"*Waalaikumsalam, Gagah*." sahut Tante Mira.


"Apa Luna tidur, Tante? Maaf sekali saya tidak bisa menemui Luna, karena baru selesai bertemu dengan klien, dan sebentar lagi harus bertemu klien yang lain, Tante." Gagah menyampaikan penyesalannya karena telah mengingkari janjinya bertemu Luna siang ini.


"Luna sedang bermain di kamarnya. Tidak apa-apa kalau kamu memang sibuk, Gagah. Jangan sampai janji pada Luna mengganggu aktivitas pekerjaan kamu." Tante Mira memahami kesibukan Gagah sebagai Direktur Utama di perusahaan yang dikelola oleh pria itu.


"Apa saya bisa video call dengan Luna, Tante?" Gagah minta ijin merubah panggilan teleponnya.


"Oh, silahkan." Tante Mira mengijinkan.


Gagah pun lalu merubah sambungan teleponnya menjadi Video call.


"Om Gagah."


"Halo, anak cantik. Luna sedang apa?" sapa Gagah menyapa Luna.


"Luna lagi main cama Mona cama Nola, Om." Luna memperlihatkan boneka pemberian Gagah.


"Luna sudah makan belum?" tanya Gagah kemudian.


"Udah, Om. Om Gagah udah makan belum?" Kini Luna yang bertanya pada Gagah.


"Om sudah makan, Luna." jawab Gagah.


"Om mau ke cini lagi?" Sepertinya Luna ingat akan janji yang diucapkan oleh Gagah, jika akan menemuinya lagi siang ini.


"Om hari ini kerjanya banyak sekali, Luna. Nanti saja kalau Om pulang kerja, Om ke sananya." Gagah akhirnya berjanji akan menemui Luna setelah pulang kerja.


"Om kayak Papa Ley, keljanya banyak. Tapi Papa Ley keljanya jauh jadi pulangnya lama." Luna membandingkan Gagah dan Rey dengan memperlihatkan wajah sedih, karena sepertinya anak cilik itu merindukan sosok Papanya.


Gagah melihat kesedihan dari wajah Luna saat mengatakan Papanya lama tak pulang. Gagah tahu, jika itu hanya alasan yang diberikan oleh Airin agar Luna tidak terus merengek ingin bertemu sang Papa.


"Luna suka donut tidak? Nanti pulang kerja, Om belikan Luna donut, ya!" Gagah segera mengalihkan perhatian Luna agar tidak terus bersedih memikirkan Papanya.


"Mau, Om. Luna mau yang lasa tilamisu cama coklat, Om. Luna mau dua donutnya, Om. Hihihi** ..." Luna terkekeh saat menyebut jumlah donut yang dia inginkan.


"Wah, Luna makannya banyak, ya?" Tawa Luna tertular pada Gagah.


"Hihihi ..." Terlihat Luna menutupi mulutnya.


"Ya sudah, nanti Om belikan untuk Luna," janji Gagah. "Oh ya, Luna tidak tidur siang?" tanya kemudian.

__ADS_1


"Nanti, Om. Kata Nenek jam dua bobonya," sahut Luna.


Tok tok tok


Gagah menoleh ke arah pintu saat mendengar suara ketukan pintu bersamaan dengan Sandi yang muncul dari pintu.


"Maaf, Pak. Tamu dari Sumber Rejeki sudah datang." Sandi memberi kabar pada Gagah.


Gagah memberi isyarat dengan gerakan tangannya agar Sandi menunggu. Sandi memahami kode yang diberikan oleh Gagah sehingga dia pun keluar kembali dari ruangan Gagah.


"Ya sudah, nanti Luna bobo siang kalau sudah jam dua, ya! Sekarang Om tutup dulu teleponnya, Om mau kerja lagi. Luna bisa kasih teleponnya ke Nenek lagi?" Gagah ingin mengakhiri sambungan telepon dengan Luna.


"Iya, Om." Luna kemudian menyerahkan kembali ponsel milik Tante Mira.


"Tante, saya tutup dulu teleponnya. Insya Allah pulang kerja nanti saya mampir ke sana," janji Gagah.


"Kalau memang kamu sedang repot tidak usah dipaksakan, Gagah." Tante Mira tidak enak jika kunjungan menemui Luna mengganggu waktu kerja Gagah.


"Tidak apa-apa, Tante." sahut Gagah, tidak mempermasalahkan waktu dia yang tersita untuk memperhatikan Luna sebagai upaya untuk mendapatkan hati Airin. "Saya tutup dulu, Tante. Tamu saya sudah datang. Assalamualaikum ...."


"Waalaikumsalam ..." Setelah Tante Mira menjawab salam, Gagah pun segera mengakhiri panggilan video call nya.


Gagah lalu bangkit dari kursi dan berjalan ke luar ruangannya menemui Sandi.


"Bagaimana, Pak Sandi?" Gagah mendapati Sandi sedang berbincang dengan dua orang pria di sofa tunggu depan ruangan kerjanya. Dia pun lalu menghampiri tamunya.


"Pak Gagah, perkenalkan ini Pak Yoseph, pimpinan PT. Sumber Rejeki Otomotif." Sandi memperkenalkan bos dari perusahaan otomotif tersebut.


"Saya Gagah, Pak Yoseph. Senang bisa bertemu langsung dengan Pak Yoseph." Gagah menyalami dan menyapa Yoseph.


"Sama-sama, Pak Gagah. Saya juga senang bisa bertemu dengan Anda," sahut Yoseph.


Gagah lalu menoleh pria yang mendampingi Yoseph.


"Ini Pak Rey, marketing manager di perusahaan Pak Yoseph ini, Pak." Sandi lalu memperkenalkan Rey kepada Gagah.


"Saya Rey, Pak Gagah. Senang bisa bertemu dengan Pak Gagah." Rey menyapa Gagah dan mengulurkan tangannya, mengajak Gagah bersalaman.


"Sama-sama, Pak Rey." Gagah membalas uluran tangan Gagah. Gagah tidak menyadari jika pria yang berjabatan tangan dengannya saat ini adalah mantan suami dari Airin. Gagah terlalu fokus mencari cara untuk mendekati Airin, sehingga dia tidak sempat kepikiran mencari tahu sosok pria yang menjadi masa lalu dari wanita yang sudah mencuri hatinya saat ini.


Baik Gagah maupun Rey sama-sama tidak menyangka jika mereka saling terkait dengan Airin. Mereka berdua ibarat pria masa lalu versus calon masa depan bagi Airin.


"Mari silahkan masuk, Pak Yoseph, Pak Rey ..." Gagah mempersilahkan kedua tamunya itu untuk masuk ke dalam ruangan kerjanya.


"Terima kasih, Pak Gagah."


Kedua tamu Gagah dan Sandi kemudian masuk ke dalam ruangan kerja Gagah, dan melanjutkan percakapan mereka di sana.


Visual Luna



*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading❤️


__ADS_2