
Setelah mendapatkan kepastian dari Airin akan datang di acara yang direncanakan Tegar, Gagah langsung menghubungi Tegar untuk segera mempersiapkan acara dinner itu akhir pekan ini.
"Si al, dia malah memerintah aku!" umpat Tegar setelah mengakhiri panggilan telepon dari Gagah.
"Ada apa, Mas?" tanya Putri dari tempat tidur ketika melihat suaminya menggerutu.
"Adik iparmu itu, lho!" keluh Tegar menaruh ponselnya di atas nakas, lalu beranjak ke tempat tidur dan bergabung dengan Putri.
"Adik ipar aku itu, ya adiknya Mas, kan!?" Putri memutar bola matanya menanggapi ucapan sang suami. "Memangnya kenapa dengan Gagah?" tanya Putri kemudian.
"Dia sedang tergila-gila dengan janda muda itu," ucap Tegar, masih saja menyebut Airin dengan sebutan janda muda.
"Airin maksud Mas?" tanya Putri.
"Iya." Tegar menganggukkan kepalanya.
"Memangnya kenapa dengan mereka?" tanya Putri. Putri sudah mendengar informasi dari Mama mertuanya jika Gagah sedang berusaha mendekati Airin. Hubungan antara Widya dengan Putri dan Ayuning tidak sekedar hubungan antara Ibu mertua dengan menantu, tapi mereka sudah seperti sahabat. Apalagi dalam misi mencarikan jodoh untuk Gagah, Widya banyak minta pendapat kepada kedua menantunya itu.
"Gagah sedang berusaha mendekati Airin, tapi wanita itu nampaknya ogah-ogahan," cerita Tegar.
"Lho, bukannya adik Mas itu yang ogah-ogahan?" Putri berpura-pura tidak tahu.
"Itu hanya kamuflase." Tegar mengibaskan tangannya ke udara. "Di depan kita dia menolak, di belakang kita dia malah gercep memburu Airin," lanjutnya mencibir sikap Gagah.
Tegar lalu melirik ke arah Putri lalu berkata, "Atas permintaan Gagah, kamu jangan bilang-bilang dulu soal hal ini ke Mama, kalau dia sedang berusaha mendekati Airin." Kedekatan Mamanya dengan Putri membuat Tegar khawatir jika istrinya itu akan mengatakan kedekatan Gagah dengan Airin kepada Widya.
"Orang Mama sudah tahu, kok!" sahut Putri.
"Mama sudah tahu? Tahu dari mana?" Tegar terkesiap mengetahui Mamanya sudah mencium apa yang dilakukan oleh Gagah.
"Dari Pak Birin. Kata Mama, Pak Birin cerita kalau Gagah pernah menyuruh dia mengantar motor Airin ke kantor. Terus Tantenya Airin itu bilang kalau Gagah juga sering datang ke rumahnya untuk mengantar Airin ke kantor, Tapi, Mama sengaja mendiamkan saja, biar Gagah berpikir kalau Mama itu tidak tahu apa yang dilakukan oleh Gagah di belakang Mama," cerita Putri.
Tegar menyeringai mengetahui ternyata sang Mama tidak bisa dibodohi oleh Gagah. Dia pun menertawakan kekonyolan sikap adik bungsunya itu.
"Oh ya, Put. Kamu tolong koordinasi sama Mbak Ayu. Weekend ini kita mengadakan dinner bersama. Kita, Mas Bagus dan Mbak Ayu, serta Gagah dengan Airin. Tolong cari tempat yang nyaman. Usahakan jangan sampai gagal acaranya." Tegar mengatur istrinya menyiapkan acara untuk akhir pekan ini.
"Hanya kita berenam? Papa sama Mama?" tanya Putri heran karena kedua mertuanya tidak masuk daftar yang disebut oleh Tegar.
"Ini acara anak muda, orang tua cukup memantau di belakang." Tegar terkekeh menyebut alasannya tidak mengundang Papa dan Mamanya.
"Ya sudah, besok aku bicara sama Mbak Ayu," sahut Putri.
Tegar lalu melingkarkan tangannya ke tubuh Putri lalu menciumi wajah istrinya itu.
"Kamu makin lama makin cantik, Put." Tegar mulai merayu sang istri.
"Kalau aku tidak cantik, nanti Mas Tegar cari wanita lain yang lebih cantik." Putri menyindir perilaku sang suami ketika mereka belum menikah.
"Hahaha, tidaklah, Put. Aku ini sudah bertobat. Malu sama anak-anak kalau masih seperti dulu." Tegar terkekeh, lalu mengungkung tubuh istrinya itu untuk melakukan aktivitas yang lebih in tim layaknya pasangan suami istri.
***
Keesokan harinya, Ayuning sudah datang ke rumah mertuanya untuk membicarakan acara dinner bersama Airin. Ayuning dan Putri adalah menantu yang pro terhadap ibu mertua, sehingga mereka tidak ketinggalan melaporkan kepada Widya.
"Mama heran, Mama yang mempunyai ide menjodohkan mereka, malah Mama yang diasingkan oleh Gagah." Widya tidak dapat menutupi rasa kecewanya terhadap Gagah, karena anaknya itu masih saja merahasiakan kedekatannya dengan Airin dari dirinya.
"Gagah mau kasih kejutan ke Mama mungkin, Ma. Atau, mungkin saja Gagah malu, karena dulu sempat menolak-nolak Airin." Ayuning mencoba membesarkan hati sang Mama mertua.
"Kenapa mesti malu? Kalau Gagah sekarang bisa menerima Airin, Mama justru senang, kok!" ungkap Widya.
"Mama sabar saja, kita tunggu sampai di mana Gagah akan menutupi semua ini dari Mama. Tapi, aku yakin, secepatnya dia akan kasih tahu Mama." Ayuning menyakinkan Mamanya jika tak lama lagi Gagah juga akan terbuka soal hubungannya dengan Airin.
"Oh ya, kalian sudah dapat tempat untuk dinner nya?" tanya Widya.
"Sudah, Tegar bilang sudah dapat cafe untuk ketemu Airin nanti," jawab Ayuning.
"Mama titip Airin kalau begitu, Yu. Dia pasti merasa canggung berada di tengah-tengah kalian. Apalagi ada Tegar di sana. Mama takut omongan anak itu tidak terkontrol." Widya mengkhawatirkan Airin.
"Iya, Ma." sahut Ayuning, yang siap menerima anggota baru dalam keluarga besar suaminya.
***
"Airin ..." Airin yang baru keluar dari toilet terkesiap saat terdengar suara seseorang memanggil namanya dari arah toilet pria.
"Oh, Pak Leo. Ada apa, Pak?" tanya Airin melihat Leo berdiri di depan toilet pria.
"Saya ingin bicara dengan kamu," ucap Leo kemudian.
"Bicara apa ya, Pak?" tanya Airin dengan kening berkerut.
"Saya tidak bisa bicara di sini. Bagaimana kalau nanti makan siang?" Leo secara terang-terangan mengajak Airin makan di bersama istirahat nanti.
"Hmmm, maaf, Pak. Saya tidak bisa. Kalau memang Pak Leo ingin bicara, bicara sekarang saja, Pak." Airin menolak. Tentu dia tidak ingin akan timbul gosip lagi di lingkungan kantornya kalau dia pergi dengan Leo.
"Kamu sekarang tinggal di mana? Bagaimana jika saya nanti berkunjung ke tempat kamu saja?" Leo tetap berusaha mencari cara agar bisa mendekati Airin, meskipun Airin merasa tidak nyaman dengan sikap Leo saat ini.
"Saya tinggal di rumah keluarga saya, Pak." sahut Airin, tanpa mau menyebut tinggal di mana.
"Rumah keluarga kamu di daerah mana?" Leo penasaran di mana tempat tinggal Airin saat ini.
"Hmmm ...."
"Eh, Pak Leo." Tiba-tiba salah seorang karyawan wanita hendak masuk ke dalam toilet. Dia terkejut saat melihat Leo berbincang dengan Airin di depan toilet.
"Permisi, ya, Pak." Dengan menahan senyuman, karyawan itu masuk ke dalam toilet wanita. Sudah dapat ditebak, apa yang ada di kepala karyawan itu melihat Airin dan Leo berduaan.
"Saya duluan, Pak." Tak ingin semakin banyak karyawan yang melihat interaksi mereka, Airin buru-buru pergi dari hadapan Leo.
"Kenapa, Rin?" tanya Fany saat melihat Airin terlihat terburu-buru berjalan ke arah mejanya.
"Pak Leo ingin mengajak aku makan siang, Fan. Nanti istirahat, aku ikut makan siang sama kamu saja, ya?" Airin meminta bantuan Fany. Dia tidak ingin dipusingkan lagi dengan pria-pria yang berniat mengejarnya.
__ADS_1
"Mau apa Pak Leo ngajak kamu makan siang, Rin? Jangan-jangan dia mau mendekati kamu lagi!" Fany curiga jika tujuan Leo mendekati Airin adalah ingin mengambil hati Airin, karena berita perceraian Airin sudah menjadi rahasia umum di sana.
"Aku tidak tahu, Fan. Tapi aku takut kalau memang apa yang kamu katakan tadi benar." Airin khawatir dugaan Fany menjadi kenyataan.
"Ya sudah, nanti kita istirahat keluar bersama saja." Fany memang mendapat tugas dari Gagah untuk menjaga dan mengawasi siapa pun yang akan menggangu dan mendekati Airin. Karena itu dia akan menghalangi Leo yang berusaha mengambil kesempatan berduaan dengan Airin. Apalagi Gagah sendiri sudah mengirimkan sejumlah dana sebagai bonus untuknya karena bersedia membantu Gagah mengawasi Airin.
"Thanks, Fan." Airin menarik nafas lega karena Fany sudah mau mengerti posisinya.
Sementara di kantornya ...
Gagah menahan langkahnya saat mendengar ponselnya berbunyi. Dia melirik ponselnya, untuk mengetahui siapa yang menghubunginya.
"Selamat siang, Pak. Saya Fany. Saya ingin memberi informasi kepada Bapak. Tadi Pak Leo, head teller di sini ingin mengajak Airin makan siang. Pak Leo itu dulu menyukai Airin, Pak." Ternyata Fany yang menghubungi Gagah.
"Oke, tolong usahakan agar orang itu tidak sampai mengajak Airin pergi. Saya akan ke sana nanti." Gagah langsung membalas pesan dari Fany, begitu tahu ada pria lain yang sedang mengejar Airin.
"Aku harus cepat mendapatkan Airin, kalau tidak ingin pria lain merebut hati Airin lebih dahulu." Rahang Gagah mengeras. Dia tidak suka mengetahui ada pria lain yang berusaha memiliki Airin, sehingga dia harus cepat menaklukkan hati Airin.
***
"Airin ...!" Suara Leo menghentikan langkah Airin dan Fany yang hendak keluar makan siang.
"Fan, saya ingin bicara berdua dengan Airin." Leo berharap pengertian Fany, agar Fany mau memberikan waktu untuknya bersama Airin.
Airin semakin mengencangkan cengkraman tangannya di lengan Fany, berharap Fany tidak meninggalkannya.
"Mau bicara apa ya, Pak? Maaf, soalnya kami ada acara." Fany berbohong dengan mengatakan jika mereka punya acara untuk menghalangi Leo yang ingin mendekati Airin.
"Kalian ingin makan di mana? Saya ikut saja dengan kalian." Leo seakan memaksa ingin bersama dengan Airin.
Airin dan Fany saling berpandangan melihat Leo yang ngotot berharap bisa bergabung bersama mereka.
Tin tin
Suara klakson mobil terdengar membuat mereka bertiga menolehkan pandangan ke arah sebuah mobil yang baru masuk ke area bank dan berhenti di lobby Central Bank.
Airin terkesiap saat melihat mobil Gagah yang muncul saat ini. Dia tidak tahu harus bersyukur atau semakin pusing dengan kemunculan Gagah di hadapannya saat ini.
"Airin, ayo ...!" Pintu mobil dibuka dari dalam bersaman dengan suara Gagah yang terdengar.
"Rin, kamu sudah dijemput, tuh!" Fany menarik tangan Airin, dan menyuruh Airin masuk ke dalam mobil Gagah.
"Lebih baik kamu ikut Pak Gagah daripada diburu Pak Leo terus!" bisik Fany, agar Airin segera naik ke mobil Gagah.
Airin akhirnya menuruti apa yang diminta oleh Fany. Sebenarnya dia tidak ingin bersama salah satu dari Gagah maupun Leo. Namun, pilihan ikut mobil Gagah mungkin lebih baik, daripada dia harus bersama Leo hingga dapat menimbulkan gosip baru.
"Daaaggg, Rin." Setelah menutup pintu mobil Gagah, Fany melambaikan tangannya, sampai akhirnya mobil yang dikendarai Gagah meninggalkan Central Bank dan juga Leo yang terlihat kecewa berat karena gagal mendekati Airin. Apalagi mobil yang membawa Airin termasuk mobil mewah, dia yakin jika orang yang membawa Airin bukanlah orang sembarangan.
"Pria itu siapa, Fan?" Merasa penasaran dengan sosok pria yang membawa Airin pergi, Leo pun bertanya kepada Fany, karena dia mengira jika Fany mengenal pria yang membawa mobil mewah itu.
"Itu ... itu calonnya Airin, Pak." Fany sengaja menyebut Gagah sebagai calon dari Airin, agar Leo mundur dengan niatnya mendekati Airin.
Mendengar penjelasan Fany, Leo seketika terperanjat tak percaya. Airin baru saja bercerai, dan sekarang Airin telah mempunyai calon pendamping yang baru.
"Namanya juga jodoh, Pak!" jawab Fany masih meladeni pertanyaan Leo.
"Apa kamu kenal siapa calonnya Airin itu, Fan?" tanya Leo penasaran.
"Saya tidak terlalu kenal, Pak. Tapi, kalau tidak salah, dia itu seorang bos," ujar Fany, semakin membuat Leo panas.
"Saya duluan, Pak." Fany berpamitan meninggalkan Leo, daripada dia harus melayani pertanyaan-pertanyaan Leo yang lainnya.
Sedangkan di dalam mobil Gagah, Airin menghela nafas panjang. Tidak pernah terpikirkan dalam benaknya jika dia berada dalam posisi seperti saat ini, dikejar-kejar oleh dua orang pria ketika dia baru saja berpisah dengan suaminya, seolah tidak ada jeda untuk dirinya bernafas lega.
"Apa pria tadi juga sedang berusaha mengambil hatimu?"
Airin langsung menolehkan pandangan ke arah Gagah, saat Gagah menanyakan soal Leo. Dia tidak tahu, bagaimana Gagah punya pendapat seperti itu? Walaupun harus dia akui ternyata pendapat dari Leo itu benar.
"Sekarang kamu tahu alasannya kenapa saya harus bergerak cepat, kan? Saya tidak ingin didahului oleh pria lain!" Gagah menegaskan jika dia tidak akan memberi celah kepada siapa pun yang berusaha mendekati Airin.
"Saya mohon kamu mempertimbangkan niat baik saya. Tetapkan hati kamu, agar tidak ada lagi pria-pria lain yang ingin mendekati kamu?" Gagah meminta Airin cepat mengambil keputusan.
Airin terdiam, dia tidak punya jawaban yang tepat untuk berargumentasi dengan Gagah, karena pria itu terlalu pintar berkata-kata.
***
Airin mencoba menenangkan Luna yang merengek. Saat melihat Airin berdandan dan memakai pakaian rapih, Luna merengek minta ikut, padahal Gagah mengatakan jika ini pertemuan antara dirinya bersama kakak dan kakak ipar Gagah tanpa membawa anak-anak mereka.
"Luna, Luna tidak boleh menangis. Mama mau pergi bertemu orang, bukan untuk jalan-jalan. Lagipula Mama pulangnya pasti malam." Airin memberi pengertian agar putrinya itu mengerti.
"Ndak mau, Luna mau ikut Mama, hiks ... hiks ...."
"Mbak, Kak Gagah sudah datang." Suara Feby dari pintu kamar memberitahukan jika Gagah sudah tiba dan menunggu di ruang tamu.
"Lho, kenapa Luna nangis?" tanya Feby mendekati keponakannya.
"Om Gagah ...!" Mendengar nama Gagah disebut oleh Feby, Luna langsung berlari ke luar kamar Airin.
"Luna jangan lari-lari!" Feby dan Airin berlari mengejar Luna, karena khawatir Luna akan terjatuh di tangga.
"Luna awas nanti jatuh!" Feby lebih cepat menangkap tubuh Luna.
"Om Gagah ...! Hiks ..." Masih dengan isak tangis, Luna berteriak memanggil Gagah yang berbincang dengan Om Fajar dan Tante Mira.
"Luna kenapa menangis?"
"Luna kenapa, Sayang?"
"Cucu Kakek kenapa?"
Gagah, Tante Mira dan Om Fajar terkejut melihat Luna yang terisak. Tante Mira bahkan langsung menghampiri Luna dan mengambil Luna yang berada di tangan Feby. Sementara Airin turun di belakang Feby.
__ADS_1
"Kenapa Luna nangis?" tanya Tante Mira mengusap air mata Luna.
"Luna mau ikut Mama cama Om Gagah pelgi, Nek. Tapi cama ndak boleh. Hiks ... hiks ..." Luna bercerita dengan tersedu-sedu melirik Airin yang mendesah melihat anaknya merengek.
"Mama sama Om Gagah itu mau ada keperluan, Sayang. Luna di sini saja sama Nenek, sama Kakek dan Tante Feby, ya!?" Tante Mira juga tidak mengijinkan Luna ikut, karena Gagah mengajak Airin untuk saling mengenal dengan keluarga dan juga ipar Gagah.
"Luna mau ikut pokoknya!" Luna lalu menoleh dan merentangkan tangannya ke arah Gagah, meminta pria itu membantunya.
Melihat Luna terus saja menangis, Gagah lalu bangkit dan mendekat ke arah Luna lalu mengambil Luna dari Tante Mira.
"Luna mau ikut sama Om?" tanya Gagah, melanjutkan apa yang tadi dilakukan oleh Tante Mira dengan menyeka air mata Luna.
"Iya, Om." Luna menganggukkan kepala.
"Kalau Luna mau ikut, Luna tidak boleh menangis. Masa anak pintar menangis? Luna 'kan anak pintar, jadi tidak boleh menangis." Gagah tak tega melihat Luna sampai menangis tersedu.
"Sebaiknya Luna di sini saja, Nak Gagah. Takutnya menganggu acara kalian." Om Fajar juga sependapat dengan istrinya.
"Tidak apa-apa, Om. Luna tidak mengganggu, kok!" tepis Gagah.
"Luna ganti baju dulu sama Mama, ya! Nanti kita pergi bersama." Gagah menurunkan Luna agar ikut dengan Airin untuk mengganti pakaiannya.
***
"Maafkan Luna karena mengacaukan acaranya, Pak." Ketika di dalam mobil menuju tempat acara makan malam bersama keluarga Gagah, Airin menyampaikan permohonan maafnya, karena dia terpaksa membawa Luna yang merengek minta ikut.
Gagah menoleh ke arah Luna yang duduk di pangkuan Airin dengan boneka Mona di tangannya.
"Siapa yang mengacaukan acara? Luna itu satu paket dengan kamu. Kalau mau sama Mamanya, masa anaknya ditinggalin!?" Gagah mengusap kepala Luna membuat Luna menoleh ke arah Gagah.
Ucapan Gagah membuat Airin terdiam. Dia dapat merasakan jika Gagah memang berusaha keras mendapatkan hatinya melalui Luna. Banyak bukti yang ditunjukkan oleh Gagah, namun entah mengapa dia masih terlihat ragu untuk menerima Gagah.
Airin tiba-tiba teringat soal sapu tangan milik Gagah yang dia simpan di tasnya. Dia pun mengambil sapu tangan itu lalu menyerahkannya kepada Gagah.
"Ini milik Bapak. Kemarin tertinggal," ujarnya.
Gagah menoleh sepintas sapu tangan miliknya, lalu berkata, "Oh, terima kasih." Gagah mengambil sapu tangan itu dari tangan Airin dengan tangan kirinya, sementara tatapannya mengarah ke jalanan karena dia sedang berkendaraan, hingga dia tidak sengaja justru menyentuh tangan Airin.
Airin terkesiap saat Gagah menyentuh tangannya, hingga membuat dia menarik tangannya dari genggaman tangan Gagah dan meninggalkan sapu tangan itu di tangan Gagah.
"Oh, maaf." Gagah segera minta maaf karena menyadari kesalahannya.
Airin langsung melempar pandangan ke luar jendela karena tiba-tiba saja hatinya berdebar kencang karena sentuhan tak sengaja yang dilakukan Gagah tadi.
Sekitar empat puluh menit kemudian, mobil yang dikendarai Gagah memasuki halaman rumah keluarga Prasetyo Hadiningrat.
Gagah turun dari mobil terlebih dahulu lalu membukakan pintu mobil untuk Airin dan membantu Luna turun.
Airin kemudian turun setelah Luna diangkat oleh Gagah dari pangkuannya. Airin menatap rumah keluarga Gagah. Dia tidak menyangka akan kembali berkunjung ke rumah orang tua Gagah, membuatnya sedikit grogi. Dan Airin justru mengira jika acara malam malam yang dikatakan Gagah diadakan di rumah tersebut.
"Ayo, masuk! Kita temui Papa Mamaku dulu." Gagah mengajak Airin masuk ke dalam rumah orang tuanya, sementara Luna dia biarkan duduk di lengannya.
"Ini rumah orang tua Om Gagah, Luna." Gagah menjelaskan pada Luna.
"Olang tua itu apa, Om?" tanya Luna tidak paham maksud kata orang tua.
"Orang tua itu Papa dan Mamanya Om Gagah." Gagah menarik tanpa tenaga hidung Luna karena gemas.
"Lumah Papa Mama Om Gagah besal sih!?" Luna terkagum dengan rumah keluarga Gagah, membuat Gagah gemas dengan tingkah bocah itu lalu mencium pipi chubby Luna.
"Assalamualaikum ..." Gagah membuka pintu rumah dan menyapa orang yang ada di rumah itu.
"Waalaikumsalam, Mas." Bi Junah berlari menghampiri dan menutup pintu rumah kembali.
Bi Junah terkesiap saat melihat Gagah membawa Airin. Dia mengembangkan senyuman karena ikut merasa bahagia melihat anak majikannya itu datang bersama Airin. Apalagi saat melihat Gagah menggendong anak kecil lucu di tangannya.
"Papa Mama ada di mana, Bi?" tanya Gagah.
"Bapak sama Ibu ada di ruang keluarga, Mas." Bi Junah menunjukkan di mana orang tua Gagah berada.
"Oh, makasih, Bi." Gagah lalu menoleh ke arah Airin. "Ayo, kita ke ruang keluarga!" ajak Gagah kembali pada Airin yang kemudian mengikuti langkah Gagah di belakangnya.
"Assalamualaikum, Pa, Ma." sapa Gagah ketika menemui orang tuanya di rumah keluarga.
"Waalaikumsalam ..." sahut Prasetyo dan Widya bersamaan seraya menoleh ke arah Gagah.
"Lho, Airin, Gagah, Luna?" Widya terkejut dengan kedatangan Gagah yang membawa Airin beserta Luna. Widya bahkan langsung bangkit dan menghampiri Airin.
"Apa kabar, Tante, Om?" Airin menyapa Widya dengan mencium tangan Widya dan Prasetyo secara bergantian.
"Alhamdulillah, baik. Kamu sendiri bagaimana, Airin?" Widya balik bertanya.
"Alhamdulillah, sehat juga, Tante." sahut Airin.
"Halo, Luna ..." Widya kini menyapa Luna. "Luna masih ingat Nenek tidak?" tanya Widya membelai wajah Luna.
"Luna, ayo kasih salam Nenek sama Kakek." Airin menyuruh Luna bersikap santun kepada orang yang lebih tua, hingga Luna langsung melakukan apa yang diperintahkan oleh Mamanya.
"Kamu mau bawa Airin kemari, kok tidak bilang-bilang sama Mama dulu, Gah? Kalau tahu kamu mau mengundang Airin, Mama suruh Darsih sama Junah masak yang banyak," ujar Widya.
Apa yang dikatakan oleh Widya membuat Airin terheran. Bukankah dia diundang oleh Gagah untuk makan malam, lalu kenapa orang tua Gagah bicara seperti itu, seolah tidak tahu rencana kedatangannya kemari.
"Kami ada acara dengan Mas Bagus dan Mas Tegar beserta istri mereka di luar, kok, Ma." jawab Gagah.
Jawaban yang diberikan oleh Gagah, seolah menjawab apa yang ditanyakan oleh Airin dalam hati tadi.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ...
Happy Reading ❤️