JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG

JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG
Berharap Rujuk Kembali


__ADS_3

Airin tidak bisa melarang dan menghalangi Luna yang berlari ke arah Rey, karena bagaimanapun juga Rey adalah Papa dari Luna. Tapi, dia tidak mengharapkan Luna bertemu dengan Rey ketika Rey sedang bersama Joice. Sebab dia yakin, jika Joice mempunyai niat tidak baik padanya dan juga Luna. Apalagi tadi Joice sempat memperkenalkan dirinya sebagai calon Mama sambung Luna pada putrinya.


Airin kini menatap tajam ke arah mantan suaminya yang terkejut melihat keberadaanya di sana.


"Luna?" Rey menyerahkan baki berisi makanan dan minuman kepada Joice, lalu dia menggendong, memeluk dan menciumi Luna.


"Papa Luna kangen Papa ..." Luna merasakan rindu yang teramat dalam pada Papanya, hingga dia bergelayut manja dengan melingkarkan tangan mungilnya di leher Rey.


"Papa juga kangen sama Luna," ujar Rey mengusap kepala putrinya.


"Papa keljanya udah celecai, ya?" tanya Luna merasa bahagia dapat berjumpa kembali dengan Papanya.


Sedangkan Joice yang merasa diacuhkan oleh Rey langsung mencebikkan bibirnya. Dia kemudian menaruh makanan di atas meja kemudian melingkarkan tangannya di pinggang Rey.


"Honey, kamu tidak ingin mengenalkan aku pada Luna?" Bahkan Joice pun ikut bergelayut manja pada Rey.


Melihat pemandangan yang makin membakar hatinya, Darah Airin semakin memanas. Tak mudah baginya melupakan apa yang pernah dilakukan mereka berdua, terutama saat dia memergoki mereka berdua sedang berbuat me sum di sebuah room karaoke.


"Ateu jangan peluk-peluk Papa Luna!" Tangan Luna memu kul Joice yang dia anggap mengganggu Papanya. Luna bersikap posesif, karena menurutnya, hanya Mamanya saja yang boleh melakukan hal tersebut kepada Rey.


"Anak kamu ini kasar sekali, Honey!" gerutu Joice menanggapi sikap Luna yang tak bersahabat dengannya tadi.


"Harusnya kamu kasih tahu dia, kalau aku ini calon istri kamu, Honey." Joice melirik Rey sambil memperlihatkan senyum licik pada Airin.


Airin mendengus dan melengos tak ingin melihat sikap Joice yang dia anggap memuakkan.


"Luna tidak boleh seperti itu, Sayang!" Rey menegur Luna dengan halus.


Menyadari situasi tak kondusif dengan keberadaan Rey dan Joice, Airin berjalan ingin mengambil Luna dari Rey. Dia tidak ingin melihat anaknya menjadi korban karena pertemuannya dengan Rey dan Joice.


Sementara itu, Gagah sudah selesai memesan makanan dan berjalan ke arah meja yang tadi sudah dia pilihan untuk dirinya, Airin juga Luna makan.


Gagah memicingkan matanya ketika melihat Luna berada di lengan seorang pria, apalagi saat dia tahu pria itu adalah Rey.


Dia pun menoleh ke arah Airin yang terlihat berjalan mendekati Luna dan Rey, dengan wajah kesal.


"Luna?" Gagah memaanggil nama Luna, karena dia ingin tahu bagaimana Luna bisa bersama Rey, dan apa hubungan antara Luna dengan pria itu.


Airin, Luna, Rey dan Joice seketika secara bersamaan menoleh ke arah Gagah.


"Om Gagah, ini Papa Luna." Seakan mengerti keheranan yang dialami oleh Gagah, Luna mengenalkan Rey sebagai Papaya kepada Gagah.


Gagah terkesiap dengan pengakuan Luna yang menyebut Rey sebagai Papa dari Luna. Seketika itu juga netranya mengarah pada Airin. Kini makin terlihat jelas aura kemarahan pada wajah Airin, apalagi wanita yang bersama Rey tadi kini bergelayut manja pada Rey.


"Pak Gagah mengenal putri saya?" Rey pun terkejut saat mengetahui Gagah dan Luna berinteraksi sangat baik, seolah sudah lama mengenal.


"Jadi Luna ini putri Anda, Pak Rey?" Gagah mengacuhkan pertanyaan Rey. Dia justru balik bertanya untuk mendapat kepastian jika pria yang dia anggap bodoh karena melepas wanita seperti Airin adalah Rey.


"Benar Pak Gagah, Luna ini putri saya. Hmmm, maaf, Pak Gagah sendiri kenal putri saya?" Rey masih penasaran, dari mana Gagah bisa mengenal putrinya.


"Tentu saja saya mengenal Luna, karena saya bersama Airin." Senyuman mengembang di bibir Gagah.


Rey kembali terkejut saat Gagah menyebut pria itu bersama Airin. Kini tatapannya mengarah pada mantan istrinya penuh dengan tanda tanya.


"Oh ya, bagaimana kalau kita berkumpul dalam satu meja ini? Kebetulan sekali bertemu dengan Pak Rey, jadi kita bisa saling berbincang." Sepertinya ada sesuatu yang direncanakan oleh Gagah, hingga Gagah minta duduk satu meja dengan Rey.


Airin mendelik pada Gagah, karena dia tidak setuju dengan usulan Gagah. Saat ini, justru dia tidak ingin berada dekat apalagi sampai satu meja dengan Rey dan Joice.


"Oh, tentu saja, Pak Gagah. Silahkan ..." Rey tak enak menolak permintaan Gagah. Dia lalu menurunkan Luna dan menggeserkan dua buah meja menjadi satu agar mereka dapat duduk berkumpul dalam satu meja.


Gagah menaruh baki berisi makanan, lalu menarik kursi untuk Airin.


"Duduklah, Airin." Gagah meminta Airin duduk di kursi yang sudah dia siapkan.


Sebenarnya Airin enggan mengikuti apa yang diminta oleh Gagah, namun dia tidak tahu harus menolak dengan alasan apa, hingga kembali dia hanya bisa pasrah menuruti perintah Gagah.


Rey memperhatikan Gagah yang memperlakukan Airin seperti pada pasangannya sendiri. Dia merasa semakin penasaran dengan hubungan antara Airin dengan Gagah.


Setelah menyediakan kursi untuk Airin, Gagah menyediakan kursi untuk Luna duduk. "Luna duduk di sini, dekat Om Gagah dan Papa Luna." Gagah kemudian mendudukkan Luna di tengah antara kursi yang akan didudukinya dan kursi Rey yang duduk di hadapannya.

__ADS_1


Saat ini Airin dan Gagah duduk sejajar, berhadapan dengan Joice dan Rey, sementara Luna duduk di sebelah Gagah dan Rey.


"Oh ya, Pak Rey. Kebetulan sekali kami bertemu dengan Pak Rey di sini, jadi kita bisa membicarakan apa yang kami rencanakan ke depannya,," ujar Gagah kemudian.


"Maaf, maksud Pak Gagah?" tanya Rey menatap penuh selidik, dia mulai mencium sesuatu hal yang dia anggap disembunyikan darinya.


"Kami ingin memberitahukan rencana pernikahan kami, Pak Rey."


Tiga orang dewasa yang ada di hadapan Gagah semuanya terperanjat dengan pengakuan Gagah, tak terkecuali Airin. Airin bahkan sampai memandang tak percaya, Gagah berani mengatakan hal yang sebenarnya belum dia setujui dan mereka rencanakan.


Airin tidak menduga, jika Gagah akan melakukan pengakuan yang sangat mengejutkan bagi semua orang. Namun, dia merasa jika Gagah sengaja mengatakan hal tersebut di hadapan Rey dan Joice.


Sedangkan bagi Rey, pengakuan Gagah ibarat petir yang menyambar di siang bolong. Dia tidak tahu bagaimana Airin bisa mengenal Gagah, sampai mereka merencanakan pernikahan, padahal Airin belum genap empat bulan bercerai darinya, dan karena dia juga yakin jika Airin sangat mencintainya.


Joice sendiri langsung melirik tajam ke arah Airin. Dia yang awalnya berencana membuat Airin cemburu karena dia bersama Rey, kini justru terbalik. Justru Rey lah yang terlihat kaget saat mengetahui Airin akan menikah dengan pria yang lebih tampan dari Rey. Apalagi nampak sekali Rey begitu menghormati Gagah, artinya pria yang bersama Airin saat ini bukanlah pria sembarangan.


"Saya mengatakan hal ini kepada Anda, karena Anda adalah Papa dari Luna," lanjut Gagah mengembangkan senyum puas karena telah berhasil memberi kejutan untuk Rey.


"Pak Gagah akan menikah dengan Airin?" Pengakuan Gagah sulit dipercaya dan diterima oleh Rey.


"Benar, Pak Rey. Anda tidak perlu khawatir, Pak Rey. Saya ingin menikahi Airin, sudan pasti saya akan menyanyangi Luna seperti saya menyanyangi anak sendiri." Gagah membelai kepala Luna yang asyik menikmati ice cream.


"Luna tadi senang tidak bermain sama Om?" Gagah sengaja bertanya pada Luna soal perasaan bocah cilik itu setelah mereka menghabiskan waktu sekitar satu jam di arena permainan anak.


"Cenang, Om. Nanti main pelosotan lagi cama Om cama Mama lagi ya, Om!" Luna yang tidak memahami apa yang terjadi pada orang tuanya justru mengatakan hal yang membuat suasa semakin memanas bagi Rey dan juga Joice. Namun, Gagah justru menikmati keterkejutan Rey dan wanita yang bersama Rey itu.


Gagah dapat melihat raut wajah kecewa dan cemburu yang terlihat dari wajah Rey, apalagi saat dia melihat rahang pria itu seketika mengeras ketika dia menyinggung sikap Luna yang dengan mudah dia taklukan.


Mendengar Airin akan menikah lagi dengan Gagah, membuat hati Rey panas Dia seakan tak terima dengan fakta yang diungkap Gagah tadi. Meskipun dirinya sudah bercerai resmi dengan Airin, nyatanya dia masih belum ikhlas melepas Airin. Hal itu tentu saja membuat Rey tidak rela jika ada pria lain yang ingin memiliki Airin.


"Hmmm, maaf, Pak Gagah. Saya agak terkejut dengan berita yang disampaikan oleh Bapak tadi. Sepertinya Pak Gagah dan Mamanya Luna sudah lama saling mengenal." Rey justru curiga jika selama ini Airin berselingkuh di belakangnya. Dia mengira jika Airin sengaja mencari kesalahannya hingga perceraian itu terjadi dengan alasan dirinya berselingkuh, padahal Airin sendiri pun melakukan hal yang sama di belakangnya.


"Anda salah, Pak Rey. Justru kami baru beberapa Minggu kenal. Kebetulan Mama saya dan Tantenya Airin bersahabat baik ketika muda. Mama saya dan Tante Mira merencanakan perjodohan kami," jelas Gagah mengatakan hal yang sebenarnya terjadi, kenapa dia bisa sampai mengenal Airin.


Rey tertawa kecil mendengar jawaban Gagah. "Wah, sulit dipercaya. Pak Gagah ini seorang CEO perusahaan besar, sangat tampan dan sangat berwibawa. Saya tidak menyangka jika Pak Gagah ini masih mau menjalani perjodohan oleh keluarga Pak Gagah." Rasa cemburu Rey tidak salah ditutup, hingga dia mengucapkan kalimat bernada menyindir walaupun diucapkan dengan bahasa yang sangat halus.


"CEO? Si al, ternyata kekasihnya sekarang ini seorang CEO?" Joice menggerutu dalam hati mengetahui jabatan pria yang dekat dengan Airin benar-benar WOW, dibandingkan jabatan Rey saat ini.


"Saya rasa tidak masalah bagi saya, Pak Rey. Orang tua saya pasti akan memilih jodoh yang terbaik untuk anaknya. Seorang calon menantu yang baik dilihat dari bibit, bebet dan bobotnya. Kebetulan saya juga sedang mencari pendamping hidup. Dan saya bukan tipe orang yang mudah jatuh cinta pada sembarang wanita." Jawaban Gagah seakan menangkis sindiran Rey tadi. Tatapan mata Gagah kini mengarah pada Airin yang duduk di sebelahnya.


"Saat pertama kali berjumpa dengan Airin, saya merasakan dia adalah wanita yang spesial. Dan saya yakin, jika Airin adalah wanita yang pantas untuk mendampingi saya." Tak ragu Gagah memuji Airin di hadapan Rey dan Joice, membuat dua orang itu bergelut dengan rasa cemburu dan rasa iri yang membelenggu mereka.


Bagi, Airin. Jika saat ini dirinya berada di hadapan orang lain, dia pasti akan sangat malu mendengar Gagah terus saja memujinya. Namun, karena saat ini dirinya ada di hadapan dua orang yang sudah tega menghancurkan kebahagiaannya, dia justru menikmati semua pujian yang Gagah berikan kepadanya.


Airin merasa seperti manusia pada umumnya yang bisa merasakan sakit hati juga merasakan dendam. Dan saat ini, dia merasa puas atas balasan yang dirasakan oleh Rey dan Joice melalui Gagah.


Namun, tiba-tiba Airin terkesiap saat dia merasakan tangan Gagah menggenggam tangannya.


"Saya minta doa Anda, Pak Rey. Semoga pernikahan kami nanti berjalan dengan lancar." Bahkan Gagah mengecup tangan Airin yang digenggamnya.


Tak ada kesempatan Airin untuk menepis tangan Gagah, hingga Gagah menyematkan sebuah kecupan di tangannya. Seketika rona merah membias di wajah cantik Airin. Jantung Airin pun berdetak begitu kencang, Airin menelan salivanya, bahkan dia merasa pasokan udara seolah terhenti masuk ke rongga pernafasannya menanggapi sikap romantis yang dilakukan Gagah kepadanya saat ini.


Tangan Rey mengepal melihat pemandangan yang membuat api cemburu di dalam hatinya semakin berkobar. Apalagi melihat Airin tersipu malu dengan perlakuan Gagah tadi.


"Om Gagah napa cium Mama? Nanti Papa malah kalau Om Gagah cium Mama!" Tanpa diduga, Luna memprotes apa yang dilakukan Gagah pada Mamanya. Bahkan kini bocah cilik itu memandang dengan wajah memberengut dan kening berkerut ke arah Gagah.


Gagah terkekeh mendengar protes Luna. Dia mengusap sisa ice cream yang menempel di sudut bibir Luna dengan jari tangannya.


"Papa Luna tidak marah, kok! Om cium tangan Mama Airin karena Om sayang dengan Mama Airin, seperti Luna sayang sama Mama Airin. Luna sayang tidak sama Mama Airin?" Gagah memberi alasan yang bisa dimengerti Luna.


"Cayang, Om." sahut Luna.


"Kalau Om Gagah sayang tidak sama Luna?" Gagah ingin tahu apakah Luna bisa merasakan perhatiannya.


"Cayang ... Om Gagah kacih boneka Luna dua. Om Gagah ajak Luna mainan." Normalnya anak kecil seusianya, dengan jujur Luna mengatakan semua hal yang dilakukan Gagah yang membuat hatinya bahagia.


"Papa, Luna punya boneka dali Om Gagah. Namanya Mona cama Nola, Pa. Boneka dali Om Gagah bagus cekali, Pa." Luna benar-benar tidak mengerti konflik yang menimpa orang tuanya, sehingga tanpa beban dia bercerita dengan riang atas semua pemberian Gagah yang dia terima kepada Rey.


Telinga Rey terasa semakin panas. mendengar cerita Luna. Dia merasa cemburu, bukan hanya karena kedekatan Gagah dengan Airin, tapi juga kedekatan Gagah dengan Luna. Dia merasa jika kehadiran Gagah seolah menepikan posisinya di hati Luna. Apalagi tanpa canggung, Gagah melayani Luna dengan baik. Dari menyiapkan kursi, mendudukkan Luna di atas kursi dan membersihkan bibir Luna dari sisa ice cream yang menempel di bibir Luna.

__ADS_1


"Luna makan ice cream sudah dulu, sekarang waktunya makan. Luna makan sendiri apa mau disuapin sama Mama?" tanya Gagah kemudian.


"Dicuapin cama Om Gagah," jawaban Luna diluar perkiraan semua orang yang ada di meja itu.


"Luna sama Mama saja disuapinya, ya!?" Airin tidak ingin merepotkan Gagah.


"Ndak mau, Ma. Luna mau cama Om Gagah." Luna bersikeras pada pendiriannya.


"Biar Papa saja yang menyuapi Luna." Rey tidak mau kalah. Dia tidak ingin anaknya terlalu dekat dengan Gagah.


"Luna mau cama Om Gagah, Pa!" tegas Luna, tidak bisa diganggu gugat kemauannya.


"Ya sudah, tidak masalah. Om Gagah yang akan menyuapi Luna. Tapi, Luna harus makan sampai habis, ya! Soalnya tadi Luna habis bermain lari-larian sama lompat-lompatan, nanti Luna akan lemas kalau tidak makan banyak." Gagah menuruti permintaan Luna. Sepertinya Gagah sengaja ingin memberi pelajaran pada pria pengkhianat seperti Rey. Dia ingin Rey menyesal telah menyakiti hati Airin dan Luna.


"Iya, Om." sahut Luna mengangguk setuju.


Interaksi akrab dan harmonis antara Luna dan Gagah membuat Rey heran dan tak mengerti. Dia tahu anaknya itu sangat tertutup dengan kehadiran orang lain. Dia tahu selama ini Luna tidak mudah akrab dengan orang asing, tapi kenapa dengan Gagah, putrinya bisa begitu akrab? Bahkan Luna lebih memilih disuapi oleh Gagah daripada disuapi oleh dirinya. Hal tersebut membuat dirinya semakin terasa tersisih oleh kehadiran Gagah.


Sejujurnya Rey masih berharap bisa rujuk kembali dengan Airin, walaupun dia tidak bisa lepas dari Joice begitu saja. Namun, dengan kehadiran Gagah, tampaknya makin sulit untuk dia dapat bersama kembali dengan Airin.


Sebenarnya bukan hanya Rey saja yang dilanda kecemburuan. Airin pun juga merasakan hal yang sama. Meskipun Gagah berusaha menunjukkan jika Airin telah move on dari kegagalan rumah tangganya bersama Rey. Nyatanya keberadaan Rey dan Joice di hadapannya saat ini membuat rasa cemburu di hati Airin kembali terpercik. Airin bahkan tidak dapat menikmati makanan di hadapannya dengan adanya Rey dan Joice di meja yang sama dengannya.


"Ma, Luna mau pipis." Luna tiba-tiba bilang ingin buang air kecil.


Airin segera bangkit dan mengangkat tubuh Airin keluar dari restoran mencari toilet, karena Luna sudah lepas dari diapers. Untung saja posisi toilet tidak terlalu jauh dari restoran cepat saji itu.


Tak lama Airin pergi ke toilet, Joice pun berpamitan pergi ke toilet. Sudah pasti tujuannya adalah ingin mengganggu Airin.


"Sudah pipisnya? Mau pup tidak?" tanya Airin setelah Luna selesai buang air kecil.


"Ndak, Ma." Luna menggelengkan kepalanya.


"Ya sudah, ayo!" Airin menuntun Luna keluar dari partisi toilet. Namun, Airin terkesiap, saat dia keluar ternyata Joice sudah berada di toilet itu. Nampaknya Joice memang sengaja menunggunya, karena dia melihat beberapa pintu partisi toilet terbuka, artinya Joice ke toilet bukan untuk buang air kecil.


Airin mengacuhkan keberadaan Joice dan berjalan ke arah pintu. Tapi, Joice menghalangi Airin, hingga langkah Airin terhenti.


"Mau apa kamu!? Aku sudah tidak perduli apa pun yang kalian lakukan! Jadi tolong jangan ganggu kami!" ketus Airin menanggapi sikap Joice yang dia rasa sangat mengganggunya.


"Sekarang terbuka kedok kamu, ya! Pura-pura jadi istri yang baik, merasa menjadi korban Mas Rey, ternyata kamu matre juga. Belum setengah tahun bercerai, sudah ingin menikah lagi. Aku curiga, sebenarnya kalian itu sudah lama kenal dan menjalin hubungan di belakang Mas Rey, artinya saat Mas Rey selingkuh, kamu juga selingkuh dengan pria itu, hanya saja kalian terlalu rapih menyembunyikan perselingkuhan kalian, hingga tidak terendus oleh Mas Rey!" tuding Joice, menganggap apa yang dikatakan Gagah, bahwa Gagah dan Airin baru kenal beberapa Minggu adalah suatu kebohongan.


Airin geram mendengar tuduhan Joice. Seandainya tidak ada Luna di dekatnya, dan bukan berada di tempat umum, meskipun toilet terlihat sepi, ingin rasanya Airin menghadiahi sebuah tam paran di wajah wanita yang telah merebut suaminya itu.


"Jangan menilai semua orang seperti dirimu! Lagipula, aku ingin menikah cepat atau tidak, itu tidak ada urusannya denganmu! Memangnya apa lagi yang kau inginkan? Kau menginginkan Mas Rey, aku sudah melepas dia!


Silahkan kau kuasa dia sesuka hatimu. Aku sudah tidak perduli pada kalian berdua!" Dengan rasa kesal di dada, Airin membalas cibiran Joice. Airin kembali melangkah dan mendorong bahu Joice agar memberi dia jalan. Namun, sebelum keluar dari toilet, Airin kembali menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Joice.


"Mungkin seharusnya aku berterima kasih kepadamu. Karena perselingkuhan Mas Rey, dan perceraian aku dengan dia, akhirnya aku mendapatkan pria lain yang jauh lebih baik dari Mas Rey dalam segala hal. Aku rasa, aku sangat beruntung berpisah dengan kekasihmu itu!" tegas Airin, lalu mengangkat tubuh Luna kemudian berjalan ke luar dari toilet meninggalkan Joice yang terlihat kesal karena gagal memprovokasi Airin.


Airin berjalan ke restoran, dengan dada bergemuruh. Jika dia bisa memilih dan waktu dapat diulang kembali, dia ingin Rey tidak selingkuh dan dia tetap hidup bahagia bersama Rey.


Sementara itu di restoran setelah Joice meninggalkan Gagah dan Rey.


"Saya sungguh kaget mengetahui jika Anda adalah mantan suami Airin, Pak Rey. Sebelumnya saya sangat penasaran siapa pria yang sudah melepas wanita seperti Airin. Airin sosok wanita yang baik, cantik, sangat keibuan, dan sederhana. Saya rasa sangat beruntung pria yang memiliki Airin, kenapa justru melepasnya?" Pertanyaan Gagah ibarat sebuah tam paran bagi Rey, karena secara tidak langsung Gagah menyebut Gagah adalah pria yang bo doh dan tidak bersyukur mempunyai istri seperti Airin.


Sebenarnya Rey sendiri tidak ingin bercerai dengan Airin. Mungkin apa yang dikatakan Gagah itu benar, dia memang pria bo doh karena melepas Airin. Tapi, dia juga tidak bisa lepas begitu dari pengaruh Joice.


"Sudah pipisnya?" tanya Gagah saat melihat Airin dan Luna kembali.


"Udah, Om." sahut Luna memandang ke arah Joice yang juga sudah kembali dan duduk di sebelah Rey.


"Papa, Ateu itu nakal cama Mama!" Luna mengadukan Joice pada Rey seraya menunjuk ke arah Joice. Karena dia bisa merasakan jika sikap Joice kepada Airin ketika di toilet tadi kurang baik dengan menghalangi langkah Airin yang hendak keluar toilet.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading❤️


__ADS_2