
Sausana di sekitar Malioboro terlihat makin ramai dengan warga sekitar, turis asing dan juga wisatawan domestik yang merasa kurang lengkap, jika Yogyakarta tanpa menginjakkan kaki ke salah satu ikon populer di kota tersebut.
Sebagian besar dari mereka, berjalan di sepanjang trotoar. Tak sedikit yang mengabadikan situasi keramaian atau berselfi ria dengan menggunakan ponsel mereka. Dan ada juga yang memilih duduk di bangku yang tersedia di sepanjang jalan Malioboro, seperti yang dilakukan Gagah dan Airin saat ini, sambil mendengarkan aluna musik dan juga lagu dari pengamen di sana.
"Apa kamu merasa terganggu dengan keramaian di sini?" tanya Gagah, karena terlihat semakin padat orang yang lalu lalang di hadapan mereka.
Airin menggerakkan kepala ke kanan dan kiri bergantian. Baginya, suasana di Malioboro seperti ini yang selalu membuatnya kangen untuk pulang ke kampung halamannya itu.
"Saya sudah terbiasa dengan suasana di sini," jawab Airin, "Setiap pulang ke Jogya, saya memang selalu berkunjung kemari," lanjutnya.
"Berarti kalau kita menikah nanti, kita akan sering pergi ke sini, seperti ini. Bersama Luna dan anak-anak kita nanti?" Gagah melemparkan pertanyaan yang membuat bola mata Airin membulat, dibarengi dengan semu merah di pipi wanita cantik itu.
Senyuman terkulum di bibir Gagah, karena pertanyaannya tadi sukses membuat Airin merona. Seandainya saja Airin sudah halal menjadi miliknya, ingin rasanya dia memeluk wanita itu dan menghujani kecupan di pipi Airin yang membiaskan warna merah jambu, seperti yang sering dia lakukan pada Luna.
"Kamu semakin cantik kalau wajahmu memerah seperti itu." Kembali Gagah mengatakan hal yang membuat Airin salah tingkah.
Airin bagaikan seorang anak gadis yang baru pertama kali digoda sang penakluk wanita. Padahal, dia pernah menikah, dan sudah terbiasa mendapatkan rayuan-rayuan seperti itu, baik dari Rey, ataupun dari pria-pria penggemarnya dulu. Tapi, dengan Gagah, dia seolah seperti malu-malu. Mungkin karena sosok Gagah yang berprofesi sebagai CEO, hingga membuatnya salah tingkah dan tidak terlalu percaya diri.
...Apakah kau tak pernah tahu ......
...Betapa indahnya dirimu ......
...Biarkan rambut yang tergerai ......
...Jatuh dalam pelukanku ......
...Kucium hatimu damai ......
...Tatap matamu harapan ......
...Saat kita erat berpelukan ......
...Untuk indahnya berkata ......
...Oh, menikahlah denganku ......
...Oh, bahagialah selamanya ......
Sebuah lagu terlantun dari seorang pengamen yang berhenti di dekat Airin dan Gagah duduk. Seolah tahu apa yang ingin dicurahkan Gagah kepada Airin, pengamen itu menyanyikan tembang lawas milik Java Jive yang berjudul 'Menikah'.
Gagah dan Airin saling berpandangan ketika mendengar lagu itu, hingga Gagah mengulum senyuman.
"Lagu itu seakan mewakili perasaan saya terhadap kamu," ucap Gagah. Kemudian, ia mengambil dompet di saku celananya. Manarik beberapa lembar uang dari dalam dompetnya, dan menyerahkannya kepada pengamen itu.
"Makasih, Mas. Semoga rejeki Mas nya semakin lancar," ucap pengamen berterima kasih, ketika Gagah memberikan uang yang cukup besar untuknya sebagai seorang musisi jalanan.
"Doakan juga agar dia mau menerima lamaran saya." Gagah melirik ke arah Airin, sambil melempar senyuman tipis, membuat Airin menyipitkan matanya.
"Aamiin, Mas. Saya doakan!" Pengamen itu melirik ke arah Airin, kemudian berkata, "Mbak nya jangan ragu menerima Mas ini. Mas nya baik dan ganteng kayak gini, sayang kalau ditolak, Mbak." ujar pengamen, seolah mendukung Gagah.
Sontak Airin mendelik ke arah Gagah, karena ternyata Gagah membisikkan sesuatu pada pengamen itu yang berhubungan dengan privasi mereka.
"Semoga Mbak dan Mas ini berjodoh dan berakhir di pelaminan. Aamiin ..." Setelah mendoakan Gagah dan Airin, pengamen itu kembali melanjutkan aktivitasnya beryanyi di sudut yang berbeda.
"Kita cari makan, yuk!" Tak memberi kesempatan Airin mengomel atas ulahnya, Gagah langsung mengajak Airin untuk mencari makan untuk mengisi perut mereka.
***
Jam sepuluh, Gagah sudah membawa Airin kembali ke rumah orang tua Airin. Meskipun sebenarnya Gagah masih ingin lama bersama dengan Airin. Namun, dia harus menghormati orang tua Airin dengan tidak membawa Airin pulang hingga larut malam.
__ADS_1
"Assalamualaikum ..." Airin membuka pintu rumah, sambil mengucap salam.
"Waalaikumsalam ... Nah, itu Mama pulang ..." sahut Ibu Heny yang duduk memangku Luna yang menangis.
"Lho, Luna bangun?" Airin bergegas menghampiri putrinya, lalu mengambil Luna dari Ibunya. "Luna kenapa nangis?" Airin mengusap air mata yang membasahi pipi Luna.
"Luna tadi terbangun setengah jam lalu. Dia mencarimu tidak ada di sampingnya, terus menangis." Ibu Heny menjelaskan.
"Mama nakal! Pelgi cama Om Gagah, ndak ajak Luna. hiks ... hiks ..." Kembali Luna terisak.
"Maafin Mama, Sayang. Tadi Luna bobo, jadi Mama tidak mengajak Luna ikut." Airin memberi alasan yang sebenarnya.
"Hiks ... Mama nakal! Luna mau ikut Mama cama Om Gagah pelgi. Tapi, Luna ditinggal!" Luna tidak bisa menerima alasan yang diberikan oleh Mamanya. Bocah itu justru memu kuli tubuh Airin, karena menganggap Airin meninggalkannya.
"Airin tidak boleh pu kul Mama, Nak!" tegur Pak Baskoro dengan bahasa yang halus. Namun, bukannya berhenti, Luna semakin menangis kencang dan terus memu kul tubuh Airin.
Melihat Luna semakin mengamuk, Gagah dengan cepat mengambil tindakan. Pria itu berjalan menghampiri Airin lalu mengangkat tubuh Luna, hingga kini Luna berpindah tangan bersamanya.
"Luna tidak boleh menangis! Kalau Luna tidak menangis, besok pagi Om Gagah ajak Luna jalan-jalan. Luna mau tidak, Om ajak jalan-jalan besok?" Gagah mencoba membujuk Luna, agar bocah itu berhenti merajuk.
"Mau, Om." Luna merespon cepat tawaran yang diberikan Gagah kepadanya.
"Kalau begitu, Luna harus berhenti menangis! Luna juga tidak boleh nakal sama Mama. Tidak boleh pu kul-pu kul Mama! Luna sayang tidak sama Mama Airin?" Buku-buku jari kokoh Gagah menyeka air mata di permukaan pipi lembut Luna.
"Cayang, Om. Luna cayang cama Mama," ucap Luna
"Kalau sayang sama Mama, Luna tidak boleh nakal sama Mama, ya! Nanti Om ajak Luna jalan-jalan lagi. Tadi Om Gagah datang mau ajak Luna, Luna nya sudah bobo. Kalau Luna dibangunin, pasti nanti Luna mengantuk di jalan." Setiap ucapan yang terlontar dari mulut Gagah, ibarat penawar bagi Luna. Sehingga, kemarahan Luna akhirnya mereda dan tidak menangis lagi.
Interaksi cukup hangat antara Luna dan Gagah membuat Pak Baskoro dan Ibu Heny saling berpandangan. Mereka benar-benar kagum dengan sikap Gagah yang langsung bisa menenangkan Luna yang sedang merajuk.
"Sekarang Luna bobo lagi, biar besok pagi tidak kesiangan." Gagah menyuruh Luna kembali tidur.
"Luna mau bobo cama Om Gagah."
"Hmmm, Luna ... Om Gagah mau pulang, sayang." Airin memberi pengertian kepada Luna, agar anaknya itu tidak meminta suatu yang aneh.
"Om Gagah nya tidul di cini aja cama Luna. Bial nanti pagi Om Gagah nya ndak ilang." Sepertinya Luna merasa khawatir akan ditinggal lagi oleh Gagah dan Airin.
"Luna, Om Gagah tidak boleh tidur di sini." Airin menolak permintaan putrinya itu.
"Kenapa Om Gagah ndak boleh tidul di cini?" Luna yang tidak mengerti menanyakan alasan Gagah dilarang tidur di rumah itu.
"Hmmm ..." Airin menoleh ke arah kedua orang tuanya, meminta orang tuanya itu membantu memberikan jawaban.
"Karena ini bukan rumah Om Gagah, Luna. Jadi Om Gagah tidak boleh bobo di sini, Nak." Pak Baskoro menjelaskan kepada cucunya.
"Luna mau bobo cama Om Gagah." Luna kembali merengek dengan menyandarkan kepalanya di pundak Gagah. Sementara tangan mungil Luna melingkar di tenkuk Gagah.
"Kalau Bapak dan Ibu mengijinkan, biar saya menemani Luna sebentar sampai tertidur. Besok pagi-pagi sekali saya kembali ke sini." Tak ingin membuat Luna terus merengek, Gagah bersedia menemani Luna hingga tertidur dan akan pulang setelah tidur. Gagah berencana kembali lagi ke rumah Pak Baskoro pagi harinya sebelum Luna terbangun, agar Luna menganggap dirinya tidur di rumah itu.
"Apa tidak merepotkan Nak Gagah, ya?" tanya Pak Baskoro, tak enak hati karena kelakuan Luna.
"Tidak apa-apa, Pak. Yang penting Luna tidak rewel," ujar Gagah.
"Ya sudah, Rin. Cepat antar Nak Gagah ke kamar, agar Luna cepat tidur!" Pak Baskoro menyuruh Airin mengantar Gagah ke kamar.
"Hmmm, i-iya, Pak." Sebenarnya Airin agak keberatan dengan tindakan yang dilakukan oleh Gagah. Namun, karena kedua orang tuanya menyetujui, belum lagi Luna yang rewel, dia pun hanya bisa pasrah.
Airin melangkah menuju kamarnya, dengan Gagah yang mengikuti di belakangnya bersama Ibu Heny. Ibu Heny sengaja mengantar sekaligus mengawasi.
__ADS_1
Airin membuka pintu kamarnya lebar-lebar, membiarkan Gagah masuk membawa Luna. Dia pun segera merapihkan terlebih sprei yang terpasang di tempat tidurnya terlebih dahulu.
Gagah berjalan masuk ke kamar Airin di rumah orang tua Airin. Pria itu menaruh tubuh Luna berbaring di atas tempat tidur, lalu ia duduk di tepi tempat tidur milik Airin.
"Ayo, sekarang Luna bobo!" Gagah menyuruh Luna agar cepat tidur.
"Om Gagah bobo cini!" Luna menepuk sisi kosong di sebelah kanannya, meminta Gagah tidur di sampingnya.
Gagah menoleh ke arah Airin yang seketika itu juga menatapnya. Kedua orang itu saling berpandangan, karena merasa serba salah. Apalagi, ada Ibu Heny di sana.
"Hmmm, Om harus minta ijin sama Mama Airin dan Nenek dulu, Luna." Gagah tidak mungkin asal menyanggupi, melakukan apa yang Luna minta. Walaupun, dalam hati Gagah, dia senang jika Luna terus merengek yang menguntungkan dirinya.
"Mama ... Nenek ... Om Gagah boleh tidul cini, kan? Luna mau bobo dipeluk Om Gagah, coalnya Om Gagah halum ..." Luna menyampaikan permohonannya dan memberikan alasan kenapa menginginkan dekat dengan Gagah.
"Ya, sudah. Sekarang Luna buruan bobo!" Ibu Heny terpaksa mengijinkan, agar Luna tidak terus merengek. Ia pun segera menarik tangan Airin untuk keluar dari kamar itu. "Ayo, Rin!" Ibu Heny tidak ingin Gagah dan Airin berada dalam satu kamar. Meskipun, ada Luna di antara mereka, hingga ia ingin membawa Airin kembali ke ruang tamu.
"Mama cini aja! Nenek aja yang kelual!"
Permintaan Luna makin aneh dan tak terkendali. Airin sampai harus mengelus dadanya. Bisa-bisanya anaknya itu meminta dirinya berada satu kamar dengan Gagah. Sedangkan Gagah hanya menyeringai seraya mengusap tengkuknya yang tidak gatal.
"Cepat bobo! Kalau Luna masih rewel, nanti Om Gagah nya Mama suruh pulang, nih!" Airin sampai harus mengancam Luna, karena anaknya itu semakin banyak maunya.
"Ndak mau, Ma! Om Gagah jangan disuluh pulang!" Ancaman Airin ampuh membuat Luna menciut. Bocah cilik itu takut ditinggal oleh Gagah.
"Kalau begitu, cepat bobo!" Perintah Airin dengan nada tegas.
"Iya, Ma." Luna pun menurut apa yang diperintahkan oleh Mamanya. "Om Gagah, Luna mau bobo dipeluk Om Gagah." Namun, Luna meminta syarat dipeluk oleh Gagah.
Dengan agak canggung Gagah membaringkan tubuhnya di tempat tidur milik Luna, sementara Airin segera keluar dari kamar bersama Ibu Heny. Melihat Gagah tidur di tempat tidurnya saja sudah membuat jantung Airin berdegup kencang.
***
Pak Baskoro dan Ibu Heny berbincang di dalam kamarnya setelah Gagah berpamitan pulang. Kedua Kakek dan Nenek Luna itu membahas soal sikap Luna yang menganggap Gagah begitu penting bagi Luna. Juga Luna yang mudah dikendalikan oleh Gagah.
"Pak, apa sebaiknya Airin dan Gagah segera menikah saja, ya? Ibu khawatir, lho, Pak." Ibu Heny khawatir dengan sikap cucunya yang selalu ingin bersama Gagah. Hal itu dia rasa akan merepotkan Airin, jika Airin tidak juga menerima pinangan Gagah.
"Bapak juga berpikir seperti itu, Bu. Bapak juga kaget, Luna nurut sekali sama Nak Gagah." Pak Baskoro masih merasa aneh, bagaimana cucunya itu mudah akrab dan tunduk pada Gagah, yang baru saja dikenalnya.
" Bapak harus bujuk Airin kalau gitu, Pak. Biar Airin tidak banyak berpikir panjang. Sudah keliatan Nak Gagah itu baik dan sangat sayang sama Luna. Anak kecil itu bisa merasakan seseorang yang tulus atau tidak terhadapnya. Kalau Nak Gagah, Ibu yakin, dia tulus menyayangi Luna." Ibu Heny sudah amat yakin dengan feeling soal sikap Gagah.
"Baiklah, Bu. Besok Bapak bicara lagi sama Airin," ucap Pak Baskoro.
Sementara di kamarnya, Airin memperhatikan wajah Luna yang kini sudah terlelap dan nyenyak dalam tidurnya. Tangan Airin membelai, dari kening hingga belakang kepala Luna. Sama seperti kedua orang tuanya, Airin juga heran, kenapa Gagah begitu mudah meluluhkan hati anaknya. Menurutnya, Luna seperti sudah jatuh hati pada Gagah.
"Luna, kenapa bikin Mama pusing seperti ini, sih?" Airin bertanya pada Luna yang tertidur. Ia tahu, jika Luna tidak akan mendengar dan menjawab pertanyaannya saat itu juga. Dan jika Luna mendengar pun, Luna tidak akan mengerti dengan pertanyaannya.
"Kenapa Luna suka sama Om Gagah? Apa Luna ingin Mama menikah dengan Om Gagah?" Airin seakan ingin meyakinkan dirinya untuk mengambil keputusan yang akan dia buat. Dan Luna, Luna adalah salah satu faktor yang membuatnya mengambil keputusan ini.
Airin lalu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur menghadap ke arah Luna, dan terus memperhatikan wajah anaknya yang terlihat bahagia.
Airin menarik nafas dalam-dalam. Tiba-tiba penciumannya menangkap aroma maskulin parfum Gagah. Seketika itu, ia teringat jika tempat yang sedang dia tidur saat ini adalah tempat yang tadi ditiduri oleh Gagah. Tak heran jika aroma pria itu melekat di spreinya.
Airin mengusap sprei yang ditiduri Gagah. Secara reflek hidungnya mendekat ke arah sprei dan mengendus aroma maskulin yang dia rasakan menenangkan jiwanya, seraya memejamkan matanya. Tanpa dia sadari, ia pun mulai menikmati aroma yang ditimbulkan oleh Gagah di spreinya.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ...
Happy Reading❤️