JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG

JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG
Jangan Caper


__ADS_3

Liliana dan Ambar sontak tercengang mendengar siapa sosok Gagah sebenarnya. Seorang pria yang mempunyai jabatan tertinggi di PT Bintang Departement Store, perusahaan retail terkenal dan terbesar di negeri ini.


" Wah, Rin ... jangan sia-siakan peluang emas menjadi istri bos, dong!" celetuk Ambar kemudian.


" Benar, Rin. Ini yang namanya calon suami berkualitas. Bukan hanya tampan dan menarik secara fisik tapi finasialnya mantap." Liliana menimpali.


" Aku siap mendukung kalian sampai halal, deh!" tekad Liliana.


" Aku juga siap bantu doa supaya kalian benar bisa berjodoh, Rin." tambah Ambar terkekeh.


" Kalian ini, kenapa terlalu cepat mengambil keputusan? Aku saja belum mengenal dekat Pak Gagah itu karakter dan sifapnya seperti apa!?" Airin tentu tidak ingin cepat menilai orang, apalagi orang itu ingin dijodohkan dengannya. Dia sudah sangat trauma dengan apa yang dia alami dengan penghianatan Rey, tentu dia tidak akan menilai dari sekedar penampilan dan status sosial saja.


" Setidaknya dia itu anak teman Tante kamu, Rin. Masa iya dia tega menyakiti kamu!?" Entah mengapa Liliana seakan yakin pada Gagah, seolah Gagah adalah calon yang tepat untuk Airin.


" Eh, tapi, Rin. Apa Gagah dan Mamanya itu tahu status kamu sekarang ini?" tanya Ambar mengingat Gagah seorang bujangan.


" Mereka tahu. Itu juga yang buat aku heran, kenapa mereka tidak mencari gadis yang masih muda dan masih single untuk menjadi istri Pak Gagah. Kenapa harus aku yang janda dan punya punya anak." Airin masih tidak habis pikir dengan pilihan Widya.


" Mungkin karena mereka dapat melihat aura positif dari diri kamu, Rin. Makanya mereka tidak mempermasalahkam status kamu. Jarang banget ada orang tua yang bersikap seperti Mamanya Gagah itu, lho, Rin." ujar Liliana.


" Restu dari calon mertua itu penting, Rin. Kalau calon mertuamu mendukung, aku yakin semua akan lancar," komentar Ambar menyambung perkataan Liliana.


" Kamu pikir dulu aku tidak direstui mantan mertuaku?" Airin membantah jika restu dan dukungan dari mertua saja tidak cukup untuk membuat tumah tangganya dengan Rey tetap langgeng.


" Ya sudahlah, sebaiknya tidak usah membahas hal itu lagi." Airin berniat mengakhiri panggilan video telepon di grup dengan sahabatnya itu. " Aku tutup dulu video callnya ..." pamit Airin.


" Yah, Rin. Kita masih penasaran, nih!" Liliana keberatan Airin ingin mengakhiri percakapan mereka.


" Assalamualaikum ..." Airin tak terpengaruh dengan perkataan Liliana dan tetap akan mengakhiri interaksi via panggilan video dengan teman-temannya itu.

__ADS_1


" Waalaikunsalam ..." Liliana dan Ambar terpaksa mengakhiri panggilan video call tersebut.


***


Sementara itu saat Gagah tiba di rumahnya setelah lembur kerja weekend ini.


" Gagah ...."


Langkah Gagah yang menapaki anak tangga terhenti saat dia mendengar suara sang Mama memanggilnya dari arah bawah tangga. Padahal dia sudah berada di anak tangga paling akhir di lantai atas.


Gagah memutar kepala menoleh ke arah Mamanya. Terlihat Mamanya itu mengikutinya menaiki anak tangga.


" Gah, benar tadi kamu bertemu dengan Airin di mall?" Masih dengan langkah menaiki anak tangga, Widya langsung menanyakan kebenaran cerita Ayuning soal pertemuan Gagah dan Airin.


Gagah mendengus, dia yakin Mamanya mendapatkan kabar itu dari Ayuning. Dia merasa kakak iparnya itu terlalu ikut campur urusan pribadinya.


"Kata Ayu kamu bertemu dengan anaknya Airin juga? Bagaimana? Lucu anaknya, ya? Seperti Ica. Oh ya, katanya Ica juga main dengan anaknya Airin." Ayuning sepertinya menceritakan semua yang dia tahu pada Mama mertuanya itu.


" Gah, jawab dulu pertanyaan Mama!" Widya menyusul langkah Gagah dan mencekal tangan Gagah, hingga langkah Gagah terhenti.


" Ma, apa semua yang aku lakukan harus Mama ketahui? Aku punya privasi dan aku bukan anak kecil yang harus diawasi apa pun yang aku lakukan!" Gagah merasa terganggu dengan pertanyaan Mamanya.


" Mama bukan bermaksud mengawasi kamu, Gah, Mama hanya ingin tahu apa benar kalian bertemu? Kalau memang benar dan kalian sempat berbincang, itu 'kan bagus." Widya menyangkal tudingan Gagah.


" Apalagi kalau kalian bertukar nomer telepon, itu lebih baik." Widya masih saja berharap ada kemajuan dalam hubungan Airin dengan Gagah.


Gagah menggelengkan kepala kemudian berlalu meninggalkan Widya menuju kamarnya.


" Susah sekali dia terbuka soal perasaannya." Widya yakin jika anaknya itu tertarik pada Airin, hanya saja enggan mengakuinya. Mungkin karena Gagah dulu pernah terang-terangan menolak Airin.

__ADS_1


Di kamarnya, seperti biasa, setiap masuk ke dalam kamar setelah keluar dari rumah, yang dituju Gagah adalah kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum dia bersantai di tempat tidur ataupun sofa di kamarnya.


Setelah selesai membersihkan tubuh dan mengganti pakaian, Gagah segera menghubungi Bagus. Dia merasa jika kakaknya harus menegur Ayuning agar tidak terlalu ikut campur masalah pribadinya.


" Assalamualaikum, ada apa, Gah?" Suara bariton Bagus terdengar di ponsel Gagah.


" Waalaikumsalam. Mas, sebaiknya Mas bilang sama Mbak Ayu, stop ikut campur urusan pribadiku, dan tidak usah menjadi mata-mata Mama!" Pada kakak sulungnya, Gagah memprotes sikap istri kakak sulungnya itu.


" Ada masalah apa memangnya? Ayu melakukan apa?" tanya Bagus terkejut karena Gagah bicara padanya dengan nada ketus.


" Aku rasa Mbak Ayu sudah cerita ke Mas Bagus." Jika Mamanya saja sudah diberitahu oleh Ayuning, dia yakin kakaknya juga pasti tahu apa yang dia permasalahkan.


" Soal pertemuan kamu dengan wanita yang ingin dijodohkan Mama?" Benar saja, Bagus memang sudah tahu pertemuan dirinya dengan Airin.


" Iya! Tolong Mas kasih tahu Mbak Ayu, jangan ikut mengurusi soal jodohku! Jangan caper ingin dapat predikat sebagai menantu kesayangan dengan mengawasi apa yang aku lakukan dan melaporkannya pada Mama!" tuding Gagah jika apa yang dilakukan oleh Ayuning hanya agar mendapat pengakuan sebagai menantu idaman Mamanya.


" Jaga bicaramu, Gagah! Kakak iparmu tidak mungkin berbuat seperti itu hanya karena ingin mendapat pujian dari Mama!" tepis Bagus membela istrinya, karena dia yakin apa yang dilakukan Ayuning bukan karena Ayuning ingin mendapatkan sanjungan dari Mama mertua.


" Sudahlah, aku tidak ingin berdebat dengan Mas Bagus. Tolong beritahu saja apa yang aku katakan tadi pada Mbak Ayu. Assalamualaikum ..." Tanpa menunggu balasan salam dari Bagus, Gagah sudah mematikan panggilan teleponnya itu.


Gagah menaruh ponsel di atas nakas kemudian terduduk di tepi tempat tidur. Dia teringat akan pertemuan dengan Airin sore tadi.


Entah mengapa rasanya ingin bertemu lagi dengan wanita itu. Tapi, dia tidak tahu harus bertemu dengan cara apa? Biarpun dia tahu tempat Airin bekerja, tidak mungkin secara tiba-tiba dia datang ke Central Bank untuk menemui Airin. Lagipula dia seorang nasabah besar di sana, pasti akan menjadi pusat perhatian petinggi di Bank itu.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading❤️


__ADS_2