
Betapa malunya Airin ketika menyadari orang-orang di pemancingan itu memperhatikannya dengan senyum-senyum di bibir mereka. Begitu juga dengan Gagah dan Luna yang masih saja terkekeh, seakan menertawakan ketakutannya tadi.
Airin mendengus saat mendapati putrinya itu nampak bahagia melihat ulah Gagah yang iseng terhadapnya. Bahkan, putrinya justru menyebut dirinya dan Gagah sedang pacaran. Putrinya itu memang sangat pintar, mudah menyerap kata-kata yang sering dia dengar, meskipun tidak mengerti apa arti dari kalimat yang diucapkannya.
Dulu, ketika masih bersama Rey, saat Rey melakukan sentuhan fisik, memeluk atau menciumnya, dan Luna memergoki aktivitas mereka, Rey selalu beralasan jika mereka sedang pacaran. Hal itulah yang menyebabkan Luna menyebut apa yang dilakukan Gagah dan Airin adalah aktivitas berpacaran.
Gagah sendiri langsung mendekat ke arah Luna, mengangkat tubuh bocah itu dan menaikkan di lengannya.
"Luna bilang Om Gagah sama Mama tadi sedang apa?" Gagah memancing Luna. Sepertinya Gagah menikmati ketika Luna menyebut dirinya dan Airin sedang berpacaran. Memang itulah yang diinginkan oleh pria itu. Dia senang karena setiap perkataan dan sikap Luna yang memihak dirinya sering menyudutkan Mamanya sendiri. Dia berharap hal itu akan meluluhkan hati Airin dan akhirnya menerima dia sebagai pendamping hidup Airin menggantikan posisi Rey.
"Om Gagah cama Mama pacalan. Hihihi ..." Luna membekap mulutnya sendiri sambil tertawa lucu. "Kayak Papa cama Mama pacalan." Benar saja, Luna ternyata masih merekam itu dalam memorinya.
Gagah tersenyum dan memberikan kecupan di permukaan kulit halus pipi Luna, sebagai hadiah karena sukses mengerjai Airin.
"Kita pulang saja, yuk! Om nyerah, deh! Om tidak punya keahlian memancing ikan." Gagah angkat tangan. Bukannya dia tidak mau berusaha, hanya saja dia tidak betah terlalu lama di tempat tersebut.
"Nanti kita beli saja ikannya, lalu goreng di rumah." Gagah menoleh ke arah Airin. Wajah wanita itu masih memberengut karena berhasil dia kerjain. "Ayo!" Gagah mengajak Airin pergi dari tempat pemancingan itu.
"Mau beli ikannya?" Gagah bertanya pada Airin.
"Tidak usah! Ibu sudah beli ikan segar di pasar." Ibu Heny sempat mengatakan pada Airin jika tidak perlu membawa ikan dari pemancingan, karena Ibu Heny sudah membeli ikan di pasar. Sudah pasti, Ibu Heny tidak terpikirkan jika Luna akan mengajak Gagah ke pemancingan ikan.
"Ya sudah," sahut Gagah kemudian berjalan ke luar area pemancingan bersama Airin dan Luna.
Sepulang dari memancing, Gagah membawa Mamanya dan Tante Mira ke hotel. Mereka berencana pulang keesokan harinya, sehingga Gagah harus mencari tempat menginap untuk dirinya dan juga Mamanya, sebab rumah orang tua Airin tidak mempunyai banyak kamar dan tidak akan cukup untuk menampung dia dan Mamanya.
Tante Mira juga ikut ke hotel, karena Tante Mira diminta menemani Widya menginap di hotel agar Widya ada yang menemani. Sedangkan Feby, tetap di rumah Pak Baskoro bersama Airin dan Luna.
Sepeninggal keluarga Gagah, Pak Baskoro dan Ibu Heny mengajak berdiskusi Airin soal rencana Gagah yang ingin menyunting Airin. Sementara Luna langsung dibawa Feby ke kamar, karena Ibu Heny meminta keponakannya itu menjaga Luna selama Airin berbicara dengan kedua orang tuanya.
"Keputusan kamu sendiri bagaimana, Airin?" Pak Baskoro menanyakan kembali kepada Airin. Berbicara bertiga dengan istrinya dan Airin tentu terasa lebih lepas, dibanding berbicara di depan Gagah dan Widya. Mungkin, Airin juga bisa menyampaikan keluh kesahnya.
Hembusan nafas Airin terdengar. Dia bingung jika ditanya soal keinginannya saat ini. Karena hal itu, saat ini terasa tidak penting lagi. Sebab, keinginan Gagah lah yang sangat mendominasi.
"Aku bingung, Pak. Sebenarnya aku ingin menenangkan diri dulu. Jauh dari laki-laki. Tapi, sepertinya hal itu tidak bisa aku rasakan saat ini," keluh Airin.
"Tapi, Luna begitu dekat dengan Nak Gagah, Rin. Saat ini Luna merasa jauh dengan Papanya. Kehadiran Nak Gagah seolah mengobati kerinduannya pada figur seorang ayah yang bisa selalu dekat dengannya. Yang bisa membuatnya bahagia, nyaman, memperhatikan dan menyayanginya. Kalau kamu menolak Nak Gagah, Bapak takut itu akan berpengaruh pada Luna." Pak Baskoro menyampaikan rasa khawatirnya, karena Luna sudah begitu akrab dengan Gagah.
"Bapak benar, Rin. Ibu juga berpikir, tidak ada salahnya kamu memberikan kesempatan pada Nak Gagah. Apalagi, Nak Gagah sendiri bilang bersedia menunggu kamu sampai kamu siap. Ibu sih, setuju saja kalau kamu berjodoh sama Nak Gagah. Kapan lagi bisa dapat kesempatan punya menantu seorang bos?!" seloroh Ibu Heny. Beliau pun tidak menampik, akan merasa senang jika bermenantukan seorang pengusaha sukses. Apalagi Gagah terlihat benar-benar tulus mencintai Airin.
Lirikan mata tajam langsung diarahkan Baskoro pada istrinya, ketika mendengar kelakar sang istri tadi.
"Sejak kapan Ibu jadi matre seperti ini?" sindir Pak Baskoro mengomentari ucapan Ibu Heny.
"Bukan matre, Pak!" tepis Ibu Heny, menolak dianggap termasuk orang yang gila akan harta. "Tapi, kalau kita dapat menantu kaya raya, Alhamdulillah, kan, Pak?" sambungnya dengan terkekeh. Sebagai manusia biasa, apa yang dia rasakan adalah hal normal yang biasa dirasakan oleh orang lain jika anaknya dipinang oleh seorang bos.
"Apalagi, Airin itu 'kan sudah bukan perawan, Pak. Sudah punya buntut. Tapi, mau dipinang laki-laki lajang, kaya raya, tampan, baik. Ya Allah, mimpi apa kita ini, Pak?" Ibu Heny tidak pernah membayangkan Airin akan mendapatkan pria yang mendekati sempurna sebagai calon pendamping hidup putrinya itu.
__ADS_1
"Itu namanya rejekinya, Airin, Bu." Pak Baskoro ikut terkekeh meladeni ucapkan sang istri.
Airin mengerutkan keningnya, karena kedua orang tuanya pun sudah membayangkan, betapa senangnya bermenantukan pria seperti Gagah. Ia pun merasa, tak ada peluang baginya menjauh dari Gagah jika seperti ini.
"Oh, ya, Rin. Perusahaan Nak Gagah itu sama saja dengan mall tempat adikmu bekerja, kan?" Ibu Heny teringat akan perusahaan yang dipimpin oleh Gagah, mempunyai nama yang sama dengan tempat Haikal berkerja.
"Iya, Bu." sahut Airin.
"Seandainya, kamu jadi dengan Nak Gagah, siapa tahu nanti karir Haikal bisa meningkat di sana. Tidak hanya sekedar penjaga counter saja." Ibu Heny sudah menghayal tinggi dengan berandai-andai.
"Jangan mengharapkan sesuatu yang terlalu berlebihan, Bu. Belum tentu aku berjodoh dengan Mas Gagah." Airin tidak ingin orang tuanya itu terus banyak berharap.
"Iya, iya, Rin. Ibu hanya bercanda, kok." Ibu Heny terkekeh menyahuti.
"Kalau aku menikah sama Mas Gagah, apa tetangga di sini akan bergunjing, Pak?" Airin khawatir orang tuanya akan jadi korban bisik-bisik tetangga yang akan menggunjingkannya.
"Menurut Bapak, kalau kamu memang sudah yakin ingin menerima Nak Gagah sebagai suami kamu. Kalian bisa saja melaksanakan pernikahan. Tapi, kalian harus menunda pesta pernikahan kalian dulu sementara waktu, sampai kamu siap go publik." Pak Baskoro memberikan saran yang terbaik bagi putrinya.
"Maksudnya nikah siri, Pak?" Ibu Heny cepat merespon pernyataan suaminya.
"Ya, tidaklah, Bu!" sanggah Pak Baskoro, "Nikah resmi, nikah KUA saja dulu. Rame-ramenya nanti, nunggu waktu yang tepat. Nak Gagah itu 'kan seorang direktur utama. Pasti kalau menikah akan mengadakan pesta meriah dan mengundang banyak kolega-koleganya," tutur Pak Baskoro menjelaskan maksud perkataannya tadi.
"Nah, kalau hal itu Ibu setuju, Rin. Biar cepat halal. Selain terhindar dari fitnah, juga terselamatkan dari godaan syaiton." Nampaknya Ibu Heny sepimikiran dengan suaminya.
Airin menolehkan pandangan ke arah orang tuanya secara bergantian. Dia tahu, Bapak dan Ibunya itu sangat mengharapkan kebahagiaan bagi dirinya. Dan dia melihat kedua orang tuanya itu terlihat bahagia saat membicarakan soal Gagah dan niat Gagah ingin menikahinya.
***
"Kita mau ke mana?" Gagah dan Airin berebut bicara dengan menanyakan kalimat yang sama.
"Kita jalan-jalan sekitar Maliboro saja. Bagaimana?" tanya Gagah memilih tempat yang sangat populer dan menjadi salah satu ikon yang ada di kota Yogyakarta.
"Iya." Airin menyetujui.
"Aku pesankan taksinya dulu." Gagah memesan taksi yang akan membawa mereka ke Malioboro.
Setelah taksi yang dipesan sampai, mereka pun pergi meninggalkan rumah orang tua Airin, untuk menikmati malam Minggu berdua di kota Yogyakarta.
"Apa kamu menghabiskan masa remajamu di kota ini?" tanya Gagah ketika mereka sudah sampai di kawasan Malioboro.
"Iya," jawab Airin.
"Lalu, sejak kapan kamu menetap di Jakarta? Apa sejak menikah dengan Papanya Luna?" tanya Gagah ingin tahu.
Airin menggelengkan kepala, menampik dugaan Gagah, yang menyebut dirinya pindah ke Jakarta karena mengikuti Rey.
"Saya ke Jakarta karena mendapat pekerjaan di sana," tepis Airin.
__ADS_1
"Kenapa kita tidak pernah bertemu sebelumya di sini, ya? Padahal, sampai lulus SMA, saya juga tinggal di sini. Tapi sejak saya lulus, kami sekeluarga pindah ke Jakarta," cerita Gagah.
Airin menoleh ke arah Gagah. Dia ingat cerita Tantenya yang mengatakan jika keluarga Gagah masih mempunyai darah ningrat. Namun, dia tidak menduga, saat remaja dulu dirinya dan Gagah berada di kota yang sama.
"Mas punya keluarga di sini?" tanya Airin.
"Keluarga Papa saya sekarang banyak menetap di Solo. Kalau pun di sini ada, itu hanya kerabat jauh dan tidak terlalu dekat," terang Gagah.
"Oh, begitu ...."
"Pernah jalan-jalan di sini bersama Papanya Luna atau kekasih kamu dulu?" tanya Gagah kemudian.
Guratan langsung terlihat di kening Airin setelah Gagah mengakhiri pertanyaannya. Malioboro adalah kawasan yang banyak dikunjungi muda-mudi, termasuk dirinya ketika masih berpacaran dengan Rey, maupun setelah mempunyai Luna.
Anggukkan kepala dilakukan Airin untuk merespon pertanyaan Gagah.
"Apa berjalan-jalan di kawasan ini mengingatkan kamu akan Papanya Luna?"
Pertanyaan Gagah kali ini membuat Airin membulatkan bola matanya. Sejujurnya, bukan karena berjalan-jalan di Malioboro yang mengingatkan Airin soal Rey. Tapi, pertanyaan-pertanyaan Gagah seputar Rey lah, yang membuat Airin otomatis teringat pada Rey.
"Sebaiknya, tidak usah membahas soal itu lagi, Mas!" Airin keberatan dan merasa tak nyaman Gagah terus saja menyinggung nama Rey.
"Oh, maaf ..." Gagah menyampaikan permohonan maafnya, ketika melihat Airin tak nyaman.
Airin menganggukkan kepala, sementara tangannya merapatkan sweater yang dia pakai di tubuhnya karena hawa dingin serasa menembus kulit tubuhnya.
Gagah meduga jika Airin sedang menahan udara dingin yang berhembus. Pria itu segera melepas coat yang melekat melapisi kemeja yang membalut tubuhnya. Lalu, Gagah menyelimuti punggung Airin dengan coatnya itu.
"Pakailah! Kamu pasti kedinginan, kan?"
Tentu saja Airin terkesiap dengan sikap Gagah yang memberikan mantel kepadanya.
"Hmmm, tidak usah, Mas. Saya sudah pakai sweater." Airin ingin melepas coat milik Gagah. Namun, pria itu justru menghalanginya.
"Jangan membantah! Pakai saja! Saya tidak ingin orang tua kamu menyalahkan saya karena kamu masuk angin akibat saya bawa pergi ke luar malam." Gagah terkekeh menggoda Airin.
Airin tak bisa menolak, hingga dia membiarkan coat milik pria itu melekat di tubuhnya. Wangi parfum maskulin langsung menguar dari mantel tebal Gagah. Aroma yang sama seperti yang dia hirup dari sapu tangan Gagah yang tertinggal beberapa hari lalu.
"Pantas saja Luna bilang baunya harum." Airin teringat, Luna pun sampai menyukai aroma parfum yang dipakai oleh Gagah.
Seketika itu Airin merasakan hatinya berdesir, mengingat kejadian di pemancingan ikan saat dirinya dan Gagah berpelukan tak sengaja.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ...
Happy Reading❤️