
Gagah terlihat berpikir di ruang kerjanya. Dengan siku tangan kiri bertumpu pada lengan kursi dan ibu jari serta telunjuk menopang dagu yang ditumbuhi bulu halus, sementara satu tangan lainnya mengetuk-ngetuk meja kerja menggunakan pena.
Gagah seperti sedang mencari cara untuk bisa bertemu kembali dengan Airin, tapi dia terlalu gengsi untuk meminta bantuan keluarganya. Tentu saja dia ingin berusaha dengan usahanya sendiri, tanpa bantuan Mama apalagi ipar-iparnya.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu disertai kemunculan Dewi membuat Gagah menolehkan pandangannya.
" Permisi, Pak. Ada dokumen yang harus ditanda-tangani." Dewi lalu berjalan mendekat ke arah meja Gagah, lalu menyerahkan dokumen yang harus ditanda tangani olehnya.
" Wi, apa ada dokumen yang harus diserahkan ke Central Bank?" tanya Gagah tiba-tiba.
Dewi menatap bosnya dengan kening berkerut.
" Maaf, dokumen apa, Pak?" tanya Dewi bingung, karena semua urusan perpanjangan kredit dengan pihak Central Bank sudah selesai.
" Perpanjangan kredit kemarin, apa tidak ada lagi data yang diminta oleh Bank?" tanya Gagah, seolah mencari peluang untuk dia bisa mengunjungi Central Bank dan bertemu dengan Airin kembali.
" Tidak ada, Pak. Semua sudah beres," sahut Dewi. " Memangnya kenapa, Pak?" tanya Dewi kemudian. Dia merasakan aneh dengan pertanyaan Gagah.
" Tidak ada apa-apa." Gagah cepat menepis maksud dia menanyakan hal tersebut pada Dewi. " Kau kembalilah ke mejamu, saya akan menandatangani nanti," perintah Gagah.
" Baik, Pak. permisi ..." Dewi berpamitan lalu meninggalkan ruang kerja bosnya itu. Walapun sesungguhnya dia merasakan penasaran dengan pertanyaan Gagah tadi.
Gagah mendengus setelah Dewi meninggalkan ruangannya. Dia masih belum menemukan cara untuk bisa bertemu Airin kembali.
Sore harinya saat ingin pulang ke rumah, Gagah mampir terlebih dahulu ke galeri ATM yang ada di kawasan mall Bintang Departement Store. Dia ingin mengambil uang tunai karena hari ini dia baru saja menerima gaji sebagai CEO di mall itu.
Gagah ingin mengisi dompet dan juga menyiapkan uang tunai untuk dia bagi ke tukang parkir dan security di mall dan komplek perumahan elit milik keluarga Prasetyo. Keluarga Prasetyo memang terkenal sangat dermawan, dan itu menular ke anak-anak mereka.
" Lho, kok kartu ATM nya tidak keluar? Uangnya juga tidak keluar. Gimana ini?" Seorang Ibu mengeluh karena kartu debit yang sedang dia pakai untuk transaksi tidak keluar lagi di mesin ATM.
"Harus ke banknya langsung, Bu. Laporan ke costumer service, bilang saja kartu ATM nya tertelan di mesin galeri ATM yang ada di mall Bintang Departemen Store agar segera ditindaklanjuti." Seorang pria yang juga sedang bertransaksi di salah satu mesin ATM merespon keluhan wanita itu.
"Ibu punya M-banking, tidak? Coba dicek dulu transaksinya, apa sudah terdebit atau belum saldonya?" Teman dari pria itu ikut memberikan saran. Bisa saja dana di dalam rekening itu sudah terpo tong, tapi uangnya tidak keluar.
" Saya tidak punya M-banking, Mas." sahut Ibu tadi bersedih, karena dia gaptek, hanya tahu menggunakan kartu ATM hanya untuk menarik uang saja.
" Ya sudah, besok pagi langsung ke banknya saja, Bu. Untuk membuat laporan. Sementara ini, Ibu telepon saja dulu ke costumer care untuk memblokir kartu ATM Ibu sementara waktu agar tidak terjadi penyalahgunaan." Setelah memberi saran kembali, kedua orang itu meninggalkan ATM galeri.
__ADS_1
"Aduh, gimana ini? Mana uangnya ditunggu untuk menebus obat si Bapak lagi," keluh ibu itu sepeninggal dua orang yang memberikan saran tadi.
Gagah yang memperhatikan kejadian tadi lalu melakukan pengambilan tunai di mesin ATM bank berbeda dengan si Ibu. Dia juga sempat mendengar keluhan si Ibu. Dia melihat wajah sedih so Ibu karena uang yang dia ingin ambil ternyata tidak bisa diambil, sementara kartu ATM masuk ke dalam mesin ATM.
"Ibu ambil uang berapa tadi?" tanya Gagah pada ibu yang kartu debitnya tersangkut di mesin ATM.
" Satu juta, Mas." sahut si Ibu seraya menoleh ke arah Gagah yang bertanya kepadanya.
Gagah lalu menyiapkan uang sejumlah satu juta rupiah lalu menyerahkan kepada Ibu itu.
" Ini uang satu juta, Ibu pakai saja untuk keperluan membeli obat tadi," ujar Gagah.
Si Ibu tercengang melihat uang yang diserahkan Gagah kepadanya.
" Kenapa Mas ini kasih uang ke saya?" tanya si Ibu terheran, namun tangannya tetap menerima uang tersebut.
" Ibu ambil uang untuk membeli obat, kan?" tanya Gagah memastikan pendengarannya tadi tidak salah.
" I-iya, Mas." sahut si ibu masih
heran dengan sikap Gagah yang menolongnya.
" Ya sudah, Ibu pakai uang saya untuk membeli obat yang Ibu butuhkan," ujar Gagah.
* Tidak usah memikirkan untuk membayarnya, Bu. Pakai saja uang itu. Saya permisi dulu, Bu." Selepas berucap, Gagah melangkah meninggalkan Ibu yang masih tak percaya dengan pertolongan yang diterima dari Gagah.
" Mas, tunggu!" Saat menyadari Gagah meninggalkannya, Ibu tadi memanggil Gagah, membuat Gagah menghentikan langkahnya.
" Mas, terima kasih banyak atas bantuannya. Semoga Mas ini selalu dilimpahkan rejeki, diberi kesehatan, kalau sudah menikah semoga keluarga Mas diberi kebahagiaan, kalau Mas belum menikah semoga cepat didekatkan jodohnya. Semoga semua rencana Mas dimudahkan Allah SWT." Ibu tadi menghampiri Gagah untuk mendoakan kebaikan untuk Gagah.
" Aamiin, terima kasih, Bu." Gagah tersenyum menjawab ucapan ibu tadi lalu melanjutkan langkahnya meninggalkan Ibu itu.
Si Ibu terus memperhatikan Gagah yang melangkah menjauh darinya.
"Sudah ganteng, baik hati juga. Masya Allah, seandainya saja banyak orang baik seperti dia." Si Ibu mengagumi sosok Gagah.
Sedangkan Gagah langsung keluar menuju parkiran dengan senyum mengembang di sudut bibirnya. Peristiwa yang dialami ibu tadi seolah memberikan ide untuknya. Mungkin dia ingin memakai alasan yang dialami oleh ibu itu untuk pergi menemui Airin di bank esok hari.
***
__ADS_1
Airin menaikkan kedua alisnya saat melihat nama Wulan yang muncul di ponselnya. Wulan adalah Mama dari Rey, mantan Mama mertuanya.
Jantung Airin berdebar karena harus berkomunikasi dengan mantan mertuanya kembali. Setelah perpisahannya dengan Rey, dia memang belum pernah berkomunikasi lagi dengan Wulan.
Airin memperhatikan Luna yang menonton televisi dengan memegang botol su su di tangannya. Dia pun lalu mengangkat panggilan telepon Wulan itu.
" Assalamualaikum ..." Airin tidak menyebut kata Mama, seperti biasanya dia berkomunikasi dengan Wulan.
" Waalaikumsalam, Rin. Kamu apa kabar? Sudah lama kita tidak komunikasi, ya?" Wulan menyapa Airin.
" Alhamdulillah baik. Ibu sendiri gimana?" tanya Airin merubah panggilan Mama menjadi Ibu, karena kata Ibu lebih luas maknanya, berbanding kata Mama.
" Alhamdulillah Mama baik, Rin. Kamu kok panggil Mama dengan panggilan Ibu, sih? Terdengar aneh, lho!" Wulan heran dengan sebutan yang diberikan Airin tadi.
" Luna! Nenek telepon, nih!" Tak ingin menjawab pertanyaan Wulan, Airin justru memanggil Luna untuk berbincang dengan Neneknya.
" Nenek?" Luna yang hampir memejamkan matanya seketika terbangun, lalu berlari menghampiri Airin untuk berbincang dengan Neneknya.
" Mana Neneknya, Ma? Ndak ada gambalnya." Luna pikir Neneknya itu menghubungi menggunakan panggilan video.
" Halo, Luna cucu Nenek. Nanti Nenek ganti pakai video call, ya!" Mendengar ucapan Luna, Wulan lalu merubah panggilannya dengan video call.
" Nenek ...!" Luna terlihat bersemangat dengan melambaikan tangannya ke arah layar ponsel Airin saat dia melihat wajah Neneknya itu.
" Luna, apa kabar? Luna sudah besar sekarang, ya? Luna sedang apa?" tanya Wulan melepas kangen kepada cucunya.
" Luna lagi boboan cama lihat tivi, Nek." jawab Luna.
" Luna ada di mana sekarang? Bukan di kamar Luna, ya?" Wulan merasa asing dengan ruangan Luna berada sekarang.
" Luna di lumah Kakek Pajal, Nek." Luna menyebutkan di mana keberadaannya saat ini.
Airin terkesiap saat Luna menyebut keberadaan mereka saat ini pada Wulan. Namun, dia harus siap mengungkap fakta yang sebenarnya tentang rumah tangga dirinya dengan Rey yang sudah berakhir pada Wulan.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ...
Happy Reading❤️