JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG

JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG
Jam Tangan


__ADS_3

Gadis menatap laptop di hadapannya. Dia sedang mencari informasi seputar universitas yang akan dipilih Haikal sebagai tempat kuliah, Sebab ia pun ingin ikut kuliah di tempat yang sama dengan Haikal.


Apa pun akan dilakukan Gadis untuk bisa dekat dengan Haikal, termasuk menghalangi jika ada wanita yang ingin mendekati Haikal. Bahkan berusaha untuk bisa ikut kuliah di kampus tang Haikal pilih, meskipun dia sendiri masih berstatus pelajar SMA.


Saat ini Gadis duduk di kelas dua belas, tahun depan dia akan menyelesaikan SMA nya, namun ia ingin memaksakan untuk bisa ikut kuliah di waktu yang sama dengan Haikal.


Gadis mencoba menghubungi gurunya, dia ingin gurunya itu membantunya mendaftarkan ia di kampus yang sama dengan Haikal.


"Halo, Pak Teguh. Pak, apa Bapak bisa daftarin aku kuliah kelas karyawan?" tanya Gadis pada guru yang mengajarnya homeschooling.


"Kamu mau melanjutkan kuliah karyawan, Gadis?" tanya Pak Teguh.


"Iya, Pak. Aku mau kuliah di kampus X, Pak." jawab Gadis.


"Oke, nanti kalau kamu sudah menyelesaikan sekolah kamu, Bapak bantu daftarkan kamu ke kampus itu," ujar Pak Teguh menyanggupi.


"Tapi aku mau sekarang, Pak. Jangan tunggu aku lulus sekolah," protes Gadis sebab Pak Teguh salah tanggap dengan maksudnya ingin melanjutkan kuliah.


"Kamu bbaru bisa mendaftar kuliah setelah kamu lulus sekolah nanti, Gadis," ujar Pak Teguh, "Nanti Bapak bantu urus semua prosedurnya," lanjutnya.


"Aku tidak mau kuliah pas lulus nanti, Pak. Aku mau daftar sekarang. Katanya gelombang satu pendaftaran dibuka bulan Oktober ini dan kuliah dimulai bulan Maret tahun depan," jawab Gadis tak ingin menunggu ia lulus SMA.


"Kalau belum mempunyai ijazah SMA mana bisa kuliah, Gadis. Ijazah SMA itu diperlukan sebagai salah satu syarat pendaftaran calon mahasiswa baru." Pak Teguh menerangkan kemungkinan Gadis tidak dapat mengikuti kuliah sebelum lulus SMA.


"Tolong bantu aku, Pak. Harus bayar sepuluh kali lipat tidak apa-apa, deh! Yang penting aku bisa daftar kuliah untuk semester genap." Gadis mulai menggunakan kekuatan financialnya untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.


"Bapak tidak janji, Gadis. Kenapa tidak menunggu nanti saja? Beda waktunya tidak lama, kan?" Pak Teguh tidak tahu alasan Gadis sesungguhnya karena adanya Haikal.


"Tapi aku ingin cepat-cepat kuliah, Pak. Anak bawang juga tidak apa-apa, deh. Biar aku bisa beradapsi, Pak." Gadis tetap merayu agar Pak Teguh dapat mengabulkan permintaannya.


Suara helaan nafas panjang Pak Teguh terdengar di telinga Gadis ketika pria paruh baya itu mendengar permintaan aneh anak didiknya. Dengan financial yang dimiliki orang tua Gadis, tentu tidak sulit mendapatkan apa yang diinginkan, apalagi hanya ingin ikut kuliah lebih awal. Namun, sebagai seorang guru, Pak Teguh harus lebih bijaksana menyingkapinya.


Gadis sudah kehilangan waktu untuk menikmati masa muda dengan bekerja dan mengikuti program homeschooling, jika ditambah Gadis harus ikut kuliah juga, ia khawatir Gadis akan mengalami kejenuhan dan stress dengan banyaknya hal serius yang mesti ia pikirkan.


"Nanti Bapak bicarakan dulu dengan Pak Evans, Gadis. Tapi menurut Bapak, sebaiknya kamu fokus saja menyelesaikan sekolah kamu, biar kamu lebih enjoy menjalankan aktivitas." Pak Teguh memberikan saran terbaik untuk Gadis.


"Tolong bantu, ya, Pak Teguh. Nanti aku kasih bonus buat Bapak kalau bisa bantu aku." Gadis sampai merayu memberikan imbalan jika Pak Teguh dapat membantunya.


Tok tok tok


Gadis melirik ke arah pintu saat terdengar ketukan pintu dari luar ruangannya, sedetik kemudian Haikal masuk dengan membawa sebuah box paket di tangannya.


"Pak, aku tutup dulu teleponnya, jangan lupa bantuin aku, ya, Pak Assalamualaikum ...." Setelah mengatakan kalimat terakhir pada Pak Teguh, Gadis menutup sambungan teleponnya.


"Apa itu, Kak?" tanya Gadis saat Haikal menaruh paket itu di atas mejanya.


"Katanya pesanan Mbak Gadis, tadi security yang terima dari kurir," jawab Haikal berbicara formal pada Gadis karena saat ini berada di kantor.


Gadis mengambil box itu lalu membaca deskripsi dari paket yang diterima Haikal. Sedangkan Haikal langsung berpamitan ingin kembali ke mejanya, namun Gadis menahan Haikal yang ingin meninggalkan ruangannya.


"Tolong bukakan paket ini dulu, Kak." Gadis menyuruh Haikal membuka bungkusan box paket tersebut, "Hati-hati bukannya," pesannya kemudian.


Haikal menuruti apa yang diminta oleh Gadis, ia membuka paket itu dengan sangat perlahan, tak ingin sampai merusak isi dalam paket ini.


Sebuah kotak jam bermerek, itulah barang yang Haikal lihat dari dalam box paket yang baru ia buka. Dia menyerahkan kotak jam tangan itu pada Gadis.


"Itu untuk Kak Haikal." Tak menerima kotak jam yang disodorkan oleh Haikal, Gadis justru berucap jika paket yang ia pesan adalah barang yang ingin diberikan untuk Haikal.

__ADS_1


"Untuk saya?" Haikal terkejut mendegar ucapkan Gadis. Dia tahu jika barang itu adalah produk branded yang pastinya cukup mahal.


"Iya, ini untuk Kak Haikal," tegas Gadis.


"Untuk apa?" tanya Haikal bingung.


"Untuk Kak Haikal lah, masih tanya lagi ..." Gadis memutar bola matanya karena Haikal masih saja banyak bertanya.


"Maksud saya, untuk apa Mbak Gadis memberikan saya barang mahal seperti ini?" Haikal meminta penjelasan maksud Gadis memberikannya jam tangan itu padanya.


"Memangnya kenapa? Memangnya tidak boleh seorang bos kasih barang ke karyawannya?" Gadis melipat tangan di dadanya, sedikit kesal karena Haikal tidak mau segera menerima pemberiannya.


"Tapi karyawan Mbak bukan saya saja, apa karyawan yang lain juga mendapatkan jam tangan seperti ini?" Tidak mudah bagi Haikal untuk menerima jam tangan mahal itu tanpa tahu tujuannya.


"Ck, tinggal terima saja, bawel banget, sih!" Gadis kesal mendengar pertanyaan-pertanyaan Haikal tadi.


Haikal tak lagi menyanggah apa yang dikatakan Gadis. Dia sudah mulai memahami sikap Gadis. Dia tak ingin membuat Gadis marah, karena dia sendirilah yang akan kerepotan menghadapi sikap kekanakkan Gadis jika wanita itu sedang merajuk.


"Maaf," ucap Haikal langsung mengucapkan permintaan maafnya. Dia pun terpaksa menerima jam tangan mahal pemberian Gadis. "Terima kasih untuk jam tangannya." Haikal berpamitan lalu meninggalkan Gadis yang masih menampakkan wajah memberengut.


"Iiihhh ...! Susah banget bikin dia terkesan!" gerutu Gadis merasa jika Haikal sulit dia taklukan. Dia tidak mengerti, kenapa Haikal tidak peka atas sikapnya, pria itu justru terkesan acuh padanya. Padahal setiap pria yang melihatnya pasti akan terpikat kepadanya dan berlomba-lomba mendapatkannya. Setidaknya itulah yang ia alami saat masih masih sekolah secara normal, banyak teman-teman pria yang berusaha mencari perhatiannya, namun tak ada satu pun dari mereka yang menyita perhatiannya.


***


Di dalam kamar, Haikal memperhatikan jam tangan pemberian Gadis siang tadi. Semakin hari, sikap Gadis semakin jelas menunjukkan ketertarikan padanya. Hal itu membuat Haikal dilema. Jika Gadis adalah wanita biasa sepertinya, mungkin akan lebih mudah baginya mengambil keputusan.


Perbedaan status sosialnya dengan Gadis yang membuatnya membentengi diri agar tidak terlena hingga membuat ia lupa diri. Tak ia pungkiri, Gadis memang mempunyai paras yang cantik, hanya pria bo doh yang tidak tertarik pada Gadis. Tapi, Haikal tetap pada prinsipnya, tak ingin main perasaan dalam bertugas.


"Wah, jam mahal ini." Tiba-tiba Feby sudah muncul di kamar Haikal dan mengambil arloji dari tangan Haikal. "Hmmm, belum lama kerja di BDS sudah bisa beli jam mahal, nih." Feby memperhatikan arloji itu dengan teliti. Dia tahu jika arloji di tangannya itu salah satu arloji branded berharga mahal.


"Dikasih? Dikasih Mbak Airin? Kak Gagah?" tebak Feby, sebab hanya Gagah dan Airin yang saat ini berkemungkinan memberi barang mahal itu.


"Bukan," sanggah Haikal bangkit dari posisi berbaring lalu duduk di tepi tempat tidur.


Tatapan Feby beralih dari jam tangan kini menatap Haikal dengan mata menyipit. "Lalu, siapa yang kasih Kak Haikal ini?" tanyanya penasaran.


"Bosku," sahut Haikal.


"Hahh??" Feby terperanjat, dan langsung duduk di samping Haikal, "Ini dari Gadis? Wah, ini pasti ori, nih! Bukan KW ..." sambungnya.


"Ya pasti ori lah, By." Haikal mengambil kembali jam tangan di tangan Feby.


Feby melirik ke arah Haikal. Pikirannya langsung menduga-duga, "Kok, Gadis kasih barang mahal kayak gini ke Kak Haikal? Curiga, deh! Jangan-jangan ... Gadis itu naksir sama Kak Haikal," tebak Feby.


"Memang iya ..." sahut Haikal jujur.


"Serius, Kak? Hmmm, pantas saja waktu ketemu di resto itu, dia lihat aku kayak yang sinis banget, mungkin dia pikir aku pacar Kak Haikal kali, ya!?" Feby teringat bagaimana sikap tak bersabat Gadis padanya.


"Ya gitu, deh." sahut Haikal malas membahas masalah perasaan Gadis kepadanya.


"Jadi Kak Haikal sudah jadian sama Gadis? Duh, enak banget, sih!? Mbak Airin dapat Kak Gagah, sekarang Kak Haikal dengan Gadis, terus aku nanti dapat siapa?" Feby menangkup wajahnya sendiri, membayangkan kedua sepupunya beruntung mendapat pasangan yang tajir melintir. Dia pun berharap bisa mendapatkan pangeran baik hati dan kaya raya.


"Aku dan Gadis tidak pacaran, By!" Haikal membantah perkataan Feby.


"Lho, memang kenapa? Kak Haikal menolak Gadis? Masa Kak Haikal menolak cewek cantik dan tajir gitu, Kak?" Feby terheran dengan perkataan Haikal bahkan menuduh Haikal menolak Gadis.


"Aku cukup tahu diri, By. Siapa aku? Siapa dia? Kami ini berbeda jauh. Aku tidak ingin jauh berangan-angan, By." Haikal menyampaikan alasannya menolak dikatakan berpacaran dengan Gadis.

__ADS_1


"Kak Haikal kenapa tidak percaya diri kayak gini, sih? Jodoh itu hanya Tuhan yang tahu, Kak. Lihat Mbak Airin, siapa yang menduga sekarang berjodoh dengan Kak Gagah? Bukan tidak mungkin kalau Kak Haikal juga berjodoh dengan Gadis." Feby mencoba menyemangati Haikal agar tidak rendah diri dan beranggapan tidak mungkin akan berjodoh dengan Gadis.


"Sudahlah, By. Jangan omongin hal itu!" Haikal bangkit dan menaruh jam tangan ke dalam box nya. Dia enggan terus membahas soal Gadis, sebab mengingat soal perasaan Gadis membuatnya pusing.


"Bilang ke Gadis, dong, Kak. Aku juga mau dikasih arloji mahal gitu." Feby menyeringai.


"Mau aku bilang ke Papamu?" Respon Haikal justru tak disukai oleh Feby.


"Ya ampun, Kak. Ngapain pakai lapor ke Papa?" Feby memutar bola matanya, kemudian melangkah ke luar dari kamar Haikal.


"Kamu mau apa tadi masuk kamarku, By?" Haikal terkekeh melihat adik sepupunya itu melenggang keluar.


"Suruh panggil Kak Haikal, sudah mau makan malam." Suara Feby terdengar semakin menjauh dari kamar Haikal.


Haikal pun kemudian berjalan keluar dari kamarnya untuk ikut bergabung dengan keluarga Om Fajar di meja makan.


***


Sebelum berangkat ke kantor, Gagah menemani Airin pergi ke dokter kandungan untuk memeriksa kehamilan Airin yang sudah memasuki trimester kedua. Gagah selalu semangat jika berhubungan dengan kehamilan istrinya itu. Dia selalu meluangkan waktu untuk mengantar Airin periksa kandungan.


Selesai periksa kandungan, Gagah kembali ke rumah terlebih dahulu sebelum ke kantornya. Dia tidak menyuruh supir untuk mengantar Airin pulang sendirian.


"Ma, dedek bayinya lagi apa di pelut Mama?" tanya Luna sambil mengusap perut Airin dengan tangan mungilnya.


"Dedek bayi sedang bermain di perut Mama," jawab Airin.


"Kok' dedek bayinya diam aja, ndak gelak-gelak, Ma?" tanya Luna kembali.


"Nanti geraknya kalau perut Mama sudah besar, Luna." Airin membelai penuh kasih sayang putri tercintanya itu.


"Dedek bayinya ada belapa, Ma?" Luna tak berhenti bertanya.


"Adik bayi Luna di perut Mama ada satu, Sayang. Memang Luna ingin punya adik bayi berapa?" Kini Gagah yang menyahuti pertanyaan Luna.


"Luna mau punya adik banyak, Pa. Bial Luna banyak temannya," sahut Luna dengan gerakan tangan membentuk lingkaran menandakan banyaknya adik yang ingin ia miliki.


"Luna mau punya adik banyak?" Gagah melirik ke arah Airin. Tentu dia langsung bereaksi dengan jawaban anak sambungnya tadi.


"Iya, Pa." Dengan cepat Luna menganggukkan kepalanya.


"Nanti Papa akan kasih Luna adik yang banyak sebanyak yang Luna mau." Gagah menyeringai nakal seraya mengerlingkan matanya kepada Airin.


"Mas ...!" tegur Airin merespon ucapan suaminya yang terkesan takabur, "Jangan mendahului kehendak Allah seperti itu!" Airin mengingatkan suaminya agar tidak menjanjikan yang belum pasti bisa mereka lakukan.


"Maaf, Ay. Aku terlalu bersemangat kalau urusan bikin anak." Gagah tergelak bahagia menggoda istrinya.


Sementara Pak Mamat yang mendengarkan percakapan majikannya hanya tersenyum-senyum dan menggelengkan kepala turut merasakan bahagia.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2