JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG

JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG
Kurang Elok Dilihat Orang


__ADS_3

Dua mobil taksi yang membawa rombongan Gagah akhirnya sampai di depan rumah orang tua Airin. Sementara Pak Baskoro dan Ibu Heny sudah menyambut kedatangan mereka di teras rumah.


Airin sudah mengabari rencana kedatangan mereka kepada Bapak dan Ibunya sehari sebelumnya, agar kedua orang tuanya itu tidak terkejut dengan kedatangan mereka, apalagi kedatangan mereka bersama dengan orang asing yang belum dikenal oleh orang tuanya.


"Assalamualaikum ..." Terkecuali Luna, semua orang yang datang ke rumah orang tua Airin memberi salam kepada orang tua Airin.


"Waalaikumsalam ...," Pak Baskoro dan istrinya membalas salam tamunya.


"Kakek ...! Nenek ...!" Luna yang turun bersama Gagah langsung berlari menghampiri kakek neneknya.


"Apa kabar cucu Kakek yang cantik ini? Sudah makin besar sekarang Luna, ya?" Pak Baskoro menangkap tubuh Luna yang berlari menghampirinya lalu mengangkat tubuh cucu pertamanya itu dan memberikan kecupan di pipi Luna.


"Bu, Pak." Airin menghampiri orang tuanya, mencium punggung tangan Pak Baskoro dan Ibu Heny, lalu memeluk tubuh Ibunya itu.


"Sehat-sehat kamu, Rin?" tanya Ibu Heny mengusap punggung Airin. Terakhir mereka bertemu sekitar empat bulan lalu, ketika Airin mengurus perceraiannya dengan Rey.


"Alhamdulillah sehat, Bu." jawab Airin.


"Pakde, Bude ..." Feby menyusul di belakang Airin.


"Cah ayu, apa kabar?" Ibu Heny mengusap wajah Feby saat Feby bersalaman dengannya.


"Sehat-sehat saja aku, Bude." jawab Feby.


"Mbakyu ..." Kini giliran Tante Mira yang memeluk kakak iparnya itu bergantian mencium tangan Pak Baskoro, "Mas ...."


"Gimana suamimu, Mir? Sehatkah?" tanya Pak Baskoro pada adik ipar istrinya itu.


"Alhamdulillah, Mas. Mas Fajar sehat," jawab Tante Mira.

__ADS_1


"Syukurlah kalau keluarga kamu pada sehat," ucap Pak Baskoro.


"Oh ya, Mas, Mbakyu. Kenalkan ini Mbak Widya, teman aku dulu waktu aku di sanggar tari." Tante Mira segera mengenalkan Widya kepada iparnya itu.


"Apa kabar, Pak, Bu. Saya Widya, senang bisa bertemu dan kenal dengan orang tuanya Airin." Widya segera memperkenalkan dirinya lalu berjabat tangan dengan Pak Baskoro dan Ibu Heny.


"Saya Heny, Ibunya Airin dan ini suami saya. Terima kasih, Ibu Widya sudah berkenan berkunjung ke rumah kami ini " Heny menyambut baik perkenalan Widya. Dia bersikap sopan menyambut tamunya, apalagi saat dia tahu jika tamunya itu bukan orang sembarangan.


"Oh ya, Bu. Ini anak bungsu saya, Gagah." Widya menarik lengan Gagah untuk segera dia kenalkan pada sepasang suami istri yang sudah dia anggap sebagai calon besannya itu.


"Bapak sama Ibu apa kabar? Perkenalkan, nama saya Gagah." Dengan penuh wibawa, Gagah mengenalkan dirinya kepada orang tua Airin. Dia pun mendekat, bersalaman. dan mencium punggung tangan calon mertuanya seperti yang Airin lakukan.


"Ini yang aku cerita kemarin, Mbakyu." Tante Mira keceplosan bicara, padahal dia sendiri yang meminta Ibu Heny untuk tidak buka mulut sebelumnya.


Airin seketika menatap Tante Mira. Matanya menyipit mencoba menerka maksud ucapan Tante Mira tadi. Apakah sebelumnya Tantenya itu sudah berbicara pada kedua orang tuanya? Itulah dugaan yang bermain di pikiran Airin.


"Maaf, rumahnya seperti ini kondisinya." Ibu Heny merendah, karena memang tidak ada yang perlu dia sombongkan.


"Tidak apa-apa, Bu. Segini juga suasananya kelihatan tenang dan damai." Widya menyahuti.


Orang tua Airin dan yang lainnya kini duduk di kursi tamu melanjutkan obrolan mereka. Pak Baskoro yang memangku Luna duduk berdampingan dengan Ibu Heny. Di depannya Widya bersama Gagah, lalu Tante Mira duduk sendiri. Sementara Airin dan Feby masuk ke dalam untuk menaruh buah tangan yang Airin beli untuk orang tua dan adiknya. Mereka juga membuatkan minuman untuk Widya, Gagah dan Tante Mira.


"Rin, duduklah di sini dulu!" Pak Baskoro menyuruh anaknya ikut berbincang saat Airin hendak menyimpan baki setelah menyajikan makanan dan minuman pada tamu yang berkunjung ke rumah orang tuanya.


"Kamu duduk di sini, Rin!" Tante Mira bangkit dan menberikan kursi yang didudukinya kepada Airin. Dia sendiri lalu masuk ke dalam untuk mengambil kursi lipat dari ruangan tengah rumah iparnya itu.


"Ibunya Airin mendapat kabar dari Mira, jika akan ada tamu dari Jakarta yang berencana berkunjung ke rumah kami ini. Jika kami boleh tahu lebih jelas, sebenarnya apa maksud kedatangan Ibu Widya dan Nak Gagah ini menemui kami? Maaf sebelumnya jika saya lancang bertanya seperti ini." Pak Baskoro bicara sangat halus tanpa ingin menyinggung perasaan lawan bicaranya.


"Iya, sebenarnya ...."

__ADS_1


"Ma, biar aku saja yang bicara." Gagah memo tong ucapan sang Mama, karena dia ingin menjelaskan sendiri kepada orang tua Airin tentang maksud kedatangannya itu.


"Begini, Pak, Bu. Sebenarnya kami juga tidak menyangka jika akan jadi rombongan. Awalnya saya hanya ingin kemari membawa Luna dan Tante Mira sebagai keluarga yang tahu alamat rumah ini." Gagah mulai menjelaskan tujuan kedatangannya jauh-jauh ke Yogyakarta dari Jakarta.


"Tapi, Tante Mira keberatan karena takut Airin tidak memberikan ijin jika kami pergi bertiga, hingga akhirnya banyak yang ikut datang kemari, sekaligus bersilaturahi," lanjut cerita Gagah.


Tatapan mata Airin kini berpusat pada pria berwajah rupawan yang belakangan ini membuat hatinya resah, karena bingung menolak atas tekad keras Gagah yang ingin menikahinya. Airin sama sekali tidak tahu jika Gagah dan Tante sebelumnya pernah saling berdiskusi tentang rencana ke Yogyakarta tanpa sepengetahuannya.


"Tujuan saya kemari karena saya ingin mengenal lebih dekat dengan keluarga Airin. Sebab, saya mempunyai niat untuk meminang putri Bapak dan Ibu untuk menjadi istri saya." Tanpa ada keraguan dan tanpa basa-basi, Gagah mengungkapkan keinginannya terhadap Airin di hadapan orang tua Airin.


Pak Baskoro dan Ibu Heny saling pandang mendengar niat Gagah yang ingin melamar Airin. Kendatipun mereka sudah mendengar sepintas dari Tante Mira, namun mereka tidak menyangka, jika pria yang dimaksud oleh Tante Mira. Pria yang dikenalkan sebagai anak dari sahabat lama Tante Mira itu benar-benar berniat ingin memperistri Airin.


Airin seketika tertunduk. Jari tangannya saling bertautan. dengan keringat dingin yang sudah membasahi telapak tangannya.


Saat ini, Airin seperti anak perawan yang sedang dipersunting oleh seorang pangeran tampan yang menyukainya. Sejujurnya ada rasa malu di hati Airin mendengar keinginan Gagah itu. Untung saja saat ini hanya keluarganya dan keluarga Gagah yang ada di ruangan itu.


"Hmmm, maaf, Nak Gagah. Nak Gagah sudah tahu status anak kami itu seperti apa? Apa itu tidak menjadi masalah? Lagipula, anak kami baru bercerai dengan suaminya. Sepertinya ... kurang elok dilihat orang jika Airin menikah kembali dalam waktu dekat ini." Setelah kegagalan dalam rumah tangga putrinya, tentu Pak Baskoro akan lebih hati-hati jika ada pria yang ingin mendekati putrinya saat ini.


*


*


*


Bersambung ....


Turut prihatin atas musibah gempa yang terjadi di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah SWT. Aamiin Ya Rabbal Alamin🤲


Happy Reading ā¤ļø

__ADS_1


__ADS_2