JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG

JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG
Aku Menurut Saja


__ADS_3

Jelang waktu Shubuh, Airin keluar dari kamarnya. Ia hendak membersihkan tubuhnya terlebih dahulu, sambil mengambil air wudhu sebelum melaksanakan kewajiban dua rakaatnya. Setelah itu, ia ingin membantu ibunya di dapur menyiapkan menu sarapan pagi mereka.


Itulah aktivitas rutin yang dilakukan Airin setiap pagi. Baik di rumahnya, di rumah Om nya, terlebih di rumah orang tuanya. Karena sejak remaja, dia sudah membiasakan diri dengan urusan pekerjaan rumah, seperti membantu Ibu Heny memasak.


"Rin ...."


Airin baru keluar dari kamar mandi, saat ia mendengar suara Ibu Heny memanggilnya.


"Iya, Bu?" Airin menoleh ke arah Ibu Heny.


"Kamu mau sholat?" tanya Bu Heny, melihat Airin sudah selesai mandi.


"Ada apa, Bu?" tanya Airin, dengan tangan mengusap rambut panjangnya dengan handuk.


"Nanti kalau sudah sholat, Bapak mau bicara," ujar Ibu Heny.


"Oh, iya, Bu. Airin sholat shubuh dulu kalau begitu." Tanpa bertanya, apa yang akan dibicarakan oleh Bapaknya? Airin segera melangkah menuju kamarnya. Airin tahu, apa kira-kira yang akan dibahas oleh Pak Baskoro. Pasti soal Gagah.


Setelah menjalankan sholat Shubuh, Airin segera menemui Bapak dan Ibunya, yang sudah menunggu di ruang keluarga. Ruang keluarga keluarga Pak Baskoro terletak di dekat pintu pekarangan samping rumah mereka.


"Bapak panggil aku?" tanya Airin setelah duduk di hadapan Pak Baskoro dan Bu Heny.


Pak Baskoro sedang menonton acara televisi. Beliau segera mengambil remote, dan menurunkan volume suara telivisi berukuran tiga puluh dua inch yang terpasang di dinding.


"Begini, Rin. Bapak dan Ibu sudah berdiskusi semalam. Soal Luna dan Nak Gagah." Pak Baskoro mulai berbicara.


Tepat seperti dugaan Airin sebelumnya. Apa yang akan dibicarakan kedua orang tuanya, berhubungan dengan Gagah juga Luna. Sikap Luna yang merengek ingin selalu bersama Gagah memang sangat meresahkan. Tak jarang membuatnya pusing.


"Menurut Bapak dan Ibu, sebaiknya kamu segera menerima Nak Bagas dan segera menikah, Rin. Luna dan Nak Gagah sudah dekat sekali. Luna seperti sudah merasa nyaman sekali dengan Nak Gagah. Bapak dan Ibu yakin, jika Nak Gagah tidak akan menyakiti kamu." Pak Baskoro mencoba mempengaruhi Airin, agar segera mengambil keputusan yang terbaik untuk Airin dan cucunya itu.


Airin mendesah. Hatinya merasa berat untuk kembali menikah dalam waktu yang sangat dekat dengan perceraiannya. Tapi, dukungan untuk ia segera menerima Gagah menjadi pendamping hidupnya semakin kuat. Terlebih sikap Luna, yang merasa jika Gagah adalah milik Luna, hingga tidak boleh jauh dari Luna, benar-benar membuat kepalanya pusing.


"Bapak tidak mendesak kamu menerima Nak Gagah, karena dia itu pengusaha yang kaya raya. Kalau hanya sekedar tampan dan kaya. Tapi, hatinya tidak baik dan tidak tulus, Bapak juga tidak akan memberikan restu. Sementara, Nak Gagah terlihat tulus terhadap Luna. Apalagi, keluarga Nak Gagah juga merestui kalian. Apa lagi yang kamu tunggu, Rin?" tanya Pak Baskoro.


Airin menghela nafas dalam-dalam. Dia harus membuat keputusan besar dan penting dalam hidupnya. Memutuskan untuk menikah, menyatukan dua sifat yang berbeda memang tidak akan mudah. Apalagi, ia pernah gagal dan Gagah berasal dari keluarga ningrat dan mempunyai status ekonomi di atas keluarganya.


Semalam Airin sudah berdoa, meminta petunjuk, apa yang terbaik, yang harus dia ambil? Dari dukungan yang terus mengalir untuk Gagah. Luna yang makin dekat dengan Gagah. Juga, ia yang mulai menikmati aroma tubuh Gagah. Airin pun pasrah, untuk menerima Gagah menjadikan dirinya istri dari pria tampan itu.


"Baiklah, Pak, Bu. Jika menurut Bapak dan Ibu yang terbaik untuk aku lakukan adalah menikah dengan Mas Gagah ..." Airin menjeda kalimatnya. Namun, ia sambung dengan anggukkan kepalanya perlahan.


"Aku menurut saja ..." lirihnya pasrah.


"Alhamdulillah ..." Pak Baskoro dan Ibu Heny dapat bernafas lega, karena Airin sudah mengambil keputusan untuk menikah dengan Gagah.


"Kamu cepat kasih kabar Nak Gagah, Rin. Bilang kamu bersedia, kalau perlu nikah hari ini juga tidak apa-apa!" Ibu Heny terlihat bersemangat merespon jawaban Airin.


"Sabar, Bu! Sabar ...!" Pak Baskoro menenangkan istrinya, karena terlihat ingin segera menghalalkan Airin dan Gagah.


"Hehehe ... Ibu tidak sabar melihat mereka sah, Pak." Ibu Heny terkekeh.


"Ini hari Minggu, kantor KUA nya juga tutup. Kita belum punya persiapan apa-apa," terang Pak Baskoro.


"Iya, Pak. Telepon Nak Gagah saja dulu, Rin!" Ibu Heny benar-benar tak sabar ingin menyampaikan berita bahagia tersebut kepada Gagah.


"Nanti saja, Bu. Mas Gagah juga pagi ini akan ke sini. Dia sudah janji sama Luna akan membawa Luna pergi jalan-jalan." Airin menolak halus permintaan Ibunya, karena sebentar lagi juga Gagah akan tiba di rumah itu.


"Hiks ... hiks ... Mama!" Suara tangis Luna terdengar dari dalam kamar Airin, membuat mereka yang ada di ruangan keluarga memoleh ke arah kamar Airin. Apalagi saat terlihat handle pintu bergerak-gerak. Sepertinya Luna kesulitan membuka pintu kamar.


Airin berlari ke arah kamarnya untuk membukakan pintu.

__ADS_1


"Luna sudah bangun?" Airin mengangkat dan menggendong tubuh Luna, kemudian dia kembali bergabung dengan kedua orang tuanya di ruang keluarga.


"Cucu Kakek jam segini sudah bangun, ya? Masya Allah, anak pintar ..." ucap Pak Baskoro.


"Mama, Om Gagah nya ilang. Hiks ..." Luna kembali terisak, karena dia tidak menemukan Gagah di samping tempat tidurnya.


"Om Gagah bukannya hilang, Luna. Tapi, semalam Nenek Widya sama Nenek Mira telepon, suruh Om Gagah pulang. Kasihan Nenek Widya sama Nenek Mira tidak ada yang menjaga di hotel. Kalau ada yang nakalin Nenek, siapa yang akan menjaga? Kalau di sini 'kan, Luna ada Mama, ada Kakek, Nenek, Ateu Peby sama Om Haikal. Jadi, di sini Luna banyak yang menjaga." Airin sampai mengarang cerita yang bisa dipahami oleh putrinya yang mulai kritis dalam bertanya-tanya.


"Luna mau ikut cama Om Gagah, Ma. Hiks ..," Airin tidak perduli alasan yang diberikan oleh Airin.


Airin menghempas nafas cukup keras. Anaknya itu kini mulai ketergantungan terhadap Gagah. Apa-apa selalu Gagah, seakan Luna tidak bisa berpisah jauh dari pria itu.


"Luna mau Om Gagah jadi Papa Luna, tidak?" tanya Airin membelai kepala Luna penuh kasih sayang.


"Mau, Ma. Luna mau Om Gagah jadi Papa balu Luna," ucap Luna bergelayut manja.


"Kalau Luna mau Om Gagah jadi Papa baru Luna, Luna tidak boleh rewel. Luna harus nurut apa yang Mama bilang. Kalau Luna tidak menuruti omongan Mama, nanti Om Gagah tidak akan mau jadi Papa baru Luna. Soalnya Luna nya nakal." Airin memberi ancaman dengan kalimat yang lebih halus.


"Jangan, Ma. Luna janji, Luna ndak lewel lagi, Ma. Tapi, Luna mau cama Om Gagah," janji Luna, akan menuruti semua apa yang diminta oleh Mamanya.


"Ya, sudah. Sekarang Luna mandi dulu. Nanti Om Gagah mau datang ke sini. Biar nanti kalau Om Gagah datang, Luna sudah rapih dan sudah wangi." Airin membujuk Luna untuk segera mandi.


"Luna mau mandi sekarang? Nenek masak airnya dulu, ya!" Ibu Heny kemudian bangkit dari kursi, setelah mendapatkan jawaban dari cucunya, yang merespon dengan mengganggukkan kepala.


"Luna sama Kakek dulu. Mama mau bantu Nenek menyiapkan sarapan." Airin bangkit dan menyerahkan Luna pada Kakeknya. Karena dia ingin bergabung dengan sang Ibu untuk menyiapkan menu sarapan pagi keluarganya.


"Luna lihat tivi dulu sama Kakek. Kita cari film kartun, ya!?" Pak Baskoro mengambil remote dan mencari channel yang menayangkan acara film kartun, agar cucunya itu tidak rewel kembali.


***


Jam enam kurang sepuluh menit, Gagah sudah sampai di rumah Pak Baskoro. Pria itu seolah enggan mengingkari janjinya, sehingga dia segera pergi pagi-pagi ke rumah Pak Baskoro. Semua itu Gagah lakukan untuk Luna, disamping untuk meyakinkan Airin dan kedua orang tua Airin.


"Assalamualaikum ..." Tangan Gagah menekan bel yang menempel di dinding dekat pintu rumah.


Beberapa saat menunggu, akhirnya jawaban terdengar dari dalam rumah Pak Baskoro.


"Waalaikumsalam ..." Dari dalam rumah, Pak Baskoro membukakan pintu untuk Gagah.


"Om Gagah ...!"


Namun, saat daun pintu rumah Pak Baskoro terbuka, Luna lebih dahulu memeluk kaki Gagah, membuat Gagah terkejut.


"Eh, Luna sudah bangun?" Gagah mengangkat tubuh Luna. Seperti biasa, pria itu meletakkan tubuh Luna di lengan kekarnya.


"Luna sudah mandi, ya? Sudah harum sekali ini." Gagah mengedus aroma segar aroma anak-anak di tubuh Luna.


"Udah, Om." sahut Luna.


"Pak ..." Kemudian Gagah mencium punggung tangan calon mertuanya.


"Masuk, Nak Gagah." Pak Baskoro mempersilahkan Gagah masuk ke dalam rumahnya dengan membuka daun pintu lebar-lebar.


"Terima kasih, Pak." Setelah dipersilahkan untuk duduk, Gagah melangkah masuk dan duduk di sofa.


"Om Gagah, napa pelgi? Tadi Luna bangun, Om Gagah ndak ada. Luna telus nangis." Luna mengadu pada Gagah.


"Maafkan, Om Gagah." Gagah mengusap wajah mulus Luna, "Tapi, sekarang Luna tidak menangis lagi, kan?" tanya Gagah kemudian.


"Ndak, Om. Kata Mama, kalau Luna lewel telus, nanti Om Gagah ndak mau jadi Papa balu Luna." Kepolosan sikap Luna membuat Gagah terkesiap.

__ADS_1


"Mama bilang begitu?" Gagah tidak menyangka kalau Airin mengatakan hal tersebut pada Luna. Namun, senyum langsung mengembang di sudut bibir pria itu. Ia pun lalu menoleh ke arah Pak Baskoro yang duduk di depannya saat ini.


"Luna, ayo panggil Mamanya dulu. Kasih tahu Mama, kalau Om Gagah sudah datang!" perintah Pak Baskoro kepada cucunya.


"Iya, Kek." Luna turun dari pangkuan Gagah dan berlari ke arah kamar Mamanya.


Setelah membantu meracik menu sarapan untuk keluarganya, Airin diminta Ibu Heny untuk meninggalkan dapur untuk bersiap-siap, karena Gagah akan segera datang ke rumah mereka.


Airin mengganti pakaiannya yang terlihat lebih pantas dari pada sekedar daster panjang yang dia kenakan saat ini. Dia hanya mengoles wajahnya dengan day cream dan memoles tipis bibirnya dengan lipstik berwarna nude. Sementara rambut panjangnya ia ikat menjadi satu.


"Mama, Om Gagah udah datang! Ayo, cepat, Ma! Kita jalan-jalan cama Om Gagah." Luna menarik tangan Airin, agar Mamanya cepat menemui Gagah, sebab anak itu terlalu bersemangat ingin pergi dengan Gagah.


"Eh, tunggu dulu, Luna. Luna jangan tarik-tarik Mama kayak gini! Nanti Mama jatuh!" Airin terkejut ketika Luna menariknya. Apalagi Luna langsung membawa dirinya sampai ke ruang tamu.


"Eh, Nak Gagah sudah datang?" Di saat yang bersamaan, Ibu Heny pun baru selesai menyiapkan sarapan pagi dan muncul di ruangan tamu.


"Iya, Bu." Gagah bangkit lalu bersalaman. Tak lupa ia mencium punggung tangan Ibu Heny, sebagai sikap hormat. Walaupun, terhadap Mamanya sendiri, ia sudah jarang mencium punggung tangan Widya. Ia lebih suka mencium pipi Mamanya jika akan pergi dan datang ke rumah.


"Om Gagah, kok' ndak cium tangan Mama? Tadi kakek, celakang Nenek, tapi Mama Ailin ndak dicium juga?" celetuk Luna memprotes Gagah yang tidak melakukan hal yang sama pada Airin.


"Luna!" Airin menegur Luna, karena perkataan anaknya itu membuatnya sangat malu.


Airin melirik ke arah Gagah dengan menggigit bibirnya. Pria itu justru membalas dengan memberikan senyuman padanya.


"Jangankan hanya tangan, jika sudah menikah nanti, semua bagian tubuh Mama Airin pasti akan Om cium." Sementara di dalam hatinya, saat ini Gagah sedang bersorak gembira. Bahkan pikirannya sudah membayangkan seperti yang pernah dipikirkan Tegar beberapa waktu lalu terhadap Airin.


"Nanti, bukan Om Gagah yang cium tangan Mama Airin. Tapi, Mama Airin yang cium tangan Om Gagah." Dari pintu kamar tamu, Feby melontarkan celetukan yang membuat Airin semakin tersudut dengan orang-orang pendukung Gagah.


"Feby ..." Pak Baskoro menegur Feby, agar tidak ikut berkomentar.


"Hehe, maaf, Pakde." Dengan menyeringai, Feby meminta maaf.


"Kita sarapan saja dulu. Kalian jadi pergi jalan-jalan, kan? Ibu sudah masak banyak, tuh!" Mengetahui putrinya salah tingkah karena perbuatan Luna dan Feby, Pak Baskoro segera mengajak Gagah dan anggota keluarganya untuk sarapan terlebih dahulu.


Mereka lalu menikmati sarapan pagi bersama sambil sedikit berbincang ringan. Pak Baskoro juga mengenalkan Haikal kepada Gagah. Semalam, saat Gagah menemani Luna tidur hingga berpamitan pulang, Gagah tidak sempat bertemu dengan Haikal, karena adik dari Airin itu belum pulang dari bekerja.


"Ibu bilang, kamu kerja di Bintang Departement Store?" tanya Gagah pada Haikal. Sebelumnya Ibu Heny sudah bercerita padanya, jika Airin mempunyai adik laki-laki yang bekerja di perusahaan yang sama dengan yang dikelola Gagah di pusat. Bahkan,


"Benar, Mas." sahut Haikal, yang terpaksa ikut sarapan pagi, karena menghormati Gagah. Apalagi Ibu Heny sudah menceritakan siapa Gagah yang sebenarnya. Bukan hanya calon ipar baru Haikal, tapi, bos besar di tempat Haikal bekerja.


Biasanya, jika mendapat giliran kerja sift sore, selepas Shubuh, Haikal akan tidur kembali dan akan bangun jam sepuluh pagi.


"Kak Haikal jangan panggil Mas, dong! Panggil Kak Gagah saja kayak aku!" protes Feby, mengkritik panggilan yang diberikan Haikal pada Gagah.


"Lho, memangnya kenapa?" tanya Ibu Heny heran karena larangan Feby.


"Karena yang pantas manggil Mas Gagah itu hanya Mbak Airin saja, Bude." Feby memberikan alasannya.


Mata Airin seketika mendelik tajam mendengar ucapan Feby tadi. Rasanya ia ingin sembunyi jauh-jauh dari orang-orang terdekatnya, karena dia merasa semua kompak membuat dia malu di hadapan Gagah.


*


*


*


Bersambung ....


Happy Reading ❤️

__ADS_1


__ADS_2