JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG

JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG
Dibungkus Saja


__ADS_3

Airin menatap makanan yang ada di hadapannya. Po tongan buah mangga muda disiram dengan saus kacang yang ditumbuk cabai merah, terlihat menggugah selera hingga ia menelan salivanya.


Bi Darsih memang membuatkan rujak buah mangga muda atas permintaan Airin, sebab Airin tiba-tiba ngidam ingin makan rujak buah.


Tangan Airin mulai mengambil satu i risan buah mangga dan ia masukan ke dalam mulutnya.


"Mbak, jangan banyak-banyak makan buahnya." Dari seberang meja, Bi Darsih menasehati Airin agar jangan terlalu banyak memakan mangga muda yang sudah pasti asam rasanya.


"Ini enak, Bi. Bibi mau?" Airin justru menawari Bi Darsih.


"Tidak, Mbak. Gigi Bibi sudah tidak kuat makan yang asam-asam begitu, ngilu rasanya." Bi Darsih memegang pipinya.


"Luna mau itu, Ma." Luna yang duduk di samping Airin menunjuk ke arah rujak buah di hadapan Mamanya.


"Luna mau ini? Ini asam rasanya, Nak. Luna tidak boleh makan ini nanti perutnya sakit." Airin melarang Luna dengan memberi alasan yang masuk akal.


"Itu Mama makan, nanti pelut Mama cakit makan itu." Tanpa diduga Airin, Luna memprotes jawaban Airin.


"Hmmm, Mama sudah besar jadi Mama tidak apa-apa makan ini," jawab Airin berkilah karena dibalas dengan jawaban cerdas Luna.


"Tapi di pelut Mama ada dedek bayinya. Kacian dedek bayinya kalau makan yang acem itu, Ma." Ekspresi wajah Luna yang serius dengan mengerutkan kening menunjukkan jika dirinya tidak puas dengan jawaban Mamanya. Jawaban Luna itu membuat Airin hanya tersipu malu karena diceramahi anaknya sendiri.


"Neng Luna pintar jawabnya." Bi Darsih terkekeh mendengar jawaban Luna.


"Assalamualaikum ..." Suara Gagah tiba-tiba saja terdengar dari pintu ruang makan.


"Waalaikumsalam ..." sahut orang-orang yang berkumpul di ruangan makan langsung menoleh ke arah pintu.


"Papa pulang ..." Luna langsung turun dari kursi dan berlari menjemput Gagah seperti yang biasa bocah itu lakukan setiap Gagah pulang.


"Mas? Kok' sudah pulang?" Airin menoleh ke arah jam dinding di ruangan, jarum jam itu belum menyentuh angka tiga.


"Aku baru bertemu dengan relasi bisnis dekat sini." Gagah menghampiri Airin, "Kamu sedang makan apa, Ay?" Gagah menoleh makanan yang ada di hadapan istrinya.


"Papa, Mama makan acem-acem, Pa. Nanti pelut Mama cakit, kacian dedek bayi, Pa." Luna langsung mengadu kelakuan Mamanya pada Gagah.


"Kamu makan buah muda, Ay?" Gagah menatap serius Airin," Dengan sambal kacang pedas begitu?" Mata Gagah melotot pada Airin.


"Malahin Mamanya, Pa. Mama nakal makan yang acem-acem." Luna justru memprovokasi Gagah, sebab menganggap Mamanya salah.


"Jangan makan yang asam-asam, Ay. Hati-hati lambungmu." Gagah segera menyingkirkan rujak buah dari hadapan Airin.


"Mas, itu obat menghilangkan rasa mual." Airin menahan piring buah yang diambil Gagah. "Lagipula yang kepingin makan ini yang di dalam perutku ini, kok." Airin berasalan agar suaminya tidak melarangnya apalagi memarahinya.


"Kalau mual sebaiknya kamu periksa ke dokter, Ay. Ayo, aku antar kamu ke dokter." Bukannya memberi kembali rujak buah itu, Gagah justru mengajak Airin pergi ke dokter.


"Aku tidak sakit, Mas." sanggah Airin.


"Tadi kamu bilang mual," kata Gagah.


"Iya, tapi bukan berarti aku sedang sakit, Mas. Hanya mual wajar orang hamil, kepingin yang asam dan pedas." Airin bertameng pada kehamilannya. "Mas mau anaknya icesan kalau keinginan adik bayinya tidak dipenuhi?" Airin memberi alasan agar suaminya tak menghalangi lagi makan rujak buah yang tadi dia makan.


"Ya sudah, tapi jangan banyak-banyak, Ay." Akhirnya Gagah memberikan ijin.


"Sayang kalau tidak dihabiskan, Mas." Airin masih mencoba berkompromi.


"Aku bilang tidak, tidak!" tegas Gagah.


"Ya sudah, Mas duduk di sini, deh! Temani aku menghabiskan rujak buah itu." Airin meminta Gagah untuk duduk di sebelahnya dan ikut makan rujak buah yang asam dengan bumbu kacang pedas.


"Tidak! Aku tidak suka itu!" Gagah menolak permintaan Airin.


"Kalau Mas tidak mau menemani aku, biar aku yang habiskan rujak buah ini." Airin kembali mengambil po tongan rujak buah dan memasukkan ke dalam mulutnya. "Ssshhh ..." Dengan mendesis Airin memejamkan matanya menikmati rujak buah.


Gagah sampai mengedikkan bahunya melihat Airin mengunyah mangga muda. Dia merasa linu sendiri dan membayangkan bagaimana asamnya mangga muda yang dimakan Airin.


"Ay, sudah! Jangan banyak-banyak!" Tangan Gagah menghentikan tangan Airin yang hendak mengambil buah mangga lagi. "Ya sudah, biar aku yang habiskan rujak buahnya." Gagah terpaksa menerima permintaan Airin untuk makan rujak buah mangga yang memang benar-benar asam rasanya.


Gagah menatap piring rujak buah yang kini berpindah di hadapannya. Dia menelan salivanya, sambil mengumpulkan selera untuk menghabiskan rujak buah. Tangannya bergerak ragu mengambil po tongan mangga muda itu.


"Kalau Mas tidak yakin, sebaiknya jangan dimakan, Mas. Biar aku saja yang habiskan." Airin meminta kembali rujak buah miliknya tadi.


"Aku sanggup habiskan ini." Gagah segera memasukkan buah mangga ke dalam mulutnya. Ekspresi wajah Gagah langsung berubah, menahan rasa asam ketika dia menggi git buah mangga muda itu.

__ADS_1


"Papa acem, ya?" Luna yang ada di pangkuan Gagah memperhatikan wajah Papa sambungnya itu tersiksa saat memakan rujak buah. "Jangan makan, Pa. Nanti Papa cakit pelut." Luna sangat memperdulikan Gagah hingga melarang Gagah melanjutkan makan rujak buah.


"Iya, Mas. Kalau Mas tidak kuat rasa asamnya, buat aku saja. Aku kuat makan itu, kok." Airin masih berusaha merayu suaminya untuk memberi rujak buah tadi.


"Aku kuat habiskan ini, kok, Ay." Keringat mulai membasahi kening Gagah, karena selain asam, rujak buah bercampur sambal kacang itu memang pedas.


Airin merebut piring rujak buah di depan Gagah lalu menyerahkannya pada Bi Darsih. Dia merasa kasihan melihat sang suami terpaksa makan buah mangga muda yang asam itu.


"Bi, ini kasih ke yang lain saja." Airin lalu bangkit dari kursinya, "Mas mau ke kantor lagi?" tanya Airin.


"Tidak, sudah jam segini, tanggung kalau bolak-balik." Gagah pun bangkit dan mengambil sapu tangan di saku celananya untuk mengelap keringat di keningnya.


"Ya sudah, kalau kita ke kamar, yuk, Mas." Airin merangkul lengan Gagah, dan mereka bertiga pun meninggalkan ruang makan menuju kamar mereka.


***


Airin baru membaca pesan yang dikirim oleh Haikal. Haikal menjelaskan pada Airin soal tugas baru yang akan jalaninya mulai pekan depan. Airin juga tidak mengerti kenapa suaminya itu seolah sengaja menyodorkan Haikal untuk Gadis.


"Mas, apa benar Mas menyuruh Haikal menjadi Aspri bagi Gadis?" Ketika suaminya baru keluar dari kamar mandi, Airin langsung meno dong Gagah dengan pertanyaan.


Gagah yang mengusap-usap rambut, mengeringkannya dengan handuk kecil menoleh ke arah sang istri.


"Aku selalu kalah cepat dengan adikmu, Ay." Gagah terkekeh sebab info terupdate di kantor, Airin sudah cepat mengetahuinya.


"Mas ..." Airin meminta suaminya serius menanggapi pertanyaannya.


"Karena memang itu yang diinginkan oleh Gadis." Gagah mulai memakai satu persatu pakaiannya. "Seperti yang aku bilang, Ay. Gadis itu menyukai Haikal, biarkan sajalah. Siapa tahu mereka memang berjodoh, aku yakin BDS akan tetap stabil bahkan bisa maju, sebab orang yang ada di dekat Gadis adalah orang yang aku percaya." Gagah menuturkan alasannya, memberi tugas itu pada Haikal.


"Mas jangan terlalu membebani Haikal dengan tugas seberat itu. Aku takut Haikal tidak sesuai dengan harapan Mas," cemas Airin.


Gagah menangkup wajah Airin dan menaikkan wajah Airin menatap ke arahnya.


"Jangan memikirkan adikmu, kamu serahkan saja padaku, Ay." Gagah memastikan jika dirinya tak salah dalam mengambil tindakan.


"Mas selalu bikin aku cemas ..." Airin memeluk Gagah, mencari kedamaian di tengah kegundahan hatinya dengan merapatkan tubuh dengan sang suami.


"Mama cama Papa lagi pacalan ... Hihihi ..." Dari pintu kamar penghubung kamar Gagah dengan Luna, bocah itu mengintip orang tuanya yang dia anggap sedang bermesraan.


"Ay, gimana kalau kita pergi setelah Maghrib? Kita cari makan di luar." Gagah ingin mengajak istri dan juga putri sambungnya mencari udara di luar rumah.


"Aku mau, Mas." sahut Airin cepat merespon. Selama menikah dengan Gagah, dia hanya merasakan pergi bersama dengan Gagah dan Luna malam hari setiap ada acara keluarga saja.


"Luna mau ikut Papa Mama, tidak? Atau Luna mau di sana Kakek Nenek?" Gagah menggoda Luna.


"Ndak mau, Luna mau ikut Papa cama Mama." Luna mengeratkan pelukan pada tubuh Gagah. Takut ditinggal oleh Gagah dan Airin.


"Ya sudah, nanti kita pergi bersama. Kita tunggu Maghrib sambil berbincang dengan Papa dan Mama di bawah. Kita kasih tahu kalau kita akan makan di luar." Gagah merangkul pundak Airin mengajak istrinya dan Luna turun ke bawah.


***


Gagah menatap Airin bergantian dengan beberapa menu makanan yang ada di hadapannya saat ini. Mereka hanya bertiga, namun meja yang mereka pilih penuh dengan menu makanan yang Airin pesan. Lebih dari lima menu makanan yang dipesan oleh Airin, dan Gagah yakin jika itu tidak akan habis jika dimakan oleh mereka bertiga. Airin memesan grilled tuna steak, sate ayam, Ayam pedas manis, garlic butter broccoli, udang tepung saus mentega dan mie goreng Jawa.


"Luna mau sate?" Airin menaruh menu brokoli terlebih dahulu di piring nasi milik Luna.


"Mau mie itu, Ma." Seperti kebanyakan anak kecil, Mie adalah makanan yang sangat menggiurkan bagi Luna.


"Mie nya sedikit saja, ya." Airin mengambil sedikit mie goreng untuk Luna. "Satenya mau tidak?" tanya Airin lagi.


"Luna yang pegang, Ma." Luna meminta satu tu suk sate sebab ingin memakannya sendiri.


"Luna makan sendiri bisa tidak?" tanya Airin seraya memberikan sate yang Luna inginkan.


"Bica, Ma." jawab Luna.


"Pelan-pelan makannya, baca doa dulu sebekum makan," nasehat Airin. Dia lalu menoleh ke arah suaminya yang belum mengambil lauk di atas piring nasinya. "Mas mau sama apa?" tanya Airin kemudian.


"Aku ambil sendiri saja, kamu makan saja, Ay." Gagah mengambil steak tuna dan brokoli.


Karena Gagah menolak ia ladeni, Airin pun mengambil lauk untuk dirinya sendiri. Airin mengambil semua menu yang ia pesan kecuali sate. Dia mengambilnya dalam porsi sedikit-sedikit agar bisa dia makan semua.


Gagah terkekeh melihat piring nasi Airin kini tertutup semua menu yang Airin ambil.


"Menunya dicampur-campur gitu, apa enaknya, Ay?" tanyanya meledek.

__ADS_1


"Ini namanya nasi campur, Mas." sahut Airin menyeringai, Setelah membaca doa, Airin mulai menyantap makanannya.


"Catenya lagi, Ma." Luna memberikan tu suk sate yang sudah habis di tangannya.


"Luna mau sate lagi?" Airin menyodorkan sate pada Luna.


"Mau dua ..." pinta Luna menawar.


Airin memberi sate kembali pada Luna. Tangannya lalu menarik tissue dan mengelap sudut bibir Luna yang terkena bumbu kacang.


"Makannya pelan-pelan biar nasinya tidak berantakan." Airin juga mengambil nasi yang terjatuh di baju Luna.


"Anak Papa pintar bisa makan sendiri." Gagah menuji Luna yang mau makan sendiri tanpa disuapi.


"Kata Mama kalau makan cendili anak pintal, Pa." Dengan menggoyangkan kakinya yang menggantung, Luna menjawab ucapan Gagah.


"Luna 'kan mau punya adik, jadi Luna harus bisa mandiri," ujar Airin dengan tangan mengusap kepala Luna.


"Mandili apa, Ma?" Luna menoleh ke arah Mamanya.


"Mandiri itu Luna bisa melakukan sesuatu sendiri, seperti makan sendiri tidak disuapi, mandi sendiri, tidur sendiri, pakai baju juga harus sendiri." Airin menjelaskan apa yang dimaksud dengan kata mandiri untuk anak seusia Luna.


"Luna makan cendili, mandi cendili, bobo cendili, kalau pakai baju, Mama yang pakein ... Hihihi." Luna menutupi mulutnya setelah berceloteh.


"Nanti Luna belajar lagi, Luna 'kan anak pintar." Demi membangkitkan semangat Luna, Gagah menyemangati putri sambungnya itu.


"Iya, Papa." Luna mengangguk bersemangat.


"Ayo cepat habiskan makannya." Airin menyuruh Luna agar segera menghabiskan nasi dan lauknya, sementara dia sendiri sudah menghabiskan nasi miliknya tanpa tersisa.


"Kamu mau tambah lagi makannya, Ay?" tanya Gagah saat melihat sang istri sudah menghabiskan makanannya.


"Tidak, Mas. Sudah kenyang ..." Airin mengusap perutnya.


"Kamu pesan makanan sebanyak ini, tapi dimakan hanya satu dua sedok saja." Melihat makanan masih banyak di mejanya, Gagah mengkritik istrinya. Bukan karena sayang uang tapi ia menganggap makanan itu akan terbuang percuma.


"Nanti dibungkus saja, Mas. Biar dibawa pulang karena masih banyak." Airin mengedar pandangan mencari pelayan restoran untuk membungkus makanan yang masih banyak tersisa.


"Dibungkus?" Gagah terkesiap mendengar ucapan sang istri, "Jangan bikin malu aku, Ay!" protes Gagah sebab dia ataupun keluarganya tidak pernah membungkus sisa makanan jika dia dan keluarganya makan di restoran.


"Memangnya kenapa, Mas? Ini masih banyak, lho. Sayang kalau dibuang, mending kasih ke ART di rumah. Aku juga nanti kalau sampai rumah lapar lagi mau makan mie gorengnya." Airin menyeringai.


"Kalau kamu mau mie goreng lagi atau mau kasih ke Bibi, kita pesan lagi saja yang baru." Gagah menganjurkan untuk memesan lagi menu masakan itu daripada harus membawa pulang sisa makanan tadi.


"Tidak usah, Mas. Sudah biar ini saja." Airin melambaikan tangan kepada pelayan yang hendak melintasi mejanya.


"Ay, jangan malu-maluin!" Gagah melotot.


"Biasa saja, Mas. Tidak usah senewen gitu. Aku biasa gini, kok." Airin terkekeh melihat ekspresi wajah sang suami. "Mas tidak merasakan jadi rakyat jelata, sih. Jadi tidak pernah mengalami ini, kan?" sindir Airin sebab ia yakin dengan status sosial Gagah yang sudah kaya sedari lahir, tidak pernah mengalami apa yang ia lakukan saat ini.


"Ada yang bisa dibantu, Bu?" tanya pelayan ketika sampai di meja Airin.


"Mbak, tolong ini yang masih banyak minta dibungkus saja." Airin minta tolong pada pelayan restoran tadi.


"Baik, Bu. Sebentar saya ambilkan nampannya," pamit pelayan restoran ingin mengambil wadah untuk mengangkut beberapa piring yang masih banyak dengan menu makanan.


"Tenang saja, Mas. Tidak akan muncul berita di headline news 'Seorang pengusaha kaya raya, Gagah Prasetyo Hadiningrat bersama istrinya membawa sisa makanannya saat meninggalkan sebuah restoran', kok!" Airin berkelakar meledek Gagah yang masih belum terima dengan tindakannya itu.


Setelah keluar dari restoran, Gagah membawa istrinya dan juga Luna ke toko mainan sebab ia ingin membelikan mainan baru untuk Luna. Gagah menggendong Luna dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya menggenggam tangan Airin.


"Gagah!"


Gagah dan Airin menghentikan langkah mereka saat mendengar suara seorang wanita memanggil nama Gagah. Mereka berdua pun serentak menoleh ke arah suara tadi berasal.


*


*


*


Bersambung ....


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2