
Airin memperhatikan perutnya yang sudah mulai terlihat membuncit dari cermin. Namun, perubahan di bagian perutnya tak mengurangi kecantikannya, justru aura kecantikannya semakin terpancar di wajah wanita berusaha dua puluh tujuh tahun itu.
Tingkah Airin yang berkaca di cermin tertangkap mata Gagah. Dia sedang bersandar di headboard spring bed dengan laptop berada di atas pangkuannya.
Gagah turun dari tempat tidur dan menaruh laptop yang belum ia tutup di atas nakas, kemudian menghampiri istrinya yang masih berdiri di depan cermin. Tangannya langsung melingkar di pinggang Airin, memeluk istrinya dari belakang.
"Dari tadi aku perhatikan kamu berkaca terus, Ay. Sedang memandang seberapa cantik dirimu ini, hmm?" Gagah terkekeh merapatkan dada bidangnya dengan punggung Airin.
"Perut aku sudah terlihat membuncit, Mas. Apa bagian lain sudah ada yang terlihat berubah? Pipiku? Lenganku? Sudah terlihat membengkak belum?" tanya Airin meminta pendapat sang suami.
"Memangnya kenapa kalau ada yang bengkak?" tanya Gagah, sebenarnya ia tidak mempersoalkan apa yang dikhawatirkan Airin. Seperti ia tak mempersoalkan status Airin dan juga perekonomian keluarga Airin ketika ingin menjadikan Airin istri baginya.
"Mas jangan melirik wanita lain kalau badanku nanti melar, ya!?" pinta Airin berharap suaminya tidak berpaling darinya.
Gagah mengeryitkan keningnya. Seingatnya baru kali ini Airin mengucapkan kalimat peringatan seperti itu padanya. Ia tahu Airin mempunyai trauma, tentu istrinya itu tak ingin merasakan hal yang sama untuk kedua kalinya. Dan ia pun tentu tidak ingin Airin sampai mengalami hal buruk itu lagi.
"Kenapa kamu berpikir seperti itu, Ay? Aku tidak mungkin melakukan hal itu!" tegas Gagah memastikan kalau dia tidak akan berpaling pada wanita mana pun. Lalu tangannya memutar tubuh sang istri hingga berhadapan dengannya kemudian menangkup wajah istrinya.
Airin langsung melingkarkan tangan ke pinggang sang suami dan memeluknya erat, menenggelamkan wajah di dada Gagah, sekan mencari perlindungan dan keteduhan dari suaminya. Tak ia pungkiri, bersama Gagah ia mendapatkan kenyamanan dan ketenangan yang tidak ia rasakan kala berumah tangga bersama Rey dulu.
Buuugghh
Airin dan Gagah terperanjat saat merasakan kaki mereka tertabrak sesuatu hingga mereka menoleh ke arah ke bawah. Terlihat Luna sedang menatap mereka dengan memeluk kaki mereka. Padahal Luna tadi sudah terlelap dalam tidurnya.
"Lho, Luna kok bangun?" tanya Airin.
"Luna mau ikut peluk Papa cama Mama." Lalu bocah itu merentangkan tangannya minta tubuhnya diangkat oleh Gagah.
Gagah mengangkat tubuh Luna dan menaruh di lengannya. Dia membiarkan Luna ikut memeluk Airin.
"Sekarang Luna bobo lagi." Dia kembali membawa Luna kembali ke tempat tidur agar anak sambungnya itu kembali tidur. "Mama ayo tidur, jangan tidur malam-malam." Gagah juga meminta Airin untuk ikut bergabung dengannya di tempat tidur dan Airin pun mengikuti apa yang diperintah suaminya.
***
Waktu terus berjalan, Airin menikmati kehamilannya dengan penuh kebahagiaan. Limpahan kasih sayang yang diberikan oleh suami dan sang mertua membuatnya merasa bagaikan wanita paling beruntung di dunia ini. Tak bisa ia bantah jika keuntungan menjadi istri dan menantu orang kaya berpengaruh juga kepada stabilitas perekonomian keluarganya di Yogyakarta.
Sedangkan usaha Gagah dan kakak-kakaknya dalam memulai usaha baru sudah mulai berjalan. Gagah sendiri yang menjadi direktur utama di perusahaan miliknya, namun ia mempekerjakan orang yang ia percaya untuk mengurus operasional perusahaan tersebut,bkarena Gagah belum terlalu menguasai dalam bidang jasa ekspeditur. Meskipun mempekerjakan orang untuk mengurus, tapi Gagah rutin berkunjung ke kantor miliknya, minimal seminggu dua kali ia hadir di sana walau hanya beberapa menit saja untuk memantau pekerjaan para karyawannya.
Sementara hubungan Haikal dan Gadis pun tidak nampak banyak perubahan. Sekuat apa pun usaha Gadis untuk lebih dekat dengan Haikal sampai ia berteman dengan Feby, nyatanya Haikal masih tetap berusaha menjaga jarak. Hal itu tak jarang membuat Gadis uring-uringan, dan hal tersebut justru membuat Haikal makin jauh dari rasa suka terhadap Gadis karena menganggap Gadis masih menonjolkan sikap childish nya.
Haikal melihat seorang wanita paruh baya dan seorang wanita muda yang berjalan keluar dari rumah Bintang Gumilang ketika ia menghentikan mobil tepat di depan teras rumah bosnya itu. Haikal tidak tahu siapa orang-orang yang baru keluar dari rumah Gadis, sebab ia sendiri tidak pernah bertemu dengan mereka.
"Mau apa lagi mereka datang kemari?!"
Suara umpatan Gadis membuat Haikal melirik ke arah spion. Terlihat wajah Gadis menampakkan ketidaksukaan Gadis dengan keberadaan kedua wanita itu. Hal itu tentu membuat Haikal terheran dan merasa penasaran pada oarag-orang yang baru keluar dari rumah Gadis.
Haikal kemudian turun dari mobil menyusul Gadis yang lebih dahulu turun. Dengan menjinjing tas laptop ia berjalan di belakang Gadis.
"Gadis? Kamu baru pulang?" tanya Lidya melihat Gadis turun dari mobil. Sementara matanya melirik ke arah Haikal yang berdiri membawa tas laptop milik Gadis. Kedua orang itu adalah Lidya dan Dista, istri dan anak Dicky.
Tak hanya Lidya, Dista pun memperhatikan Haikal yang memang selalu menarik perhatian wanita dengan penampilan fisiknya yang menawan.
"Ada apa lagi Tante datang kemari?" tanya Gadis ketus.
"Hmmm, Tante sama Dista hanya berkunjung saja, ingin bersilaturahmi dengan Mama kamu, Gadis." Lidya mengatakan tujuannya datang ke rumah itu. Walau kalimat Gadis bernada ketus, Lidya berusaha menjawab dengan tenang.
"Berkunjung tanpa maksud tertentu?" sindir Gadis tak yakin jika istri Om tirinya itu tidak mempunyai terselubung.
"Maksud tertentu gimana, Gadis? Kamu jangan selalu berpikir negatif terhadap kami, Gadis!" Lidya mulai terpancing dengan kata-kata Gadis hingga kini ia mulai menjawab Gadis dengan nada penuh penekanan.
Gadis tak melanjutkan berdebat dengan Lidya dan memilih masuk ke dalam rumahnya. Dia ingin menanyakan lebih lanjut kepada Mamanya tentang maksud kedatangan Lidya dan Dista. Gadis khawatir Mamanya itu akan dipengaruhi dan terbujuk dengan ucapan-ucapan Lidya dan Dista.
__ADS_1
Melihat Gadis meninggalkan Lidya dan Dista, Haikal mengikuti langkah Gadis. Namun ia tetap berusaha ramah dengan menganggukkan kepala dan mengembangkan sedikit senyuman, menyapa Lidya. Meskipun kedua orang wanita itu tidak ia kenal, tapi ia merasa kedua wanita itu adalah kerabat dari keluarga Gadis.
"Eh, tunggu dulu!" Ketika Haikal ingin masuk ke dalam, Lidya menahan langkah Haikal, "Kamu supir pribadi Gadis?" tebak Lidya, sebab ia melihat Haikal mengendarai mobil Gadis dan membawakan tas Gadis, hingga Lidya menduga jika Haikal adalah driver yang bekerja pada Gadis.
Kedua alis Haikal terangkat ketika Lidya menyebutnya supir pribadi Gadis.
"Benar, Bu." Tak menyangkal apa yang diucapkan Lidya, Haikal justru mengiyakan perkataan Lidya tadi. Baginya, supir ataupun asisten pribadi, ia tetaplah karyawan Gadis, dan Gadis adalah bosnya.
"Kak Haikal, ngapain masih di situ?!" Gadis kembali melongok ke luar karena Haikal berhenti mengikuti langkahnya.
"Permisi ..." Haikal segera berpamitan pada Lidya dan Dista, kemudian masuk ke dalam rumah.
"Ganteng banget, Ma." bisik Dista pada Lidya.
"Ganteng tapi hanya supir, untuk apa?" Lidya merendahkan dan meremehkan pekerjaan Haikal. "Sudah, ayo kita pergi dari sini!" Lidya menarik tangan Dista untuk segera meninggalkan rumah itu.
"Tadi ngobrol apa sama mereka?" selidik Gadis pada Haikal, ketika Haikal sudah masuk ke dalam rumah.
"Tadi Ibu itu tanya, apa saya ini supir kamu?" terang Haikal jujur.
"Terus Kak Haikal jawab apa?" tanya Gadis penasaran.
"Saya jawab iya," balas Haikal.
"Mereka itu orang-orang licik, jangan dekat-dekat mereka. Jangan kasih informasi apa pun kalau bertemu mereka lagi." Gadis berharap Gagah tidak berinteraksi dengan keluarga Om tirinya itu.
"Memang mereka itu siapa?" tanya Haikal merasa penasaran.
"Mereka itu istri dan anaknya adik tiri Papa. Mereka ingin menguasai BDS, makanya aku terpaksa ambil alih jabatan CEO dari Kak Gagah, karena mereka akan mempermasalahkan jika BDS masih dipimpin oleh orang di luar keluarga besar Papa. Mereka menganggap karena mereka adalah saudara Papa jadi mereka merasa berhak atas jabatan itu daripada Kak Gagah," jelas Gadis.
Haikal mendengarkan serius cerita Gadis, walaupun ia sempat mendengar dari Gagah, namun ia baru mendengar lebih jelas cerita itu dari Gadis langsung.
"Aku, Mama dan Kak Flo, kami hanya tiga orang perempuan, harus melawan mereka dua keluarga. Untung saja ada Kak Gagah, kalau tidak ada, aku tidak tahu nasib kami akan seperti apa?" Gadis mendesah dan berkata lirih. Ia merasa jika ia dan keluarganya hanyalah tiga wanita lemah, mungkin mereka akan terintimidasi oleh adik tiri Papanya itu kalau tidak ada Gagah yang mau mendampingi perusahaan BDS itu.
Baru kali ini Haikal melihat sisi berbeda dari seorang Gadis yang biasa ia anggap kekanakkan dan menyebalkan. Dia melihat sebenarnya Gadis berusaha tegar menghadapi tekanan di usia yang masih sangat belia.
Malam harinya di rumah Dicky
"Mas, Mas tahu tidak? Ternyata Gadis punya supir pribadi, masih muda dan ganteng, Mas." Lidya melaporkan tentang sosok Haikal pada suaminya menjelang waktu tidur. Otaknya mulai bekerja, ia menemukan rencana untuk menjalankan misi untuk menguasai harta peninggalan Bintang Gumilang.
Dicky melirik curiga istrinya, sebab istrinya itu memuji pria lain di hadapannya.
"Kenapa kalau dia ganteng? Apa kamu tertarik dengan dia, Lidya?" tanyanya menyelidik.
"Bukan itu, Mas!" sanggah Lidya.
"Lalu?" Dicky tak paham maksud ucapan istrinya.
"Aku rasa kita bisa memanfaatkan supirnya Gadis itu, Mas." Lidya menyampaikan alasan membicarakan Haikal.
"Memanfaatkan?" Kening Dicky berkerut menerka-nerka rencana istrinya.
"Iya, Mas. Mas harus cari tahu tentang supir Gadis itu, coba dekati dan ajak dia kerja sama dengan kita." Lidya menerangkan rencana yang bisa mereka jalankan untuk menaklukan Gadis.
"Caranya?" Dicky mulai serius mendengarkan istrinya.
"Suruh supir Gadis itu mendekati Gadis, kalau bisa bikin Gadis jatuh cinta sama dia. Kalau dia bisa menaklukan Gadis, itu lebih muda bagi kita menguasai Gadis, Mas." Lidya memperjelaskan lebih detail apa yang muncul dalam otaknya.
"Kamu benar juga, Lidya. Itu ide yang bagus." Dicky mulai memahami dan menerima rencana yang dikatakan oleh sang istri, "Oke, nanti aku akan sewa orang untuk mencari tahu soal supir pribadi Gadis itu," lanjut Dicky.
***
__ADS_1
Di rumah Prasetyo, Minggu setelah Dzuhur diadakan tasyakuran empat bulanan kehamilan Airin. Kedua orang tua Airin datang dari Yogyakarta untuk menghadiri acara tasyakuran empat bulanan itu, begitu juga beberapa kerabat keluarga Gagah dari luar kota pun diundang,
Kebahagiaan terpancar dari wajah Airin dan Gagah siang itu, terutama Gagah yang sangat antusias menerima ucapan selamat dari tamu yang hadir di acara tasyakuran itu.
*Kamu sudah periksa USG, Rin? Sudah ketahuan calon anakmu ini perempuan atau laki-laki?" Ibu Heny mengusap perut putrinya saat acara pengajian selesai, dan para tamu menikmati hidangan yang sudah disediakan dan tuan rumah.
"Belum cek jenis kela min. Bu. Rencananya nanti saja kalau kandungan sudah besar," jawab Airin.
"Yang penting ibu dan bayinya sehat, Rin." ujar Bi Heny kembali.
"Iya, Bu. Aamiin ... doakan sampai persalinan aku nanti lancar, ya, Bu." Airin minta doa terbaik dari orang tuanya.
"Tanpa diminta, Ibu pasti akan mendoakan kamu, Rin." jawab Ibu Heny.
"Terima kasih, Bu." Airin merangkul lengan Ibunya lalu menyandarkan kepala di pundak Bu Heny.
"Ibu senang, kamu akhirnya mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya, Rin. Kamu mendapatkan suami dan mertua yang baik dan sayang sama kamu. Ibu dan Bapak tenang sekarang, tinggal mikir adik kamu. Semoga kelak Haikal juga mendapatkan jodoh yang baik dan rumah tangganya bahagia," harap Bu Heny. Setiap orang tua pasti mengharapkan yang terbaik untuk anak-anaknya termasuk dalam berumah tangga.
"Kak Airin, selamat, ya. Semoga Mommy sama calon debay nya sehat-sehat selalu."
Sedetik Ibu Heny menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba Gadis muncul di hadapan mereka berdua.
"Oh, terima kasih, Gadis," sahut Airin, "Kamu datang sama siapa, Dis?" tanya Airin karena Haikal sejak pagi ada di rumah Prasetyo.
"Sama Mama diantar Pak Abdul," jawab Gadis, "Mama lagi ngobrol sama Tante Widya." Gadis menunjuk ke arah Farah yang terlihat berbincang dengan Widya dan juga Prasetyo.
"Oh ya, Dis. Kenalkan ini Ibu aku." Airin lalu mengenalkan Ibu Heny pada Gadis.
"Oh ..." Gadis terlihat terkejut mengetahui wanita yang bersama Airin adalah Ibu dari Airin yang pastinya adalah Ibu dari Haikal juga. "Apa kabar, Tante? Saya Gadis, senang bisa bertemu dengan Tante ..." Gadis memperkenalkan diri dan mencium punggung tangan Ibu Heny.
"Gadis ini anaknya Almarhum Pak Bintang, Bu. Dia yang sekarang ini jadi bosnya Mas Gagah dan juga Haikal." Giliran Airin memperkenalkan Gadis pada Ibunya.
"Oalah, masih muda sekali kamu, Nak." Secara refleks Ibu Heny mengusap kepala Gadis, seperti mengusap kepala anaknya sendiri. Hal itu tentu membuat Gadis senang, karena ternyata orang tua Haikal sangat ramah dan baik.
Gadis merasa tidak sulit untuk mendekati orang tua Haikal agar mendukungnya, jika anaknya sulit untuk didekati, mungkin dia harus mencari cara lain yaitu dengan mendekati keluarganya terutama orang tua Haikal.
Selepas berkenalan dan berbincang dengan Airin dan Ibu Heny, Gadis bergabung dengan Feby untuk berbincang-bincang, dia sedang berusaha mengakrabkan diri dengan semua keluarga Haikal.
"Jika Allah menghendaki, Gadis itu akan jadi menantu Ibu ..." Banyak mendapat masukan dari suaminya soal tujuan Gagah ingin mendekatkan Haikal dengan Gadis membuat Airin lambat laun bisa menerima keinginan sang suami. Hingga akhirnya ia mengatakan soal kedekatan Gadis dengan Haikal.
Ibu Heny terkesiap mendengar penuturan Airin, tentulah ia tidak pernah terpikirkan akan mendapatkan menantu dari keluarga kaya raya seperti keluarga Gagah lagi.
"Maksud kamu, Haikal suka sama Gadis, Rin?" Pertanyaan Ibu Heny terlontar dengan nada cemas.
"Sebaliknya, Bu. Gadis yang menyukai Haikal," jawab Airin.
"Ya ampun, anak itu bikin masalah saja." Ibu Heny menduga jika anaknya lah yang menggoda-goda Gadis, Ibu Heny sangat sadar diri bagaimana keadaan perekonomian keluarganya, tentu Ibu Heny tidak ingin berharap banyak akan mendapatkan rejeki menantu kaya raya kembali.
"Haikal tidak salah, kok, Bu. Dia tidak mempermainkan Gadis, justru Gadis itu yang menyukai Haikal sampai membelikan barang-barang mahal untuk Haikal." Airin mendegar cerita Feby soal jam tangan yang diberikan Gadis kepada adiknya.
"Kamu harus menasehati Haikal, Rin. Jangan memanfaatkan wanita untuk mendapatkan keuntungan seperti itu, kalau Bapakmu tahu, Bapak bisa marah dengarnya." Ibu Heny khawatir Haikal memanfaatkan kepolosan Gadis.
"Ibu tidak usah khawatir, Haikal tidak seperti itu, kok." Airin mencoba meyakinkan Ibunya agar tidak meragukan Haikal,
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading❤️