JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG

JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG
Tidak Pernah Mau Berjauhan


__ADS_3

Setelah para tamu pergi dari rumahnya, Farah ikut bersama Gadis ke kamar putri bungsunya itu. Ada hal yang perlu ia sampaikan kepada Gadis. Sebagai seorang ibu, wajar jika sangat mencemaskan keselamatan sang anak, apalagi saat ini sudah tidak ada sosok suami yang mendampinginya mengawasi kedua anak perempuan mereka.


"Gadis, Mama ingin bicara dengan kamu, Nak!" ujar Farah setelah sampai di kamar Gadis.


Gadis menoleh ke belakang, tak mengira jika sang Mama mengekor di belakangnya.


"Bicara apa, Ma?" tanya Gadis mengikuti sang Mama yang kini duduk di tempat tidur.


Farah menatap sang putri. Tangannya membelai kepala Gadis penuh rasa sayang. Saat ini yang ia miliki hanya Gadis dan Florencia yang kuliah di luar negeri. Tentu ia tak ingin kedua anak gadisnya itu mengalami atau menjadi korban kejahatan kriminal seperti yang baru saja dialami oleh Gadis.


Farah harus pelan-pelan dan harus hati-hati untuk menyampaikan niatnya kepada Gadis, sebab ia yakin tak akan mudah bagi anaknya untuk bisa menerima apa yang ia kehendaki dari Gadis.


"Gadis, Mama pikir, sebaiknya kamu lupakan keinginan kamu untuk dekat dengan Haikal, Nak." ujar Farah menyampaikan apa yang ia ingin anaknya lakukan.


Gadis terkesiap mendengar ucapan sang Mama. Setelah perbincangan tadi di ruang tamu dengan Gagah, Airin dan Haikal, rasanya ia tak percaya sang Mama mengatakan hal demikian. Farah memintanya berhenti mengharapkan cinta Haikal. Dan ia yakin, itu adalah efek dari kejadian yang menimpa dirinya di Yogyakarta. Padahal sebelumnya sang Mama sudah memberikan lampu hijau terhadapnya. Meskipun Haikal belum terlihat jelas menyukainya, akan tetapi, dari perhatian Haikal selama di Jogya, yang ditunjukkan oleh Haikal membuat hatinya makin terkagum dengan pujaan hatinya itu.


"Maksud Mama apa? Mama bilang, Mama tidak menyalahkan Kak Haikal. Tapi, kenapa Mama malah melarang aku dekat dengan Kak Haikal?". Ekspresi kecewa terlihat jelas di wajah Gadis, ia sangat menyanyangkan permintaan Farah, yang ia anggap tidak berpihak lagi kepadanya.


"Kamu jangan salah paham dengan perkataan Mama tadi, Nak. Mama melarang kamu untuk berhenti terus-terusan mendekati Haikal demi kebaikan kamu. Sekarang kamu pikirlah baik-baik. Apa saja tindakan kamu yang tidak menunjukkan dirimu yang sebenarnya? Kamu ikut pergi ke Yogyakarta padahal kamu tidak ada kepentingan pekerjaan di sana. Kamu pergi naik motor padahal kamu tidak pernah naik itu sebelumnya, apalagi sampai akhirnya kamu terluka." Farah mulai menjelaskan alasannya melarang Gadis.


"Mama tidak dapat membayangkan jika kemarin ada mobil yang berjalan di belakang kalian saat kamu terjatuh." Teramat menyeramkan Farah membayangkan hal tersebut. "Mama sudah kehilangan Papa, Mama tidak ingin kehilangan kamu juga, Gadis. Rasa cinta kamu terhadap Haikal seakan menutupi akal sehat kamu, dan itu sangat berbahaya, Nak." Rasa ketakutan akan kenekatan Gadis lah yang membuat Farah merasa perlu mengambil tindakan.


Gadis menggenggam tangan Farah. Sudah pasti dia tidak ingin dipisahkan dengan Haikal hanya untuk alasan itu. Dia sudah terlanjur merasa nyaman bersama Haikal dan keluarga Haikal.


"Ma, aku janji, ini tidak akan terulang kembali." Gadis berusaha membujuk Farah agar sang Mama tidak mengambil keputusan yang akan membuatnya sulit bersama dengan Haikal.


Farah mendengus kasar, Sebenarnya ia tidak tega mengambil sikap seperti. Ini. Namun, dia hanya berusaha mencengah anaknya melakukan tindakan yang membahayakan diri Gadis sendiri.


"Gadis, kamu harus mengerti, Nak. Mama melakukan hal ini untuk kebaikan kamu. Mama tidak membenci Haikal, tidak! Mama hanya khawatir kamu tidak dapat mengendalikan diri." Farah kembali menegaskan agar Gadis dapat mengerti.


"Ma, aku akan berubah. Aku janji aku tidak akan bersikap yang aneh-aneh lagi, Ma." Gadis menaikkan jari telunjuk dan tengahnya secara bersamaan seraya mengucap janji. "Tapi, tolong jangan suruh aku menjauh dari Kak Haikal, Kak Haikal itu baik, keluarganya juga baik. Aku senang keluarga Kak Haikal memperlakukanku dengan kasih sayang yang tulus. Belum tentu jika aku jatuh cinta pada pria lain, pria itu dan keluarganya tulus terhadapku jika tahu siapa aku sebenarnya, Ma." Gadis terus berusaha mempengaruhi keputusan sang Mama agar Mamanya mulai melunak.


Farah kembali mendesah. Apa yang dikatakan Gadis ada benarnya. Dia pun bisa merasakan jika Haikal adalah sosok pria baik, apalagi Gagah sendiri yang merekomendasikan Haikal untuk menjaga Gadis.

__ADS_1


"Kalau kamu melanggar, apa resikonya?" Farah memberi tantangan kepada Gadis.


"Kalau aku melanggar ... Hmmm, Mama boleh melarang aku mendekati Kak Haikal lagi." Gadis harus berani melakukan sumpah itu demi mendapat kepercayaan sang Mama. Saat ini yang terpenting Mamanya itu membatalkan keputusan, setelah itu dia harus memutar otak dua kali agar tetap terlihat aman di depan sang Mama.


Farah berpikir dan menimbang-nimbang janji yang diucapkan Gadis dan berkata, "Baiklah, Mama pegang janji kamu, Gadis." Farah kemudian bangkit dari duduknya. "Sekarang kamu istirahat dulu, nanti kalau sudah ada kabar dari Dewi, baru pergi cek ke rumah sakit," pungkas Farah.


"Iya, Ma." sahut Gadis.


Farah kemudian keluar meninggalkan kamar Gadis setelah mendapatkan kesepakatan dengan anaknya. Sementara Gadis menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur.


"Aaakkhh ..." Gadis meringis, karena ia merasakan bagian tubuhnya terasa sakit saat ia menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur tadi.


***


Airin baru saja meluruskan kakinya di tempat tidur ketika ponselnya tiba-tiba berbunyi. Rasanya malas sekali ia kembali bangkit dari tempat tidur hanya untuk mengambil ponsel yang ia letakan di atas nakas, karena saat ini dia sudah menemukan posisi nyaman dalam duduknya.


"Mas, tolong ambilkan HP ku." Kebetulan Gagah baru saja selesai berbincang dengan Papanya dan kembali ke kamar, sehingga Airin minta pertolongan suami untuk mengambil ponselnya di nakas.


Gagah menuju nakas, mengambil ponsel Airin, Namun, sebelum ia menyerahkan ponsel istrinya itu, dia mengecek siapa yang menghubungi istrinya malam-malam.


"Ibu Wulan ..." Gagah menyerahkan ponsel pada Airin.


"Bu Wulan?" Airin menerima ponsel dari Gagah lalu mengangkat panggilan masuk dari mantan mertuanya itu. "Assalamualaikum, ada apa, Bu?" sapa Airin.


"Waalaikumsalam, Rin. Luna sudah tidur, ya?" tanya Wulan setelah menjawab salam dari Airin.


"Iya, Bu. Tadi sebelum isya dia sudah ngantuk," jawab Airin.


"Bagaimana kabar kamu dan Luna, Rin?" tamya Wulan kemudian.


"Alhamdulillah baik, Bu. Kemarin Luna habis pulang ke Yogya ketemu kakek neneknya," jelas Airin.


"Oh, Luna habis dari sana, ya? Ada acara apa di Jogya, Rin?" Wulan menduga ada acara keluarga hingga Airin dan Luna pulang ke Yogyakarta.

__ADS_1


"Hanya ingin main ke sana saja, Bu." Dengan tawa kecil, Airin menjawab. Tak mungkin ia menjelaskan alasan sebenarnya pergi ke Yogyakarta karena ingin membeli bakpia patok.


"Oh ...."


"Ada apa, Bu?" Airin merasa ada tujuan Wulan meneleponnya malam hari, bukan hanya sekedar menyapa saja.


"Gini, Rin. Kalau diijinkan, Mama ingin Luna bisa menginap di sini besok. Soalnya Minggu depan rencananya Mama ingin membawa Rey ke Bali, Kami sudah memutuskan merawat Rey di sana, karena Mama tidak bisa terus-terusan meninggalkan Papa di Bali. Rin." Wulan memaparkan rencana terhadap Rey. Dia tidak bisa meninggalkan Rey dalam kondisi Rey seperti saat ini. Namun, ia pun tidak bisa terus-menerus meninggalkan kewajibannya sebagai istri untuk mengurus suaminya yang tinggal dan bertugas di Bali, hingga akhirnya mengambil tindakan tersebut.


"Hmmm, gitu ya, Bu?!" Airin melirik ke arah sang suami, "Nanti aku bicarakan dulu sama suamiku dulu, Bu." Airin merasa perlu berdiskusi dengan Gagah sebelum mengambil keputusan.


Mendengar namanya disebut, Gagah langsung menolehkan pandangan ke arah Airin.


"Kenapa, Ay?" tanya kemudian.


"Ya sudah, semoga kamu bisa mengabulkan permintaan Mama ini, Rin. Sebab kalau Rey di Bali, dia susah bisa bertemu langsung dengan Luna, kan?!" harap Wulan.


"Iya, Bu. Secepatnya aku kasih kabar," jawab Airin.


"Ibu tutup dulu teleponnya kalau begitu,, Rin. Assalamualaikum ..." Wulan mengakhiri panggilan teleponnya.


"Waalaikumsalam ..." jawab Airin sebelum panggilan telepon itu berakhir.


"Ada apa, Ay?" Gagah penasaran hingga mengulang kembali bertanya.


"Bu Wulan minta ijin supaya Luna bisa menginap di sana besok, Mas. Soalnya mereka berencana membawa dan merawat Papanya Luna di Bali Minggu depan." Airin menjelaskan isi percakapannya dengan Wulan. "Menurut Mas, gimana?" Airin minta pendapat Gagah.


"Buat aku tidak masalah, Ay." Gagah memberi ijin karena dia mengerti jika Rey pindah dari Jakarta, peluang Rey bertemu dengan Luna akan semakin menipis. "Tapi, masalahnya Luna mau tidak menginap di sana tanpa ada kita di sana?" Gagah rasa yang menjadi kendala adalah Luna sendiri, karena jika Luna menginap di rumah Papa kandungnya, Luna akan jauh dari Airin dan dirinya, sementara sejauh yang ia tahu, Luna tidak pernah mau berjauhan dengan mereka dalam waktu yang lama.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading❤️


__ADS_2