JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG

JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG
Tak Berkutik


__ADS_3

Gagah menghubungi sebuah nomer telepon yang dia dapat dari anak buahnya. Nomer itu adalah nomer telepon milik Fany, karena Gagah butuh informasi seputar Airin ketika Airin sedang berada di kantor. Dan saat orang suruhannya memberitahu jika Airin dekat dengan Fany, sebab Fany dan Airin terlihat sering keluar istirahat bersama, Gagah menyuruh orang suruhannya itu untuk mendapatkan nomer telepon Fany.


"Halo?" Suara wanita terdengar dari seberang di ponsel Gagah.


"Selamat malam, maaf mengganggu. Apa kamu yang bernama Fany?" tanya Gagah.


"Iya, saya sendiri. Ini dengan siapa, ya?" Fany tidak mengenali suara Gagah. Dia mendengar Gagah bicara saja ketika menjemput Airin, dan memorinya tidak cukup kuat mengingat suara Gagah, berbeda dengan daya ingatnya ketika melihat fisik Gagah.


"Saya Gagah Prasetyo. Saya ingin minta bantuan kamu." Gagah memperkenalkan dirinya.


"Pak Gagah?" Suara Fany terdengar terkejut saat mendengar Gagah menyebutkan namanya. "Maaf, Bapak perlu bantuan apa, Pak? Apa ini tentang Airin?" Fany seolah dapat menebak arah pembicaraan Gagah. Untuk apa Gagah meneleponnya? Tidak mungkin juga karena urusan perbankan, karena dia belum pernah bertugas melayani keluhan Gagah sebagai nasabah bank di meja customer service.


Kini giliran Gagah yang terkejut karena Fany paham maksud perkataannya.


"Dari mana kamu tahu jika yang ingin saya bicarakan adalah soal Airin? Apa Airin bercerita sesuatu kepada kamu." Gagah sudah geer karena merasa Airin menceritakan dirinya kepada Fany.


"Oh, tidak, Pak. Saya hanya kebetulan ada bersama Airin saat Bapak menjemput Airin pulang kemarin." Fany menutupi jika Airin sebenarnya memang sedikit curhat tentang Gagah.


"Oh, kamu yang kemarin bersama Airin, ya?" Gagah tidak tahu jika Fany adalah orang yang ketika itu bersama dengan Airin.


"Benar, Pak. Maaf, Bapak perlu bantuan apa dari saya?" Fany masih penasaran dengan permintaan tolong Gagah kepadanya.


"Begini, hmmm, saya butuh bantuan kamu untuk memberikan informasi tentang Airin. Apa kamu tahu tentang status Airin saat ini?" tanya Gagah sebelum menjelaskan lebih lanjut apa yang hendak dia tugaskan kepada Fany.


"Airin sudah bercerai maksudnya, Pak? Kalau itu, kami semua di sini sudah tahu," ungkap Fany.


"Kami? Maksud kamu, pegawai di sana?" tanya Gagah.


"Benar, Pak. Kami memang baru mengetahuinya baru-baru ini," jawab Fany jujur.


"Oke, oke. Kalau begitu, saya hanya ingin minta bantuan kamu. Saya minta tolong awasi Airin, maksud saya, jangan sampai ada orang yang berani menyakiti atau mengganggu Airin, baik itu wanita atau pria. Jika ada yang berani melakukan hal itu, segera laporkan kepada saya. Tolong awasi juga jika ada pria yang mencoba mendekati Airin." Gagah memang takut jika ada pria lain yang berusaha menarik perhatian Airin, meskipun dia belum tahu jika head teller di bank itu juga berharap bisa memiliki Airin.


"Saya akan kasih kamu bonus, jika kamu dapat menjalankan tugas yang saya berikan ini." Gagah langsung menyebutkan imbalan yang akan dia berikan kepada Fany, jika Fany mau bekerjasama denganya.


"Oh, baik, Pak. Saya akan bantu Bapak." Merasa tugas yang diberikan Gagah padanya adalah tugas yang ringan, Fany pun menerima tugas itu. Apalagi bonus yang dijanjikan oleh Gagah pasti sangatlah menggiurkan. Terlebih, dia sendiri memang berharap Airin berjodoh dengan Gagah.


"Oh ya, tolong jangan sampai Airin tahu soal ini." Gagah mewanti-wanti agar Fany tutup mulut dengan rencananya.


"Siap, Pak. Saya akan rahasiakan ini dari Airin." Fany menyanggupi.


"Oke, terima kasih atas bantuan kamu. Nanti kamu kirimkan saja nomer rekening bank kamu, saya akan transfer bonusnya ke rekening kamu." Gagah menjanjikan akan memberikan bonus lebih awal.


"Oh, baik, Pak. Nanti saya kirim nomer rekening bank saya. Terima kasih banyak, Pak." Fany antusias menjawab Gagah.


"Saya rasa itu saja yang ingin saya sampaikan. Tolong kabari apa pun yang terjadi pada Airin ke nomer ini. Jangan lupa kirimkan nomer rekening bank kamu. Selamat malam." Gagah mengakhiri panggilan teleponnya, tanpa menunggu balasan dari Fany.


Saat menelepon Fany, Gagah mendengar ada notif pesan masuk di ponselnya, membuat dia segera membuka pesan masuk ketika dia telah mengakhiri komunikasi dengan Fany.


"Selamat malam, Pak. Terima kasih untuk boneka pemberian Bapak. Tapi, saya harap Bapak tidak memberikan mainan-mainan lagi pada Luna. Saya tidak ingin Luna selalu mengharapkan pemberian dari Bapak. Terima kasih." Ternyata pesan masuk dari Airin, dan hal itu membuat Gagah melengkungkan senyuman di bibirnya.


***

__ADS_1


Airin memperhatikan Luna yang berbicara dengan Mona dan Nola, kedua boneka pemberian Gagah. Terlihat oleh matanya, Luna begitu senang mendapatkan boneka baru itu. Rey saja yang Papa kandung Luna, tidak pernah membelikan dan memberikan hadiah boneka secara langsung kepada Luna. Rey biasanya memberi uang kepada Airin untuk membeli mainan untuk Luna. Rey memang tidak pernah melakukan apa yang Gagah lakukan kepada Luna.


"Ma, kata Om Gagah, nanti Luna mau dikacih boneka lagi cama Om Gagah."


Kalimat yang diucapkan Luna membuat Airin yang sedang tercenung seketika terkesiap.


"Apa, Sayang?" Airin tidak jelas mendengar apa yang Luna katakan tadi.


"Om Gagah mau kacih boneka lagi, Ma." Luna mengulang kalimatnya.


"Luna, jangan suka minta-minta sama orang!" tegur Airin.


"Om Gagah yang kacih, Ma. Luna ndak minta." Luna melakukan pembelaan dengan menunjukkan wajah sedih karena Airin menuduhnya meminta dibelikan boneka lagi oleh Gagah.


Melihat wajah putrinya yang sendu, Airin mengusap kepala putrinya, karena bersalah dengan membentak Luna.


"Ya sudah, tapi lain kali Luna jangan suka minta-minta sama Om Gagah, ya!" Airin tidak ingin anaknya menjadi manja, karena itulah dia selalu mengajarkan anaknya itu tidak meminta sesuatu pada orang lain apalagi orang tersebut tidak ada hubungan keluarga dengannya.


"Iya, Ma. Tapi kalau dikacih boleh, ya, Ma?" tanya Luna penuh harap. Karena dia sangat senang dengan pemberian-pemberian Gagah padanya.


"Tidak apa-apa kalau dikasih." Airin lalu mengangkat tubuh Luna dan membaringkannya di atas tempat tidur.


"Sekarang Luna bobo, sudah malam." Airin melirik jam dinding yang sudah menunjukkan jam delapan malam. Airin tidak membiasakan Luna tidur sampai malam. Jam sembilan adalah batas maksimal Luna masih terjaga, tapi seandainya bisa, sebelum jam sembilan Luna sudah dia suruh tidur seperti malam ini.


"Sini bonekanya Mama taruh!" Airin meminta boneka dari tangan Luna.


"Luna mau bobo cama Mona cama Nola, Ma." Luna menolak, dia ingin tidur dengan kedua boneka pemberian Gagah.


Airin tidak bisa memaksakan kehendaknya, sehingga dia menuruti apa yang diinginkan oleh Luna.


"Baca doa dulu sebelum tidur," pesan Airin.


Luna menganggukkan kepala lalu berdoa sebelum tidur.


"Ma, Om Gagah baunya halum kayak Papa." Selepas berdoa, Luna justru mengingat soal aroma tubuh Gagah.


Kedua alis Airin terangkat mendengar ucapan Luna tadi. Bisa-bisanya anaknya itu bercerita tentang aroma parfum Gagah.


"Sudah buruan bobo! Kalau Luna masih bicara, nanti Mama ambil bonekanya!" Airin terpaksa mengancam putrinya agar tidak membicarakan soal Gagah kembali.


Luna langsung memejamkan matanya, tak berani bicara lagi mendengar ancaman dari Airin.


Sepuluh menit kemudian, Luna sudah terlelap. Airin pun mengambil satu persatu boneka yang dipeluk Luna secara perlahan agar tidak membuat Luna terjaga, setelah itu menaruhnya di rak khusus mainan Luna.


Airin kemudian mengambil ponselnya. Dia ingin mengecek, apakah ada pesan atau panggilan masuk dari Gagah. Sejak dia meninggalkan Gagah kemarin saat mengantar dirinya pulang, Gagah tidak menghubunginya sama sekali. Awalnya dia pikir Gagah akan marah padanya, namun ternyata Gagah justru mengganti strategi dengan mendekati Luna.


Airin membuka chatnya dengan Gagah. Dia lalu mengetikkan pesan kepada pria berprofesi sebagai CEO itu.


"Selamat malam, Pak. Terima kasih untuk boneka pemberian Bapak. Tapi, saya harap Bapak tidak memberikan mainan-mainan lagi pada Luna. Saya tidak ingin Luna selalu mengharapkan pemberian dari Bapak. Terima kasih."


Airin sengaja meninggalkan pesan pada Gagah, agar Gagah tidak terus memanjakan Luna dengan pemberian-pemberian yang akan membuat Luna selalu mengharapkan pemberian dari Gagah.

__ADS_1


Setelah mengetikkan pesan, Airin tidak segera menaruh ponselnya. Dia seperti menunggu pesan balasan dari Gagah.


Beberapa saat menunggu, ternyata bukan balasan pesan yang masuk, melainkan panggilan telepon dari Gagah yang masuk ke ponselnya, membuat Airin terkesiap.


Tak ingin membuat Luna terbangun dari tidurnya, Airin segera mengangkat panggilan telepon Gagah dan berjalan menjauh ke arah jendela kamarnya.


"Selamat malam, Pak." sapa Airin, menjawab panggilan telepon Gagah dengan formal.


"Assalamualaikum, Airin." Tak seperti biasanya, Gagah mengucapkan 'Assalamualaikum', membuat Airin pun langsung menjawab.


"Waalaikumsalam ..." Agak kikuk Airin menjawab salam dari Gagah.


"Luna sudah tidur?" Tak ingin membahas isi pesan Airin, pria itu justru menanyakan Luna.


"Luna baru saja tidur," sahut Airin.


"Ada yang ingin kamu sampaikan?" tanya Gagah.


Pertanyaan Gagah membuat Airin terdiam. Karena dia sudah cukup jelas melarang Gagah memberi boneka-boneka lagi pada Luna, kenapa Gagah justru malah bertanya.


"Hmmm, saya ... saya mohon Bapak tidak memberikan hadiah-hadiah lagi pada Luna. Saya tidak ingin ...."


"Apa ada larangan orang memberikan sesuatu pada orang lain?" Pertanyaan Gagah membuat Airin terdiam, tak bisa menjawab.


"Apa ada undang-undang yang melarang seseorang memberikan mainan kepada anak kecil?" Gagah terus menyerang Airin dengan pertanyaan yang membuat Airin tidak dapat memberikan argumentasi yang tepat.


"Bukan seperti itu, Pak. Maksud saya ...."


"Luna terlihat senang menerima boneka yang saya kasih. Apa kamu tidak suka melihat anak kamu bahagia?" Gagah mencecar Airin dengan pertanyaan yang semakin membuat Airin tak berkutik.


"Saya tidak ingin memanjakan Luna." Airin beralasan dengan sikapnya.


"Luna masih kecil, biarkan dia tumbuh normal seperti anak seusianya." Ucapan Gagah kali ini benar-benar membuat Airin terdiam. Gagah seperti orang tua yang sedang menegur anaknya yang bersalah.


Airin mendesah, dia lupa sedang berhadapan dengan siapa sekarang ini. Meskipun saat ini mungkin Gagah sedang ada di rumah, namun Gagah tetaplah seorang CEO. Pria itu tetaplah orang yang pintar dalam menyusun kata-kata.


"Apa kamu ingin tidur sekarang?" tanya Gagah kemudian.


"Tidak, Pak." jawab Airin jujur.


"Kalau begitu, tidak masalah kalau saya lanjut berbincang dengan kamu, kan?" tanya Gagah kemudian, membuat Airin menyesal telah berkata jujur.


"Hmmm, memangnya Bapak ingin bicara apa?" tanya Airin kikuk. Dia masih merasakan canggung berbincang dengan Gagah.


"Bicara apa saja, aku ingin mendengar suara kamu." Seketika wajah Airin menghangat saat Gagah mengatakan kalimat rayuan. Untung saja saat ini dia tidak sedang berhadapan dengan Gagah, hingga dia tidak malu karena ketahuan wajahnya merona.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading ❤️


__ADS_2