JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG

JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG
Tanggung Jawab


__ADS_3

Airin duduk di tepi sofa di samping Gagah. Setelah suaminya itu meminta berbicara di kamar, Airin pun menuruti meskipun hatinya merasa tak nyaman dengan pembahasan soal wanita yang menyukai suaminya itu.


Airin mencoba mengendalikan emosinya. Menurut Widya, Gagah  memang tidak pernah menjalin hubungan spesial layakmya seorang wanita dan pria dewasa dengan Florencia. Setidaknya, ia harus memegang ucapan Mama mertuanya itu.


"Airin, saya minta kamu tidak berpikir negatif terhadap saya. Seperti apa yang pernah saya katakan kepada kamu sebelumnya, kalau saya tidak menyimpan perasaan apa pun pada Florencia selain hubungan seperti kakak laki-laki terhadap adik perempuan, karena bagaimanapun juga Flo adalah anak dari pemilik perusahaan tempat saya bekerja. Tapi, kamu tidak perlu merasa khawatir, meskipun dia anak bos saya, dia tidak akan bisa mempengaruhi hati dan sikap saya." Gagah berusaha memberi pengertian kepada Airin, agar kegelisahan di hati Airin memudar.


Mungkin saat ini Airin mempunyai rasa takut, jika posisi Florencia sebagai anak pemilik Bintang Departement Store akan membuat Gagah berada dalam intimidasi Florencia atau mungkin juga dari Bintang Gumilang.


"Kemarin saya cerita tentang keinginan mendirikan perusahaan seperti yang ditawarkan oleh Mas Tegar, ini adalah salah alasannya. Jika Flo akan menggunakan kekuasaan Papanya untuk menekan saya, saya punya usaha lain ketika saya memutuskan resign. Karena saat ini saya punya tanggung jawab terhadap kamu juga Luna sebagai keluarga saya. Saya harus punya penghasilan untuk membiayai kehidupan kita." Gagah memaparkan rencananya jika dia sampai mendadak resign dari tempat kerjanya saat ini.


Airin menaikkan pandangan menatap sang suami. Sungguh dia merasa haru mendengar Gagah yang mengatakan akan memperjuangkan rumah tangga mereka daripada jabatan CEO nya, padahal gaji yang diterima oleh Gagah pastilah sangat tinggi.


"Saya tidak akan meninggalkan kamu dan Luna untuk wanita lain seperti Florencia ataupun lainnya." Tangan Gagah membelai wajah cantik Airin.


Hati Airin bergetar merasakan ketulusan hati Gagah padanya juga Luna. Hingga tak terasa cairan bening mengembun di bola matanya.


Airin menurunkan pandangan, cairan bening itu seketika menetes di pipinya walaupun ia berusaha menahan untuk tidak menangis.


"Jangan takut akan kehilangan saya, karena saya akan bersama kamu dan Luna juga anak-anak kita nantinya." Gagah merengkuh dan memeluk Airin, membuat air mata Airin semakin berderai di pipi Airin.


Airin merasa rapuh, trauma perceraian sebelumnya dengan Rey, akibat perselingkuhan mantan suaminya masih terasa membekas di hatinya, hingga ia merasa khawatir ketika ada wanita lain yang menginginkan Gagah. Apalagi jika dibandingkan dengan Florencia, Airin tidak sebanding dengan wanita muda itu. Tentu status sosial yang paling terlihat jelas. Florencia adalah calon pewaris perusahaan besar, sementara dirinya adalah wanita biasa.


Apa yang saat ini dilakukan dan diucapkan oleh Gagah seolah menegarkan hatinya, sehingga dia tidak perlu merasakan khawatir lagi. Terlebih keluarga Gagah seperti Widya dan Prasetyo pun sangat mendukungnya.


"Papa cama Mama pacalan telus, cih?" Suasana haru seketika terpecah saat suara Luna terdengar. Sebelumnya Luna asyik bermain di kamarnya ketika Gagah dan Airin berbincang.


Airin segera menjauhkan tubuhnya yang tadi dipeluk Gagah. Ia pun menyeka air mata yang tadi membasahi pipinya.


"Mama napa nangis lagi? Luna mendekat dan duduk di pangkuan Airin saat melihat Airin menangis.


"Mama cedih cama Ateu jahat tadi, ya?" Luna masih ingat dengan Florencia yang menyebabkan Airin menangis.


"Ateu jahat?" Gagah mengangkat kedua alisnya mendengar ucapan Luna.


"Tadi ada Ateu jahat di cini, Pa. Ateu jahat malah-malah cama Mama, telus Mama nangis." Luna mengadu apa yang dilakukan Florencia terhadap Mamanya kepada Gagah.


Gagah tersenyum melihat Luna sangat perduli kepada Mamanya.

__ADS_1


"Luna harus jaga Mama, biar tidak ada orang jahat yang akan membuat Mama sedih, ya!" Gagah membelai kepala Luna.


"Luna 'kan masih kecil, Pa." Luna menginterupsi perkataan Gagah.


"Iya, Luna masih kecil, belum bisa menjaga Mama, ya? Berarti Papa saja yang menjaga Mama sama Luna." Gagah mengambil Luna dari pangkuan Airin, membuat Luna berpindah tempat kini duduk di pangkuannya, "Tapi, nanti kalau Luna sudah besar, Papa dan Mama sudah tua, Luna gantian jagain Papa sama Mama," lanjut Gagah.


"Sudah tua itu seperti kakek cama nenek, ya, Pa?" tanya Luna lagi.


"Iya, sudah tua seperti kakek dan nenek," sahut Gagah mengecup kening Luna bergantian dengan kening Airin. Dia begitu menikmati perannya sebagai seorang suami dan Papa untuk Airin dan Luna. Dia berharap tidak ada rintangan menghadang biduk rumah tangga yang baru saja dibinanya, tidak dari Florencia ataupun dari orang lain yang tidak suka melihat kebahagiaan mereka.


***


Setelah makan malam, masalah Florencia kembali dibahas. Prasetyo meminta keluarganya berkumpul di ruang keluarga untuk membicarakan soal sikap Florencia yang ternyata menyukai Gagah.


Prasetyo sudah mendengar cerita dari istrinya. Dia mendengar bagaimana Florencia bersikap tidak sopan kepada Widya juga Airin, bahkan Florencia sampai menghina dan merendahkan status Airin.


Ayah dari tiga orang anak laki-laki itu merasa geram dengan tingkah Florencia, apalagi Florencia terindikasi akan mengancam posisi Gagah di kantor Bintang Gautama, jika Gagah tidak menerima perasaan Florencia.


"Apa sebaiknya Gagah resign saja dari pekerjaannya saat ini, Pa?" Khawatir akan kegilaan Florencia, Widya menyarankan Gagah untuk mengundurkan diri dari jabatannya saat ini.


"Papa rasa, Pak Bintang seorang yang bijaksana. Tidak mungkin beliau mencampuradukan masalah pribadi anaknya dengan pekerjaan. Beliau sangat profesional. Lagipula beliau tahu kalau Gagah suah menikah, tidak mungkin ia membiarkan putrinya menikah dengan pria yang telah beristri." Prasetyo sangat yakin dengan sikap Bintang Gemilang.


"Semoga Pak Bintang tidak terpengaruh dengan provokasi yang dilakukan oleh anaknya," harap Widya, "Heran, lho. Orang tuanya baik, anaknya malah seperti itu. Untung saja anak-anak kita tidak seperti itu, ya, Pa?" Widya bersyukur, ketika anaknya tidak ada yang mempunyai sikap buruk, mungkin hanya Tegar saja yang sering membuat kepalanya pusing karena sikap playboy nya Selebihnya, semuanya masih dapat terkendali.


"Oh ya, soal rencana kamu ingin memberi tugas Airin untuk menjabat sebagai direktur utama, Papa kurang setuju, Gah. Tanggung jawab direktur utama itu sangat besar, Gagah. Kalau Airin memang mau ikut membantu, Papa setuju Airin ikut menjalankan usaha itu. Tapi kalau menyerahkan jabatan itu kepada Airin, itu sangat berat. Papa tidak ingin Airin merasa terbebani dengan jabatan yang kamu berikan." Prasetyo cukup bijaksana menyampaikan pendapatnya soal rencana Gagah yang akan memberikan jabatan direktur utama kepada Airin.


"Mama setuju sama Papa. Lagipula kamu ini ingin Airin resign, tapi malah memberi tanggung jawab yang besar pada Airin." Widya sependapat dengan suaminya.


"Aku tidak bermaksud membebani Airin dengan tanggung jawab, Pa, Ma. Aku hanya ingin agar Airin tidak jenuh di rumah saja." Gagah menepis anggapan orang tuanya.


"Saya ingin kamu punya aktivitas, Airin." Gagah menjelaskan agar Airin tidak salah paham dengan maksudnya.


"Iya, Mas. Saya mengerti. Tapi, kalau harus menjabat direktur utama, saya tidak punya keahlian," sahut Airin.


"Kalian ini bagaimana, sih? Sudah menikah tapi panggilannya masih formal seperti itu. Masih panggilan saya, saya terus." Widya memprotes Gagah dan Airin yang masih nampak kaku dalam melakukan panggilan masing-masing. Sementara Prasetyo hanya terkekeh mendengar protes istrinya terhadap anak dan menantunya.


Gagah dan Airin saling pandang, namun tak lama Airin memutus pandangan dengan warna wajah merona. Rasanya malu sekali ditegur mertuanya hanya karena urusan panggilan. Airin tidak tahu kenapa Gagah juga masih menggunakan kata 'Saya'? Sementara dia sendiri karena sejak awal mengenal Gagah sebagai nasabah di tempat bank ia bekerja, ia menaruh rasa hormat pada Gagah, apalagi Gagah adalah nasabah besar di Central Bank, hingga dia menggunakan kata 'Saya', lebih sopan menggunakan kata itu. Dan juga karena pernikahan mereka yang mendadak dan tidak diawali oleh rasa cinta, membuat Airin ragu menggunakan kata 'Aku'.

__ADS_1


***


"Arrrgghh ...!"


Farah terkejut mendengar pekikkan suara Florencia dari dalam kamar putrinya. Bergegas ia menghampiri kamar Florencia untuk mengetahui apa yang terjadi dengan putri sulungnya tersebut. Karena setelah kedatangan Florencia, putrinya itu selalu uring-uringan. Dan yang menjadi permasalahnnya adalah keinginan Florencia memiliki Gagah, padahal Gagah sendiri baru saja menikah.


Farah terkejut saat mendapati kamar Florencia terlihat kacau dengan beberapa barang berserakan di lantai yang dilapisi permadani. Sementara Florencia terlihat berjalan hilir mudik dengan tangan mendekap erat tubuhnya sendiri. Terlihat kacau putrinya saat ini.


"Astaga, Flo! Kamu kenapa bisa seperti ini?" Farah menghampiri dan memunguti barang-barang milik putrinya itu.


"Ma, Mama harus bantu aku, Ma. Mama harus membujuk Papa agar mau mengancam Kak Gagah agar mau menikahi aku." Obsesi untuk memilii Gagah terlalu kuat bekerja di otaknya, sehingga ia mengabaikan jika saat ini Gagah sudah terikat pernikahan dengan wanita lain.


"Sadarlah, Flo! Kamu ini masih muda. Sekarang ini jaman sudah modern, bukan seperti jaman Papa dan Mama, umur seusiamu ini sudah jarue menikah. Kamu masih kuliah, fokus saja dulu dengan kuliahmu dan cari pendamping yang pantas untukmu." Farah menasehati Florencia agar anaknya itu sadar jika apa yang diinginkan saat ini adalah salah.


"Pria yang cocok untuk aku itu hanya Kak gagah, Ma. Mama tahu sendiri, Kak Gagah sangat dipercaya oleh Papa untuk mengurus perusahaan. Kak Gagah sangat bertanggung jawab dengan tugas yang diberikan oleh Papa. Sudah pasti Kak Gagah adalah jodoh yang tepat untuk Flo, Ma."  Tak ingin mendengar apa yang dikatakan oleh Mamanya, Florencia tetap bersikukuh dengan ambisinya untuk memiliki Gagah.


"Flo, berhentilah bermimpi! Mama tidak ingin kamu menjadi wanita jahat seperti itu!" Rasa khawatir mulai menyeruak di hati Farah melihat sikap anaknya yang seolah tak mempan ia peringatkan. Farah tidak ingin anaknya itu menjadi pemeran antagonis dalam panggung kehidupan yang dijalaninya saat ini. Florencia masih sangat muda, dia tak ingin Florencia hancur karena ambisinya yang tak masuk akal.


"Kenapa Mama dan Papa tidak mendukung anaknya sendiri? Kenapa Mama dan Papa justru menentang keinginanku?" Florencia kesal karena orang tuanya sama sekali tidak mendukung. Ia merasa seperti anak tiri yang tidak disayang oleh orang tua.


"Kami menentang karena apa yang kamu inginkan itu akan menghancurkan hidup kamu, Flo. Jika kamu sudah merasa dewasa, kalau kamu merasa bukan anak kecil lagi, bersikap dan berpikirlah dewasa!" tegas Farah tidak akan mengalah dengan keinginan Florencia.


"Lupakan Gagah! Dia diciptakan di dunia ini untuk wanita lain, bukan untukmu, Flo!' Farah terpaksa mengatakan hal seperti itu bukan bermaksud untuk menyakiti hati anaknya, namun untuk membuat Florencia sadar jika ambisi dan obsesi ingin memiliki Gagah adalah hal mustahil dan akan sia-sia.


"Dan hentikan kegilaanmu itu jika kamu tidak ingin kehilangan Papamu, Flo! Jika kamu tetap bersikap seperti ini, lambat laun, kamu akan membunuh Papamu sendiri!" Farah sangat mengkhawatirkan kondisi kesehatan suaminya, Dia tidak ingin kondisi Bintang drop karena memikirkan masalah  putrinya,


Setelah memberi peringatan kepada Florencia, Farah memutar tubuhnya dan berjalan ke arah pintu kamar karena ia ingin segera meninggalkan kamar Florencia. Hatinya sangat kecewa karena putrinya tumbuh menjadi pribadi yang tidak ia harapkan.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2