
Airin membantu menyiapkan pakaian kerja untuk suaminya beraktivitas di kantor pagi ini, setelah mereka menyantap sarapan pagi bersama Prasetyo, Widya juga Luna. Sementara Luna sendiri tetap berada di ruangan keluarga ditemani oleh Widya.
Airin melihat Gagah sedang mengancingkan kemaja berwarna off-white dipadu celana panjang berwarna khaki. Dia lalu mengambil dasi yang tadi dia siapkan lalu mendekat ke arah Gagah yang berdiri di depan cermin.
"Sini aku yang pasangkan dasinya, Mas." Airin meminta Gagah menghadap ke arahnya.
Tak menolak, Gagah pun mengikuti apa yang diminta oleh Airin hingga kini ia berhadapan dengan Airin. Airin pun langsung memasangkan dasi itu di kerah leher Gagah.
Gagah menatap wajah cantik Airin yang terlihat serius mengikat dasi di kemejanya. Senyuman seketika mengembang di bibir pria tampan itu. Tak menyangka jika akhirnya dia bisa terpikat dan jatuh cinta pada wanita yang pernah ditolaknya.
Sebulan lebih menikah dengan Airin, ia merasakan kebahagiaan yang tak terlukiskan dengan kata-kata. Hidup bersama wanita baik-baik yang patuh dan hormat terhadap terhadapnya, membuat dirinya merasa hidupnya mendekati sempurna. Airin selalu melayaninya sebagai seorang suami dengan sangat baik.
"Ternyata apa yang dikatakan Mas Tegar benar." Gagah teringat ucapan Tegar ketika menyuruhnya segera mencari pendamping hidup, karena mempunyai istri itu membuat hidup lebih menyenangkan dan lebih bahagia.
Airin menaikkan pandangan menatap sang suami, mengeryitkan kening tak mengerti ucapan suaminya itu. Apalagi saat nama Tegar disebut, sebab ia tahu jika kakak iparnya itu selalu meledek mereka dan selalu nyeleneh jika bicara.
"Kata-kata Mas Tegar yang mana, Mas?" tanyanya.
"Dulu Mas Tegar selalu membully karena aku jomblo, tidak ada yang meladeni jika kami menikmati makan bersama keluarga, kamu juga pernah dengar sendiri pengakuan Mas Tegar, kan?" Gagah membelai kepala Airin dengan penuh kasih sayang.
"Aku pikir, tidak masalah tidak ada yang melayani, lagipula aku bisa melakukan segala hal sendiri. Tapi, sejak pertama kali bertemu denganmu ... semuanya berubah ..." akunya jujur.
"Berubah?' Kening Airin makin berkerut.
"Berubah karena hidup aku lebih berwarna sekarang ini, tidak flat hanya fokus dengan pekerjaan saja, karena kehadiran kamu dan juga Luna," ucap Gagah.
"Maaf, kalau dulu aku sempat bersikap kurang ramah terhadap Mas." Airin menyadari jika sikapnya dulu kepada Gagah selalu ketus. Meskipun ia lakukan hanya untuk melindungi dirinya dari fitnah dan rasa trauma.
"Aku anggap itu sebagai suatu tantangan dan bagian dari perjuanganku untuk mendapatkan bidadari cantik sepertimu." Kalimat rayuan yang diucapkan Gagah diakhiri dengan tawa kecil.
Rona merah membias di pipi Airin mendengar kata-kata manis yang diucapkan suaminya. Sejak mengenal Gagah, pria itu memang begitu mengistimewakan dirinya. Hal itu dapat dirasakan oleh Airin, hanya saja rasa kecewa, trauma dan takut yang memaksanya bersikap seperti itu pada Gagah.
"Mas, nanti siang aku main ke kantor boleh tidak?" tanya Airin, belakangan ini dirinya memang selalu dekat dengan Gagah, mungkin karena bawaan janin di dalam kandungannya yang menginginkan hal itu.
"Kamu mau ke kantor? Nanti minta antar Pak Birin saja kalau begitu. Nanti aku suruh Bi Darsih masak untuk bekal makan siang kamu di kantor." Sejak mengetahui istrinya hamil, Gagah mengutamakan istrinya mengkonsumsi makanan yang dimasak di rumah karena ia anggap lebih higienis dan sehat untuk wanita hamil daripada makan di luar rumah.
"Mas mau makan apa? Nanti aku buatkan untuk Mas." Dan Airin mengira jika Gagah lah yang ingin makan masakannya.
"Aku tidak menyuruh kamu masak, aku justru menyuruh kamu beristirahat. Aku suruh Bi Darsih membuat makanan sehat untuk kamu dan bayi kita di sini," kata Gagah menjelaskan maksud ucapannya.
"Ya sudah, sekarang Mas buruan berangkat, nanti Mas telat masuk ke kantor. Sekarang ini Mas bukan bos lagi di sana, kan? Kalau malas dan telat berangkat nanti kena SP, lho!" Airin memperingatkan suaminya.
"Hahaha ... siapa yang berani memberi menegurku? Mereka lebih takut aku hengkang dari sana." Dengan percaya diri, Gagah menyebut jika sosoknya sangat penting di dalam perusahaan Bintang Departement Store.
"Tidak boleh sombong seperti itu, Mas! Mas harus memberi contoh yang baik kepada karyawan di sana juga pada Gadis, agar Gadis juga bisa mencontoh sikap disiplin Mas, biar nanti karyawan mempunyai rasa hormat pada Gadis ke depannya." Airin menegur juga menasehati suaminya. Dia tidak ingin Gagah terlalu jumawa dengan posisinya yang masih sangat penting pada perusahaan retail milik Bintang Gumilang.
Tak marah dengan teguran Airin, Gagah justru tersenyum, "Inilah yang aku katakan jika hidupku terasa sempurna, karena kamu dapat menegurku ketika aku lalai dalam tugas." Teguran Airin bagi Gagah sebagai bukti rasa perduli Airin kepadanya.
"Sudah buruan berangkat, jangan kebanyakan ngegombal, deh!" Airin mengambil blazer milik Gagah dan menyerahkan pada suaminya. Dia menyuruh suaminya untuk segera memakai blazer lalu turun ke bawah.
***
Rey menggunakan waktu istirahat makan siangnya untuk berkunjung ke perusahaan milik Bintang. Untuk mendapatkan kepastian jika Gagah memang sudah tidak menjadi pimpinan di perusahaan retail itu, adalah dengan mendatangi perusahaan tersebut. Rasa cemburu dan iri hati karena Airin sudah menikah kembali dengan Gagah membuat hatinya tak senang, apalagi ia ketahui pria yang menjadi suami baru Airin seorang CEO. Karena itu ketika dirinya mendengar kabar jika jabatan Gagah dialihkan kepada anak dari pemilik perusahaan retail itu, dia menganggap itu adalah kabar menggembirakan baginya. Dia bahkan berharap Airin akan menyesal memilih bercerai darinya dan menikah dengan Gagah.
Rey mengancingkan blazernya setelah turun dari mobil. Dia memandang bangunan menjulang di hadapannya saat ini. Dengan langkah tegap dia berjalan ke arah lobby kantor yang sebelumnya dipimpin oleh Gagah.
"Selamat siang, Pak. Saya ingin bertemu dengan Pak Gagah Prasetyo, CEO perusahaan di sini." Rey sengaja memperjelas ucapan CEO agar security yang berjaga dapat terpancing dengan kalimatnya tersebut dan dapat memberinya informasi berkaitan dengan jabatan Gagah saat ini. Karena ia yakin jika sekarang Gagah sudah tidak berada di kantor itu.
"Selamat siang, Pak. Dengan Pak siapa ini?" Meskipun dirinya pernah melihat Rey datang ke kantor itu, tapi security tidak kenal nama Rey.
"Saya Rey dari PT. Sumber Rejeki, Pak. Saya sering bertemu Pak Gagah di sini," jawab Rey..
"Oh, silahkan duduk dulu, nanti saya sampaikan ke staff di front office." Setelah mempersilahkan Rey duduk, security menyampaikan kedatangan Rey ke staff di meja front office.
__ADS_1
"Kenapa security itu tidak menyuruhku pulang? Apa mungkin Gagah masih ada di sini." Rey berpikir, seandainya Gagah sudah tidak bekerja di perusahaan itu, untuk apa security menyuruhnya menunggu? Apa jangan-jangan Gagah masih ada di perusahaan ini, namun berbeda jabatan? Tapi apa itu mungkin? Setelah seseorang mencapai posisi tertinggi sebagai CEO, masa harus turun jabatan di bawahnya? Pertanyaan itu sibuk melintas di pikiran Rey. Alasan paling logis adalah resign atau dipecat.
Sekitar sepuluh menit menunggu, akhirnya security itu kembali menemuinya dan mempersilahkan Rey naik ke ruangan Gagah.
"Maaf, ruangan Pak Gagah di mana sekarang, Pak?" tanya Rey.
"Pak Rey masih di ruangannya yang dulu, Pak." jawab security. Pengalihan jabatan dari Gagah kepada Gadis sudah bukan rahasia lagi di telinga para karyawan tersebut, namun mereka menganggap jika posisi Gagah di sana masih sangat vital di perusahaan itu.
"Oh ..." Rey merasakan kecewa saat mengetahui jika Rey masih bertugas di ruangan yang sama.
Mau tak mau Rey tetap harus menemui Gagah, dan alasan andalannya adalah ingin meminta ijin bertemu Luna. Mengingat hal tersebut rasa kesal pada Gagah makin menebal di hati Rey. Luna adalah darah dagingnya, tapi kenapa justru dia seperti harus mengemis demi bertemu anaknya sendiri.
Sedangkan di ruangannya, Gagah langsung menghubungi Airin ketika Dewi mengatakan jika Rey ingin bertemu dengannya.
"Assalamualaikum, aku sedang di jalan, Mas." Wajah Airin dan Luna langsung terlihat di layar ponsel Gagah, dan memang Airin terlihat sedang berada di dalam mobil.
"Papa, Luna mau ke cana ..." Luna tak kalah ikut menyapa Gagah.
"Waalaikumsalam, Luna mau ke kantor Papa, ya? Papa tunggu, ya!" sahut Gagah.
"Iya, Papa ..." sahut Luna.
Gagah memperhatikan Airin yang memakai dress berwarna mustard, terlihat cantik sekali istrinya itu. Dia dapat membayangkan jika sampai Rey melihat bagaimana Airin saat ini, pasti akan terbakar hati Rey. Dan Rey pasti akan menyesal melepas Airin.
"Kamu cantik sekali, Airin." Gagah mengagumi kecantikan istrinya.
Tersipu malu Airin menanggapi pujian sang suami, dan ia pun berkata, "Mas dari pagi ngegombal terus, deh." Meskipun sang suami yang memujinya, Airin masih saja merasa malu.
Gagah pun terkekeh melihat istrinya salah tingkah.
"Oh ya, mantanmu datang ke sini." Gagah memberitahu soal kedatangan Rey pada Airin agar Airin tidak terkejut saat mendapati Rey di ruangannya nanti.
"Mau apa dia temui Mas?" tanya Airin terkejut.
"Entahlah, dia masih di bawah, belum masuk ke ruanganku." jawab Gagah.
"Sepertinya dia ingin bertemu dengan Luna, tidak ada salahnya dia bertemu dengan Luna di sini, agar dia tidak membawa Luna pergi." Gagah sengaja membiarkan Rey bertemu dengan Luna dengan maksud tertentu.
Tok tok tok
"Maaf, Pak. Pak Rey sudah datang." Dewi muncul di ruangan Gagah memberitahukan jika Rey sudah ada di depan ruangan Gagah.
"Aku tutup dulu teleponnya, Assalamualaikum ..." Gagah mengakhiri percakapan dengan Airin via video call.
"Waalaikumsalam ..." balas Airin.
"Suruh masuk, Wi." Gagah menjawab ucapan Dewi tadi.
"Silahkan, Pak." Dewi mempersilahkan Rey masuk ke dalam ruangan Gagah.
"Selamat siang, Pak Gagah." Rey masuk ke dalam ruangan dan menyapa Gagah.
"Siang, Pak Rey. Silahkan ..." Gagah mempersilahkan Rey duduk di sofa.
"Apa ada yang bisa saya bantu, Pak Rey?" tanya Gagah ketika mereka sudah duduk di sofa yang berseberangan.
"Sepertinya Pak Gagah sedang repot, ya? Dua hari lalu saya coba hubungin Pak Gagah tapi tidak diangkat." ujar Rey, namun tatapan matanya melirik ke arah meja kerja Gagah, tak ada nama Gagah di meja kerja pria itu yang menegaskan jika Gagah adalah seorang CEO seperti yang pernah ia lihat sebelumnya. Begitu juga di pintu ruangan Gagah. Hal itu yang membuat dirinya yakin jika Gagah memang sudah bukan CEO lagi di perusahaan retail tersebut. Namun, mengapa Gagah masih ada di kantor dan ruangan ini? Rey masih mencari-cari jawaban.
"Oh ya? Maaf sekali jika telepon dari Pak Rey tidak terangkat oleh saya," sahut Gagah, "Mungkin saya sudah tidur waktu itu," lanjutnya beralasan.
"Apa saya mengganggu, Pak Gagah?" tanya Rey.
"Tidak apa-apa, Pak Rey. Apa ada yang ingin Pak Rey sampaikan kepada saya?" Gagah balik bertanya.
__ADS_1
"Sebenarnya saya ingin meminta ijin Pak Gagah untuk bisa bertemu dengan Luna," Rey beradalasan kedatangannya ke kantor itu untuk meminta ijin bertemu anaknya.
"Kebetulan sekali Airin dan Luna sedang dalam perjalanan kemari, jadi Pak Rey bisa bertemu dengan Luna." Jika Rey bertemu dengan Luna saat ini, tentu saja Rey tidak akan bisa membawa Luna pergi sebab Rey sendiri sedang dalam waktu bekerja.
"Luna dan Airin sedang kemari?" tanya Rey dengan terkejut.
"Benar, Pak Rey. Kebetulan pagi tadi Airin bilang ingin kemari, jadi saya suruh dia datang di jam makan siang," terang Gagah.
"Oh, begitu, ya?" Rasa cemburu kembali menggelitik hati Rey, sebab dulu saat bersamanya, Airin tidak pernah datang mengunjungi kantornya. Dia bukanlah Gagah yang punya jabatan elit di perusahaan tempatnya bekerja.
"Apa Pak Rey sedang terburu-buru?"
"Oh, tidak, Pak. Kebetulan ini waktu istirahat sekalian nanti saya ingin bertemu dengan klien, Pak Gagah." tepis Rey.
"Kalau begitu, tidak masalah jika menunggu sebentar sampai Luna datang, kan?" tanya Gagah menantang.
"Oh, tentu saja tidak masalah, Pak Gagah. Luna anak saya, tentu saya tidak masalah harus menunggunya." Rey menjawab tantangan Gagah.
Mereka berdua pun melanjutkan perbincangan seputar pekerjaan sambil menunggu kedatangan Airin dan Luna. Namun, tak sedikit pun Rey bisa mendapat informasi dari mulut Gagah tentang jabatan pria itu saat ini. Hingga akhirnya suara ketukan pintu ruang kerja Gagah terdengar.
"Assalamualaikum ..." Airin masuk ke dalam ruang kerja Gagah bersama Luna.
"Waalaikumsalam ..." Gagah dan Rey menyahuti berbarengan.
Airin menoleh ke arah Rey dengan tak suka. Rasa kecewa dan sakit hati pada mantan suaminya itu masih belum mereda walaupun saat ini dirinya sudah menikah dan hidup bahagia dengan Gagah.
"Luna?" Tak ingin didahului Gagah, Rey menyapa anaknya terlebih dulu agar Luna mendekat ke arahnya.
"Iiihh, Papa Ley?" Luna mendekat ke arah Rey, karena bagaimanapun Rey adalah Papanya, dan dia masih belum mengerti jika Papanya sudah berbuat kesalahan besar yang telah menyakiti hati Mamanya.
"Luna apa kabar? Papa kangen banget sama Luna." Rey mendudukkan Luna di pangkuannya dan juga menciumi pipi anaknya.
Sementara Airin berjalan ke arah meja makan, menaruh makanan yang akan dia makan bersama suaminya, lalu ia mendekat dan duduk di samping sang suami. Dia membiarkan Luna melepas rindu kepada Papanya, agar Rey tidak terus mengusiknya dan juga keluarga barunya dengan menghubungi Gagah.
"Papa, Luna mau punya adik bayi. Adik bayinya ada di pelut Mama." Luna memberi kabar mengagetkan kepada Rey soal kehamilan Airin. Bahkan Luna pun menunjuk ke arah perut Airin.
Dengan kepolosannya, Luna tidak menyadari jika informasikan yang disampaikan kepada Papanya itu bagaikan lemparan belati yang menghan tam tepat di ulu hati Rey. Membayangkan Airin disentuh pria lain selain dirinya saja membuatnya mendidih apalagi mengetahui jika Airin saat ini sedang hamil.
"Kata Mama kalau pelut Mama sudah besal, Luna bisa liat kakinya adik bayi di pelut Mama, Pa.." Luna terus saja berceloteh tentang calon adiknya membuat Rey seketika mendadak pusing.
Tok tok tok
"Kak, ini sudah aku cek semua, dan sudah aku tanda tangani, tinggal tanda tanda Kak Gagah saja." Gadis lah yang masuk ke ruangan Gagah. Gadis sudah beraktivitas di perusahaan Papanya. Namun dia tidak menggunakan ruangan Gagah, dia menggunakan ruangan yang sedikit lebih kecil dari ruang kerja Gagah, sebab menurutnya hanya Gagah yang masih pantas memakai ruangan tersebut.
"Eh, ada Kak Airin ..." Gadis menyapa Airin, "Eh, ada Luna juga di sini." Giliran Luna yang disapa Gadis, karena Gadis pernah bertemu dengan Luna saat ia datang bersama Florencia kala itu.
"Kakak ..." Luna membalas Gadis.
"Hai, Dis." balas Airin.
"Luna, Kak Gadis punya donut, Luna mau tidak? Ikut keruangan Kak Gadis, yuk!" Gadis tidak tahu jika pria yang bersama Luna adalah papa kandung Luna. Dia justru senang dengan kehadiran Luna sebab membuat dia tidak terlalu stress harus bergelut dengan pelajaran dan harus belajar mengelola perusahaan Papanya. Karena itu ia mengajak Luna ke ruangannya.
"Ma, boleh, ndak?" Luna minta injin Airin dan Airin pun mengijinkan. "Hole ..." pekiknya lalu turun dari pangkuan Rey.
"Gadis, ini Pak Rey, Pak Rey ini Papanya Luna." Gagah mengenalkan Rey pada Gadis,
"Oh, ini Papanya Luna." Gadis sudah mempunyai pandangan buruk soal Rey, sebab Gagah pernah mengatakan jika Airin punya trauma dengan perselingkuhan, sehingga ia menduga jika pria di hadapannya adalah pria yang pernah menyebabkan luka di hati Airin.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ...
Happy Reading❤️