
Rey memperhatikan Joice yang terkejut dengan benda-benda yang berserakan di lantai kamar Rey. Sekarang ini, Rey sudah mulai berani membawa Joice ke rumah tinggalnya dulu bersama Airin, karena Joice selalu mendesaknya untuk membawa ke rumah milik Rey itu.
"Honey, kenapa ini berantakan?" tanya Joice memandang lantai kamar Rey.
Rey mengusap kasar wajahnya, emosinya yang meluap membuat dirinya hilang kendali, hingga membuat Rey melampiaskannya dengan menyingkirkan semua benda yang ada di atas nakas, termasuk jam beker, beberapa buku dan pigura foto.
"Siapa itu, Bang? Apa itu gun dikmu?" Robby justru mengolok Rey, saat ia pun mendengar suara wanita di belakang Rey.
"Jaga mulutmu, Robby!" Rey membela Joice dan menegur Robby, karena adiknya menyebut Joice dengan bahasa yang kasar.
"Hehehe, bukankah dia memang seperti itu, Bang?" Robby tak merasa bersalah dengan ucapannya.
"Apa sudah tidak ada lagi yang ingin kamu sampaikan? Jika tidak ada yang ingin kamu bicarakan, aku akan tutup teleponnya." Rey ingin mengakhiri pembicaraan telepon dengan Robby, karena adiknya itu terus saja menyindirnya.
"Hahaha, sensitif sekali kau ini, Bang. Ya sudah, aku tutup teleponnya. Teruslah bersenang-senang dengan wanitamu itu, urusan harta Papa dan Mama biar aku saja yang urus." Robby langsung mengakhiri sambungan teleponnya, setelah berhasil membuat kakaknya semakin kesal.
"Si alan!" umpat Rey begitu panggilan telponnya terputus.
"Siapa yang menelepon tadi, Honey?" Joice melingkarkan tangannya ke pinggang Rey, bergelayutan manja seperti biasa pada kekasihnya itu. Sikap agresif Joice yang membuat Rey tidak bisa lepas dari Joice.
"Adikku," sahut Rey menjawab malas.
"Ada apa? Apa adikmu itu mengatakan sesuatu yang membuatmu kesal, Honey?" Justru Joice menganggap adik Rey yang membuat kekasihnya itu mengacak kamarnya sendiri.
"Dia sudah menikah dengan pria itu." Rey menyebut alasan yang membuat hatinya emosi.
"Dia? Mantan istrimu itu maksudnya?" Joice terkejut mendengar kabar yang disampaikan oleh Rey soal pernikahan Airin.
"Ya," Rey mengusap kasar wajahnya. Tidak dapat menyembunyikan rasa kecewa di hatinya saat ini.
"Sekarang kau lihat sendiri 'kan, Honey? Mana mungkin dia begitu cepat menikah setelah empat bulan perpisahan kalian, kalau sebelumnya mereka itu belum saling mengenal. Aku yakin mereka sudah berhubungan jauh sebelum perceraian kalian, hanya saja dia pandai memyembunyiksnnya." Joice terus berusaha meracuni pikiran Rey, agar Rey semakin membenci Airin, dan tentu saja agar Rey meresmikan hubungan dengan dirinya ke jenjang yang lebih serius.
Rey mendengus kasar. Provokasi yang dilakukan oleh Joice semakin menguatkan kekesalan di dalam hatinya terhadap Airin. Cemburu, kecewa dan rasa emosi menjadi satu dalam hati Rey.
__ADS_1
"Kita jangan sampai kalah dengan mereka, Honey. Kita harus segera meresmikan hubungan kita juga, dong!" Joice memanfaatkan kekacauan hati Rey, untuk mempengaruhi Rey agar segera menikahinya. Karena selama ini Rey terkesan mengukur waktu hingga tidak ada kepastian, kapan mereka bisa terikat janji suci pernikahan.
"Sabarlah, Joice. Aku ingin membereskan urusanku dulu." Hati Rey yang tidak tenang membuatnya malas membahas soal rencana pernikahan dengan Joice.
"Urusan apa lagi sih, Honey?" Joice mengurai pelukannya, karena Rey masih juga menolak jika dia membicarakan soal rencana pernikahan mereka.
"Aku ingin mengambil Luna dari Airin. Aku tidak ingin anakku menjadi lupa padaku, hanya karena pria itu." Rey tak ingin dirinya semakin jauh dengan anaknya dan dia takut jika Gagah akan merebut perhatian Luna darinya.
Joice tentu tak setuju dengan keinginan Rey. Dia merasa keberatan mengurus anak Rey dengan Airin, meskipun ia ingin menjadi istri dari Rey.
"Untuk apa kamu mengambil Luna, Honey? Biarkan saja dia dengan mantan istrimu itu. Lagipula Papa tirinya itu orang kaya, mantan istrimu pasti tidak akan membiarkan Luna kau ambil, Honey." Berbagai cara lakukan untuk menjegal keinginan Rey tersebut.
"Itulah yang tidak aku inginkan, Joice! Aku tidak ingin Luna lebih dekat dengan pria itu, sementara aku adalah Papa kandungnya selalu dipersulit untuk bertemu apalagi membawa Luna pergi." Rey bersikap egois, tanpa menyadari kesalahan besar yang sudah ia lakukan hingga membuat ia jauh dari anaknya sendiri.
***
Setelah tiga hari menikmati bulan madu sederhana menginap di hotel mewah, Gagah membawa Airin dan Luna pulang ke rumah Prasetyo. Sedangkan kedua orang tua Airin dan adik Airin sendiri sudah kembali lebih dahulu ke Yogyakarta.
Gagah membuka pintu ruangan kamar yang kini nampak baru setelah direnovasi. Sejak mendapatkan kepastian hari pernikahannya ia mengatur orang untuk merubah interior kamarnya agar terlihat lebih feminim, karena Airin pasti tidak akan suka dengan interior ruang kamar yang terkesan maskulin dengan dominan warna grey dan hitam.
Aroma maskulin khas pria menguar ketika Airin berjalan masuk ke dalam kamar Gagah. Ruang tidur Gagah terlihat besar dan rapih, tak beda jauh dengan kamar dan ruang kerja Gagah di kantor. Airin nampak malu, karena kamar Airin saja tak serapih kamar suaminya itu.
"Jika ada yang membuat kamu tidak nyaman dengan interior dan perabotan di kamar ini, kamu katakan saja, biar nanti saya ganti," ucap Gagah saat Airin sedang mengedar pandangan melihat-lihat apa yang ada di kamar yang akan dia tempati.
Airin mengerutkan keningnya. Dengan interior dan perabotan yang mewah dan terlihat sangat elegan, mana mungkin tidak nyaman berada di dalam ruangan tersebut.
"Luna ..." Airin menanyakan di mana Luna akan tidur, karena selama ini Luna selalu tidur bersamanya, terkecuali ketika dia masih bersama Rey, Luna bersama pengasuhnya, jika mereka ingin melakukan hubungan suami istri.
"Luna nanti ada di kamar sebelah, pintunya bisa diakses dari kamar ini." Gagah menggandeng tangan Luna, mengajak Luna ke kamar sebelah.
"Luna, ayo lihat kamar Luna," lanjut Gagah.
Airin memperhatikan Gagah yang berjalan bersama Luna di hadapannya, hingga dia pun mengekor di belakang mereka.
__ADS_1
"Ini dia kamar untuk Luna," ucap Gagah ketika masuk ke dalam ruangan di sebelah kamarnya.
Airin tertegun melihat ruangan yang tak kalah luas dari kamar Gagah tersebut seolah disulap seperti arena permainan anak dengan keberadaan playground di sisi sebelah kiri dengan perpaduan warna pink dan baby blue. Sedangkan di sebelah kanan terdapat tempat tidur untuk Luna.
"Iiihh, ada pelosotan cama mandi bola ..." Luna berlari menuju playground. Anak itu terlihat gembira melihat ada arena bermain untuknya di rumah orang tua Papa sambungnya.
"Luna senang tidak dengan kamar Luna ini?" tanya Gagah mendekat ke arah Luna, membiarkan Ibu si anak itu masih dalam semakin terpikat kepadanya dan menumbuhkan rasa cinta di hati Airin
"Cenang, Pa." Luna menganggukkan kepala.
"Ini kamar Luna, nanti Luna tidur di sana." Gagah menunjuk tempat tidur untuk Luna?"
"Luna cama Mama bobo di cini, Pa?" tanya Luna polos.
"Tidak Luna. Mama sama Papa bobo di sebelah. Luna bobo di sini sendiri." Gagah menjelaskan.
"Ndak mau, Pa. Luna takut bobo cendili. Luna mau bobo cama Mama cama Papa." Luna menolak tidur sendirian.
"Luna tidak boleh takut, Luna bisa ke kamar Papa di sana." Gagah mencoba memberi pegertian, agar Luna mau menerima yang sudah ia putuskan.
"Tapi, Luna takut, Pa." Luna langsung mendekat ke arah Gagah lalu memeluk pria itu dengan melingkarkan tangannya ke tengkuk Gagah.
"
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ...
Happy Reading ❤️