
Airin masih merasa bingung soal pesan Gagah yang mengetahui jika dirinya baru saja menghadap Andika. Hingga dia sampaikan rasa penasarannya itu pada Fany, ketika mereka pergi makan siang bersama.
Tidak sedikit pun terpikirkan oleh Airin, jika sebenarnya Fany bertugas sebagai mata-mata Gagah yang diberi tugas mengawasi gerak-geriknya selama berada di lingkungan kantor Central Bank.
"Fan, aku heran, lho! Pak Gagah tiba-tiba saja kirim pesan ini." Airin menunjukkan isi pesan yang dikirim Gagah ke ponselnya, saat mereka sedang menunggu pesanan makanan mereka dihidangkan.
Fany membulatkan matanya, memasang ekspresi terkejut membaca pesan itu. Seolah dia tidak tahu soal pesan tersebut. Padahal, dia sendirilah yang melaporkan kepada Gagah, jika Airin dipanggil menghadap Andika.
"Kok, Pak Gagah bisa tahu, ya, Fan?" tanya Airin dengan kebingungan.
"Apa mungkin Pak Andika yang memberitahu, Rin?" tanya Fany melempar hal yang sudah dia lakukan pada Pak Andika. "Mungkin Pak Andika berpikir, daripada kamu mengadu pada Pak Gagah, mending dia lapor duluan sama komandan." Fany justru terkekeh. Ia pun terlihat santai menanggapi cerita Airin.
"Duh, malu banget rasanya, sampai Pak Andika tahu." Airin menutup wajah dengan telapak tangannya. Airin bukan tipe orang yang cuek, seolah tidak terjadi apa-apa.
"Sudahlah, Rin. Jangan terlalu dipikirkan soal itu. Lagipula, Pak Andika juga mendukung kamu sama Pak Gagah, kan? Jadi, apa yang mesti kamu khawatirkan? Kalau kamu jadi dengan Pak Gagah juga, kamu pasti tidak akan terus bekerja di sini, kan? Masa iya, istri CEO jadi karyawan?!" Fany mengibas tangan ke udara, meminta Airin untuk tidak terlalu mengkhawatirkan hal tersebut.
"Atau, kalau kamu penasaran, kenapa kamu tidak tanya langsung ke Pak Gagah saja, Rin?" saran Fany.
Airin menggelengkan kepalanya menanggapi saran yang diberikan Fany. Tidak mungkin dia menanyakan hal tersebut pada Gagah. Atau, lebih tepatnya dia malu menanyakan hal tersebut pada pria itu.
"Tidak, Fan. Aku malu tanya sama Pak Gagah," ucapnya.
"Kalau begitu, kamu lupakan saja hal itu! Jangan terlalu diambil pusing." Fany menyiram nasi dengan kuah soto yang baru saja disajikan oleh penjual soto.
"Makan dulu saja, Rin! Daripada kamu bingung-bingung," lanjut Fany, menyuruh Airin segera menyantap makan siang yang sudah tersaji di hadapan mereka berdua.
***
Tante Mira berdiskusi dengan suaminya mengenai rencana Gagah yang ingin melamar Airin dan ingin menemui orang tua Airin dengan membawa Luna tanpa sepengetahuan Airin. Karena Tante Mira tidak ingin suaminya itu menyalahkannya jika dia mengikuti rencana Gagah yang mengajak dirinya dan Luna ke Jogya pulang pergi menggunakan pesawat.
"Menurut Papa bagaimana?" tanya Tante Mira meminta pendapat Om Fajar.
Dengusan nafas Om Fajar terdengar keras. Sepertinya adik dari orang tua Airin itu sedang berpikir mencari jalan keluar untuk permasalahan yang sedang dihadapi.
"Kalau menurut Papa, jika Gagah ingin menemui Mas Baskoro dan Mbak Heny, sebaiknya membawa Luna juga Airin sekalian ke sana. Hal itu bisa membuat Mas Bas dan Mbak Heny melihat sendiri, jika Gagah memang bersungguh-sungguh terhadap Airin. Mama juga bisa ikut ke sana, karena Mbak Widya adalah sahabat Mama, Mama juga bisa ikut menjelaskan kepada Mas Bas sama Mbak Heny, bagaimana keluarga Gagah. Hal itu bisa mempengaruhi restu dari Mas Bas dan Mbak Heny." Om Fajar menyarankan apa yang sebaiknya dilakukan oleh sang istri dengan rencana Gagah.
"Berarti Airin harus tahu, Pa?" tanya Tante Mira.
"Itu lebih baik," sahut Om Fajar, "Dan kalau situasinya memungkinkan, Gagah bisa langsung melamar Airin pada Mas Bas dan Mbak Heny," lanjutnya.
"Tapi, kalau Airin menolak bagaimana, Pa?" tanya Tante Mira, khawatir Airin keberatan dengan rencana Gagah.
"Nanti Papa yang akan bicara dengan Airin." Om Fajar berjanji akan membantu meyakinkan Airin untuk bisa ikut ke Jogya bersama Gagah, Luna dan Tante Mira.
"Ya sudah, kalau Papa yang akan bicara sama Airin, Mama setuju saja diminta menemani mereka ke Jogya," sahut Tante Mira.
***
Pagi-pagi sekali Gagah sudah datang ke rumah Om Fajar, setelah Tante Mira mengabarkan jika Om Fajar menyarankan Gagah mengajak Airin ikut serta ke Yogyakarta, Gagah ingin mengatakan hal itu sendiri kepada Airin. Sebab itulah, pagi ini dia sudah tiba di rumah Om Fajar.
"Mbak, ada Kak Gagah di luar." Feby menyampaikan kedatangan Gagah pada Airin, ketika Airin sedang mengikat rambut Luna sesudah memandikannya.
"Mana Om Gagah, Ateu?" Luna justru yang merespon cepat.
"Ada di luar," sahut Feby.
"Mama, Luna mau ke Om Gagah." Luna minta ijin pada Mamanya.
"Tunggu sebentar, Mama sedang mengikat rambut Luna." Airin memasang pita di rambut Luna yang sudah selesai dia ikat.
"Sana minta antar Ateu Feby." Airin tidak membiarkan Luna turun dari tangga sendiri.
"Iya, Ma," sahut Luna, "Ayo, Ateu!" Luna menarik tangan Feby.
"Duh, yang ngebet ketemu sama calon papa baru." Feby meledek Luna, yang direspon Luna dengan tawa kecilnya yang renyah.
Airin menggelengkan kepala menanggapi candaan Feby dan Luna. Ia juga tidak terkejut dengan kehadiran Gagah di rumah Om nya. Sepertinya Airin sudah mulai terbiasa dengan sikap pria itu yang kadang-kadang tanpa pemberitahuan terlebih dahulu muncul di hadapannya. Bahkan, setiap pagi Airin selalu berjaga-jaga jika sampai Gagah datang menjemputnya.
Ia pun segera mengganti pakaiannya dengan seragam kantor. Sambil merapihkan lagi riasan wajah dan juga rambutnya sebelum akhirnya dia turun ke bawah menemui Gagah.
Seperti saat kedatangan Gagah sebelumnya, kali ini pun, Gagah diajak menikmati sarapan pagi bersama keluarga Om Fajar, hingga kini mereka berkumpul di meja makan.
"Airin, Nak Gagah tadi bicara dengan Om. Katanya dia ingin mengajak kamu dan Luna ke Jogya untuk bertemu dengan orang tuamu." Setelah berembuk dengan Om Fajar, akhirnya Om Fajar lah yang mengatakan hal tersebut pada Airin, agar Airin tidak menolak rencana itu.
Sontak tatapan mata Airin mengarah ada pria di sampingnya saat ini. Dia tidak pernah membayangkan jika Gagah sampai berencana menemui orang tua dirinya di Jogya.
"Om rasa tidak ada salahnya kalian pergi ke Jogya bersama, agar orang tua kamu mengenal Gagah, dan Gagah juga bisa akrab dengan orang tuamu," lanjut Om Fajar.
Airin mendesah. Sepertinya dia tidak diberikan kesempatan untuk menolak permintaan Gagah. Apa pun yang direncanakan oleh pria itu, seolah mutlak untuk dia setuju, dilaksanakan dan diterima olehnya.
"Nanti Tante juga akan ikut ke sana menemani kalian, Rin." Tante Mira ikut berbicara.
"Memangnya kapan rencana ke sana, Om?" tanya Airin.
"Akhir pekan ini, agar tidak mengganggu waktu kerja kamu. Nanti kita naik pesawat saja agar tidak memakan waktu." Gagah yang menjawab pertanyaan Airin.
"Aku ikut, dong, Pa!" Mendengar Mamanya ikut mengantar ke Jogya, apalagi menggunakan pesawat terbang, Feby pun berminat ikut ke Yogyakarta.
__ADS_1
"Kami ini bukan mau liburan, kenapa kamu ikut-ikut segala?" Tante Mira memutar bola matanya menanggapi permintaan Feby.
"Aku 'kan kepengen merasakan naik pesawat, Ma." Feby menyeringai.
"Kalau Feby memang libur sekolah dan ingin ikut, tidak apa-apa diajak saja, Tante." Di luar dugaan, Gagah justru memberi lampu hijau kepada Feby yang ingin ikut.
Wajah Feby seketika berbinar mendegar jawaban Gagah yang bertentangan dengan orang tuanya.
"Tuh, Ma. Kak Gagak saja kasih ijin. Aku ikut, ya, Pa, Ma?" pinta Feby penuh harap pada kedua orang tuanya.
"Apa tidak merepotkan kamu, Gagah?" Tante Mira merasa tidak enak hati.
Senyuman mengembang di sudut bibir pria tampan berprofesi sebagai CEO itu, dibarengi dengan gelengan kepala.
"Sama sekali tidak, Tante!" bantah Gagah, "Justru nanti Luna ada yang menemani," sambungnya.
"Asyik ... makasih, ya, Kak." Feby berterima kasih karena Gagah yang telah meluluskan permintaannya.
"Luna, kita nanti ke rumah Kakek dan Nenek Luna naik pesawat terbang." Feby mengatakan berita bahagia itu kepada Luna dan sedang disuapi oleh Tante Mira.
"Luna mau naik pesawat telbang, Ateu." Luna justru tertarik karena Feby mengatakan akan pergi menggunakan pesawat terbang.
Luna sendiri sering pergi menggunakan pesawat terbang ketika Rey dan Airin membawa mereka bertemu Nenek dan Kakeknya di Bali.
"Luna mau ke lumah Nenek Ulan, ya, Ma?" Luna mengira jika mereka akan pergi ke Bali, ke rumah orang tua Papanya.
Airin sontak melirik ke arah Tante Mira ketika mendengar ucapan Luna. Selama ini, jika pergi ke Yogyakarta, Rey selalu menggunakan kereta api ataupun mobil pribadinya. Jadi, Luna berpikir jika mereka akan pergi ke Bali.
"Bukan ke rumah Nenek Wulan, tapi ke rumah Nenek Heny dan Kakek Baskoro, Luna." jelas Tante Mira.
"Oh, lumah Kakek yang ada kolam ikannya, ya, Nek?" tanya Luna.
"Iya, yang ada kolam ikannya," sahut Tante Mira. Memang sekitar seratus meter dari rumah orang tua Airin terdapat tempat pemancingan umum. Dan Rey sering mengajak Luna ke saja ketika pulang ke Yogyakarta.
"Papa ikut ndak, Nek?" Mengingat sering diajak Papanya ke tempat pemancingan itu, tiba-tiba Luna teringat akan Rey.
Kini Tante Mira yang melirik ke arah Airin, meminta Airin yang menjawab pertanyaan Luna, karena dia takut salah bicara.
"Luna, Mama 'kan sudah bilang kemarin, kalau Papa sibuk bekerja. Papa tidak bisa ikut." Hanya itu kalimat andalan yang selalu diucapkan oleh Airin, setiap Luna menanyakan Papanya.
"Luna sebal! Papa kelja telus, ndak celecai-celecai!" Luna seketika memasang wajah memberengut dan kecewa.
Airin mendengus melihat respon Luna, sejujurnya dia merasa bersalah pada putrinya itu. Tapi, dia tidak tahu harus mengatakan apa lagi selain alasan itu. Seketika itu juga suasana di meja makan yang awalnya santai dan hangat menjadi menegang karena ungkapan keluhan dari Luna.
***
"Kenapa Bapak ingin bertemu dengan orang tua saya?" tanya Airin.
"Semua sudah dikatakan oleh Om Fajar, kan? Karena aku benar-benar ingin serius dengan kamu," jawab Gagah.
"Bagaimana jika orang tua saya menolak?" Airin tidak tahu, apakah orang tuanya akan setuju dengan rencana Gagah yang ingin menjalin hubungan serius dengannya. Setelah perceraiannya dengan Rey, dia rasa orang tuanya pun tidak akan mudah memberikan restu pada orang yang ingin dekat dengannya.
"Orang tua kamu pasti dapat melihat, apakah aku benar tulus atau tidak terhadapmu dan Luna!?" Gagah memang cukup percaya diri jika orang tua Airin akan mendukungnya.
"Bapak belum mengenal saya lebih jauh. Kenapa Bapak begitu yakin memilih saya?" Sejujurnya Airin merasa heran, kenapa Gagah memilihnya di antara banyaknya wanita cantik di belahan bumi ini. Bukan hanya cantik, tapi juga yang berstatus single. Tidak sepertinya yang sudah berstatus janda dan beranak satu.
"Karena hati saya sudah memilih kamu. Sejak pertama bertemu, saya merasa jika kamu adalah wanita yang saya inginkan." Entah mengapa? Gagah pun seolah terhipnotis dengan sosok Airin, hingga menampikkan status Airin saat ini. Baginya, Airin adalah wanita yang sangat spesial diantara wanita yang pernah dia jumpai selama ini, meskipun Airin bukanlah wanita single, seperti yang dia harapkan sebelumnya.
Serbuan rona merah membias di wajah putih mulut Airin. Gagah memang selalu sukses membuat wajahnya bersemu. Dia seperti gadis remaja yang sedang digoda oleh pria tampan.
"Nanti siang saya jemput kamu makan siang," kata Gagah saat mobilnya masuk ke halaman kantor Central Bank.
Anggukkan kepala Airin menjawab pertanyaan Gagah. Lalu membuka seat belt dan membuka pintu mobil untuk turun.
"Terima kasih, Pak." Tak lupa Airin mengucapkan rasa terima kasihnya terlebih dahulu sebelum turun. "Assalamualaikum ..." lanjutnya.
"Waalaikumsalam ..." jawab Gagah kemudian.
Airin turun dan bergegas masuk ke dalam kantor Central Bank. Meskipun sudah banyak yang tahu dirinya dekat dengan Gagah, Airin masih merasa malu jika ketahuan rekan-rekan kerjanya sedang dekat dengan nasabah penting di bank tempat mereka bekerja.
Setelah melakukan absensi, Airin turun kembali menuju ke meja tugasnya, menunggu jam aktivitas bank dimulai, sementara dia mempersiapkan peralatan yang dia gunakan untuk beraktivitas, sebelum menerima nasabah yang akan dia layani.
***
Seorang wanita cantik bertubuh langsing menggunakan baggy pants berwarna ivory dipadu dengan cropped top warna matcha, turun dari taksi yang membawa dia dari bandara.
Wanita itu mengecek kembali alamat yang ada di ponsel dengan rumah yang ada di hadapannya saat ini. Kemudian dia berjalan masuk ke arah rumah di mana dia berhenti tadi.
"Permisi!" Wanita itu menyapa penghuni yang ada di rumah yang terlihat sepi.
"Permisi!" Kembali wanita itu berseru, karena penghuni rumah yang dia kunjungi tidak juga keluar.
Berselang satu menit kemudian, pintu rumah itu berbuka, hingga nampak seorang wanita paruh baya keluar dari dalam rumah.
"Cari siapa, Mbak?" tanya wanita paruh baya itu memperhatikan wanita muda berpenampilan sek si dengan pakaian terbuka di bagian perut.
"Kenalkan ... saya Joice, Tante. Saya ini teman dekatnya Mas Rey." Perempuan cantik itu adalah Joice, yang sengaja datang ke rumah orang tua Rey di Bali.
__ADS_1
Kening wanita yang tak lain adalah Wulan, Mama dari Rey itu berkerut mendengar Joice menyebutkan namanya, apalagi saat Joice memperkenalkan diri sebagai teman dekat dari Rey.
Seketika itu dia teringat cerita Airin soal perselingkuhan Rey dengan seorang wanita yang bekerja di tempat hiburan. "Jadi kamu, orang yang sudah menghancurkan rumah tangga anak saya!?" geram Wulan. Dia murka dengan kemunculan Joice yang datang ke rumahnya. Dia merasa kesal karena menganggap Joice tidak tahu malu datang menemuinya, setelah menghancurkan rumah tangga Rey dan Airin.
"Eh, harap Tante tahu, ya! Mas Rey meninggalkan wanita itu, karena kelakuan buruk wanita itu sendiri. Bukan karena Mas Rey selingkuh! Dan asal Tante tahu, mantan menantu kesayangan Tante itu tidak sebaik yang Tante pikirkan. Kalau Tante ingin tahu, dia itu sebenarnya selingkuh juga di belakang Mas Rey. Mantan menantu yang Tante banggakan itu mempunyai hubungan in tim dengan seorang bos!" Tuduhan cenderung fitnah langsung disebarkan Joice tentang Airin.
"Kamu jangan sembarang memfitnah Airin! Airin itu wanita baik-baik! Dia tidak mungkin berbuat seperti itu!" Sanggahan langsung dilakukan Wulan, tak mudah dia percaya begitu saja pada ucapan Joice yang dianggapnya hanya membual semata.
"Kalau Tante tidak percaya, tunggu saja kabar yang mengejutkan, karena mantan menantu Tante yang Tante banggakan itu, sebentar lagi akan menikah, baru Tante akan percaya ucapan saya ini!" Joice menceritakan apa yang dia dengar dari Gagah soal rencana pernikahan Gagah dengan Airin.
Wulan semakin meradang, dia semakin geram dengan ucapan-ucapan Joice yang terus saja menyudutkan Airin. Wulan mengenal Airin sebagai wanita yang baik, dan dia tidak mempercayai begitu saja ucapkan Joice yang memfitnah Airin.
"Saya tidak percaya semua ucapan kamu! Kamu ini wanita tidak tahu diri! Sudah merusak rumah tangga orang sekarang malah memfitnah! Dasar wanita tidak punya malu! Pergi kamu dari sini, wanita ja lang!" Tangan Wulan bahkan memu kuli dan mendorong tubuh Joice agar segera pergi dari rumahnya.
"Tante akan menyesal tidak percaya sama saya! Tunggu saja sampai semua ucapan saya tadi menjadi kenyataan, baru Tante akan tahu siapa wanita ja lang yang sesungguhnya, dan Tante akan terkena serangan jantung saat mengetahuinya nanti!" Kesal karena merasa diperlakukan tidak baik oleh Wulan, Joice terus saja menggerutu, bahkan memyumpahi Wulan.
Dengan dengusan nafas kasar, Wulan memban ting pintu hingga tertutup. Emosinya terpercik mendengar setiap ucapan yang terlontar dari mulut Joice, apalagi Joice sampai menyumpahi dirinya terkena serangan jantung. Tak habis pikir, dia menyesali putranya telah tergoda dan terpengaruh oleh wanita jahat itu, hingga meninggalkan Airin untuk wanita murahan seperti Joice.
Wulan berjalan ke arah kamar, mencari benda pipih alat komunikasinya. Secepatnya ia ingin menghubungi Rey, dan meminta penjelasan dari putranya, kenapa sampai bisa membiarkan Joice datang menemuinya di Bali.
"Rey. Kenapa kamu memberikan alamat rumah ini pada ja langmu itu?" Tak bisa ditutupi rasa kecewa Wulan, sehingga dia langsung memarahi Rey, saat hubungan teleponnya tersambung dengan Rey.
"Ada apa, Ma? Apa maksud Mama?" Kedatangan Joice ke Bali menemui orang tua Rey memang tidak diketahui oleh pria itu, hingga dia merasa bingung saat dicecar pertanyaan oleh Wulan. Apalagi nada bicara Mamanya terdengar geram.
"Ja lang itu, wanita yang menghancurkan rumah tangga kamu dan Airin, dia baru saja datang kemari menemui Mama. Astaga, Rey! Apa matamu itu buta? Sampai kamu tidak bisa membedakan wanita baik-baik dengan wanita nakal seperti dia? Pakaiannya saja tidak sopan, aurat diumbar-umbar." Semua unek-unek yang mengganjal di hati Wulan soal Joice dikeluarkan semua pada Rey.
"Apa, Ma? Maksud Mama ... Joice?" Rey terperanjat mendengar Joice datang menemui Mamanya.
"Ya! Wanita ja lang yang sudah membuat kamu bercerai dengan Airin!" Kemarahan Wulan belum menyurut meskipun Joice sudah pergi dari hadapannya.
"A-aku tidak tahu kalau Joice akan pergi menemui Mama." Rey melakukan pembelaan karena dia tak tahu menahu soal kepergian Joice ke Bali.
"Mama benar-benar tidak habis pikir denganmu, Rey! Percuma Papa dan Mama sekolahkan kamu tinggi-tinggi! Percuma kamu punya jabatan manager di kantor, kalau kamu berhubungan dengan wanita seperti itu! Benar-benar memalukan! Kamu sudah mengecewakan Papa dan Mama, Rey." Pilu hati Wulan, mengetahui anaknya telah salah jalan.
"Ingat, Rey! Jangan pernah datang kemari, jika kamu masih berhubungan dengan wanita ja lang itu!" Wulan mematikan sambungan teleponnya dengan dada bergejolak.
Kemarahannya pada Rey belum mereda saat dia mendengar perceraian Rey dengan Airin. Dan hari ini, wanita yang sudah menjadi orang ketiga di antara Rey dan Airin tiba-tiba datang menemuinya. Belum lagi saat dia ketahui, ternyata wanita yang dipilih Rey untuk menggantikan Airin bukanlah wanita baik-baik.
***
Tante Mira berpikir, sebaiknya dia memberitahu kedatangannya kepada orang tua Airin, soal rencana kedatangan mereka agar kedua orang tua Airin tidak kaget.
"Assalamualaikum, Mbakyu. Apa kabar?" sapa Tante Mira pada Ibu Heny.
"Waalaikumsalam, Mira. Alhamdulillah, Mbak di sini sehat-sehat. Kamu sama Fajar dan anak-anak di sana gimana? Maaf, ya, Mir. Jadi merepotkan kamu karena Airin tinggal di sana." Ibu Heny menjawab sapaan Tante Mira.
"Kami juga sehat-sehat semua, Mbakyu. Alhamdulillah ..." sahut Tante Mira, "Soal Airin, tidak apa-apa, Mbakyu. Aku juga senang Airin dan Luna tinggal di sini. Apalagi suasana di sini jadi cerita karena kehadiran Luna, Mbakyu," lanjutnya.
"Luna sedang apa sekarang, Mir?" Ibu Heny menanyakan soal cucunya
"Luna baru saja tidur siang, Mbakyu."
"Dia nakal tidak? Rewel tidak, Mir?"
"Kalau nakal sih, tidak, Mbakyu. Kalau rewel ... ya, rewelnya anak seumur Luna masih wajar, kok, Mbakyu." Tante Mira menganggap rewelnya Luna masih wajar.
"Rewelnya itu kalau dia menanyakan Papanya terus." Tante Mira menceritakan hal yang membuat Luna mendadak rewel.
"Ya, memang masih berat untuk Luna jauh dari Papanya," lirih Ibu Heny merasa prihatin akan nasib cucunya.
"Oh ya, Mbakyu. Aku telepon Mbakyu, karena ada yang ingin aku sampaikan ke Mbakyu." Tante Mira tidak ingin berbelit-belit mengabari soal rencana kedatangannya ke Yogyakarta.
"Soal apa, Mir?"
"Aku akan ke sana akhir pekan ini, Mbakyu," ujar Tante Mira.
"Oh, kamu sama Fajar akan ke Jogya?"
"Bukan, Mbakyu. Bukan aku sama Mas Fajar," sanggah Tante Mira.
"Kamu sendirian?" tebak Ibu Heny.
"Tidak, aku berlima, Mbakyu, bersama Airin, Feby, Luna dan ...."
"Dan siapa satunya, Mir?" tanya Ibu Heny penasaran.
"Sama calon menantu Mbakyu yang baru," jawab Tante Mira.
"Hahhh??" Nada terkejut terdengar dari mulut Ibu Heny mendengar ucapan Tante Mira.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading❤️