
Permintaan Gagah yang menyuruh Airin mandi malam-malam dengan alasan untuk menjaga kebersihan dianggap Airin terlalu mengada-ngada. Sehingga ia memutuskan untuk tidur terpisah dengan Gagah. Karena menganggap Gagah tidak ingin berdekatan dengannya dengan alasan dirinya masih bau keringat.
Airin menyusun cushion sofa menjadi satu untuk dia jadikan sandaran kepalanya, lalu menjatuhkan tubuhnya di atas sofa empuk itu sedikit kasar. Setelah nyinyiran Tante Jehan, kini sikap Gagah yang membuatnya seketika mendadak ilfil, bahkan sempat memikirkan menyesal memutuskan untuk segera menikah kembali.
Gagah terkejut melihat Airin memilih tidur di sofa, tidak di ranjang bersamanya. Namun, tak lama ia menyadari, pasti karena sikap dan ucapannya tadi yang membuat Airin merajuk seperti itu.
"Kenapa kamu tidur di sofa, Airin?" Gagah bangkit, menghampiri istrinya yang ngambek kepadanya.
"Badan saya masih bau keringat. Kalau tidur di tempat tidur, nanti menularkan bakteri ke Mas!" ketus Airin. Jika diingat-ingat, mungkin ini pertama kalinya Airin berani menyindir Gagah dengan ketus.
Gagah mengusap kasar wajahnya. Benar seperti dugaannya, istrinya itu marah dengan sikap dan perkataannya tadi. Dia merasa, kadang sikap perfeksionisnya membuat orang merasa tak nyaman berdekatan dengannya.
Gagah juga menyadari jika dia sudah keterlaluan tadi. Jika dia tetap bertahan dengan gaya hidupnya, ia yakini Airin pasti tidak akan lama bertahan dengannya. Tentu saja Gagah tidak ingin jika itu sampai terjadi padanya. Dia baru saja merasakan nikmatnya mempunyai pasangan hidup. Dia tidak ingin kebahagiaannya itu lenyap begitu saja.
"Hei, kamu jangan marah. Saya memang suka dengan kebersihan, bukan berarti saya tidak ingin berdekatan dengan kamu, Airin." Gagah ikut berbaring di sofa sempit berhimpitan dengan Airin.
"Mas mau apa dekat-dekat? Saya belum mandi, masih bau keringat!" Airin menolak tubuh Gagah yang merapat ke arahnya.
"Saya ingin tidur dengan kamu. Kita ini sudah suami istri, suami istri itu harus tidur bersama satu tempat." Sebagai suami baru Airin yang sudah merasakan nikmatnya bersentuhan dengan wanita cantik itu, tentu Gagah tidak ingin berjauhan dengan istrinya.
"Mas 'kan ingin yang bersih, sedangkan saya lengket berkeringat." Airin mencoba menepis tangan Gagah yang coba memeluk tubuhnya. Rasa kesal Airin sepertinya belum hilang karena sikap dan ucapan Gagah tadi.
Airin terus menggeliat meskipun Gagah mencoba terus memeluk dan menenangkan Airin yang ngambek tidak ingin disentuh lagi oleh Gagah.
Gerakan tubuh Airin tanpa sengaja menyentuh area sensitif milik Gagah, membuat senjatanya itu kembali menegang. Sudah pasti dia menginginkan menuntaskan kembali ketegangan di area in timnya itu.
Gagah menarik sudut bibirnya. Dia tahu apa yang akan membuat kemarahan Airin mereda.
"Kamu sengaja tidak ingin mandi, karena kamu ingin mengulang kembali aktivitas seperti tadi, kan?" Gagah mulai menggoda Airin.
Airin mendelik saat Gagah berbicara dirinya menginginkan berhubungan badan kembali dengan suaminya itu.
"Kamu mulai suka dengan sentuhan saya, kan? Dan ingin melakukannya lagi?" Tak memperdulikan tatapan tajam Airin, tangan Gagah mulai nakal menyusup ke dalam piyama yang digunakan Airin.
"Mas mau apa lagi?" Airin mencoba menyingkirkan tangan nakal Gagah yang mulai menyentuh area sensitifnya.
"Bersenang-senang seperti tadi, Kamu juga menyukainya, kan?" bisik Gagah mulai menurunkan celana piyama Airin dan meremas bo kong indah Airin. Tanpa melakukan pemanasan lagi, dia pun menurunkan celananya kemudian menghujamkan miliknya ke dalam inti Airin.
Airin tidak dapat menolak, ia pasrah terhadap apa yang dilakukan Gagah padanya saat ini. Walaupun tubuhnya masih terasa lelah dengan lutut terasa rapuh, ia tidak dapat menolak kenikmatan yang Gagah berikan kepadanya, hingga percintaan sepasang pengantin baru itu terulang kembali.
***
Airin terbangun saat hembusan hangat nafas Gagah menyentuh kulit lehernya. Terlihat tangan kokoh Gagah melingkar di perutnya. Sedangkan kaki Gagah mengunci pahanya membuat Airin tak bisa bergerak bebas.
"Mas, tangannya awas ..." Airin ingin bangkit untuk melihat waktu. Jika sudah menjelang Shubuh, dia ingin segera mandi bersih, agar bisa melaksanakan kewajiban dua rakaatnya.
"Hmmm ..." Bukannya menyingkirkan tangannya dari tubuh Airin, Gagah justru semakin mengeratkan pelukannya, membuat Airin semakin sulit untuk bergerak.
"Mas, lepaskan! Aku ingin melihat jam, ini sudah Shubuh belum?" Airin mencoba menjauhkan tangan Gagah yang melingkar di tubuhnya.
Gagah mengurai pelukannya. Tangannya mencari benda pipih alat komunikasi miliknya yang ia simpan di atas nakas untuk mengetahui waktu saat ini,
"Baru jam tiga ..." Gagah menaruh ponselnya lagi di atas nakas. Dan kembali merapatkan tubuhnya pada tubuh Airin. "Kita tidur lagi saja, masih ada satu jam lagi sebelum Shubuh." Gagah tak menginginkan Airin jauh darinya.
"Atau, kamu ingin kita bercinta lagi?" Gagah menyapu leher jenjang Airin dengan bibirnya.
Airin membulatkan matanya saat Gagah mulai mengajaknya bercinta seperti semalam. Ia tahu dan pernah merasakan, bercinta di pagi hari memang terasa nikmat dengan sensasi yang berbeda. Namun, saat ini tubuhnya terasa remuk redam setelah semalaman tubuhnya dikuasai oleh sang suami tanpa ampun.
"Saya capek, Mas." keluh Airin.
"Satu ronde saja. Kalau kamu lelah, biar saya saja yang bekerja, kamu cukup menikmati saja." Gagah mulai melakukan sentuhan memabukkan di tubuh Airin yang tak berdaya melakukan penolakan, karena sejujurnya, ia pun sangat menginginkan percintaan di pagi hari seperti yang sering dia lakukan bersama Rey.
Airin terkesiap saat Gagah kini sudah berada di atas tubuhnya. Pria itu meloloskan pakaiannya dan melucuti satu persatu pakaian yang dikenakan oleh Airin.
Setelah sedikit pemanasan yang dilakukan di dalam dinginnya ruangan ber-AC itu, akhirnya Gagah melakukan penyatuan untuk yang kesekian kalinya dengan Airin. Mereka berdua menikmati indahnya bulan madu sebagai pasangan suami istri.
Selepas Shubuh, Airin memilih tidur untuk memulihkan tubuhnya setelah dibuat takluk berkali-kali oleh Gagah. Dia tidak memperdulikan apa yang akan dilakukan oleh suaminya saat ini. Yang dia inginkan adalah beristirahat dengan cukup, karena dia yakin, jika nanti malam, Gagah tidak akan membiarkan dirinya istirahat dengan tenang.
Waktu sudah menunjukkan jam delapan pagi. Gagah menyesap secangkir kopi yang ia pesan dari resto hotel. Matanya memperhatikan tubuh Airin yang masih terbaring bergelung selimut di atas spring bed.
__ADS_1
Senyuman terkulum di bibir pria tampan itu, melihat ia akhirnya bisa menaklukan wanita yang awalnya selalu menolak dirinya. Saat ini, wanita itu sudah menjadi miliknya. Walau baru raganya, namun ia yakin, tak lama lagi hati Airin pun akan sanggup ia kuasai.
Ddrrtt ddrrtt
Gagah melirik ponselnya di atas meja. Nama Ibu Heny yang terlihat di layar ponselnya saat ini. Gagah yakin, panggilan video call ibu mertuanya itu pasti ini ada hubungannya dengan Luna.
Gagah meraih ponsel itu lalu menyambungkan panggilan video dari nomer ibu mertuanya.
"Assalamualaikum, Bu." Gagah menyapa Ibu mertuanya, namun wajah sendu Luna lah yang nampak di layar ponsel tersebut, ketika panggilan video itu terhubung.
"Papa ... Hiks ..." Luna menangis tersedu.
"Luna kenapa menangis?" tanya Gagah pada putri sambungnya itu.
"Waalaikumsalam, Nak. Maaf kalau Ibu mengganggu kalian. Luna nangis terus, jadi terpaksa Ibu telepon, soalnya Ibu telepon HP Airin tidak diangkat-angkat." Merasa panggilan telponnya sangat mengganggu, Ibu Heny menyampaikan permohonan maafnya kepada menantunya itu.
"Airin masih tidur, Bu." Gagah memberi alasan kenapa Airin tidak mengangkat telepon dari Ibu Heny.
"Ya ampun, anak itu ... matahari sudah tinggi belum bangun juga?" Ibu Heny terkejut saat Gagah memberitahu jika Airin masih terlelap.
"Airin mungkin terlalu lelah, Bu." jawab Gagah, menyadari jika istrinya itu terlalu kelelahan melayani naf su bira hinya sejak semalam.
"Oh ..." Bu Heny tersipu mendengar jawaban Gagah, "Luna katanya mau lihat Papa, ini Papanya ..." Ibu Heny menyerahkan ponsel kepada Luna untuk lanjut berbincang dengan Gagah.
"Papa, Luna mau ikut Papa cama Mama ..." Luna kembali merengek dengan wajah sedih.
"Luna, kemarin Papa bilang apa? Luna ingin dapat adik bayi, tidak?" Gagah membujuk Luna kembali. Ternyata tidak mudah membuat anak sambungnya itu mengerti hanya dengan sekali penjelasan. Butuh kesabaran ekstra menghadapi sikap Luna yang menang masih sangat kecil, dan belum mengerti jika Mama dan Papa sambungnya sedang menikmati bulan madu.
"Tapi, Luna kangen Mama, Pa ... Hiks ...."
"Luna kangen Mama?" Gagah bangkit dari sofa lalu berjalan mendekat ke arah tempat tidur. Dia mendekatkan layar ponselnya ke wajah Airin yang masih memejamkan matanya.
"Lihat, nih. Mama Airin masih bobo." Gagah ikut berbaring memeluk Airin dari belakang.
"Coba Luna yang bangunkan Mama ..." pintanya pada Luna.
"Mama capek, Luna. Makanya Mama masih bobo." Gagah mengecup pipi Airin, karena wanita itu seakan tak terusik dengan suara obrolannya dengan Luna.
"Ouugghh ..." Airin menggeliat merentangkan tangan untuk merenggangkan otot-ototnya.
"Mama, bangun ...!"
Airin terkesiap ketika mendengar suara Luna, membuat ia membuka kelopak matanya.
"Luna?" Airin mengambil ponsel dari tangan Gagah. Dia pun bangkit dari tidurnya. "Luna nangis?" tanya Airin melihat wajah Luna yang terlihat lembab.
"Mama, Luna mau ikut Mama cama Papa ..." Bocah kecil itu kembali merengek.
Airin menoleh ke arah suaminya. Dia ingin suaminya itu mengijinkan Luna datang ke hotel. Daripada mereka hanya menghabiskan waktu di kamar hotel dengan terus melakukan keintiman yang membuatnya kelelahan. Setidaknya, dia akan aman dari serangan Gagah jika ada Luna di dekatnya.
"Mas, apa Luna boleh kemari? Nanti sore Luna bisa pulang ke rumah Om Fajar lagi." Airin membujuk suaminya agar mau meluluskan permintaannya.
Gagah berpikir mempertimbangkan apa yang diinginkan oleh Airin.
"Baiklah, kita jemput Luna. Kita ajak dia jalan-jalan, agar tidak terus merengek." Beruntungnya Gagah mengijinkan permintaan Airin.
"Terima kasih, Mas." Airin senang karena Gagah mengerti akan permintaannya.
"Kamu bersiaplah, kita jemput Luna setelah kita sarapan pagi." Gagah mengambil ponselnya kembali dari Airin, "Luna, Papa tutup dulu teleponnya. Papa sama Mama mau jemput Luna. Kita jalan-jalan nanti." Gagah ingin mengakhiri panggilan teleponnya.
"Acik, Luna mau jalan-jalan, Pa." pekik Luna terlihat gembira dengan rencana Gagah yang akan membawanya pergi.
"Sekarang, Luna kasih HP nya ke Nenek. Papa ingin bicara dengan Nenek." Gagah ingin berbicara dengan ibu mertuanya.
"Halo, Nak." Kini wajah Bu Heny yang terlihat di layar ponsel Gagah.
"Bu, kami akan ke sana jam sepuluh nanti. Mau menjemput Luna jalan-jalan." Gagah memaparkan rencananya membawa anak sambungnya itu pergi bersenang-senang.
"Apa tidak mengganggu kalian?" Ibu Heny tidak enak hati karena merasa Luna mengganggu bulan madu Gagah dan Airin.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Bu. Daripada Airin tiduran saja, lebih baik membawa Luna jalan-jalan agar Luna senang." Gagah berasalan. "Saya tutup dulu teleponnya, Bu. Assalamualaikum ...."
"Waalaikumsalam ..." sahut Bu Heny mengakhiri percakapan mereka.
***
Setelah menjemput Luna, Gagah membawa Airin ke Bintang Departement Store. Bukan ke mall, melainkan ke perkantorannya. Gagah ingin mengenalkan Airin kepada sebagian karyawannya. Saat ini, hanya wakilnya saja yang baru mengetahui tentang status pernikahannya, karena kemarin sempat dia undang.
Gagah ingin agar Airin terbiasa dengan status barunya sebagai seorang istri direktur utama di perusahan retail tersebut, sehingga ia ingin mengenalkan Airin dengan lingkungan pekerjaannya.
"Kita mau apa, Mas?" tanya Airin heran, karena Gagah tidak membawanya masuk ke dalam mall.
"Kita ke kantor saya sebentar. Ada yang harus saya tanda tangani. Sekalian mengenalkan kamu sebagai Nyonya di kantor saya," jawab Gagah dengan mengulum senyuman.
Airin membulatkan matanya mendengar rencana Gagah yang ingin mengenalkan dia sebagai Nyonya alias istri dari bos di kantor itu. Seketika Airin merasa tidak percaya diri jika Gagah harus mengenalkan dirinya di depan karyawan Gagah di kantor itu.
"Apa harus diperkenalkan seperti itu, Mas?" Airin merasa belum siap.
"Tentu saja mereka harus tahu istri atasan mereka. Siapa tahu ada karyawan pria di sini yang ketemu dan melihat kamu di jalan, lalu dia tertarik sama kamu. Kalau saya kenalkan kamu sebagai istri saya, mereka tidak akan berani mengganggu kamu." Gagah memberi alasan dengan terkekeh.
Ting
Pintu lift yang membawa Gagah, Airin dan Luna sampai di lantai di mana ruang kerja Gagah berada.
"Selamat pagi, Pak." Dewi langsung bangkit dari kursinya saat melihat kehadiran Gagah. Namun tatapan matanya memandang heran ke arah Airin dan juga Luna yang menggenggam tangan Gagah.
"Wi, masuk ke ruang saya sebentar!" Gagah menyuruh Dewi untuk mengikuti langkahnya yang membawa Airin dan Luna ke dalam ruangannya.
"Baik, Pak." Dewi merespon cepat. Walaupun pikirannya menerka-nerka, siapa wanita dan anak kecil yang dibawa oleh bosnya itu. Dia merasa sangat familiar dengan Airin. Sedangkan anak kecil yang dibawa Gagah, ia masih ingat bocah itu pernah dibawa Widya beberapa waktu lalu, yang ia duga salah satu cucu Widya alias keponakan Gagah.
"Wi, kenalkan, ini istri saya ... Airin." Gagah memperkenalkan Airin kepada Dewi, karena Dewi adalah sekretarisnya. Sehingga Dewi termasuk salah seorang karyawan yang perlu mengetahui status Airin adalah istrinya.
Dewi terkesiap mendengar Gagah menyebut Airin sebagai istri Gagah. Tentu saja dia kaget, karena setahunya, bosnya itu masih single dan belum menikah.
"Bapak kapan menikah?" tanya Dewi masih dalam rasa terkejutnya.
"Kemarin, Wi." jawab Gagah.
"Oh, selamat, Pak." Dewi memberi ucapan selamat, "Kok, tidak terdengar kabar Bapak akan menikah?" tanya kemudian dengan heran.
"Baru akad saja, resepsi menyusul menunggu waktu yang tepat, Wi." sahut Gagah beralasan.
"Oh, begitu ... selamat atas pernikahannya, Bu. Semoga Samawa. Perkenalkan, saya Dewi, sekretarisnya Pak Gagah." Dewi bergantian memberi ucapan selamat pada Airin.
"Aamiin, terima kasih, Mbak. Saya Airin ..." Airin membalas perkenalan Dewi.
Melihat Airin dan Gagah bersalaman dengan Dewi, Luna pun ikut mengulurkan tangannya kepada Dewi.
"Eh, anak cantik mau salaman juga, ya?" Dewi membiarkan Luna mencium punggung tangannya.
"Adik cantik ikut sama Om dan Tante, ya?" Menduga Luna adalah anak dari kakak Gagah, sehingga Dewi mengira Luna datang mengikuti Om dan Tante Luna.
"Bukan Om, Ateu. Cekalang Om Gagah itu udah jadi Papa balu Luna, bukan Om lagi!" Luna menepis anggapan Dewi yang menyebut Gagah sebagai Om dengan menggelengkan kepalanya.
"Luna anak saya, Wi." Gagah seakan mempertegas ucapan Luna yang mungkin kurang dimengerti oleh Dewi.
Dewi kembali tercengang saat Gagah mengakui Luna sebagai anaknya. Tadi dia terkejut dengan kabar pernikahan Gagah yang tidak ia ketahui, sekarang tentang pengakuan Gagah sebagai Papa dari Luna, padahal selama ini bosnya itu terkenal susah didekati oleh wanita.
Dewi kini menatap ke arah Airin dengan menduga-duga, jika Airin adalah kekasih gelap Gagah yang disembunyikan oleh Gagah dari keluarga Gagah. Karena hubungan mereka tidak disetujui oleh keluarga Gagah. Lalu Airin menghilang, namun tengah hamil anak Gagah. Dan kini mereka bertemu kembali, hingga Gagah menikahi Airin untuk bertanggung jawab atas darah dagingnya.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading ❤️
__ADS_1