JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG

JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG
Tamu Tak Dikenal


__ADS_3

Ibu Heny memperhatikan Gadis yang berbincang dengan Feby. Dia tidak menyangka jika remaja remaja belia itu sedang jatuh cinta terhadap putranya. Ibu Heny pun dapat melihat dari tatapan Gadis saat memperhatikan Haikal. Sungguh Ibu Heny dibuat bingung, kenapa anak-anaknya disukai oleh orang-orang kaya? Dulu Airin yang dikejar-kejar Gagah, kini anak bungsunya yang jadi idaman anak gadis orang.


Untuk Airin, ia sudah tidak ambil pusing, sebab Gagah dan keluarganya dapat menerima baik Airin. Namun untuk Haikal, ia justru takut Haikal akan mengecewakan Gadis dan itu menjadi masalah untuk Haikal sendiri. Dia pun khawatir keluarga besar Gadis akan menentang atau menganggap Haikal telah menggoda dan memanfaatkan Gadis.


Matanya kini bergerak mengikuti langkah Gadis yang mendekati seorang wanita paruh baya seusia dengannya, lalu kedua orang itu berjalan ke arahnya, sontak hal itu membuatnya serba salah.


"Ma, kenalkan ... ini Mamanya Kak Airin dan Kak Haikal." Saat berhenti di hadapan Ibu Heny, Gadis memperkenalkan Mamanya kepada Ibu Heny.


"Tante, ini Mama aku ..." Lalu Gadis memperkenalkan Farah pada Ibu Heny.


"Saya Heny, Bu." Ibu Heny lebih dulu mengulurkan tangannya mengajak berkenalan.


"Saya Farah, senang bisa bertemu dengan Mamanya Haikal." Di luar dugaan Ibu Heny, Farah menyambut ramah uluran tangan Ibu Heny.


"Saya juga senang bisa bertemu dengan Mamanya Gadis." Ibu Heny senang ia disambut baik oleh Farah.


"Kapan datang dari Jogya, Bu?" Farah tentu tahu di mana tempat tinggal orang tua Haikal, sebab Gadis banyak bercerita kepadanya.


"Kemarin siang, Bu." jawab Ibu Heny tak menyangka Farah tahu dia tinggal di Yogyakarta. "Saya dengar dari Airin, Gadis ini yang memimpin perusahaan BDS ya, Bu? Hebat sekali Gadis ini, masih muda sudah bisa membantu menjalankan perusahaan sendiri. Pasti kelat akan menjadi wanita yang sukses Gadis ini." Ibu Heny menyampaikan rasa kagum pada sosok Gadis yang mau bekerja di usia yang masih belia. Bukan hanya sekedar bekerja biasa, namun memimpin perusahaan besar, meskipun masih dalam bimbingan Gagah.


Farah tersenyum tipis seraya menoleh ke arah Gadis, jika orang tidak tahu permasalahan yang sebenarnya terjadi, mereka pasti akan beranggapan dia adalah orang tua yang tega karena memaksa anaknya bekerja. Padahal itu karena keinginan Gadis sendiri untuk menyelamatkan perusahaan dari tangan orang-orang licik dan tak bertanggungjawab.


"Itu karena keadaan yang memaksa, Tante." Gadis justru yang menjawab pertanyaan Farah. Tak mungkin ia menjelaskan secara detail penyebab dirinya terpaksa mengambil alih perusahaan dari tangan Gagah jika bukan karena ia khawatir Om tirinya akan menguasai perusahaan peninggalan almarhum Bintang Gumilang.


Ibu Heny sedikit tahu tentang latar belakang pengalihan jabatan CEO dari Gagah kepada Gadis, karena Airin sudah bercerita kepadanya, jadi dia memilih tak bertanya soal itu.


"Apa pun alasannya, kamu sangat luar biasa, Nak." Ibu Heny mengelus pundak Gadis.


Hanya dengan sentuhan tangan Ibu Heny di pundaknya saja, hal itu membuat hati Gadis berbunga-bunga. Dia merasa jika ia akan sanggup menaklukan hati orang tua Haikal, itu akan lebih mudah baginya mendapat dukungan dari keluarga Haikal.


"Gadis masih banyak belajar, Bu. Dia ini juga masih dipantau sama Gagah, bahkan dibantu sama Haikal untuk mengerjakan tugasnya." Tak ingin anaknya dipuji terlalu tinggi, Farah berusaha untuk merendah dengan mengatakan apa adanya.


"Semoga anak dan menantu saya itu tetap amanah dengan tugas-tugasnya, Bu." harap Bu Heny.


"Insya Allah, Bu. Kami sudah mengenal Gagah sejak lama, dia sudah tidak diragukan lagi loyalitasnya. Saya rasa Haikal juga sama, Gagah tentu tidak akan sembarangan memilih orang untuk menjadi asisten Gadis jika Gagah tidak percaya Haikal mampu menjalaninya," sahut Farah berbaik sangka, "Justru saya yang harus minta maaf karena mungkin Gadis ini yang kadang-kadang cerewet sama Haikal." Farah terkekeh menyindir anaknya.


"Mama, iihhh ..." Gadis malu dibuka aibnya oleh sang Mama di hadapan orang tua Haikal hingga wajahnya membias kemerahan, membuat Farah dan Ibu Heny tertawa kecil.


***


Ketika para tamu dan beberapa kerabat keluarga Prasetyo sudah mulai meninggalkan rumah Prasetyo, terlihat Widya berbincang dengan adiknya di sudut bagian rumah Prasetyo yang sangat luas. Jehan, adik Widya tidak langsung kembali ke kotanya sebab ada urusan yang harus ia selesai di Jakarta hari Senin besok, sehingga ia memilih mengginap di rumah Prasetyo.


Jehan termasuk salah satu keluarga Widya dan Prasetyo yang kurang berkesan dengan sosok Airin menjadi istri Gagah, sebab Airin ia anggap tidak sepadan dengan Gagah, dalam hal ekonomi apalagi status Airin yang menjanda dan mempunyai satu orang anak. Sangat tidak pantas menurutnya menjadi istri seorang Gagah Prasetyo Hadiningrat, seorang single dan eksekutif muda yang handal.


"Kalau Gagah sama istrinya itu masih tinggal di sini, Mbakyu?" tanya Jehan pada Widya.


"Iya, kecuali weekend mereka akan menginap di apartemennya Gagah," jelas Widya menjawab pertanyaan adiknya.


"Kenapa Gagah tidak membawa istrinya itu tinggal di apartemen saja, Mbakyu? Sudah menikah, apalagi mempunyai tempat tinggal sendiri memang seharusnya Gagah lepas dari orang tua kan, Mbakyu?" Jehan mencoba mempengaruhi sang kakak. Rasa khawatir Jehan jika Airin akan memanfaatkan Gagah begitu kuat mempengaruhinya.


"Mbak justru yang menyuruh Gagah tinggal di sini, Jehan. Biar Mbak di sini ada yang menemani. Kalau ada Airin dan Luna, suasana rumah ini jadi ramai," jawab Widya menyampaikan alasannya menahan Gagah dan Airin untuk tinggal bersamanya.


"Tapi itu tidak baik untuk mereka, lho, Mbakyu! Takutnya istrinya Gagah itu merasa kalau rumah ini milik Gagah sendiri dan akan menguasai rumah ini." Jehan tetap saja berprasangka buruk kepada Airin.


Widya menatap adiknya, dia mengenal Airin dibanding dengan adiknya itu. Tentu ia lebih tahu bagaimana sikap Airin, dan ia yakin Airin tidak mungkin melakukan apa yang Jehan tuduhkan tadi.


"Kamu jangan sembarangan menuduh, Jehan! Airin itu tidak seburuk yang kamu pikirkan!' tegas Widya membantah apa yang dikatakan oleh adiknya itu. Dia yang paling bersemangat menjadikan Airin menantunya, hingga ia harus berada di garda terdepan dalam membela Airin dari siapa pun yang akan mengusik Airin.


Jehan menghempas nafas panjang, ia tak puas dengan perkataan kakaknya, bahkan ia merasa jika Widya telah terpengaruh oleh Airin hingga mati-matian membela Airin.


"Mbakyu, Mbakyu itu jangan baik-baik banget jadi orang, nanti orang itu bisa memanfaatkan kebaikan Mbakyu." Jehan tetap tidak mempercayai Airin, ia masih kukuh dengan pendapatnya, "Kalau Ayunimg sama Putri, mereka punya latar keluarga yang jelas, dari keluarga yang setara dengan kita, kalau istri Gagah itu? Mbakyu cerita sendiri kalau sekarang ini Gagah sudah bukan dirut di BDS lagi, Mbakyu lihat sendiri, kan? Belum apa-apa saja, Gagah sudah kedapatan apesnya, jangan sampai menikah dengan wanita itu membawa kesi alan untuk Gagah, Mbakyu."


"Siapa yang membawa kesi alan terhadap aku, Tante?" Suara Gagah yang terdengar tiba-tiba membuat Widya dan Jehan yang sedang berdebat seketika terkesiap.


***


"Jaga kandungan kamu baik-baik, ya, Rin! Vitamin jangan lupa diminum, makanan juga pilih yang bergizi biar Ibu sama calon bayinya sehat." Ketika hendak pulang ke Yogyakarta, Ibu Heny menasehati Airin lebih dulu. Mereka memilih pulang sore ini sebab besok pagi suaminya harus bekerja.


"Iya, Bu." jawab Airin.


"Nenek cama Kakek mau pulang, telbang naik kapal telbang, ya?" tanya Luna ketika melihat Airin berpelukan bergantian dengan PakBaskoro dan Ibu Heny.


"Iya, Nak." Baskoro mengangkat tubuh cucu pertamanya dan menggendong dengan lengannya, "Luna harus baik-baik jaga Mama, tidak boleh bikin Mama marah, tidak boleh bikin Mama capek. Luna harus nurut sama Papa sama Mama, ya!?" Dengan tutur kata yang halus, Baskoro menasehati cucunya.


"Iya, Kek. Luna ndak nakal, kok." Dari kata-kata yang ia dengar, Luna dapat memahami jika maksud ucapan Baskoro adalah menyuruhnya untuk tidak nakal.

__ADS_1


"Cucu kakek pintar sekali." Baskoro menghadiahi kecupan di pipi Luna.


"Kami titip Airin, Nak Gagah. Kalau dia membandel dan susah diatur, tegur saja baik-baik." Ibu Heny berpesan kepada Gagah yang berdiri di samping Airin.


"Ibu dan Bapak tidak perlu khawatir, saya akan menjaga Airin dan juga Luna dengan baik, Bu." Gagah menjamin dirinya bisa melakukan apa yang diminta oleh mertuanya.


"Ibu sama Bapak mau langsung ke bandara sekarang atau mau mampir ke rumah Om Fajar dulu?" tanya Gagah.


"Kami mau langsung ke bandara saja, Nak Gagah." sahut Pak Baskoro.


"Kalau begitu saya panggil Papa sama Mama dulu, Pak." Gagah lalu berjalan meninggalkan Airin dan mertuanya untuk mencari orang tuanya, sebab mertuanya ingin berpamitan.


Gagah melihat sang Papa sedang berbincang dengan Bagus, tak jauh dari tempat Airin dan keluarganya berkumpul.


"Pa, Pak Baskoro ingin berpamitan," ucap Gagah memberitahu Papanya.


"Oh, di mana Pak Baskoro?" Mata Prasetyo mengedar pandangan mencari besannya itu.


"Di sana, Pa." Gagah menunjuk ke arah keluarga Airin berada.


"Ya sudah, Papa ke sana dulu." Prasetyo langsung menghampiri keluarga Airin meninggalkan Gagah dan Bagus.


"Mama mana, Mas?" Kini Gagah menanyakan keberadaan Widya pada sang kakak.


"Tadi aku lihat sama Tante Jehan di atas, Gah." jawab Bagus, "Mungkin di ruangan keluarga lantai atas," lanjutnya.


"Oke, makasih, Mas." Gagah bergegas menaiki anak tangga untuk menemui Mamanya.


"Lihat Mama di atas, Mbak?" Ketika menaiki anak tangga, Gagah berpepasan dengan Ayuning.


"Mama sama Tante Jehan, Gah. Di balkon ruang keluarga," jawab Ayuning.


"Makasih, Mbak." Gagah melanjutkan langkahnya ke tempat yang ditunjuk oleh kakak iparnya itu.


"Kamu jangan sembarangan menuduh, Jehan! Airin itu tidak seburuk yang kamu pikirkan!'


Gagah memperlambat langkahnya ketika mendengar suara Mamanya berkata cukup ketus pada Tante Jehan. Dari ucapan Mamanya ia mendengar nama Airin disebut. Gagah mempertajam pendengarannya untuk mengetahui apa yang sebenarnya sedang dibicarakan oleh Mama dan Tantenya itu, sampai nama-nama istrinya dibawa-bawa. Semakin lama didengar, kata-kata yang terucap dari mulut adik Mamanya itu membuat hati dan telinganya panas sehingga ia keluar dari persembunyiannya.


"Siapa yang membawa kesi alan terhadap aku, Tante?" tanya Gagah geram, sebab Tante Jehan sudah menuduh istrinya tanpa alasan.


"Aku harap Tante jangan terlalu ikut campur urusan rumah tanggaku dengan Airin!" tegas Gagah tak senang Tantenya itu ikut campur urusan rumah tangganya termasuk di mana dirinya dengan Airin akan tinggal.


"Gagah, Tante tidak bermaksud turut campur. Tante hanya khawatir jika kamu akan salah memilih pasangan hidup. Tante sama sekali tidak bermaksud berpikiran buruk seperti itu." tepis Jehan menyanggah jika dia turut campur dengan urusan rumah tangga.


Gagah menatap tajam sang Tante yang ia anggap terlalu lancang ikut campur mengatur orang tuanya. "Tante tidak perlu repot memikirkan soal rumah tanggaku. Tak perlu juga berpikiran buruk tentang istriku. Aku memilih dia dari banyaknya wanita yang berusaha mendekati, artinya dia memang wanita terbaik pilihanku!" Gagah menangkis segala macam tuduhan Jehan terhadap istrinya.


Widya yang melihat berdebatan adik dan anaknya merasa tidak enak hati. Tentu saja ia sependapat dengan putranya, apalagi adiknya itu salah telah berburuk sangka terhadap Airin.


"Sudahlah, Gah. Tidak usah diperpanjang." Namun, bagaimanapun juga ia tidak sampai hati melihat adiknya dimarahi oleh Gagah seperti itu sehingga ia meminta anaknya memaafkan Jehan, "Kamu juga, Jehan. Tidak usah membahas masalah ini lagi." Dia pun menyuruh adiknya untuk berhenti membahas soal menantunya.


"Oh ya, ada apa, Gah? Kamu cari Mama?" Karena tempat dirinya dan Jehan mengobrol agak jauh dari ruang tamu, Widya menduga Gagah sengaja nmencarinya.


"Pak Baskoro dan Ibu Heny akan berpamitan, Ma." Gagah lalu memberitahu Widya tentang rencana mertuanya yang ingin berpamitan. Dia lalu merangkulkan tangannya mengajak Mamanya dan berjalan menjauh dari Jehan untuk segera menemui besan Mamanya itu.


***


Tatapan mata Haikal mengarah pada mobil yang terpakir di depan rumah Om Fajar. Ia melihat sepertinya ada tamu di rumah Om nya itu, karena pintu rumah Om Fajar terbuka. Haikal memarkirkan motor di pekarangan, kemudian berjalan di teras rumah dengan menjinjing helm di tangannya.


"Assalamualaikum ..." Haikal melihat seorang pria sedang berbincang dengan Om Fajar, ia mengira jika itu adalah rekan kerja dari Om nya.


"Waalaikumsalam, itu dia anaknya datang." Jawaban Om Fajar membuat Haikal mengeryitkan keningnya, Jika didengar dari kalimat yang terucap dari Om nya, menegaskan jika orang yang berbicara dengan Om Fajar sedang mencarinya, namun Haikal tidak mengenal siapa orang itu.


"Ada apa, Om?" tanpa berlama-lama. Haikal menanyakan apa yang sedang terjadi.


"Ini, Haikal. Orang ini mencari kamu, katanya ada perlu dengan kamu." Om Fajar menerangkan siapa tamu yang berkunjung itu.


Haikal memperhatikan pria itu, mencoba mengingat-ingat, namun ia merasa yakin ia belum pernah bertemu dengan pria tersebut.


"Bapak mencari saya?" Haikal lalu menyalami tamu tersebut lalu duduk di sofa berhadapan dengan orang itu, sedangkan Om Fajar memilih masuk ke dalam dan membiarkan Haikal berbincang dengan tamu Haikal.


"Benar, Pak. Saya Denny, saya diminta bos saya untuk bertemu dengan Mas Haikal ini." Pria yang mengaku bernama Denny memberitahu tujuannya bertemu dengan Haikal atas perintah seseorang yang masih belum Haikal tahu siapa.


"Maaf, ada keperluan apa ya, Pak? Dan bos Bapak itu siapa kalau saya boleh tahu?" Haikal merasa aneh ketika ada orang yang ingin bertemu dengannya, sementara ia sendiri di Jakarta ini belum banyak menjalin pertemanan, dan interaksinya pun hanya sepeutar lingkungan BDS saja.


"Apa Mas Haikal punya waktu malam ini? Kita bisa bertemu dengan bos saya malam ini kalau Mas Haikal bisa." Denny menawarkan waktu untuk Haikal bertemu dengan bosnya.

__ADS_1


Alis Haikal sampai bertautan mencoba menebak tujuan orang yang ada di hadapannya beserta bos yang dimaksud oleh orang itu. Haikal masih baru di Jakarta ini, ia tentu tidak berani pergi untuk alasan yang tidak jelas. Apalagi orang itu sepertinya merahasiakan sesuatu sebab tidak terang-terangan terhadapnya. Jika bos pria itu memang ada perlu dengannya, kenapa harus ia yang menemui bos pria itu? Kenapa tidak orang itu yang datang sendiri ke tempatnya? Itulah yang membuat Haikal tak habis pikir.


"Mas Haikal tidak perlu khawatir, kami tidak punya bermaksud jahat terhadap Mas Haikal, kok." Merasakan Haikal meragukannya, Denny meyakinkan Haikal agar Haikal tidak berprasangka buruk terhadapnya,


"Hmmm, maaf, sebenarnya ada urusan apa ya, Pak? Saya masih belum paham." Haikal tidak ingin menerima tapi ia juga tidak mungkin langsung menolak begitu saja, sebab ia tidak tahu pasti tujuan yang bos itu menemuinya.


"Ini ada hubungannya dengan pekerjaaan Mas Haikal," jawab Denny.


Mata Haikal menyipit saat Denny menyinggung soal pekerjaannya, membuat Haikal makin penasaran. Ada apa dengan pekerjaannya? Jika ada masalah dengan pekerjaannya, lalu apa hubungannya dengan bosnya Denny? Kenapa bukan Gagah atau Gadis saja yang memegang peranan penting dari perusahaan tempat ia bekerja yang bicara padanya.


"Hmmm, begini saja, Pak. Kalau malam ini saya tidak bisa, bagaimana jika besok sepulang kerja saja? Bapak ingin bertemu di mana? Nanti kita ketemu di sana." Haikal perlu berkonsultasi terlebih dahulu dengan Gagah, sebab ia mulai merasakan gelagat tidak beres dengan orang yang ingin bertemu dengannya.


"Okelah kalau begitu. Apa saya bisa minta nomer Mas Haikal? Nanti saya hubungi Mas Haikal," kata Denny kemudian.


"Hmmm ... kosong delapan ..." Haikal menyebutkan nomor teleponnya.


"Oke sudah saya save nomer Mas Haikal. Nanti saya hubungi ..." Denny bangkit ingin berpamitan sebab ia tidak bisa membawa Haikal bertemu dengan bosnya malam ini. "Saya permisi dulu kalau begitu, Mas Haikal." Denny mengulurkan tangannya.


"Baik, Pak." Haikal menyambut jabat tangan Denny dan membiarkan pria itu meninggalkan rumah Om Fajar.


Haikal mengantar Denny sampai keluar dan mengunci pintu gerbang rumah Om nya kemudian masuk kembali ke dalam rumah setelah mobil milik Denny meninggalkan area rumah Om Fajar.


***


Airin berlari kecil ketika mendengar suara ponsel suaminya berbunyi. Saat ini Gagah sedang menemani Luna di kamar Luna. Mereka baru selesai makan malam menunggu waktu Isya tiba.


Airin melihat adiknya yang menghubungi Gagah hingga ia memutuskan untuk mengangkat panggilan telepon dari adiknya itu.


"Assalamualaikum, ada apa, Kal?" sapa Airin.


"Waalaikumsalam, Kak Gagah sedang repot, Mbak?" tanya Haikal.


"Mas Gagah sedang nonton TV di kamar Luna, sebentar, Kal ..." Airin melangkah ke kamar sebelah untuk menemui sang suami, "Mas, ada telepon dari Haikal." Dia menyodorkan ponsel milik sang suami.


"Ada apa, Ay?" tanya Gagah menerima ponsel yang diberikan istrinya dan dijawab oleh Airin dengan mengedikkan bahunya, sebab Airin memang tidak tahu apa yang ingin dibicarakan oleh adiknya kepada Gagah.


"Assalamualaikum, kenapa, Kal?" Gagah langsung bertanya ketika ponsel sudah ia dekatkan di telinganya.


"Waalaikumsalam, apa Kak Gagah lagi sibuk?" Walaupun kakaknya tadi sudah mengatakan jika Gagal sedang bersantai, namun ia tetap bertanya karena tak ingin mengganggu waktu istirahat Gagah.


"Kakak sedang bersantai menemani keponakanmu ini ..." Gagah menoleh dan mengusap kepala Luna yang duduk bersandar di dadanya, "Ada apa, Kal?" Gagah mengulang pertanyaannya.


"Ini, Kak. Tadi ada orang datang ke rumah Om Fajar mengaku bernama Pak Denny, dia menyuruh aku bertemu dengan bosnya, katanya ada hubungannya dengan pekerjaanku, Kak." Haikal menceritakan kedatangan orang yang tidak ia kenal ke rumah Om nya.


"Pak Denny? Siapa dia?" Gagah pun baru mendengar soal nama yang disebut oleh Haikal.


"Aku tidak tahu, Kak. Tapi orang itu bilang kalau dia disuruh bosnya untuk membawa aku menemui bosnya itu," lanjut cerita Haikal.


"Kamu sudah bertemu dengan orang itu?" tanya Gagah.


"Kalau bertemu dengan bosnya Pak Denny belum, Kak. Aku ingin minta pendapat Kak Gagah dulu. Sebab aneh saja rasanya, jika ia ingin membicarakan pekerjaan, kenapa bukan Kak Gagah yang langsung menyampaikan? Kenapa harus melewati perantara?" Haikal mengutarakan kecurigaannya.


"Lalu orang itu bicara apa lagi?" tanya Gagah kemudian.


"Dia minta bertemu besok setelah aku pulang kerja, Kak." balas Haikal.


"Oke, kita ikuti saja apa yang mereka inginkan, nanti Kakak akan suruh orang untuk mengawasi kamu saat kamu bertemu dengan dia." Tentu Gagah tidak ingin adik iparnya terlihat masalah sehingga ia akan berusaha melindungi Haikal. Dia berencana menyuruh orang-orangnya untuk memantau Haikal secara sembunyi-sembunyi dan tidak mencurigakan.


"Baik, Kak," Haikal menurut apa yang dikatakan oleh kakak iparnya, sebab ia tahu apa yang akan dilakukan oleh Gagah adalah hal yang paling baik untuknya.


"Ada apa, Mas?" Sesudah Gagah mengakhiri percakapan dengan Haikal, Airin menanyakan masalah apa yang tadi dibicarakan oleh suami dan adiknya tadi. Mungkin Airin tidak akan tertarik untuk bertanya jika yang menelepon bukan Haikal.


Gagah menoleh ke arah Airin dan meminta Airin duduk di sampingnya hingga saat ini dirinya diapit dua wanita, Airin dan Luna.


"Hanya pekerjaan saja, bukan hal penting yang harus kamu pikirkan." Gagah mengecup kening Airin, tentu ia tidak ingin istrinya ikut stress memikirkan masalah yang saat ini menyimpan Haikal.


Gagah tidak tahu siapa orang yang sedang bermain-main dengan Haikal. Dia dan Gadis lah orang yang punya pengaruh kuat dalam perusahaan, tidak akan ada orang yang berani mengusik pekerjaan Haikal tanpa seijinnya ataupun Gadis, sehingga ia menduga orang yang datang ataupun yang menyuruh Denny datang memang tidak mempunyai maksud baik.


*


*


*


Bersambung ....

__ADS_1


Happy Reading❤️


__ADS_2