JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG

JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG
Pegangan Yang Kencang


__ADS_3

Setelah satu jam menghabiskan waktu di tempat pemancingan, Gadis, Haikal dan Luna kembali ke rumah Pak Baskoro. Gadis sendiri akhirnya tidak berhasil menangkap satu ekor ikan pun. Karena ia tidak bisa memancing, ditambah hati dia yang kesal dan menggerutu, mungkin karena itulah ikan-ikan pun enggan untuk mendekati umpan di kail alat pancing yang dipegang oleh Gadis.


Selepas mengerjakan sholat Magrib, Airin beserta keluarganya juga Gadis menikmati makan malam. Ibu Heny memasak menu ikan hasil pancingan Haikal dan Luna. Jangan ditanya bagaimana rasa masakan Bu Heny, bagi Airin dan Haikal, masakan ibunya itu adalah masakan tersedap di dunia. Begitu juga dengan Gadis, ia terlihat lahap memakan masakan Ibu Heny, sepertinya Gadis sangat cocok dengan masakan Ibu dari Haikal itu.


"Kamu suka masakan Ibu, Nak?" tanya Bu Heny melihat kelahapan Gadis menyantap masakannya. Awalnya ia khawatir Gadis tidak akan cocok dengan masakan kampung buatannya.


"Iya, Bu. Ini lezat sekali," sahut Gadis, "Kayak masakan restoran ini rasanya," puji Gadis sejujurnya tidak melebih-lebihkan.


"Nak Gadis ini terlalu berlebihan, ini masakan kampung saja, kok." Bu Heny merendah, tak ingin terbuai dengan pujian yang diberikan Gadis.


"Ibu ini memang lezat kalau bikin masakan, Dis. Makanya suka kangen sama masakannya Ibu." Airin ikut menyanjung ibunya.


"Wah, bisa besar kepala Ibu dipuji-puji gini." Ibu Heny menanggapi semua sanjungan terhadapnya dengan terkekeh.


"Kalau Ibu tidak pandai masak, Bapak tidak akan memilih Ibu jadi istri. Seorang istri itu harus pandai memasak agar suaminya betah dan candu sama masakan istrinya sendiri." Pak Baskoro sejak tadi hanya menikmati obrolan santai di meja makan kini ikut berkomentar.


Ucapan Pak Baskoro seketika membuat Gadis menelan salivanya. Dia kemudian melirik ke arah Haikal. Jika Ibu Heny dan Airin sejak tadi memberikan sinyal positif kepadanya, kali ini justru Gadis merasa mendapatkan tantangan yang berat dari Pak Baskoro.


Dia pun berpikir, apa mungkin Haikal menolaknya sebab Haikal tahu dirinya tidak pandai memasak. Dia tidak pernah membantu pekerjaan di dapur. Meskipun Mamanya juga bisa memasak, namun ia tidak pernah ikut membantu. Jikalau pergi ke dapur, itu ia lakukan untuk mengambil makanan. Lalu, apalah Pak Baskoro akan menolaknya karena ia tak pandai memasak? Sepertinya sepulang dari Yogyakarta, Gadis berniat untuk kursus memasak atau menyewa chef Juna kalau perlu untuk menjadikannya pandai memasak.


Setelah makan malam, Airin dan Luna kembali ke kamar, dia ingin berbincang dengan sang suami melalui video call. Sejak menikah, baru kali ini ia berpisah kota dengan sang suami. Airin merasakan rindu berada jauh dari Gagah. Sementara Haikal dan Gadis melanjutkan obrolan di ruang keluarga hingga masuk waktu Isya tiba.


"Saya mau ke BDS, kamu mau ikut?" tanya Haikal saat Gadis ingin kembali ke kamar.


"Kak Haikal ke tempat kerja yang dulu?" tanya Gadis, ia menganggap ini kesempatan untuk berjalan-jalan bersama Haikal.


"Iya, kalau kamu mau lihat-lihat Yogyakarta malam hari, nanti sepulang ketemu teman di BDS, saya ajak kamu ke Malioboro kalau kamu mau ..." sambung Haikal.


"Mau, aku mau, Kak." Tawaran Haikal tak mungkin ditampik oleh Gadis, sehingga ia mengiyakan ajakan Haikal itu. "Apa Kak Airin dan Luna ikut juga, Kak?" tanyanya kemudian.


"Saya tidak mungkin mengajak Mbak Airin, kasihan kalau Mbak Airin kecapean. Luna juga tidak mungkin ikut, nanti dia ngantuk di jalan," ujar Haikal.

__ADS_1


"Oh, gitu ... aku mau ikut kalau Kak Haikal tidak merasa terganggu," jawaban Gadis kali ini sedikit membuat kening Haikal mengeryit. Tidak biasanya Gadis mengucapkan kalimat berbasa-basi seperti itu. Apakah Gadis masih merasa kesal padanya hingga menyindir seperti tadi? Itu dugaan Haikal.


"Ya sudah, kamu sholat Isya saja dulu, kita berangkat setelah sholat biar tenang pergi-perginya," ujar Haikal kemudian.


"Iya, Kak." Gadis berlalu dari hadapan Haikal sementara Haikal pun kembali ke kamarnya.


***


Airin beberapa kali mencoba menghubungi suaminya, namun ponsel suaminya tidak juga bisa ia hubungi. Airin berpikir jika suaminya itu masih terlalu sibuk dengan pekerjaannya.


Ponsel yang ada di tangannya ia letakkan di atas nakas kembali, kemudian ia bergabung dengan Luna yang sudah berbaring sambil menonton televisi.


"Mana telepon Papanya, Ma?" Luna menanyakan, sebab Airin tadi berjanji akan melakukan panggilan video dengan Gagah.


"Papa masih sibuk mungkin, Nak. Sekarang Luna bobo saja, besok pagi kita pulang ke rumah Nenek Widya lagi dan bertemu Papa." Airin memeluk Luna dan mengusap punggung anaknya itu agar tidak terus membahas soal Gagah yang tak ia ketahui sedang apa saat ini hingga sulit sekali dihubungi.


Sedangkan Gadis baru selesai mempercantik diri karena ia akan diajak kencan oleh Haikal. Dia menyebut berkenan, sebab ini pertama kalinya Haikal mengajaknya pergi berdua, bukan karena pekerjaan atau bukan karena hubungan antara bos dan asistennya.


"Kamu sudah siap?" tanya Haikal ketika melihat kemunculan Gadis di rumah tamu.


"Kami mau ke BDS, Bu." jelas Haikal.


"Oh ..." Ibu Heny tak banyak komentar lagi, sebab ia menganggap kepergian Gadis dan Haikal ke BDS masih berhubungan dengan urusan kantor.


"Kalian mau naik apa ke sana? Pakai mobil Bapak saja, Kal." Pak Baskoro menyarankan Haikal membawa mobilnya, sebab tidak mungkin membawa Gadis menggunakan motor apalagi malam hari.


"Kamu mau naik mobil atau motor?" tanya Haikal menoleh ke arah Gadis.


Gadis berpikir, terlalu biasa jika harus menggunakan mobil. Akan terasa lebih mesra jika berdua berboncengan naik motor dengan Haikal. Kesannya seperti sepasang kekasih yang sedang berpacaran.


"Naik motor saja, Kak." jawab Gadis memilih.

__ADS_1


"Apa kamu yakin mau naik motor, Gadis? Nanti kena angin malam, itu bisa bahaya untuk kesehatan kamu, Nak." Ibu Heny keberatan Gadis dan Haikal menggunakan motor, karena ia menganggap itu kurang aman untuk Gadis, sedangkan Haikal tidak ia khawatirkan, sebab waktu masih bekerja sebagai pramuniaga di BDS, Haikal sering kebagian pulang malam.


"Tidak apa-apa, Bu. Aku tidak pernah naik motor, kepingin merasakan jalan-jalan di malam hari pakai motor," Gadis mencoba meyakinkan Ibu Heny dan Pak Baskoro.


Bu Heny melirik ke Pak Baskoro, ia ingin minta pendapat sang suami tentang keinginan Gadis itu.


"Bagaimana, Pak?" Ibu Heny masih khawatir disalahkan jika terjadi sesuatu pada Gadis.


"Ya sudah, tapi hati-hati. Kamu bawa motornya jangan ngebut, Kal. Pelan-pelan saja." Pak Baskoro tidak dapat menolak permintaan Gadis hingga akhirnya menyetujuinya namun menyuruh anaknya lebih waspada dalam mengendarai motor.


"Iya, Pak. Kami berangkat dulu." Haikal bersalaman dengan bapak dan ibunya, diikuti oleh Gadis.


"Saya pergi dulu ya, Pak, Bu." Assalamualaikum ..." pamit Gadis.


"Waalaikumsalam ..." sahut Pak Baskoro dan Ibu Heny bersamaan melepas Haikal dan Gadis pergi.


Haikal menyerahkan helm pada Gadis lalu berjalan mengeluarkan motornya dari garasi. Gadis pun mengikutinya hingga ia duduk di atas jok penumpang setelah Haikal menyalakan motornya. Motor sport Haikal yang memiliki jok penumpang tinggi membuat Gadis tidak merasa nyaman mendudukinya, sebab ia merasa lebih tinggi dari Haikal.


"Sudah siap?" Haikal menoleh ke belakang setelah ia memanaskan motornya beberapa saat.


"Kak, aku takut jatuh. Apa aku boleh pegangan pundak Kak Haikal?" tanya Gadis, bukan karena modus tapi karena ia takut terjungkal.


Haikal terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab, "Ya sudah, pengangan yang kencang," ujarnya meluluskan permintaan Gadis.


Gadis langsung menempelkan tangannya ke pundak Haikal. Hatinya seketika berdebar-debar karena ia bersentuhan fisik dengan Haikal, walaupun hanya memegang pundak kekar pria yang disukainya itu.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading❤️


__ADS_2