JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG

JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG
Beruntung Mendapatkan Gagah


__ADS_3

Rey sangat penasaran dengan sosok wanita muda bernama Gadis yang ia jumpai di ruang kerja Gagah. Jika dilihat dari sikap Gadis, ia mengira jika Gadis bukan salah satu karyawan di perusahaan itu. Apalagi dia sempat mendengar Gadis mengatakan telah menandatangi sebuah surat, lalu meminta Gagah untuk tanda tangan juga. Jika seseorang membubuhkan tanda tangan di sebuah dokumen sebuah perusahaan, ia yakini jika orang itu pasti mempunyai kedudukan atau jabatan penting di dalam perusahaan tersebut. Lalu, apa artinya Gadis merupakan salah satu orang penting di perusahaan Bintang? Sangat aneh baginya karena jika dilihat dari usianya, Gadis terlihat masih sangat muda.


Rey teringat jika dirinya masih menyimpan nomer telepon Sandi, yang mempunyai jabatan yang sama dengannya sebagai marketing manager di perusahaan Bintang. Dia berusaha mengorek informasi dari Sandi, karena ia yakin Sandi tahu tentang Gadis juga status Gagah di perusahaan itu.


Rey buru-buru mencari nomer telepon Sandi di kontak ponselnya. Sikap dengki di hatinya semakin menguat sejak mengetahui Airin telah menikah lagi dalam waktu yang tidak jauh dari perceraian mereka.


"Selamat siang, Pak Sandi. Apa kabarnya?" Beberapa detik kemudian, dia berhasil terhubung via panggilan telepon dengan Sandi.


"Selamat siang, Pak Rey. Alhamdulillah baik, Pak. Apa mau ada event lagi di BDS, Pak Rey?" tanya Sandi menjawab sapaan Rey.


"Saya baru saja dari kantor BDS, Pak Sandi. Habis bertemu dengan anak saya," ujar Rey. Sebelumnya ia maupun Gagah tidak pernah membawa masalah pribadi dalam urusan pekerjaan, termasuk mengatakan jika istri Gagah saat ini adalah mantan istrinya.


"Anak Pak Rey?" Jawaban Rey sudah pasti menimbulkan pertanyaan bagi Sandi. Dia tidak mengerti siapa yang dimaksud anak oleh Rey.


"Benar, Pak Sandi. Saya minta ijin Pak Gagah untuk bertemu dengan putri saya." Kini Rey mulai membuka rahasia yang memang selama ini tidak pernah terekspos.


"Maaf, Pak Rey. Saya tidak mengerti maksud Pak Rey, apa hubungannya dengan Pak Gagah? Kenapa Pak Rey meminta ijin Pak Gagah?" Sandy mempertanyakan jawaban Rey.


"Apa Pak Sandi tidak tahu jika istri Pak Gagah itu mantan istri saya?" Rey tak pikir panjang dan benar-benar sudah putus urat malu mengatakan jika istri Gagah adalah mantan istrinya.


"Oh ya?" Nada terkejut terdengar dari suara Sandi mengetahui siapa Airin, istri Gagah, "Saya tidak tahu soal hal itu, Pak Rey," lanjutnya, karena saat Gagah dan Rey pertama kali bertemu, tidak ada hal yang menunjukkan jika mereka berdua saling berkaitan.


"Benar, Pak Sandi. Makanya saya menemui Pak Gagah, karena sebagai Papa sambung putri saya, saya harus meminta ijin kepada beliau." Rey menjelaskan.


"Oh ..." Hanya kata itu yang keluar dari mulut Sandi.


"Oh ya, Pak Sandi. Tadi sewaktu saya di ruangan Pak Gagah, saya melihat ada seorang wanita bernama Gadis, apa dia karyawan di BDS?" Rey mulai mengorek informasi soal Gadis yang dia duga punya posisi kuat di kantor retail Bintang Departement Store.


"Oh, Mbak Gadis?" sahut Sandi.


"Benar, Pak Sandi. Apa dia bekerja di sana?" Rey mengulang pertanyaannya.


"Mbak Gadis itu anak dari Almarhum Pak Bintang, Pak Rey," jawab Sandi.


Seketika Rey menghubungkan informasi yang diterima dari Sandi dengan ucapan orang-orang yang pernah ia dengar di restoran beberapa waktu lalu.


"Anak Pak Bintang?" tanya Rey makin penasaran. Gadis masih terlihat sangat muda, apakah benar Gadis yang menggantikan posisi Gagah. "Apa dia ikut bekerja di sana?" selidiknya.


"Sekarang ini, Mbak Gadis yang menjabat CEO di sini, Pak Rey. Namun, dia masih dalam pengawasan Pak Gagah, sebab Mbak Gadis masih berusia tujuh belas tahun dan awam dengan urusan mengelola perusahaan, sehingga kendali perusahaan tetap dipegang oleh Pak Gagah, hanya jabatan saja yang berubah, sekedar formalitas sambil Mbak Gadis belajar menggelola perusahaan." Sandi menjelaskan secara detail siapa Gadis dan apa yang dilakukan oleh Gadis di perusahaan milik Papanya.


"Oh begitu ... jadi Pak Gagah masih ambil peran penting di BDS ya, Pak?" tanya Rey kembali.


"Tentu saja, Pak Rey. Pak Gagah orang penting dalam BDS, tanpa keberadaan Pak Gagah di sini, mungkin saat ini BDS akan timpang, apalagi saat ini Pak Bintang sudah tidak ada." Sandi juga menegaskan bagaimana kuatnya keberadaan seorang Gagah Prasetyo Hadiningrat di kantornya, sehingga saat ini Gagah masih seperti CEO bagi karyawan-karyawan di sana, bahkan mereka menganggap jika Bintang Departement Store saat ini mempunyai dua direkrut utama.


Informasi lengkap yang disampaikan Sandi membuat Rey kecewa, ternyata Gagah tetap punya taji di perusahaan Bintang meskipun posisinya sebagai CEO sudah diambil alih oleh anak bungsu Bintang Gumilang.


Harapan Rey, melihat Airin menyesal dan kecewa menikah dengan Gagah ternyata tak menjadi kenyataan, Bahkan fakta tentang kehamilan Airin justru membuat hatinya semakin meradang hingga berusaha mencari-cari cara untuk menjatuhkan Gagah.


***


Gagah memperhatikan laporan dari divisi marketing dari Sandi di mejanya. Selama dia memimpin perusahaan tersebut penjualan barang juga penyewaan kios di Bintang Departement Store makin meningkat tajam, tak heran jika dirinya dipertahankan dalam perusahaan retail tersebut meskipun sudah tidak menjabat sebagai CEO lagi.

__ADS_1


"Oh ya, Pak. Saya menerima proposal dari perusahaan properti yang ingin mengadakan expo produk properti mereka. Mereka berniat menyewa hall di mall kita." Sandi melaporkan penawaran dari sebuah perusahaan properti yang dia terima.


"Perusahaan mana, Pak Sandi?" tanya Gagah.


"PT Ariesta Retail, Pak." jawab Sandi.


"Kapan rencana mereka berencana mengadakan expo itu, Pak Sandi?" tanya Gagah kembali.


"Rencananya pertengahan Oktober sampai pertengahan November, Pak." jelas Sandi.


"Kita Oktober ada jadwal lain tidak, Pak Sandi?" Gagah meminta Sandi untuk melihat agenda yang sudah dimiliki Bintang Departement Store.


"Jadwal pameran kerajinan daerah berakhir tanggal lima Oktober, Pak. Sementara untuk expo retail dijadwalkan tanggal dua puluh Oktober." terang Sandi menjelaskan jadwal yang sudah disepakati oleh Bintang Departement Store dengan relasi mereka yang lain.


"Ya sudah, coba komunikasi saja terus dengan mereka, Pak Sandi." ujarnya kemudian.


"Baik, Pak." jawab Sandi. Dia memperhatikan Gagah, teringat informasi yang dia terima dari Rey sehari lalu.


"Hmmm, maaf, Pak. Kemarin Pak Rey menghubungi saya." Sandi memberitahu Gagah.


Gagah menatap serius Sandi. Dia cukup tertarik info yang dia dapati dari Sandi dan penasaran apa yang dibicarakan Rey pada Sandi. Namun, ia tak pernah berpikir jika Rey membicarakan hal pribadinya pada Sandi.


"Oh ya? Apa ada rencana kerjasama lagi dengan BDS?" tanya Gagah seraya menyandarkan punggung ke sandaran kursinya.


"Tidak, Pak. Bukan itu. Hmmm, Pak Rey hanya memberitahu jika dia baru saja berkunjung kemari menemui Pak Gagah." Sandi tidak berani menanyakan kebenaran soal istri Gagah pada bosnya itu.


"Oh ya?" tanya Gagah mengerutkan keningnya, "Lalu apa yang dibicarakan Pak Rey, Pak Sandi?" tanyanya kemudian.


"Pak Rey menanyakan soal Gadis? Apa urusannya?" Gagah merasa terusik dengan keingintahuan Rey terhadap Gadis.


"Saya kurang tahu, Pak. Dia hanya tanya siapa Gadis itu dan apa jabatannya di sini," sahut Sandi.


"Dan Pak Sandi beritahu Pak Rey siapa itu Gadis?" tanya Gagah.


"Benar, Pak. Saya mengatakan jika Mbak Gadis adalah anak Pak Bintang dan saat ini menjadi CEO di sini," aku Sandi jujur, "Lalu, dia juga menanyakan apa Pak Gagah masih punya peranan penting di sini. Terus terang saja saya merasa aneh dengan pertanyaan Pak Rey itu, Pak." lanjut Sandi.


Gagah mendengus kasar, dari laporan yang disampaikan Sandi, ia dapat melihat ada niat terselubung dari Rey kepada dia dan juga keluarganya. Dia mengendus ada sesuatu yang direncanakan Rey dengan mencari tahu tentang Gadis.


"Pak Sandi, tolong jika Pak Rey menghubungi Pak Sandi lagi, dan bertanya ini itu tentang Gadis dan intern perusahaan, jangan diladeni. Dia bukan orang yang dapat dipercaya." Kesal dengan tingkah Rey, Gagah sampai memperingatkan Sandi untuk mengacuhkan Rey, jika tidak berhubungan dengan pekerjaan atau kerjasama perusahaan retail Bintang dengan Sumber Rejeki Otomotif. Bahkan Gagah pun sampai menyebut Rey sebagai orang yang tidak dapat dipercaya.


"Baik, Pak." Sandi memaklumi jika Gagah terlihat marah dengan tindakan Rey yang terkesan sedang menyelidiki sesuatu. Untung saja dia tidak mengatakan jika Rey pun menyebut sebagai mantan suami dari istri Gagah kini.


***


Airin menuruni anak tangga dengan hati-hati. Dia diberitahu oleh Bi Junah jika temannya di Central Bank mengunjungi siang ini. Cukup lama juga Airin tidak pernah bertemu dengan Fany sejak dirinya menikah dengan Gagah, hingga ia senang saat Fany mengabari akan berkunjung menemuinya saat ini, karena Fany sedang cuti bekerja.


"Hai, Fan ...!" sapa Airin menghampiri Fany yang duduk di sofa tamu.


Hai, Rin." Fany bangkit lalu berpelukan dengan Airin, "Apa kabar, Bu bos?" Fany meledek Airin.


"Alhamdulillah sehat, Fan." sahut Airin, " Kamu sengaja main ke sini atau dari mana, Fan?" Airin dan Fany duduk berdekatan di sofa yang sama.

__ADS_1


"Sengaja main, Rin." jawab Fany, "Cari kesibukan biar tidak terlalu bete kelamaan cuti di rumah," lanjutnya dengan terkekeh.


"Kamu sudah berapa hari cuti?"


"Tiga hari ini."


"Tidak pergi-pergi ke mana gitu, menikmati liburan?"


"Kantong menipis, Rin. Tanggung bulan ..." sahut Fany kembali dengan tawa kecilnya, "Luna mana, Rin?" tanyanya kemudian karena tidak menemukan keberadaan Luna bersama Airin.


"Luna sedang pergi sama Mama mertua dan kakak iparku, Fan." jawab Airin.


"Dia mau pergi tidak ditemani kamu, Rin?" tanya Fany, karena setahunya Luna tidak mudah dekat dengan orang lain.


"Alhamdulillah Luna sudah dekat dengan Mama mertuaku, Fan. Dengan keluarga Mas Gagah, Luna juga mulai akrab," sahut Airin.


"Mungkin Luna bisa merasakan kehangatan di keluarga Pak Gagah, Rin. Makanya dia mudah akrab." Fany berpendapat.


"Sepertinya memang begitu, Fan. Keluarga Mas Gagah menerima aku dan Luna di sini dengan sangat baik," ungkap Airin.


"Jadi, tidak menyesal menikah dengan Pak Gagah, kan?" ledek Fany, sebab ia ingat bagaimana dulu Airin berusaha menolak Gagah yang berusaha mendekati.


Airin tersenyum malu. Fany salah satu saksi bagaimana Gagah berusaha mendekatinya, bahkan Fany menjadi mata-mata Gagah dalam upaya mendapatkan hatinya.


"Iya, Fan." sahutnya kemudian, "Aku beruntung mendapatkan Mas Gagah ..." Tangan Airin reflek mengusap perutnya yang masih rata. Airin sudah tidak malu-malu mengakui jika dia merasa bahagia dengan pernikahannya bersama Gagah.


Melihat gerakan tangan Airin, Fany menduga Airin sedang hamil. "Kamu sudah isi, Rin?"


"Alhamdulillah sudah, Fan. Sudah jalan lima Minggu." Airin menyampaikan berita kehamilannya dengan senyuman merekah di bibirnya.


"Alhamdulillah, selamat, ya, Rin." Fany memeluk Airin kembali.


"Makasih, Fan." sambut Airin.


"Pak Gagah pasti senang sekali tahu kamu hamil," tebak Fany.


"Senang dan posesif, Fan. Aku tidak boleh melakukan ini itu, tidak boleh capek-capek, disuruh istirahat di rumah saja." Airin menuturkan apa yang diminta suaminya.


"Wajar Pak Gagah bersikap begitu, Rin. Namanya juga suami tahu istrinya sedang hamil ..." Fany memaklumi sikap Gagah yang posesif terhadap Airin.


"


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2