
Wajah berseri dengan bias rona merah di pipi Gadis seketika memudar saat melihat orang yang datang bukanlah pria yang dia harapkan, melainkan Pak Jojo. Namun, ia masih membangun angan-angannya jika rencananya akan berjalan sesuai harapan. Dia masih menganggap jika kemunculan Pak Jojo adalah suatu kebetulan dan tak ada hubungannya dengan rencana mencari asisten pribadi untuknya.
"Siang, Pak. Pak Gagah memanggil saya?" tanya Pak Jojo, kepala HRD yang diminta untuk menghadap Gagah.
"Benar, Pak Jojo, silahkan masuk." Gagah mempersilahkan Pak Jojo untuk ikut duduk bergabung dengan dirinya, Farah juga Gadis.
"Selamat siang, Bu Farah." Mengetahui ada Farah di ruangan kerja Gagah, Pak Jojo menyapa istri dari pemilik perusahaan tersebut.
"Siang, Pak Jojo." balas Farah ramah.
"Pak Jojo, saya butuh karyawan yang akan ditugaskan menjadi asisten pribadi untuk Gadis." Gagah menjelaskan alasannya memanggil Pak Jojo ke ruangannya, "Pak Jojo pasti punya kandidat yang bisa menghandle pekerjaan itu, kan?" tanya Gagah.
Mendengar perkataan Gagah, bola mata Gadis membulat sempurna. Sama sekali dia tidak mengharapkan orang lain yang akan membantunya selain Haikal. Siapa pun orang yang akan dipilih untuk menjadi asisten pribadinya sudah pasti akan ia tolak.
"Baik, Pak Gagah. Asisten yang dibutuhkan itu pria atau wanita, Pak?' tanya Pak Jojo merespon perintah Gagah.
"Bagaimana, Gadis? Kamu ingin aspri laki-laki atau perempuan?" Gagah melepar pertanyaan Pak Jojo pada Gadis.
Gadis mendengus kasar, ia merasa kecewa dengan keputusan Gagah yang menyuruh Pak Jojo mencarikan asisten untuknya, sebab ia mengharapkan Gagah akan langsung menunjuk Haikal. Seketika itu juga ia bangkit dari duduknya.
"Aku sudah katakan kalau aku ini tidak butuh asisten pribadi!" tegas Gadis kesal sebab hatinya sedang diselimuti kekecewaan. "Sebaiknya Mama pulang saja, deh! Aku masih banyak pekerjaan." Setelah menyelesaikan kalimatnya, Gadis segera berhambur ke luar dari ruangan kerja Gagah.
"Gadis, tunggu dulu, Nak!" Bahkan ucapan Farah tidak digubris oleh anaknya itu. Tentu saja Farah merasa bingung dengan sikap Gadis. Sikap Gadis ini tidak ada di dalam skenario yang sudah mereka persiapkan berdua. Kali ini Farah melihat anaknya itu seperti benar-benar marah.
"Jadi bagaimana, Pak? Apa saya masih harus menyiapkan orang untuk jadi asisten Mbak Gadis?" tanya Pak Jojo menunggu perintah selanjutnya dari Gagah.
"Tahan saja dulu, Pak Jojo bisa kembali ke ruangan Pak Jojo." Gagah menyuruh Pak Jojo untuk meninggalkan ruangan dan melanjutkan pekerjaannya.
"Baik, Pak." sahut Pak Jojo, "Permisi, Bu Farah." Setelah berpamitan dengan Farah, Pak Jojo meninggalkan ruangan kerja Gagah.
"Ibu Farah sudah mendengar sendiri bagaimana keinginan Gadis. Dia tidak ingin memiliki aspri untuk membantunya," ujar Gagah.
"Gagah, sebenarnya ada apa dengan Gadis? Apa ada suatu hal yang terjadi di sini yang berhubungan dengan Gadis?" Farah yang merasa bingung dengan sikap anaknya sendiri justru bertanya kepada Gagah.
Kedua alis Gagah hampir bertautan mendengar keluhan Farah tentang Gadis. "Maksud Ibu?' tanyanya kemudian.
"Hmmm ..." Farah menyadari jika dirinya kelepasan bicara. Namun, ia rasa tidak ada salahnya ia menceritakan hal yang sebenarnya terjadi. Selama ini suaminya sangat mempercayai Gagah, bahkan untuk menjalankan perusahaan sebesar Bintang Departement Store, karena itu ia pun harus mempercayai Gagah. "Begini, Nak Gagah. Sebenarnya ... hmmm, sebenarnya ini semua permintaan Gadis," ungkap Farah membuka rahasia yang semestinya ia tutupi.
"Permintaan Gadis? Maksud Ibu?" tanya Gagah mendengar serius penjelasan Bu Farah.
"Tapi Nak Gagah jangan bilang kalau Ibu cerita seperti ini pada Gadis, ya?" Farah minta Gagah berjanji untuk tidak menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, karena ia khawatir Gadis akan marah kepadanya.
"Baik, Bu. Saya akan tutup mulut, Ibu bisa mempercayai saya." Gagah berjanji tidak akan mengatakan pada Gadis apa yang akan diceritakan Farah padanya.
__ADS_1
"Beberapa hari lalu, Gadis minta Ibu bantu dia untuk bicara sama kamu supaya dicarikan asisten pribadi untuknya. Tapi Gadis bilang agar saya tidak menceritakan hal ini pada kamu, seolah-olah ini adalah keinginan saya." Farah memaparkan semuanya tanpa ada yang ia tutup-tutpi dari Gagah.
Alis Gagah terangkat ke atas, ia langsung tanggap atas cerita yang disampaikan oleh Farah kepadanya. Dia tahu apa yang diinginkan oleh Gadis darinya. Pantas saja Gadis langsung uring-uringan saat tahu justru dia menyuruh Pak Jojo yang mencarikan asisten untuk Gadis.
"Jadi ini semua atas keinginan Gadis rupanya?" Gagah mengulum senyuman. Dia yakin jika Gadis mengharapkan dirinya akan menunjuk Haikal untuk menjadi asisten bagi Gadis.
"Gadis juga beralasan tidak ingin kamu tahu jika ini adalah rencananya, sebab dia tidak ingin terlihat lemah di mata kamu," papar Farah kembali.
Gagah mengulum senyuman, mengetahui tingkah Gadis, dia seperti sedang berkaca pada dirinya sendiri. Dia bahkan teringat akan tingkah konyol dirinya saat mendekati Airin. Dia sampai datang ke costumer service dan mengaku jika kartu ATM nya hilang hanya untuk berkenalan dengan Airin.
"Ibu jadi khawatir, Gagah. Ibu khawatir jika Gadis seperti Flo. Apa Gadis diam-diam menyukai kamu?" Farah justru mempunyai anggapan berbeda. Dia malah mengira jika anaknya itu mengagumi Gagah, sebab Gadis tidak ingin terlihat lemah di mata Gagah. Di pikirannya Gadis ingin terlihat hebat di mata Gagah agar Gagah terkagum pada Gadis.
Gagah tertawa kecil menanggapi dugaan farah terhadap Gadis. Tentu saja dia tahu jika tuduhan itu tidak beralasan, sebab bukan dialah pria yang sebenarnya disukai oleh Gadis.
"Tidak, Bu. Ibu tidak perlu khawatir. gadis tidak seperti yang ibu perkirakan." Gagah langsung bangkit dari tempat duduknya lalu mengambil ponsel untuk menghubungi seseorang.
"Kal, ke ruanganku sebentar." Gagah langsung menelepon Haikal dan meminta adik iparnya untuk menghadapnya saat itu juga.
"Ibu tidak usah merasa cemas, tidak ada hal buruk yang menimpa Gadis di sini, saya jamin itu, Bu." Sambil menunggu Haikal tiba di ruangannya, Gagah mencoba meyakinkan Farah agar tidak punya anggapan negatif pada Gadis.
"Syukurlah kalau begitu, Gagah. Ibu takut kasus Flo akan terulang kembali." Farah bernafas lega, dugaannya ternyata tidak benar.
Tok tok tok
"Oh, maaf. Aku tidak tahu kalau Kak Gagah sedang ada tamu." Melihat ada orang lain di dalam ruangan itu, Haikal menyampaikan permintaan maaf, agar tidak dianggap kurang sopan. Dia pun menyapa Farah dengan menganggukkan kepala seraya mengembangkan senyuman. Haikal tidak tahu jika orang yang ada di hadapannya saat ini adalah orang tua Gadis.
"Tidak apa-apa, Haikal. Masuklah ...!" Gagah menyuruh Haikal masuk.
"Baik, Kak." sahut Haikal.
"Kal, kenalkan ini Ibu Farah. Ibu Farah ini istri dari almarhum Pak Bintang. Orang tua dari Gadis." Gagah lalu memperkenalkan Farah pada Haikal.
"Oh, selamat siang, Bu. Perkenalkan saya Haikal." Haikal menyalami Farah dengan santun.
"Haikal ini adik dari istri saya, Bu Farah. Dia karyawan di BDS Yogyakarta yang saya pindahkan ke pusat sebab saya melihat dia mempunyai potensi besar untuk bisa membantu mengembangkan perusahaan di sini." Dengan percaya diri Gagah mengenalkan Haikal sebagai adik iparnya.
Gagah tidak mengkhawatirkan Farah akan menentang keputusannya. Kemampuannya dan peranannya yang sangat besar di BDS membuatnya percaya diri pada setiap tindakannya. Hal itu sebenarnya membuat Haikal tak enak hati, sebab Gagah terang-terangan mengakuinya sebagai adik ipar Gagah tanpa takut Farah akan menganggap Gagah sangat arogan dan memanfaatkan posisinya sebagai orang penting di perusahaan itu.
"Oh, jadi ini adik ipar kamu?" Seketika Farah teringat akan cerita Gadis beberapa waktu lalu yang pernah menceritakan soal Haikal yang bekerja di BDS cabang.
Gagah dan Haikal saling pandang saat menyadari Farah seperti mengetahui soal Haikal. Bahkan Gagah menduga jika Gadis sudah bercerita soal Haikal pada Farah.
"Ibu sudah mendengar tentang Haikal?" tanya Gagah.
__ADS_1
"Iya, Gagah. Beberapa waktu lalu Gadis pernah bilang kalau adik ipar kamu bekerja di BDS cabang." Secara jujur Farah menceritakan apa yang dikatakan Gadis padanya. Farah tidak menyadari jika dirinya sedang membuka rahasia putrinya sendiri.
"Maaf kalau saya mengambil keputusan menarik Haikal tanpa memberitahukan Bu Farah." Gagah menyampaikan permintaan sebab mengambil keputusan tanpa persetujuan Farah.
"Tidak masalah, Gagah. Ibu yakin, kamu mengambil keputusan pasti sudah melalui pertimbangan yang matang." Seperti dugaan Gagah, Farah memang tidak mempermasalahkan tindakan Gagah yang terkesan paling sok menguasai perusahaan itu.
"Haikal, Bu Farah meminta saya mencari orang yang untuk menjadi asisten pribadi Gadis. Jika saya ingin memilih Haikal untuk menjadi Aspri Gadis, apa Bu Farah memberi ijin?" Gagah langsung mengusulkan Haikal untuk menjadi asisten Gadis.
Haikal spontan menoleh ke arah Gagah. Dia tersentak mendengar tugas yang akan dia jalani. Menjadi asisten Gadis? Itu akan membuat dirinya hampir selalu berdekatan dengan Gadis, padahal dia sendiri merasa Gadis itu membencinya. Haikal ingin menolak, namun ia tidak mungkin melakukan itu di hadapan Farah.
"Saya memilih Haikal karena saya rasa Haikal dapat dipercaya. Saya menjamin hal itu, Bu Farah." Gagah berani menjamin jika orang yang ia pilih adalah orang yang tepat.
"Ya sudah jika memang menurut kamu Haikal ini bisa menjadi asisten Gadis, Ibu setuju saja." Bagi Gagah tidaklah sulit untuk mempengaruhi Farah. "Tapi, apa Gadis mau? Kamu sendiri bilang kalau dia tidak butuh asisten, kan?" Farah ragu Gadis akan menerima Haikal sebagai asistennya sebab tadi saja Gadis terlihat kesal.
"Bukankah Gadis sendiri yang menginginkan dicarikan asisten?" tanya Gagah.
"Iya memang, tapi ... kamu lihat sendiri tadi dia seperti marah, kan?" Farah masih ragu Gadis akan menerima Haikal sebagai asistennya.
"Nanti saya akan beri penjelasan kepada Gadis, serahkan pada saya untuk urusan ini." Gagah yakin jika Gadis akan menerima jika Haikal yang menjadi asisten pribadinya. Sebab dari cerita Farah soal rencana Gadis, Gagah menarik kesimpulan jika sebenarnya Gadis mengharap dirinya memilih Haikal untuk tugas itu.
"Ya sudah kalau begitu, Ibu serahkan semuanya padamu, Gagah." Farah tahu Gagah tidak akan mencelakakan Gadis. Dia yakin Gagah akan melindungi Gadis seperti melindungi adiknya sendiri. "Kalau begitu Ibu pamit dulu, Gagah, Haikal. Assalamualaikum ..." Farah berpamitan ingin meninggalkan ruang kerja Gagah karena merasa tugasnya menyampaikan keinginan telah berakhir.
"Baiklah, Bu. Waalaikumsalam ...."
"Waalaikumsalam, Bu Farah."
Gagah menjawab bersamaan dengan Haikal.
"Kak, apa yang harus aku kerjakan sebagai asisten?" Setelah kepergian Farah dari ruangan Gagah, Haikal masih melanjutkan perbincangan dengan kakak iparnya. Dia menanyakan kenapa justru dirinya yang dipilih menjadi asisten pribadi Gadis, sementara Gadis sendiri seperti memusuhinya.
"Ini bukan permintaanku, Haikal. Tapi keinginan dari Gadis sendiri." Gagah menjelaskan. "Kamu harus bisa membawa diri, Kal." Gagah terkekeh, tak menggubris kecemasan Haikal.
"Keinginan Gadis?" Kening Haikal mengeryit. Dia pun seketika berasumsi negatif jika tujuan Gadis menginginkan dirinya menjadi asisten Gadis, karena Gadis ingin mengerjainya, mencari-cari kesalahannya agar dia bisa didepak dari kantor pusat itu.
"Kau tenang saja, Kal. Pekerjaanmu ini tidak seram-seram amat." Gagah menepuk pundak Haikal, mencoba untuk menenangkan Haikal yang terlihat cemas, "Kamu kembali saja ke mejamu, nanti aku akan bilang pada Pak Jojo. Mulai Senin kamu akan melaksanakan tugas kamu sebagai asisten Gadis."
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading❤️