JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG

JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG
Bukan Bos Lagi


__ADS_3

Setelah memeriksa kandungan Airin di klinik milik Dokter Evy, Gagah mengantar Airin pulang ke rumah terlebih dulu sebelum ia pergi ke kantornya. Airin sendiri ingin memberi kabar tentang kehamilan kepada keluarganya termasuk kedua orang tuanya dan juga keluarga Om Fajar. Dia yakin kabar ini akan disambut bahagia terutama oleh kedua orang tuanya di Yogyakarta.


"Mas, aku mau kabari Ibu, ya?" Airin meminta ijin suaminya terlebih dahulu sebelum mengabari orang tuanya.


Gagah menoleh dan menganggukkan kepala menyetujui permintaan Airin, lalu kembali fokus dengan kemudinya. Setelah mendapatkan ijin, Airin pun segera menghubungi Ibunya melalui sambungan video call.


"Assalamualaikum, Bu. Ibu sedang apa?" tanya Airin ketika panggilan videonya tersambung dan melihat wajah Ibunya nampak di layar ponsel yang dipegang olehnya.


"Waalaikumsalam, Ibu baru selesai menjemur pakaian. Kamu sedang di mana, Rin?" tanya Bu Heny saat melihat Airin sedang berada di dalam mobil.


"Nenek, Luna mau punya adik bayi." Luna sudah mencuri start dengan memberitahu Neneknya soal kehamilan Airin terlebih dahulu sebelum Airin memberitahu Ibunya.


"Luna mau punya adik?" Ibu Heny terkejut mendengar ucapan cucunya tersebut, "Benar itu, Rin?" Ibu Heny bertanya pada Airin mengkonfirmasi kebenaran ucapan Luna.


"Alhamdulillah, iya benar, Bu. Ini aku baru saja pulang dari dokter kandungan, " Airin menjawab dengan senyuman yang merekah di bibirnya.


"Alhamdulillah, Ibu senang mendengarnya, Rin." Wajah Ibu Heny nampak sumringah mendengar kabar kehamilan anaknya, "Berapa minggu usia kehamilan kamu, Rin?" tanyanya kemudian.


"Baru masuk tiga Minggu, Bu." jawab Airin.


"Kamu harus jaga kesehatan, Rin. Jangan terlalu lelah." Sebagai seorang Ibu, tentu saja Ibu Heny menasehati Airin agar lebih menjaga kesehatan Airin dan janin di dalam kandungan Airin.


Tiba-tiba saja Gagah merebut ponsel milik Airin ketika mendengar Ibu Heny menasehati Airin. Gagah berniat mengadukan sikap keras kepala Airin yang sulit dilarang untuk tidak banyak beraktivitas.


"Bu, Aku sudah melarang Airin untuk tidak banyak beraktivitas, tapi dia susah dilarang. Tolong Ibu nasehati anak Ibu ini." Gagah menggunakan kesempatan untuk mengadu sikap Airin agar Ibu mertuanya itu mau mempengaruhi Airin untuk tidak banyak beraktivitas.


"Airin memang seperti itu, Nak Gagah. Dulu waktu hamil Luna juga Ibu pernah suruh dia resign, tapi dia tidak mau. Tapi alhamdulillah kehamilan Airin waktu itu baik-baik saja, jadi Nak Gagah jangan terlalu khawatir, Ibu yakin Airin akan bisa menjaga kandungannya." Justru Gagah lah yang akhirnya dinasehati oleh Ibu Heny.


Airin menahan senyumnya melihat ekspresi wajah kecewa sang suami, karena Ibunya tidak berpihak kepada Gagah.


"Iya, Bu." Dengan berat Gagah menerima nasehat dari Ibu Heny, karena ia tidak mungkin menentang ucapan Ibu mertuanya.


"Sini HP nya, Mas. Kalau sedang mengemudi jangan pegang HP." Airin justru meledek suaminya dengan sindiran seolah dirinya senang karena dibela oleh Ibu Heny, membuat Gagah mendelik ke arah Airin yang dianggap sudah berani meledeknya.


"Luna mau bicara dengan Nenek tidak?" Airin mendekatkan kamera telepon di dekat Luna hingga Luna dapat melihat wajah neneknya.


"Nenek, adik bayi Luna lagi bobo di pelutnya Mama, tapi Luna ndak bisa lihat adik bayinya, kata Mama nanti kalau pelut Mama udah besal kayak balon, kaki adik bayinya bisa nendang pelut Mana, Nek." Luna menceritakan apa yang dia dengar dari Mamanya.


"Masya Allah, Luna senang tidak mau punya adik bayi?" tanya Bu Heny merespon cerita cucunya.


"Cenang, Nek. Nanti Luna punya teman belmain di lumah, bukan Mona cama Nola aja, Nek." Luna bercerita dengan wajah ceria.


"Luna harus sayang sama adik bayi di perut Mama, ya! Luna juga tidak boleh nakal dan harus selalu menurut apa yang Mama dan Papa bilang." Tak lupa Ibu Heny menyelipkan nasehat kebaikan kepada cucunya, karena ia selalu menanamkan kebaikan kepada Luna sedari kecil.


"Iya, Nek. Luna 'kan cayang cama Mama." Luna memeluk Airin.


"Masya Allah, cucu Nenek memang pintar," ucap Ibu Heny bangga.


"Kok hanya Mama saja yang disayang? Memangnya Papa tidak disayang juga?" Gagah memprotes.


"Luna sayang tidak sama Papa?" Airin menerjemahkan arti ucapan suaminya.


"Cayang Papa juga, kok!" tegas Luna dengan menganggukkan kepalanya.


"Tuh, Luna juga sayang Papa, kok! Jadi Papa jangan protes, ya!?" Airin kembali terkekeh masih dalam mode meledek suaminya.


Terdengar suara tawa kecil Bu Heny. Dia ikut merasa bahagia dan ikut senang mendengar interaksi Airin, Luna dan juga Gagah. Terlihat keharmonisan hubungan rumah tangga anak dan menantunya itu. Ibu Heny bisa bernafas lega, sebab pernikahan Gagah dan Airin yang terkesan mendesak dan dilakukan tidak jauh dengan perceraian Airin dan Rey. Rumah tangga anaknya kini sudah mulai menampakkan hal positif, setidaknya ia melihat dari bagaimana interaksi Gagah dan Airin yang saling meledek satu sama lainnya.


***


"Jadi, sekarang ini BDS yang pegang anaknya Pak Bintang Gumilang? Bukan Pak Gagah lagi, Pak Kris?"


Rey mempertajam pendengarannya ketika ia mendengar obrolan orang yang duduk di belakang kursi yang ia duduki di sebuah restoran ketika ia bertemu dengan salah seorang relasi dari perusahaan tempat ia bekerja.

__ADS_1


Percakapan orang-orang di belakangnya saat ini sangat menarik perhatiannya sebab mereka sedang membicarakan soal Gagah Prasetyo Hadiningrat, pria yang saat ini telah menjadi suami dari mantan istrinya.


"Bagaimana, Pak Rey? Apa ada discount spesial dari perusahaan Sumber Rejeki untuk perusahaan kami, karena kami melakukan pembelian dalam jumlah besar ini?"


Pertanyaan Pak Hidayat, relasi bisnis perusahaan tempat kerja Rey membuat fokusnya mendengar informasi seputar Gagah dan jabatan Gagah di perusahaan retail terbesar tersebut terpecah.


"Oh, nanti akan saya ajukan ke atasan saya tentang hal ini, Pak Hidayat." Mau tidak mau Rey harus meladeni relasi perusahaan tempat kerjanya.


"Saya minta kabar secepatnya, Pak Rey. Saya juga harus melaporkan pada atasan saya tentang hal ini," lanjut Pak Hidayat.


"Baik, Pak Hidayat. Nanti saya akan ajukan setelah pulang dari sini agar saya akan dapat memberikan kabar secepatnya pada Pak Hidayat," jawab Rey mencoba meyakinkan jika dia akan berusaha meluluskan pengajuan harga spesial dari perusahaan tempat Pak Hidayat bekerja.


Rey kini tidak bisa lagi mengikuti percakapan orang-orang di belakangnya, sebab dia sendiri sibuk meladeni Pak Hidayat, dan orang-orang di belakangnya sudah mengubah topik percakapan mereka. Namun sebuah informasi besar sudah ia dapatkan, jika Gagah saat ini sudah tidak menjadi seorang CEO lagi. Hal tersebut membuat dia puas, karena ia menganggap jika Gagah adalah seorang pria sombong, terutama setelah berhasil menikahi Airin.


***


Mobil milik Rey berhenti di depan rumah Om Fajar. Tentu saja ia penasaran dengan kabar yang tak sengaja ia dengar dari percakapan orang-orang yang mengunjungi sebuah restoran siang tadi. Namun, tidak mungkin juga Rey bertanya terang-terangan soal hal itu kepada Tante Mira. Rey sengaja menggunakan alasan ingin bertemu dengan Luna agar Tante Mira mau menerimanya, sebab saat ini dirinya sudah kehilangan akses menghubungi Airin.


Rey turun dari mobil dan berjalan mendekat ke arah pintu gerbang rumah Om Fajar. Dia menekan bel yang ada di depan pintu pagar, berharap penghuni rumah itu segera keluar dan membukakan pintu untuknya.


Menunggu sekitar lima menit, hingga akhirnya ART di rumah Om Fajar keluar dan berlari menghampiri Rey untuk membukakan pagar.


"Tante Mira ada, Bi?" tanya Rey kepada Bibi.


"Ada, Pak Rey." Bibi segera membukakan pintu untuk Rey, "Silahkan duduk dulu, Pak." Setelah mempersilahkan Rey duduk, Bibi segera ke dalam rumah untuk memberitahu Tante Mira soal tamu yang berkunjung.


Rey pun memilih duduk di teras rumah Om Fajar menunggu Tante Mira keluar dari dalam rumahnya. Dan tak menunggu terlalu lama Tante Mira pun muncul di hadapannya saat ini.


"Rey? Ada apa?" Sejak kedatangan Rey terakhir kali ke rumahnya setelah pernikahan Airin, baru kal ini Rey muncul lagi di hadapannya.


"Tante apa kabar?" Rey bangkit dan menyalami Tante Mira.


"Alhamdulillah baik, Rey. Ada apa, Rey?" tanya Tante Mira menarik kursi lalu mendudukinya.


"Apa kamu sudah menghubungi Gagah? Kalau kamu ingin bertemu dengan Luna, kamu bisa menghubungi Gagah, Tante yakin Gagah akan memberi kesempatan untuk kamu bertemu dengan Luna, kok." Makin lama Tante Mira merasa kesal dengan Rey, dia menganggap jika Rey hanya mencari-cari alasan saja datang ke rumahnya saat ini.


"Suami Airin yang baru itu 'kan orang penting, Tante. Seorang CEO, mana mungkin dia akan meladeni permintaan saya." Rey sengaja memancing dengan menyebut jabatan Gagah.


Tante Mira menghempas nafas kasar. Seperti dugaannya jika kedatangan Rey mempunyai maksud tertentu ternyata benar. Sebelumnya ia sudah mendengar penjelasan dari Airin, jika Rey diperbolehkan bertemu dengan Luna dengan sepengetahuan Gagah. Tidak mungkin Gagah akan mengabaikan Rey, sebab Gagah adalah orang yang sangat disiplin dengan segala ucapan dan tindakannya.


"Airin pernah bilang kalau Gagah tidak melarang Luna bertemu dengan kamu." Tante Mira membela Gagah, bukan karena Gagah jauh lebih mapan secara materi dari Rey, tapi karena ia tidak suka Rey seolah memojokkan Gagah, dan selalu menganggap Gagah akan menguasai Luna.


"Gagah itu orang baik, pria yang bertanggung jawab, apalagi Tante sudah mengenal keluarga besarnya, mereka keluarga yang baik-baik, tidak mungkin Gagah itu bersikap licik dengan menghalangi Luna bertemu dengan Papa kandungnya!" tegas Tante Mira menepis prasangka buruk Rey.


Rey terdiam, dia seolah dibungkam dengan perkataan Tante Mira yang membela Gagah, seolah mematahkan dugaannya jika Gagah sengaja mempersulitkan dirinya bertemu Luna. Dan sepertinya dia pun akan susah mendapatkan informasi tentang pekerjaan Gagah yang menjadi tujuan utamanya datang ke rumah Om Fajar. Karena jika Gagah memang sudah tidak menjadi seorang CEO, tentu saja ia merasa senang, baginya Gagah bukanlah siapa-siapa tanpa jabatan CEO.


***


Setiap malam sebelum beranjak ke peraduan, rutinitas Airin adalah menemani Luna hingga anaknya itu tertidur. Airin senang, putrinya itu sudah mulai bisa diajar bersikap mandiri dengan mulai berani tidur sendiri, setidaknya Airin hanya menemani Luna hingga anaknya itu tidur, setelah itu ia kembali ke kamarnya.


Airin tak melihat sang suami di dalam kamar, biasanya suaminya itu sedang berbincang dengan Papanya di waktu-waktu seperti ini.


Ceklek


Airin menolehkan wajahnya ke arah pintu, dilihatnya sang suami masuk ke dalam kamar.


"Lina sudah tidur?" tanya Gagah berjalan mendekat.


"Sudah, Mas."


"Vitamin dari dokter sudah diminum?"


"Sudah, Mas."

__ADS_1


"Su su bumil?"


Airin menggelengkan kepala, "Belum, nanti kalau mau tidur," jawabnya.


"Sekarang kamu sudah mau tidur, kan? Aku suruh Bibi buatkan untuk kamu." Gagah kembali keluar kamar untuk menyuruh Bi Junah membuatkan su su hamil untuk Airin.


Airin tersenyum melihat suaminya itu begitu perhatian kepadanya. Jika dibandingkan dengan Rey ketika ia hamil Luna, Gagah lebih penduli dan sangat perhatian. Dan kini Airin mengetahui kenapa Rey tidak seperhatian Gagah, tentu saja karena saat itu dirinya bukanlah wanita satu-satunya bagi Rey.


Ddrrtt ddrrtt


Suara dering telepon Gagah di atas nakas berbunyi, membuat Airin bangkit untuk melihat siapa yang menghubungi suaminya. Dan seketika kening Airin berkerut saat ia melihat nomer telepon yang muncul di layar ponsel Gagah.


Airin sangat familiar dengan deretan angka yang berjejer di layar ponsel sang suami, karena nomer itu adalah nomer telepon Rey. Hatinya mendadak tak nyaman mengetahui Rey menelepon suaminya.


Airin mengacuhkan panggilan telepon Rey. Dia tidak berniat mengangkat panggilan telepon mantan suaminya itu, hingga panggilan itu berhenti. Namun, tak lama ponsel Gagah kembali berbunyi dan berasal dari nomer yang sama.


"Siapa yang telepon?" Gagah sudah kembali dari dapur dengan membawa segelas su su untuk ibu hamil di tangannya.


"Kalau tidak salah itu nomer telepon Papanya Luna, Mas." jawab Airin.


"Rey?" Gagah memicingkan mata lalu mengambil ponselnya, lalu ia melirik ke arah Airin, "Kamu masih ingat saja nomer HP Papanya Luna." Gagah merasa cemburu karena dia tidak menyimpan nomer Rey namun Airin tahu jika itu adalah nomer telepon Papa kandung Luna.


"Aku hanya ingat empat angka terakhirnya saja, kok, Mas." tepis Airin tak ingin suaminya itu cemburu.


"Ini diminum dulu su sunya." Meskipun sedang cemburu namun Gagah tetap mengutamakan Airin dan janin di perut istrinya daripada menerima panggilan masuk dari Rey.


"Apa kamu ingin aku menerima telepon ini?" Gagah menunjukkan ponselnya sebab Rey sudah melakukan panggilan telepon untuk ketiga kalinya.


"Dia pasti ingin minta bertemu dengan Luna, Mas. Kayak tidak ada waktu lain saja malam-malam begini telepon!" gerutu Airin yang merasa terganggu dengan telepon masuk dari mantan suaminya itu.


Sementara di sebuah hotel ...


Sudah tiga kali Rey mencoba menghubungi nomer telepon Gagah, namun panggilan teleponnya itu tidak juga direspon Gagah. Sudah tentu Rey merasa kesal sebab ia makin menganggap jika Gagah memang hanya omong kosong belaka dan tidak sungguh-sungguh akan adil terhadapnya mengenai Luna. Dan ia yakin Gagah sengaja menghalangi dirinya dekat dengan Luna karena Gagah cemburu padanya sebab ia yakin jika Airin sebenarnya masih sangat mencintainya.


"Honey, kamu telepon siapa, sih?" Joice yang sejak tadi memperhatikan Rey sibuk dengan teleponnya merasa penasaran,


"Aku sedang menelepon suami baru Airin," sahut Rey dengan menampakkan rasa kesal.


"Mau apa kamu menelepon dia?" tanya Joice yang terlihat tidak suka sebab Rey menghubungi Gagah yang ia duga pasti ada hubungannya dengan Luna, sebab Joice tidak senang Rey masih saja berhubungan dengan Luna dan Airin.


"Aku ingin bertemu Luna," sahut Rey.


"Kamu menelepon dia untuk bertemu dengan Luna malam-malam begini? Tentu saja tidak dia ladeni, Honey. Dia itu bos besar, mana ada waktu menanggapi teleponmu, Honey." cibir Joice.


Rey menoleh ke arah Joice saat wanita itu menyebut Gagah adalah bos besar, senyum licik pun kemudian terlihat di sudut bibirnya.


"Dia sudah bukan bos lagi di sana, Joice," ucapnya kemudian.


"Bukan, Bos? Maksudnya?" Joice penasaran.


"Perusahaan itu bukan milik dia atau keluarganya. Dia hanya bekerja dan dipilih sebagai direktur utama menggantikan pemilik perusahaannya. Dan aku dengar anak pemilik perusahaan itu mengambil alih jabatannya." Rey menjelaskan informasi yang ia dapatkan.


"Kalau dia diganti oleh anak pemilik perusahaan itu, apa dia diberberhentikan dari sana?" tanya Joice.


"Kemungkinan besar seperti itu." Rey mengusap rahangnya. Jika itu memang benar, Rey merasa bersyukur Gagah kehilangan jabatan elit di perusahaan retail tersebut.


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2