JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG

JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG
Ancaman Gagah


__ADS_3

Gadis terperanjat mendengar tudingan yang dilontarkan Joice terhadap Mamanya Luna yang tak lain adalah Airin. Dia tak tahu kenapa Joice menghina Airin dengan nada penuh kebencian? Siapa Joice yang sebenarnya? Itu membuat Gadis makin penasaran.


Jika diurutkan, ucapan Joice yang selingkuh dengan cerita soal Airin yang menikah cepat setelah bercerai dengan mantan suaminya dulu, itu memang masuk akal. Akan tetapi, apakah Gadis bisa menelan mentah-mentah fitnahan dari Joice itu?


Untungnya Gadis tidak mungkin percaya begitu saja ucapan Joice. Walaupun dirinya belum lama mengenal Airin, namun dia yakin Airin tidak seburuk seperti yang dituduhkan Joice. Sikap Airin bagaikan langit dan bumi dengan wanita di hadapannya saat ini. Airin sangat santun dan bersahabat, tidak seperti Joice yang terlihat culas dan picik. Belum lagi dari cara berpakaian keduanya yang sangat mencolok perbedaannya.


Gagah seorang pria yang pintar, tidak mungkin Gagah memilih sembarangan wanita untuk menjadi pendamping hidupnya, itulah hal yang membuat Gadis makin yakin jika semua yang disebutkan oleh Joice hanya fitnah tak beralasan.


"Tante jangan sembarangan bicara, ya! Jangan menyebar fitnah yang tidak benar, bisa masuk penjara, tahu rasa nanti!" Gadis lalu menyanggah tudingan Joice. Berhadapan dengan Joice seperti dirinya berhadapan dengan kedua adik tiri Papanya yang selalu dipengaruhi kebencian.


"Kamu ini diberitahu yang benar malah tidak percaya! Terserah kamu mau percaya atau tidak!" Joice memutar tubuhnya lalu berlalu meninggalkan Gadis yang terlihat kesal.


"Luna mau pulang, Kak." Luna merengek ingin pulang.


"Luna jangan nangis, ya. Nenek lampirnya sudah pergi." Gadis memeluk Luna dan menenangkan Luna untuk tidak terus merengek, kemudian dia pun melangkah menuju kantor BDS.


Sesampainya di kantor BDS, Gadis menuju ruang kerja Gagah. Dia ingin menceritakan pertemuannya dengan wanita yang tidak ia kenal, dan tidak ia ketahui hubungannya dengan Airin juga Gagah.


"Papa ...."


"Luna kenapa?" Gagah langsung bangkit dan menghampiri Gadis saat ia melihat Luna yang berwajah sendu, bahkan air mata masih menggenang di bola mata bocah itu.


"Luna kenapa, Gadis?" Gagah mengambil Luna dari tangan Gadis.


"Maaf, Pak. Aku tadi teledor, tidak hati-hati jaga Luna." Gadis minta maaf terlebih dahulu sebelum menjelaskan apa yang terjadi, sebab dia melihat raut wajah Gagah yang memasang wajah serius dan menegang.


"Tadi waktu mau kembali ke sini, ada Tante-Tante yang kerepotan bawa banyak kantong belanjaan nambrak Luna sampai Luna jatuh." Gadis mulai menceritakan apa yang terjadi hingga membuat Luna menangis.


"Luna jatuh? Mana yang sakitnya?" Gagah menyeka air mata Luna sambil menanyakan bagian mana yang dirasakan sakit oleh putri sambungnya itu.


"Es klim Luna jatuh, Pa. Cama Ateu jahat." Luna tidak mengeluh tentang rasa sakit, dia justru mengeluh soal Joice yang menabraknya hingga membuat ice cream nya terlepas dan jatuh ke lantai.


"Tante jahat?" Gagah mengerutkan keningnya lalu menoleh ke arah Gadis, mencoba mencari jawaban atas perkataan Luna.


"Tadi wanita yang menabrak Luna, bukannya minta maaf malah marah-marah. Dan sepertinya dia mengenal Kak Airin, Kak." ujar Gadis.


"Dia kenal Airin? Siapa?" tanya Gagah penasaran.


"Aku tidak tahu, Kak. Tapi wanita itu menjelekkan Kak Airin,, bilang kalau Kak Airin itu selingkuh sama Kak Gagah makanya Kak Airin minta cerai dari suaminy yang dulu." Gadis tak menutupi apa yang dikatakan oleh Joice tentang Airin.


Gagah mendengus kasar. Dari cerita Gadis, dia dapat menebak siapa orang yang dimaksud oleh Gadis yang sudah memfitnah istrinya.


"Mereka benar-benar pasangan yang serasi." Gagah mencibir tingkah laku sepasang sejoli yang bisa dianggap 'berjasa' membuat dirinya berjodoh dengan Airin.


"Wanita itu siapa, sih, Kak? Kayaknya benci sekali terhadap Kak Airin." Gadis penasaran siapa Joice.


"Dia itu wanita selingkuhan Pa ..." Gagah menghentikan ucapannya lalu menoleh ke arah Luna. Dia tidak ingin Luna mendengar kalimat-kalimat buruk. "Dia yang menyebabkan orang tua Luna tidak bersama lagi." Gagah memilih kalimat yang lebih halus, agar Luna tidak mengingat kata-kata yang tidak baik yang terucap dari mulutnya.


"Oh, jadi wanita itu penyebabnya? Kok, Papanya Luna malah pilih wanita itu? Jauh banget sama Kak Airin. Eh, tapi syukurlah ... Cowok yang selingkuh memang pantas dapatnya cewek model gituan. Kalau Kak Airin memang cocoknya dapat pria baik hati seperti Kak Gagah." Gadis malah berpendapat jika Airin beruntung lepas dari Rey dan mendapatkan Gagah.

__ADS_1


"Kalau Airin memang cocok mendapatkan pria seperti saya, kalau kamu cocoknya mendapatkan pria seperti siapa?" Gagah seketika menemukan bahan untuk meledek Gadis.


Bola mata Gadis membulat saat Gagah mulai menggodanya. Seketika itu juga rona merah membias di wajah cantik Gadis.


"Apaan, sih, Kak!?" Gadis mengalihkan pandangan karena ia sudah mulai salah tingkah.


"Kamu tadi ke rumah bertemu dengan istri saya ada apa?" Gagah belum sempat menanyakan tujuan Gadis mengunjungi rumahnya.


"Hanya kebetulan mampir saja," sahut Gadis.


"Kebetulan mampir atau mau cari info tentang Haikal?" Gagah yang dulunya terkesan kaku terhadap wanita kini terlihat lebih mencair sejak bersama Airin. Hingga dia kini sering menggoda Gadis yang terdeteksi tertarik pada Haikal.


"Iihh, siapa juga yang mencari informasi tentang dia!?" tepis Gadis, "Luna, ayo sama Kak Gadis." Gadis mengajak Luna ke ruangannya.


"Luna mau sama Kak Gadis?" tanya Gagah pada Luna, namun dia melihat Luna menguap, apalagi Luna pun menggelengkan kepalanya.


"Luna mengantuk, ya?" Gagah lalu berjalan ke arah kamar untuk menidurkan Luna, sementara Gadis pun kembali ke ruangan kerjanya.


"Luna cuci muka, cuci tangan dan kaki terus ganti baju dulu. Tadi habis main perosotan, kan?" Gagah membawa Luna ke bathroom untuk membersihkan tubuh Luna sebelum mengganti pakaian yang bersih yang sudah dibawakan oleh Airin tadi lalu menemani putrinya itu untuk beristirahat.


***


Ddrrtt ddrrtt


Rey mengambil ponsel di saku blazer saat teleponnya berdering. Dia baru saja kembali ke kantor setelah menyelesaikan pekerjaannya di luar kantor.


Rey mengeryitkan keningnya ketika melihat nama Gagah yang saat ini terlihat di layar ponselnya itu.


Penasaran dengan telepon dari Gagah, Rey segera mengangkat panggilan telepon tersebut.


"Selamat siang, Pak Gagah. Ada apa Pak Gagah menghubungi saya?" Memang tak biasanya Gagah menghubungi dirinya.


"Pak Rey, saya minta Anda beritahu kekasih Anda agar tidak terus memfitnah istri saya!" Suara Gagah terdengar dengan nada emosi dan penuh penekanan.


Rey terperangah saat mendengar kata-kata Gagah yang menyinggung soal Joice. Dia tidak tahu apa yang sudah dilakukan oleh Joice pada Airin sampai Gagah menegurnya seperti ini.


"Maaf, Pak Gagah. Sebenarnya apa yang terjadi?" tanyanya meminta penjelasan dari Gagah.


"Tanyakan saja pada kekasih Anda, apa yang sudah dia lakukan pada Luna!" geram Gagah masih tegas penuh kemarahan.


"Luna? Apa yang Joice lakukan pada Luna?" Rey terkesiap ketika Gagah mengatakan Joice melakukan sesuatu pada Luna. Dia tentu akan marah jika Joice sampai menyakiti putrinya.


"Beritahu dia, jangan menilai seseorang dari pakaian yang dia pakai!" Gagah tak menggubris pertanyaan Rey, "Airin tidak sebanding dengan dia, jadi jangan memutarbalikkan fakta. Kalian berdua yang berselingkuh, tapi melempar tuduhan pada orang lain. Sebaiknya Anda bilang padanya, urus saja selingkuhannya agar tidak ketahuan jika sebenarnya dia sendiri selingkuh di belakang Anda!" Terlalu emosi dengan tingkah laku Joice, Gagah sampai menyebut perselingkuhan Joice seperti yang pernah dia dengar dari Airin. Airin sempat menceritakan kepada Gagah melihat Joice bersama pria lain.


Rey terkejut mendengar informasi yang didengar oleh Rey, soal Joice berselingkuh di belakangnya.


"M-maksud, Pak Gagah?" Rey yang merasa penasaran meminta penjelasan Gagah soal ucapan suami Airin yang baru itu.


"Anda tanya saja kekasih Anda sendiri. Saya hanya minta agar dia tidak kembali mengusik dengan menyebarkan fitnah! Istri saya sedang hamil, saya tidak ingin apa yang dilakukan kekasih Anda, dapat mempengaruhi kehamilan istri saya!"

__ADS_1


"Jika Anda tidak bisa menasehati kekasih Anda, jangan salahkan saya jika saya tidak akan membiarkan Anda bertemu dengan Luna ke depannya! Selamat siang!" Sambungan telepon Gagah langsung terputus setelah Gagah memberikan ancaman.


Kata-kata ancaman yang diucapkan Gagah membuat Rey mendengus kasar. Tentu saja dia tidak ingin dilarang bertemu dengan Luna. Dia juga masih penasaran dengan informasi tentang Joice. Apa yang dimaksud dengan Joice berselingkuh? Dan apa yang sudah dilakukan Joice pada Luna dan Airin hingga membuat Gagah murka.


Rey segera menghubungi Joice, secepatnya ia ingin mengkonfirmasi pada Joice soal aduan yang disebutkan oleh Gagah tadi.


"Halo, Honey." Suara Joice terdengar di telinga Rey saat panggilan teleponnya tersambung.


"Di mana kamu sekarang, Joice?" Nada suara Rey terdengar tak ramah.


"Aku sedang di jalan, Honey." jawab Joice, "Ada apa?" tanyanya kemudian.


"Apa kamu bertemu dengan Airin dan Luna? Apa yang kamu lakukan pada mereka?" selidik Rey.


"Apa mantan istrimu itu mengadu?" tanya Joice, tak merasa bersalah.


"Kamu apakan mereka?" tanya Rey dengan nada tinggi.


"Benar dia mengadu padamu? Dia masih menghubungi kamu?" Joice kini berprasangka jika Rey dan Airin masih saling berkomunikasi.


"Suaminya yang menghubungiku. Dia mengancam akan melarangku bertemu Luna jika kau terus mengusik Airin dan Luna." Rey menyebutkan kenapa dia marah pada Joice.


"Kamu ini bo doh sekali! Kamu itu berhak atas Luna, kamu Papa kandungnya, kenapa kamu malah takut dengan ancaman dia? Kamu laporkan saja dia karena melarang kamu bertemu dengan anak kandung kamu sendiri." Joice mencibir Rey bahkan menyuruh Rey menantang Gagah.


Rey mengusap kasar wajahnya, benar yang dikatakan oleh Joice, dia bisa melaporkan Gagah karena dianggap menghalanginya bertemu dengan putri kandungnya sendiri.


"Apa kamu berselingkuh di belakangku, Joice?" Kini Rey menyinggung soal perselingkuhan Joice yang dituduhkan oleh Gagah.


"A-aku berselingkuh? Siapa yang bilang seperti itu, Honey? Mana mungkin aku selingkuh." Tentu saja Joice tidak akan mengakui perselingkuhannya pada Rey sebab dia masih memanfaatkan pundi-pundi kekayaan Rey untuk memenuhi kebutuhan gaya hidupnya. Meskipun dia juga bisa mendapatkan hal itu dari pria selingkuhannya, namun jika dia bisa memanfaatkan dua-duanya, kenapa harus ada yang dilepas. Seperti itulah prinsip hidup seorang Joice.


"Apa kamu tidak sedang membohongiku, Joice?" Rey masih curiga terhadap Joice, sebab yang berbicara padanya adalah seorang Gagah Prasetyo, tidak mungkin Gagah melemparkan tuduhan tanpa ada bukti yang jelas.


"Ya ampun, Honey. Kenapa kamu berpikiran aku selingkuh? Siapa yang memfitnah aku seperti itu?" Joice masih saja berkilah jika dia tetap setia pada Rey.


"Kamu tahu, Joice!? Karena kamu. rumah tangga aku dengan Airin berantakan. Jadi, jangan sekali-kali bermain api di belakangku!" geram Rey emosi.


"Karena aku? Bukankah kamu sendiri menikmati kebersamaan kita selama ini? Kenapa kamu malah menyalahkan aku yang menjadi penyebab rumah tangga kamu berantakan!?" Tak terima dikatakan penyebab rumah tangga Rey dan Airin hancur, Joice melawan dengan bicara dengan nada menyentak.


"Siapa yang sudah menyebarkan berita tidak benar kepada kamu? Dan kamu lebih percaya pada dia daripada aku?" Joice kini justru menekan Rey.


"Ya sudah, kita bicarakan ini nanti kalau kita ketemu." Rey langsung memutus sambungan teleponnya dengan Joice.


Rey menghempas nafas panjang. Bo dohnya dia tidak bisa melawan Joice. Justru dia terbelenggu pada wanita itu dan tak bisa melepaskan diri dari Joice.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading❤️


__ADS_2