
Airin terasa berat menjawab pertanyaan Gagah saat pria itu menanyakan soal perjodohan yang direncanakan keluarga Gagah dengan keluarganya.
Mungkin jika dia seorang gadis, yang belum pernah menikah, akan senang hati dia menerima Gagah, seorang pria tampan, berasal dari keluarga terpandang dan mempunyai karir yang sangat cemerlang sebagai seorang CEO di sebuah perusahan raksasa retail di tanah air. Namun, saat ini dia baru saja berpisah dari mantan suaminya. Masih berat baginya menerima cinta baru saat ini. Apalagi pria yang mengejarnya memiliki paras dan karir yang sangat lumayan, tentunya banyak wanita yang menginginkan menjadi pendamping. Dan Airin masih sangat takut mengalami penghianatan kembali.
"Maaf, Pak. Sekarang ini saya hanya ingin fokus mencari nafkah dan membesarkan anak saya." Airin kembali memberi alasan yang dia anggap dapat membuat Gagah mengerti.
"Apa kamu ingin menutup diri dari pria lain?" tanya Gagah, "Tidak ingin memberi kesempatan kepada pria lain untuk mendekatimu?" tanya Gagah.
"Saya hanya ingin mengatakan, tidak semua pria itu sama. Kamu tidak bisa memu kul rata jika semua pria itu seperti mantan suami kamu dulu," lanjut Gagah. Dia ingin Airin tidak menganggap semua pria sebreng sek Rey.
Airin terkesiap mendengar ucapan Gagah. Dari perkataan Gagah, sepertinya pria itu sudah tahu apa yang menjadi penyebab perceraiannya dan Rey. Airin menduga jika Tante Mira sudah menceritakan itu kepada Mamanya Gagah. Seketika itu Airin seperti kehilangan privacy nya.
"Saya tahu itu, Pak. Tapi, saya belum siap untuk menjalin hubungan kembali ..." Rasa trauma akan penghianatan pasti akan sulit untuk dihilangkan. Lagipula, tidak mudah untuknya kembali jatuh cinta pada pria lain, karena sebelumnya dia begitu mencintai Rey. Meskipun pernikahannya telah berakhir, terasa sulit baginya melupakan rasa cintanya terhadap Rey.
"Kapan kamu akan siap?" Airin seperti dito dong oleh Gagah dengan pertanyaan itu.
"S-saya, saya tidak tahu, Pak." jawab Airin.
"Oke ..." Gagah menjeda kalimatnya, namun matanya masih terus mengangumi wajah cantik wanita berstatus janda muda di hadapannya saat ini. Lalu, dia pun melanjutkan kalimatnya, "Tapi, itu bukan berarti kamu bisa melarang siapa pun yang akan mendekati kamu, kan?" Mungkin Gagah sudah terlanjur tertarik pada sosok Airin, sehingga dia bertekad ingin meluluhkan hati Airin dan siap membalut luka di hati Airin akibat pergkhianatan yang dilakukan oleh mantan suami Airin.
Gagah sungguh merasa konyol pada dirinya sendiri. Dulu dia bersikeras menolak Airin, bahkan dengan tegas mengatakan jika dia tidak menginginkan wanita yang pernah menjadi istri orang untuk menjadi miliknya. Namun, apa yang dilakukannya saat ini? Dia justru yang mengejar bahkan terkesan memaksa pada Airin.
"Saya tidak ingin mengecewakan orang lain. Sebaiknya tidak usah melakukan hal itu, Pak." Airin tidak ingin memberikan harapan palsu kepada Gagah ataupun pria lain yang mencoba mendekatinya.
"Apa kamu pikir penolakan kamu itu tidak membuat orang kecewa?" Gagah melempar alasan yang diberikan oleh Airin sendiri.
Airin terdiam, dia tidak bisa menjawab pertanyaan Gagah. Dia hanya menyampaikan apa yang dia rasakan, namun kenapa pernyataan yang dia sampaikan justru menjadi boomerang bagi dirinya sendiri.
__ADS_1
"Airin, sebenarnya saya bukan tipe pria yang mudah jatuh hati pada seorang wanita. Tapi, sejujurnya, saat pertama kali berjumpa dengan kamu, saya merasa ada sesuatu dalam diri kamu yang menarik perhatian saya. Kamu berbeda dari wanita mana pun yang pernah saya temui." Gagah mengakui apa yang dia rasakan terhadap Airin.
Jantung Airin berdebar kencang saat Gagah mengungkapkan perasaan terhadapnya. Apalagi tanpa ragu, Gagah memuji dirinya. Entah Airin harus merasa senang, atau justru menjadi beban dengan ungkapan hati Gagah yang baru saja dia dengar.
"Saat ini kamu sudah tidak bersuami, Tidak ada yang salah dengan apa yang saya rasakan saat ini terhadap kamu. Saya akan tetap berusaha mendekati kamu, meskipun kamu mengatakan itu adalah hal percuma. Saya hanya ingin kamu memberi kesempatan kepada saya, untuk bisa lebih dekat dengan kamu." Gagah merasa sudah yakin dengan hatinya, sehingga meminta Airin tidak menutup pintu hati rapat-rapat terhadapnya.
"S-saya ...."
"Tidak perlu terburu-buru mengambil keputusan. Kita biarkan saja mengalir seiring berjalannya waktu. Tapi, saya mohon kamu jangan menolak jika saya ajak kamu keluar seperti ini, agar kita bisa mengenal satu sama lain." Gagah tahu tidak mudah bagi Airin menerima dirinya. Namun, dia ingin Airin memberikan kesempatan kepadanya.
"Permisi ...."
Obrolan Airin dan Gagah terjeda saat dua orang waitress datang membawakan pesanan Gagah juga Airin. Mereka lalu menyajikan makanan di meja.
"Mbak, saya minta air putih hangat di gelas, ya!" Gagah lalu minta waitress menyediakan permintaannya.
"Itu saja sudah cukup," sahut Gagah.
"Baik, Pak. Akan kami ambilkan. Permisi ..." Waitress itu menyusul temannya yang sudah lebih dahulu keluar room.
"Jangan dipakai dulu garpu dan pisaunya!" Gagah melarang Airin memakai peralatan makan terbuat dari stainless steel sampai pelayan kembali membawakan air hangat yang diminta Gagah.
"Direndam air hangat dulu sebelum dipakai, bahan stainless steel ini lebih aman daripada alumunium jika direndam air hangat." Setelah waitress datang mengantarkan segelas air hangat, Gagah lalu mencelupkan garpu dan pisau yang akan mereka pakai, lalu mengelapnya dengan tissue.
Airin mengerutkan keningnya melihat begitu apiknya Gagah memperhatikan begitu detail apa yang ingin digunakannya.
Airin memperhatikan Gagah yang menyantap makanan pesanannya setelah membaca doa terlebih dahulu. Dia pun akhirnya melakukan hal yang sama dengan Gagah.
__ADS_1
"Bagaimana rasa makanannya?" tanya Gagah kemudian setelah memyantap beberapa sendok makanan.
"Lumayan ..." sahut Airin. Mungkin karena Airin terbiasa dengan lidah masakan nusantara, dia menganggap makanan yang dia santap tidak senikmat soto, nasi rendang atau ayam geprek kesukaannya.
"Oh ya, siapa nama anakmu? Luna, kan? Luna siapa?" Kali ini Gagah mulai memberi pertanyaan seputar pribadi Airin.
"Aluna Noer Ramadhani." Airin menyebut nama panjang putrinya.
"Dia lahir bulan Ramadhan?" tanya Gagah mendengar kata Ramadhani.
"Iya." sahut Airin.
"Dia seumuran Ica, kalau mereka sering bertemu, mereka pasti akan saling akrab." Kalimat yang diucapkan Gagah seperti kode, jika Gagah ingin mengajak Luna dalam pertemuan berikutnya dengan Airin.
"Lain kali aku ingin mengajak anakmu juga jika kita pergi bersama." Niat Gagah langsung diutarakan pada Airin.
Bola mata Airin membulat mendegar niat Gagah. Pria itu sepertinya benar-benar ingin menaklukan hatinya.
"Oh ya, orang tua saya belum tahu jika kita sering bertemu. Biarkan saja, saya ingin mendekati kamu dengan cara saya sendiri tanpa campur tangan mereka," ungkap Gagah, tanpa dia ketahui jika kedekatan Gagah dan Airin sudah terendus oleh orang tua Gagah dan juga keluarga Airin.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading❤️