JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG

JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG
Minta Sarapan


__ADS_3

Seperti biasa, setiap pagi hari selepas sholat Shubuh, Airin selalu ikut menyiapkan menu masakan untuk sarapan pagi keluarga suaminya. Airin tidak ingin hanya berpangku tangan meskipun dirinya saat ini sudah menjadi salah satu majikan di rumah itu.


Menyiapkan menu sarapan untuk anggota keluarga sudah sering ia lakukan sejak remaja. Selalu membantu ibunya di dapur membuatnya terbiasa melakukan aktivitas tersebut, hingga membuatnya tidak canggung harus bergelut dengan aktivitas di dapur.


Kebetulan pagi ini Luna sudah bangun, dan ingin menemani aktivitas sang Mama memasak, sehingga Airin membawa Luna bersamanya ke dapur.


"Luna duduk di sini saja, jangan ke mana-mana!" Airin mendudukkan Luna di meja dengan memberikan peralatan dapur untuk bermain Luna, Tak ada salahnya mengenalkan Luna dengan semua perlengkapan dan peralatan yang ada di dapur, karena sebagai seorang wanita itu sangat berguna jika Luna dewasa kelak.



Kehadiran Luna di dapur tentu saja membuat suasana dapur rumah keluarga Prasetyo itu lebih ramai. Celetukan polos Luna selalu mengguncang tawa Airin juga Bi Darsih dan Bi Junah yang ada di dapur pagi ini.


"Lho, ada Luna di sini?" Widya yang muncul di dapur terkejut saat melihat keberadaan Luna di dapur rumahnya.


"Iya, Ma. Tadi Luna sudah bangun dan minta ke dapur. Mau menemani Mamanya masak bilangnya." Dengan senyuman di bibirnya, Airin menceritakan tentang permintaan anaknya itu.


"Wah, anak pintar ... pasti nanti kalau sudah besar pandai memasak seperti Mama Airin, ya?" Widya menghampiri Luna, tangannya lalu mengusap kepala bocah itu.


"Luna mau bikin apa?" tanya Widya, mengajak Luna berbincang.


"Mau bikin bolu, Nek." jawab Luna.


"Boleh Nenek bantu, tidak?" tanya Widya yang sudah menganggap Luna seperti cucunya sendiri.


"Ndak, Nenek duduk aja di citu!" Luna melarang Widya ikut membantunya,


"Kenapa Nenek tidak boleh membantu Luna?" tanya Widya dengan kening berkerut.


"Nanti Nenek cape, kacian. Luna cama Mama aja yang macaknya." Luna memberikan alasan kenapa ia melarang Widya yang membantunya.


"Masya Allah, anak pintar." Widya mengecup kening Luna karena jawaban yang diberikan Luna membuatnya sangat terharu. Sejak kecil Luna sudah menanamkan kepedulian kepada orang yang lebih tua.

__ADS_1


Widya yakin jika apa yang diajarkan pada Luna adalah ajaran yang diterapkan Airin terhadap putrinya itu. Sepertinya Widya tak merugi memilih Airin menjadi menantu keluarga Prasetyo, sebab Airin mengajarkan kebaikan pada Luna. Ia yakin, jika Airin mempunyai anak dari Gagah pun, Airin akan mengajarkan hal yang sama seperti apa yang diajarkan kepada Luna.


Sementara di kamar Gagah, pria itu baru saja keluar dari kamar mandi setelah membersihkan tubuhnya, ketika bunyi ponselnya berdering. Gagah mengurungkan niatnya mengenakan pakaian dan berjalan menghampiri nakas untuk mengambil ponselnya tersebut.


Guratan langsung terlihat saat ia menautkan kedua alisnya. Nama yang tertera di layar ponselnya saat ini adalah nama Farah, istri dari Bintang Gumilang. Gagah merasa penasaran, apa yang membuat Farah menghubungi saat ini? Tidak biasanya istri dari pemilik mall yang ia kelola itu meneleponnya seperti saat ini. Apakah ini ada hubungannya dengan Florencia? Setelah beberapa hari tak ada gangguan dari wanita itu, apakah akan muncul kembali masalah yang ditimbulkan oleh Florencia? Hal-hal seperti itu yang kini berkecamuk di pikiran Gagah.


"Selamat pagi, Bu Farah." Tak ingin terus-terusan menduga-duga, Gagah langsung menerima panggilan telepon tersebut.


"Selamat pagi, Gagah. Maaf jika ibu mengganggu kamu pagi-pagi sekali," sahut Farah dari seberang.


"Tidak apa-apa, Bu. Apa ada hal penting yang ingin Ibu sampaikan kepada saya, Bu? Apa Pak Bintang baik-baik saja?" tanya Gagah menanyakan kabar Bintang Gumilang. Dia juga khawatir dengan kondisi Bintang Gumilang yang sering mengalami drop.


"Begini, Gagah. Bapak ingin bertemu dengan kamu. Jika ada waktu, apa kamu bisa datang ke rumah hari ini?" Farah menanyakan kesediaan Gagah untuk bertandang ke rumahnya karena ada hal yang perlu dibicarakan.


"Baik, Bu. Nanti saat istirahat saya akan menemui Pak Bintang, atau ... mungkin sebelum berangkat ke kantor saya akan ke sana." Gagah bersedia datang menemui Bintang Gumilang kapanpun dibutuhkan sebagai konsekuensi dirinya menjabat CEO di perusahaan milik Bintang Gumilang tersebut.


"Nanti saja waktu istirahat kamu kemari Gagah." Mengingat pagi hari pasti Gagah akan ditunggu dengan pekerjaannya, Farah meminta Gagah untuk datang ke rumahnya saat istirahat makan siang.


"Terima kasih, Gagah. Itu saja yang ingin Ibu sampaikan. Maaf sudah mengganggu kamu pagi-pagi begini." Farah tetap berucap dengan nada yang sopan meskipun orang yang ia ajak bicara adalah orang yang bekerja di perusahaan milik suaminya.


"Tidak apa-apa, Bu Farah." sahut Gagah.


"Kalau begitu Ibu tutup dulu teleponnya, ya," pamit Farah.


"Baik, Bu. Selamat pagi ..." Gagah lalu meletakkan kembali ponselnya di atas nakas setelah hubungan teleponnya dengan Farah terputus.


Gagah menghela nafas panjang. Entah apa yang akan dibibicarakan oleh Bintang terhadapnya. Namun, ia tidak ingin terlalu memikirkan hal tersebut.


"Kok, belum berpakaian, Mas?" Airin yang masuk ke dalam kamar merasa heran karena suaminya masih bertelan jang dada, menggunakan handuk yang dililitkan pada perut berkotak-kotak, berdiri di dekat nakas dan tidak segera memakai baju yang sudah ia siapkan di tepi tempat tidur besar mereka.


Gagah menoleh ke arah pintu. Satu sudut bibir melengkung saat melihat Airin berjalan masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


"Apa kamu mau memakaian pakaianku?" Gagah mulai melontarkan pertanyaan nyeleneh.


Airin mendelik mendengar ucapan suaminya. Dia tahu jika suaminya itu sengaja menggodanya. Dia pun lalu mengambil pakaian Gagah lalu memberikannya pada Gagah.


"Cepat berpakaian, Mas. Papa sama Mama sudah di ruang makan," ucap Airin, lalu melangkahkan kaki ingin meninggalkan kamar.


"Kenapa tidak menunggu suamimu berpakaian dulu?" Gagah menarik lengan Airin, menghalangi langkah Airin yang menjauh darinya.


"Hmmm, Mas, Aku tidak enak sama Papa dan Mama yang sudah menunggu di ruang makan." Airin meminta Gagah melepaskan tangannya.


"Tunggulah di sini sampai aku selesai berpakaian jika kamu tidak ingin membantuku berpakaian." Gagah menyuruh Airin duduk di tepi tempat tidur, "Jangan pergi dari hadapanku!" Gagah lalu berdiri di depan Airin. Pertama yang ia lakukan adalah ingin melepas handuk yang melilit di perutnya yang sejak tagi menutupi alat tempurnya.


"Astaga, Mas. Nanti Luna lihat." Airin terbelalak melihat aksi tak seno noh suaminya. Dia pun lalu bangkit ingin kabur dari hadapan Gagah namun Gagah lagi-lagi menghalanginya.


"Luna bersama dengan Mama, kan? Jadi ini cukup aman." Gagah memaksa Airin untuk duduk kembali. Dia melanjutkan aksinya menanggalkan handuk dari tubuhnya.


Airin. segera memalingkan wajahnya saat Gagah berhasil melepas handuknya itu. Meskipun ia sudah pernah melihat bentuk milik suaminya, bahkan begitu merasakan nikmatnya dimasuki bagian tubuh Gagah itu di intinya. Namun ia sangat malu secara sengaja melihat bagisn itu itu dalam keadaan sadar. Sebab jika bergumul di atas ranjang, kadang dia sudah diselimuti hasrat dan ga irah mengalahkan rasa malunya.


"Kenapa berpaling? Bukankah kamu selalu menikmati kalau dimasuki ini?" Tangan Gagah menyentuh harta berharga miliknya itu hingga kini terbangun menegang.


"Minta sarapan, nih! Kamu harus tanggung jawab!" Gagah mendekatkan miliknya yang berposisi sejajar dengan mulut Airin. Seringainya langsung terbit di sudut bibir pria itu, tak mempedulikan mata Airin yang melotot ke arahnya.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2