JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG

JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG
Membuat Adik Bayi


__ADS_3

Suara Luna yang berteriak memanggil Gagah dan Airin, ditambah ketukan pintu membuat aktivitas yang dilakukan oleh pasangan pengantin baru itu mendadak terhenti. Padahal mereka berdua sama-sama menikmati sentuhan yang mengundang ga irah bercinta.


Airin bahkan mendorong tubuh Gagah, memaksa melepaskan diri dari rengkuhan tangan kekar pria yang sudah resmi menjadi suaminya itu. Ia lalu berlari ke arah pintu untuk membuka pintu untuk Luna. Dia tidak ingin anaknya curiga jika mereka sedang bermesraan.


"Mama napa pintunya dikunci, cih?"


Ketika daun pintu terbuka, Luna langsung memberikan pertanyaan kepada Mamanya dengan heran, karena ia tidak pernah melihat pintu kamar dikunci oleh Airin sebelumnya.


"Hmmm, pintunya tidak terkunci, kok. Luna 'kan memang tidak bisa membuka pintu sendiri." Untung saja Airin menemukan jawaban yang tepat, karena Luna memang selalu kesulitan menarik handle pintu jika tidak dibantu.


"Mama cama Papa cedang apa?" Luna menengadahkan kepalanya menatap ke Mamanya.


"Mama ..." Airin melirik ke arah Gagah yang sedang mengusap bibir dengan jari tangannya, sepertinya pria itu masih merasakan manisnya bibir Airin di bibirnya.


"Mama mau istirahat, Luna. Soalnya Mama capek sekali." Airin memijat pundaknya, untuk meyakinkan anaknya, jika dirinya benar sedang kelelahan.


"Papa, katanya Luna bobo di lumah besal Nenek Wida, napa kecini lagi?" Luna mempertanyakan kenapa dirinya kembali ke rumah Om Fajar, padahal Gagah menjanjikan dirinya akan pindah ke rumah orang tua Gagah.


"Iya, nanti kita akan tinggal di sana. Tapi, Papa sama Mama ada keperluan harus pergi beberapa hari. Jadi, sementara ini Luna bobo di rumah Kakek Fajar dulu." Gagah mendekat ke arah Luna lalu menaikkan tubuh Luna seperti biasa di lengannya.


"Papa cama Mama mau pelgi ke mana? Luna ikut ..." Tidak mudah bagi Luna menerima kepergian Airin dengan Gagah.


"Papa sama Mama mau pergi ke tempat khusus orang dewasa. Anak kecil tidak boleh ikut ke sana. Nanti, setelah Papa sama Mama pulang, baru kita akan rumah Kakek Pras sama Nenek Widya." Mencoba memberi pengertian kepada anak sambungnya itu, Gagah berharap, Luna dapat mengerti.


"Tempat olang dewasa apa cih, Pa?" tanya Airin kritis.


"Hmmm, tidak ada anak-anak di sana," sahut Gagah.


"Tapi, Luna mau ikut, Pa." Luna tetap merengek ingin minta ikut.


"Luna ingin punya adik bayi tidak?" tanya Gagah.


Airin terbelalak mendengar ucapan Gagah yang tiba-tiba menyinggung tentang adik bayi untuk Luna. Tatapan matanya pun kini mengarah kepada Gagah yang menyeringai dengan mengerlingkan mata padanya.


"Mau, Pa. Luna mau punya dedek bayi." Wajah Luna seketika berbinar mendengar Gagah menawarkan adik bayi untuknya.


"Bial teman Luna banyak. Bial Mona cama Lola ada teman dedek bayi." Betapa senangnya Luna membayangkan jika ada penghuni baru yang akan menjadi temannya selain kedua boneka yang diberikan Gagah untuknya.


"Papa sama Mama pergi itu karena mau bikin adik bayi untuk Luna." Menganggap Luna akan melunak, dengan perkataannya, Gagah menggunakan alasan tersebut untuk membujuk Luna agar tidak terus merengek ingin ikut.


"Mas ..." Airin menegur Gagah, karena Gagah memakai alasan yang nyeleneh menurutnya.


"Papa cama Mama mau kacih Luna dedek bayi?" tanya Luna kemudian.


"Iya, makanya Luna tidak bisa ikut sama Papa sama Mama pergi. Kalau Luna ikut, Papa sama Mama tidak bisa kasih Luna adik bayinya," tutur Gagah kembali.


Airin memijat pelipisnya mendengar Gagah terus saja berbicara tentang rencana membuat adik untuk Luna. Sementara warna wajahnya sudah seperti kepiting rebus membayangkan tentang aktivitas yang terus saja disebut Gagah berulang-ulang itu. Airin sampai melupakan kekesalan hatinya karena ucapkan Tante Jehan yang tadi sempat membuat hatinya sedih.


***


Lewat jam delapan malam, Gagah dan Airin akhirnya meninggalkan rumah Om Fajar. Karena Airin dan Gagah harus membuat Luna tertidur terlebih dahulu. Walaupun Luna sudah menyetujui kedua orang tuanya itu pergi, nyatanya ketika Gagah dan Airin berpamitan, bocah itu kembali merengek minta ikut.


Airin sendiri sebenarnya berharap agar rengekan Luna bisa menunda rencana menikmati bulan madu mereka di hotel. Tapi, tentu Gagah tidak ingin rencananya menikmati malam pertamanya sebagai pengantin baru terhalang hanya kerena rengekan Luna.


Tiga puluh menit kemudian, mereka berdua sudah tiba di sebuah kamar hotel yang sudah Gagah pesan sebelumnya.


Ketika pegawai hotel membukakan pintu kamar, aroma terapi musk langsung menyeruak ke dalam penciuman mereka. Pihak hotel tentu sudah tahu, apa yang cocok untuk pengantin baru seperti Gagah dan Luna.


"Silahkan, Mas, Mbak." Petugas hotel mempersilahkan pengantin baru itu untuk masuk ke dalam kamar. Dan setelah menyerahkan kunci kepada Gagah, petugas hotel meninggalkan Gagah dan Airin.


Gagah segera mengunci pintu kamar hotel pesanannya, dan membiarkan kunci itu menggantung di lubangnya. Dia lalu berdiri di belakang Airin, Tangannya tiba-tiba menutup mata Airin,

__ADS_1


Airin terkesiap saat Gagah menutup matanya dengan tangan pria itu.


"Mas ..." Airin mencoba mengurai tangan Gagah yang menutupi pandangannya.


"Sssttt ..."


Hembusan hangat nafas Gagah di telinga Airin membuat bulu kuduk Airin seketika berdiri tegak. Apalagi saat Gagah merapatkan tubuhnya ke punggung Airin, hingga aroma maskulin tubuh Gagah yang mulai familiar tercium tajam di hidungnya. Gagah mengarahkan Airin berjalan ke arah ruang tidur pengantin.


"Mas ..." Jantung Airin semakin berdebar kencang. Dia yakin jika Gagah telah menyiapkan sebuah kejutan untuknya. Aroma terapi yang mampu membangkitkan gai rah untuk bercinta menyaingi aroma maskulin tubuh Gagah, saat Airin semakin mendekat dengan ruangan tidur hotel.


Gagah akhirnya menjauhkan tangannya dari mata Airin, hingga Airin kini dapat melihat jelas apa yang ada di hadapannya saat ini.


Taburan kelopak mawar merah di karpet menuju arah spring bed yang sudah dihias dengan sepasang angsa yang dibuat dari handuk, dan dua gelas lilin aroma terapi, juga kelopak mawar merah bergambar hati. Sementara di sebelah kiri tak jauh dari spring bed terdapat jacuzzi yang dipenuhi kelopak mawar menutupi permukaan air. Benar-benar terasa romantis suasana kamar hotel tersebut.


Airin mendesah, hal seperti ini bukan pertama kali ia dapatkan. Saat menikah dengan Rey pun, mereka mendapatkan fasilitas kamar pengantin meskipun tidak semewah yang dipesan Gagah kali ini.


"Apa kamu sudah siap, Nyonya?" Gagah berbisik di telinga Airin, menimbulkan gelenyar aneh di tubuh Airin, hingga Airin hanya sanggup menelan salivanya.


Gagah membelai dan mengumpulkan rambut Airin menjadi satu lalu mengikatnya, membiarkan leher jenjang Airin terekspos tanpa terhalang rambut coklat Airin.


"Kita sudah berjanji memberikan adik untuk Luna. Jadi, apa kamu siap membuatnya sekarang?" Bibir Gagah mulai menyapu, mulai dari tengkuk Airin yang membuat Airin kembali merinding. Lalu dilanjut mengabsen ceruk dan mulai asyik membasahi leher Airin dengan sapuan lidahnya.


Airin menggigit bibirnya, sedangkan tangannya meremas rok bagian bawah, demi menahan ga irah yang sudah mulai merayap di dirinya. Apalagi saat Gagah melingkarkan tangan di pinggang Airin, dan dengan satu gerakan tangannya, Gagah memutar tubuh Airin hingga kini berhadapan dengan suaminya itu.


Tanpa menunggu lama, Gagah menarik tengkuk Airin dan menyatukan kembali bibir mereka, mengulang seperti yang mereka lakukan di kamar Airin sebelum kemunculan Luna. Gagah begitu bernafsu menguasai bibir Airin, apalagi Airin pun membalas pagutannya, hingga suara decapan lah yang kali ini terdengar memenuhi ruangan kamar itu.


Gagah mulai meningkatkan sentuhannya. Tangannya kini mulai nakal meremas bo kong sek si Airin yang nampak kencang. Secara perlahan tangannya bergeser menyusup ke punggung dan mulai melepas pengait BRA yang dikenakan oleh Airin.


Suara de sahan mulai terdengar dari mulut Airin di sela-sela pagutannya dengan Gagah, saat tangan Gagah mulai meremas bagian dadanya. Sedangkan bibir Gagah masih terus merasakan manisnya bibir Airin.


Gagah kini meloloskan pakaian atas Airin dari kepala dan melemparnya ke sembarang tempat, membuat Airin saat ini bertelan jang dada. Tatapan mata dipenuhi gai rah kini mulai menguasai Gagah saat melihat pemandangan indah di depannya.


Gagah mengangkat tubuh Airin di antara lengannya. Merebahkan tubuh istrinya di atas tempat tidur. Dia lalu menjauhkan benda-benda yang ada di tempat tidur, menyisakan kelopak mawar yang dia biarkan ada di sana. Sementara Airin menutupi bagian dadanya dengan tangan karena ia masih merasakan malu.


Gagah pun mulai menanggalkan pakaian yang ia kenakan hingga hanya menyisakan boxer yang menutupi alat tempurnya. Setelahnya, Gagah langsung mengungkung Airin dengan tubuh kekarnya. Kembali menautkan bibir mereka, membangkitkan gai rah hingga makin menggelora. Pria itu pun kemudian menjelajahi kedua bagian kembar di dada Airin, dan melepas rok bawah Airin.


Airin memejamkan matanya. Dulu, tiap kali Rey melakukan hal seperti ini, ia pun dengan nakal membalas dengan melepas apa yang dipakai oleh Rey. Tapi, kali ini ia benar-benar seperti seorang gadis yang belum pernah bersentuhan in tim dengan laki-laki. Airin masih merasa malu terhadap Gagah, padahal pria itu sudah menjadi suaminya.


Gagah turun ke bawah perut Airin, menikmati bagian yang masih tertutup kain dengan bibirnya, lalu jarinya menyusup ke dalam kain penutup bagian sensitif yang mulai lembab karena permainannya tadi.


Kepala Airin rasanya ingin pecah. Dadanya seolah ingin meledak, karena Gagah kini memainkan indera perasa di bagian inti Airin, setelah Gagah berhasil melepas kain terakhir yang menutupi tubuh Airin.


Suara de sahan terus keluar dari bibir Airin, bahkan tubuh Airin pun menggelinjang karena permainan Gagah yang begitu memabukkan baginya. Sensasi kenikmatan yang empat bulan lebih tidak dia rasakan, kini dia rasakan kembali meskipun dari orang yang berbeda.


Airin mengepal dan membuka telapak tangan beberapa kali dengan cepat, karena ia menahan serbuan ga irah yang semakin membuncah. Terkadang dia meremas dan menarik rambut Gagah, karena pria itu makin intens memainkan milik Airin.


Gagah menghentikan aksinya. Senyum tipis tertarik di sudut bibirnya mendapati wajah Airin yang memerah karena telah dipengaruhi has rat untuk bercinta yang begitu kuat. Tanpa dia menyadari jika warna wajahnya pun tak beda jauh dengan istrinya.


Melihat Airin tersengal mengatur nafas karena telah ia puaskan setelah pemanasan yang benar-benar membakar gai rah mereka berdua. Gagah lalu melepas kain penutup terakhir di tubuhnya, karena yang sejak tadi terbungkus seakan meronta ingin segera dikeluarkan untuk menemukan sarang yang diinginkannya.


Ketika Gagah mendekatkan miliknya ke permukaan inti Airin, ia menyempatkan diri membaca doa terlebih dahulu. Secara perlahan ia menyatukan tubuh mereka dengan memasuki inti Airin yang masih terasa sempit, meskipun wanita itu bukan perawan.


Airin menahan nafas, kemudian menekan salivanya saat ia merasakan benda yang masuk ke dalam intinya. Dia menatap Gagah yang juga menatapnya lekat, sementara milik Gagah terus bergerak di dalam intinya.


Berawal dari gerakan lembut hingga semakin lama Gagah meningkatkan gerakannya lebih cepat hingga akhirnya kepuasan itu sama-sama mereka dapatkan.


***


Gagah menatap Airin yang terkulai lemas setelah tiga ronde yang mereka jalani untuk mendapatkan kepuasan. Mereka layaknya pasangan pengantin baru yang menikmati malam pertama.


Buku jari Gagah mengusap pundak Airin. Baru pertama kali melakukannya dengan Airin membuatnya ingin terus mengulang aktivitas itu. Seketika itu senyuman terkulum di bibirnya, karena teringat apa yang dikatakan oleh Tegar tentang Airin.

__ADS_1


Gagah langsung mengerjapkan matanya karena mengingat Tegar membuatnya harus menjauhkan istrinya itu dari sang kakak yang tak pernah canggung memuji kesempurnaan fisik Airin.


Gagah kemudian bangkit dari tempat tidur. Ia memungut pakaiannya dan pakaian Airin yang tercecer lalu menaruhnya di sofa, Gagah lalu mengambil handuk dari koper kemudian ia melangkah ke kamar mandi.


Airin memperhatikan suaminya yang melangkah ke kamar mandi. Dia menduga Gagah ingin membersihkan senjatanya setelah pertempuran di ranjang tadi. Seperti ia pun akan membersihkan intinya dari sisa-sisa percintaan mereka.


Airin bangkit, ia mengambil baju tidur untuknya dan juga Gagah dari dalam koper. Dia bahkan belum sempat menaruh pakaian di dalam lemari karena saat tiba tadi, Gagah sudah langsung menggiringnya ke tempat tidur untuk melayani kebutuhan biologis sang suami. Airin pun mengambil pakaian yang tadi dipakai mereka berdua lalu melipatnya untuk dipisahkan dengan pakaian bersih lainnya.


Ceklek


Refleks Airin menoleh ke arah pintu kamar mandi ketika pintu itu dibuka. Terlihat sang suami keluar menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya. Membiarkan dada bidang dengan perut berkotak-kotak itu terekspoa untuk dilihat mata Airin.


Airin menelan salivanya. Tubuh kekar itu, tadi berhasil menguasainya. Wangi maskulin yang menguar dari tubuh Gagah bahkan menyaingi aroma terapi ruangan tersebut.


Airin mengerjapkan matanya, mencoba membuatnya tersadar, agar tidak terus membayangkan sentuhan-sentuhan Gagah tadi. Airin pun bergegas masuk ke dalam kamar mandi, sebelum ketahuan Gagah sedang membayangkan sentuhan yang dilakukan Gagah tadi.


Dari cermin yang ada di kamar mandi, Airin dapat melihat dua buah tanda merah di leher dan dekat tulang selangkanya. Airin segera membuka piyama bagian atasnya, ia ingin tahu apakah ada tanda-tanda itu di bagian tubuh lainnya.


Bola mata Airin membulat, karena ia banyak mendapati tanda itu di tubuhnya yang putih mulus.


"Astaga, apa-apaan ini?" Airin mendengus dengan menggelengkan kepala melihat hasil karya Gagah yang ditinggalkan di tubuhnya.


Selepas membersihkan intinya dan juga mencuci wajahnya dengan facial foam, Airin keluar dari kamar mandi.


"Kamu tidak mandi?" tanya Gagah, karena melihat rambut Airin masih kering.


"Mandi?" tanya Airin bingung, "Memang kenapa?" tanyanya kemudian.


"Kita baru saja bercinta dan berkeringat." Gagah mengatakan alasan kenapa harus mandi.


"Ini sudah malam, nanti saja sebelum subuh," jawab Airin. Seperti yang biasa dia lakukan dulu. Setelah bercinta dengan Rey, dia akan mandi membersihkan tubuhnya sebelum waktu Shubuh.


"Tapi kita tadi berkeringat, terasa lengket dan tidak nyaman. Biasakan tubuh kita bersih sebelum tidur. Aku sudah minta petugas hotel untuk mengganti sprei yang baru." Sebagai seorang yang perfeksionis, tentu Gagah selalu menerapkan pola hidup yang sehat.


Airin terbelalak mendengar kata-kata Gagah. Di saat mereka sedang menikmati berbulan madu, sempat-sempatnya Gagah memikirkan hal yang hampir jarang dipikirkan oleh pasangan pengantin baru lainnya. Airin tidak mengetahui jika suaminya seorang pria yang perfeksionis.


Airin mengendus tubuhnya. Tentu saja ia pun mencium aroma keringat di tubuhnya karena mereka bercinta sampai tiga ronde tadi.


"Ya sudah, saya tidur di sofa saja kalau begitu." Kesal karena sikap Gagah yang dia anggap berlebihan, Airin langsung berjalan ke arah sofa dan memilih tidur di sofa.


*


*


*


Bersambung ....


Nah, loh. Ga dapat jatah lagi tuh si Gagah😁


Happy Reading❤️


*


*


*


Bersambung ...


Happy reading ❤️

__ADS_1


__ADS_2