JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG

JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG
Kirimkan Pangeran Yang Baik Hati


__ADS_3

Bersama Gadis, Gagah mengikuti rapat rutin antar kepala cabang Bintang Departement Store sewilayah pulau Jawa. Gagah sengaja meminta Gadis mengikuti rapat tersebut agar Gadis makin menguasai tugas-tugas sebagai direktur utama di sana.


Gadis sendiri memang serius mempelajari bagaimana cara Gagah bekerja, dalam mengambil keputusan dan memimpin para karyawannya. Usia muda tak menghalangi niatnya untuk meneruskan usaha Papanya.


Dalam rapat tersebut, Gagah memperkenalkan Gadis dan juga posisi yang dipegang oleh Gadis saat ini. Gagah juga meminta agar semua manager cabang perusahaan Bintang menghormati Gadis dan tidak meremehkan kapasitas Gadis dalam memimpin perusahaan besar itu kedepannya.


Hampir dua jam rapat tersebut berjalan, setelahnya Gagah kembali ke dalam ruangannya dengan Gadis yang mengikuti langkah Gagah.


"Ternyata pusing juga mengurus perusahaan, ya, Kak?" Gadis menghempaskan tubuhnya di sofa ruangan kerja Gagah seraya memijat pelipisnya.


Gagah terkekeh melihat Gadis yang mengeluh. Dia dapat memaklumi, sebab seusia Gadis memang seharusnya sedang menikmati masa remaja dengan bersenang-senang, bukan sibuk mikirkan omzet perusahaan dan lain-lainnya.


"Kenapa Papa tidak punya anak laki-laki, ya, Kak?" sesal Gadis mengeluh.


"Kamu jangan patah semangat seperti itu, Gadis. Kamu sudah berniat ingin membuat orang tua kamu bangga, kan? Pelajari saja semuanya dengan perlahan, karena jika otak kita terlalu dipaksakan dijejali ilmu, yang ada justru itu akan susah diterima oleh otak kita. Kamu harus lebih rileks, ikuti saja alurnya. Beberapa tahun ke depan, kamu pasti akan menguasai semuanya." Gagah berusaha menyemangati Gadis agar tidak putus asa.


Gadis menghempas nafas panjang, jika dia tidak kasihan pada Mamanya, mungkin bisa saja dia tidak mau perduli dengan urusan perusahaan, namun ia juga tidak ingin kedua Om nya yang nantinya menguasai perusahaan warisan sang Papa.


"Kalau saja Papa tidak punya saudara tiri, mungkin ceritanya akan berbeda. Aku, Mama dan Kak Flo akan membiarkan Kak Gagah yang terus menjadi CEO." Gadis merasa posisi kedua adik tiri Papanya lah yang berpotensi mengusik kenyamanan perusahaan sang Papa.


"Ambil hikmahnya saya. Kamu jadi bisa lebih mandiri. Kamu harus ingat Gadis, saya tidak mungkin selamanya di BDS, jika kamu terlalu mengandalkan saya, bagaimana jika suatu saat saya resign dari perusahaan?" Gagah mencoba mengingatkan Gadis, karena bagaimanapun juga posisi Gagah hanya sekedar orang lain dan tidak punya keterikatan permanen dengan Bintang Departement Store.


"Aku hanya berharap, suatu saat Tuhan mengirimkan seorang pangeran yang baik hati yang bisa membantuku melanjutkan usaha Papa." Gadis melambungkan harapannya.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu membuat perbincangan Gagah dan Gadis terhenti. Mereka berdua langsung menolehkan pandangan ke arah pintu dan melihat Dewi masuk ke dalam ruangan.


"Maaf, Pak. Ada yang mencari Bapak, namanya Haikal dari BDS Yogyakarta." Dewi memberitahukan kedatangan pria tang tidak dia ketahui jika pria itu adalah adik ipar Gagah.


"Oh ya, suruh masuk saja, Wi." ujar Gagah bangkit dari kursi kerjanya.


"Baik, Pak." Setelah mendapat persetujuan dari Gagah, Dewi kembali keluar untuk menyuruh masuk Haikal.


"Assalamualaikum, Kak." Ketika masuk ke dalam ruangan Gagah, adik ipar Gagah memberi salam dan menyalami Gagah dengan mencium tangan Gagah.


"Waalaikumsalam, silahkan duduk, Kal." Gagah mempersilahkan Haikal duduk di kursi di sebelah sofa Gadis.


Sementara Gadis memperhatikan Haikal dengan kening berkerut. Dia bertanya-tanya dalam hati, siapa Haikal? Dan apa hubungan Gagah dengan Haikal, sebab pria itu terlihat sangat menghormati Gagah sampai mencium tangan Gagah segala.


"Oh ya, Gadis. Kenalkan, ini Haikal, dia itu adik ipar saya, adik dari Airin." Gagah memperkenalkan Haikal kepada Gadis. Begitu juga mengenalkan Gadis kepada Haikal.


"Gadis ini anak dari Pak Bintang Gumilang dan sekarang ini yang menjabat sebagai Chief Executive Officer di BDS, Haikal. Jadi, biar kecil-kecil begini dia ini bos kamu." Gagah berseloroh diikuti dengan tawa kecil.


"Selamat siang, Bu. Saya Haikal." Mengetahui wanita muda di ruangan kakak iparnya itu adalah bosnya, Haikal dengan bahasa yang formal menyapa dan memperkenalkan dirinya.


"Bu? Aku tuh baru tubuh belas tahun, SMA saja belum tamat, kok dipanggil Ibu!? Memangnya aku sudah terlihat tua!?" protes Gadis sebab Haikal memanggilnya dengan sebutan 'Ibu'.


"Oh, maaf ..." Haikal langsung menyampaikan permohonan maaf pada Gadis, sebab Gadis terlihat tersinggung dengan ucapannya. Dia bingung harus menyebut Gadis dengan panggilan apa? Memang usia Gadis masih sangat muda, lebih muda darinya, namun dengan jabatan CEO yang disandang oleh Gadis, tidak sopan jika dia hanya menyebut hanya nama saja. Dan ia menganggap panggilan 'Ibu' adalah panggilan yang sopan untuk karyawan seperti dia kepada atasannya.


Sementara Gagah terkekeh menanggapi respon Gadis pada ucapan Haikal, lalu ia mencoba mengklarifikasi, "Haikal memanggil kamu Ibu, bukan karena kamu sudah terlihat, Gadis. Tapi sebagai penghormatan seorang pegawai kepada bosnya. Kamu lihat Pak Erlan, beliau berusia sepuluh tahun di atas saya, tapi beliau memanggil saya dengan sebutan Pak. Jadi ... tidak ada yang salah, kan?" Gagah menerangkan pada Gadis, agar Gadis tidak merajuk.


"Kalau Kak Gagah sudah menikah, sudah pantas dipanggil 'Pak', kalau aku 'kan masih muda, Kak!" Sikap kekanakan Gadis tiba-tiba saja muncul, hingga dia tetap keberatan dipanggil dengan sebutan 'Ibu'.


"Ya sudah, kalau kamu keberatan dipanggil Ibu, kamu inginnya dipanggil apa?" tanya Gagah dengan terkekeh, "Dipanggil Nona?" kelakarnya.


"Tidak mau!" Gadis bangkit, dengan wajah memberengut dia meninggalkan ruangan kerja Gagah, namun dia sempat melirik pada Haikal yang terlihat bingung dengan sikap Gadis.


"Kak, apa pekerjaanku akan bermasalah karena aku membuat dia kesal?" Gadis bahkan khawatir jika dirinya akan dipecat karena telah membuat Gadis marah.


"Tidak usah dianggap serius, maklum masih ABG, masih labil sikapnya." Gagah mengibas tangan ke udara menganggap kemarahan Gadis akibat efek wanita belia itu harus dibenahi pekerjaan yang belum waktunya diterima Gadis.


"Apa Kak Gagah tidak pusing menghadapi anak kecil seperti itu, Kak?" tanya Haikal.


"Sebenarnya baru kali ini aku lihat dia merajuk seperti itu, biasanya dia selalu bersikap dan berpikir dewasa. Mungkin dia sedang lelah, karena dia juga tadi sempat mengeluh, harus mengelola perusahaan di usia yang masih sangat belia. Sampai-sampai berharap didatangkan pangeran yang dapat membantunya mengurus perusahaan ini." Gagah menceritakan apa yang terucap dari mulut Gadis tadi dengan terkekeh.


"Kenapa tadi tidak ikut rapat, Kal?" tanya Gagah, sebab Haikal datang bersama Branch Manager BDS cabang Yogyakarta, namun tidak mengikuti rapat.


"Tidak enak, Kak. Itu di luar kapasitas saya," ujar Haikal. Haikal memang tidak sedang bertugas dan ingin menemui Airin di Jakarta, sebab itu dia diajak Branch Managernya untuk sekalian berangkat ke Jakarta. Sementara Branch Managernya tadi mengikuti rapat, dia sendiri menemui Tante Mira, setelah itu kembali ke kantor Gagah untuk menemui kakak iparnya.


"Ya sudah, setelah ini aku antar kamu bertemu kakak kamu." Gagah bangkit dan kembali ke meja kerjanya.


"Santai saja, Kak. Tidak usah buru-buru.." Tak enak dianggap merepotkan kakak iparnya, Haikal bersedia menunggu sampai Gagah benar-benar menyelesaikan tugasnya, sebab dia sendiri tidak akan kembali ke Yogyakarta hari ini.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, sekalian nanti pulang," sahut Gagah kemudian ia menandatangani berkas yang sudah disiapkan oleh Dewi ketika dia sedang mengikuti rapat tadi.


***


Luna berlari ke luar rumah saat melihat mobil Gagah berhenti di depan pekarangan yang cukup luas rumah Prasetyo. Dia ingin menyambut kedatangan Gagah di teras rumah, sementara Airin berjalan di belakanganya.


"Iihh, kok, Om Ikal?" Luna terkejut saat melihat kemunculan Haikal yang turun dari mobil Gagah.


"Halo, Luna." Haikal langsung menyambut keponakannya itu dan menggendong di tangannya.


"Assalamualaikum, Mbak." Haikal lalu mendekati Airin dan mencium tangan Airin sebagai bentuk rasa hormat terhadap kakaknya.


"Waalaikumsalam, sehat kamu, Kal?" Airin menanyakan kabar Haikal.


"Alhamdulillah, Kak." sahut Haikal.


"Assalamualaikum ..." Di belakang Haikal, Gagah muncul.


"Waalaikumsalam, Mas." Kini Airin yang mencium tangan Gagah. Lalu Gagah melingkarkan tangan di pundak Airin.


"Om Ikal kok' cama Papa?" Luna heran dengan kedatangan Haikal bersama Gagah, sebab dia tahu jika Haikal tinggal jauh darinya.


"Om Haikal ke sini untuk bertemu dengan Luna, soalnya Om Haikal kangen sama Luna," jawab Haikal, "Kalau Luna, kangen tidak sama Om Haikal?" tanyanya pada Luna.


"Kangen, Om." Luna merangkulkan tangannya di leher Haikal dan menempelkannya di pipi Haikal..


Tingkah Luna yang menggemaskan membuat Gagah dan Airin saling berpandangan dan tersenyum.


"Ayo, Luna. Om Haikal nya suruh masuk dulu." Gagah menyuruh Haikal masuk, sementara dia sendiri bersama Airin berangkulan masuk lebih dulu ke dalam rumah.


"Bapak Ibu sehat, Kal?" tanya Airin saat mereka sudah duduk di sofa tamu, sementara Gagah masuk ke dalam kamar untuk membersihkan tubuhnya terlebih dahulu sebelum bergabung bersama istri dan adik iparnya.


"Alhamdulillah sehat-sehat semua, Mbak. Mbak Airin sendiri gimana? Aura Mbak lebih terpancar sekarang, mungkin karena Mbak sangat bahagia hidup dengan Kak Gagah, ya?" Bahkan Haikal pun dapat melihat kebahagiaan kakaknya saat ini setelah menikah dengan Gagah.


Airin hanya tersenyum menanggapi perkataan sang adik. Dari senyuman itu dapat diartikan apa yang sedang dirasakannya itu.


"Aku senang melihat Mbak bahagia," lanjut Haikal.


"Om Ikal, Luna mau punya adik bayi." Kepada siapa pun Luna menceritakan tentang kehamilan Mamanya.


"Luna senang mau punya adik, ya?" tanya Haikal membelai kepala Luna.


"Cenang, Om." Luna menjawab dengan berbinar.


"Luna mau punya adiknya berapa?" tanya Haikal.


"Luna mau punya dua, Om." Luna menunjuk kedua dua jarinya kepada Haikal.


"Mbak Airin hamil kembar?" Haikal justru menanggapi serius ucapan Luna yang hanya asal menjawab.


Airin terkekeh karena Haikal terpengaruh ucapan Luna. "Tidak, kok, Kal."


"Oalah, aku pikir beneran anak kembar." Haikal tertawa karena terkecoh dengan ucapan Luna.


"Lho, Haikal sudah datang?" Widya keluar dari arah ruang keluarga.


"Tante." Haikal bangkit dan menyalami Widya.


"Ibu Heny sama Pak Baskoro gimana? Sehat-sehat saja, Haikal?" tanya Widya ikut duduk dan bergabung berbincang dengan Airin dan Haikal.


"Alhamdulillah sehat-sehat semua, Tante." jawab Haikal.


"Syukurlah kalau begitu ..." ucap Widya, "Hmmm, Luna senang sekali ketemu Om Haikal, ya?" Melihat Luna bergelayut manja pada Haikal membuat Widya meledek Luna.


"Iya, Nek. Om Ikal 'kan Om nya Luna," sahut Luna dengan tingkah centilnya, membuat semua tertawa mendengar celotehan Airin.


"Kamu mau langsung pulang ke Jogya, Haikal?" tanya Widya.


"Tidak, Tante. Baru besok saya kembali," jawab Haikal.


"Ya sudah, kamu menginap di sini saja, Haikal. Di sini banyak kamar tamu." Kepada siapa saja keluarga dan kerabat Airin, Widya selalu menawarkan untuk menginap di rumahnya, apalagi Haikal adalah adik Airin.


"Terima kasih, Tante. Saya rencananya menginap di rumah Om Fajar," tolak Haikal dengan halus tak enak merepotkan keluarga kakak iparnya.

__ADS_1


"Di rumah Mira sama di sini sama saja, sudah di sini saja, nanti Tante yang bilang sama Mira kalau kamu menginap di sini." Widya terkesan memaksa membuat Haikal bingung.


Haikal menoleh ke arah Airin meminta persetujuan kakaknya dan Airin hanya mengedikkan bahu tak bisa berbuat apa-apa jika Mama mertuanya sudah berkehendak.


***


Gadis duduk di hadapan Gagah, memperhatikan pria itu yang sedang membaca isi proposal kerja sama dengan salah satu klien perusahaan BDS. Sebenarnya ada yang ingin ditanyakan oleh Gadis pada Gagah, namun ia seperti ragu untuk mengatakannya.


Gagah sendiri menyadari jika saat ini Gadis sedang memperhatikan dirinya sejak tadi. Namun ia lebih memfokuskan pekerjaan di depannya terlebih dahulu sebelum menanyakan apa yang sedang dalam pikiran Gadis.


Gagah tentu tidak ingin tatapan Gadis kepadanya mempunyai arti negatif. Jangan sampai Gadis menyukainya seperti Florencia karena mereka sering bertemu.


"Kak ..." Gadis mulai bersuara.


"Ya, ada apa?" Gagah menolehkan pandangan dari kertas pada Gadis.


"Adik ipar Kak Gagah itu karyawan BDS juga?" Ternyata yang sejak tadi ingin ditanyakan Gadis adalah tentang Haikal.


Kening Gagah mengeryit mendengar pertanyaan Gadis yang di luar dugaannya. Dia tidak menyangka jika Haikal lah yang membuat Gadis sejak tadi memperhatikannya. Kecurigaan pun mulai menyeruak di hatinya, hingga membuatnya berpikir jika kehadiran Haikal kemarin menyita perhatian Gadis.


Gagah tersenyum lalu bertanya, "Kenapa tiba-tiba menanyakan Haikal?" Gagah iseng menggoda Gadis.


Gadis mengerjapkan mata menyadari jika Gagah sedang menyelidikinya.


"Hmmm ... M-memang ada yang salah dengan pertanyaan aku?" Gadis grogi menjawab pertanyaan Gagah.


"Tidak, sama sekali tidak ada. Saya hanya ingin tahu, kenapa kamu tiba-tiba menanyakan Haikal? Apa kamu ingin memecat dia?" Gagah justru kembali menggoda Gadis.


"Memang salah dia apa sampai harus aku pecat?" Gadis membuang pandangan ke arah lain, tak ingin menatap Gagah yang terlihat tersenyum meledeknya.


"Sebab kamu kemarin marah pada Haikal hanya karena dia memanggil kamu 'Ibu'," ucap Gagah.


"Tidak, biasa saja, kok!" tepis Gadis dengan mengedikkan bahunya.


Gagah terkekeh melihat Gadis yang salah tingkah.


"Haikal memang bekerja di BDS Jogya, sebagai salah seorang supervisor di sana." Tanpa ditanya lebih lanjut oleh Gadis, Gagah menceritakan tugas dan pekerjaan Haikal.


Sejak menikahi Airin, Gagah memang menaikkan posisi Haikal di perusahaan retail cabang Yogyakarta, namun dia tidak ingin terlalu mencolok memberikan posisi yang tinggi pada Haikal hanya karena Haikal adalah adik iparnya. Dia membiarkan Haikal berkembang dengan kemampuannya sendiri untuk bisa mendapatkan posisi yang lebih baik dari yang Haikal dapatkan sekarang.


"Kak Gagah memasukkan dia bekerja di BDS sana karena dia adik Kak Airin?" tanya Gadis curiga jika Gagah lah yang memberikan pekerjaan itu kepada Haikal.


"Dia sudah bekerja di sana sebelum saya mengenal istri saya. Jika kamu tidak percaya, kamu bisa cek ke kepala cabang di sana," tepis Gagah, meskipun ada sedikit campur tangan Gagah hingga Haikal mendapat posisi supervisor.


"Mau ada lagi yang ingin ditanyakan?" Dengan menyeringai, Gagah bertanya meledek, "Mau tanya Haikal udah menikah atau belum? Sudah punya pacar atau masih jomblo?" tanyanya kemudian.


Gadis terbelalak mendengar Gagah yang jelas-jelas meledeknya. Dia lalu bangkit dari kursi di hadapan meja Gagah.


"Apa perlunya aku tanya begitu?" Gadis berganti pindah duduk di sofa. Gadis tidak mau Gagah melihat semu merah yang tiba-tiba saja membias di wajahnya.


Gagah kembali terkekeh. Tingkah Gadis saat ini sangat mirip dengan sikap Airin jika sedang ia goda, hingga dia berpikir jika semua wanita akan bersikap sama jika sedang jatuh cinta.


"Kamu sudah punya pacar, Gadis?" tanya Gagah kemudian.


Gadis menatap Gagah ketika Gagah menanyakan hal pribadi kepadanya. Dia pun curiga jika Gagah ingin mendekatkan dirinya dengan Haikal.


"Kenapa tanya itu? Apa Kak Gagah berniat menjodohkan aku dengan adik Kak Gagah itu?" tanya Gadis curiga.


Gagah tertawa lebar, sepertinya dia cukup puas meledek Gadis. Gagah merasa seperti sedang bercanda dengan adik sendiri, karena memang seperti itulah dia selama ini menganggap Gadis juga Florencia, seperti adik sendiri, hanya saja kemarin Florencia salah mengartikan sikapnya.


"Saya hanya bertanya sudah punya pacar belum? Kenapa kamu berasumsi sejauh itu? Atau, jangan-jangan kamu tertarik dengan Haikal dan ingin saya jodohkan dengan dia?" Gagah tak henti menggoda Gadis, meskipun ia yakin tidak mungkin juga Gadis mau dijodohkan dengan Haikal, karena tidak semua orang sepemikiran dengannya yang dapat menerima Airin dengan status janda yang disandang Airin kala itu dan juga status ekonomi keluarga Airin yang jauh jika dibanding status sosial keluarganya.


"Apaan, sih!? Kak Gagah ngaco, deh!" Menyadari dirinya akan terpojok jika terus berada dalam ruangan Gagah memilih bangkit dari sofa dan berjalan ke luar dari ruangan kerja Gagah. Sementara Gagah masih terus tertawa melihat Gadis yang kabur karena terus-terusan ia ledek.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading ❤️

__ADS_1


__ADS_2