
Airin menolehkan pandangan ke Ayuning yang baru saja berbisik padanya. Dia terheran, kenapa Ayuning bisa berpikir jika Gagah sengaja ke area permainan anak karena ada dirinya, padahal pertemuan mereka itu terjadi tanpa sengaja.
" Tidak, kok, Mbak! Kami kebetulan saja bertemu," tepis Airin, tak ingin membuat Ayuning salah paham.
" Oh gitu ...."
Airin melihat senyuman terkulum di bibir Ayuning, entah kakak ipar Gagah itu percaya atau tidak dengan yang baru saja dikatakannya tadi.
" Kalau begitu, kita mengobrol saja sambil makan, yuk!" Ayuning lalu mengajak Airin dan Gagah untuk melanjutkan komunikasi di tempat lain.
" Hmmm, maaf sekali, Mbak. Saya sudah ditunggu teman di luar." Airin langsung menolak, karena dia memang tidak ingin berada di dekat Gagah lebih lama.
" Yaaahh, sayang banget, dong!" Ayuning menyesalkan penolakan Airin terhadap tawarannya.
" Maaf, ya, Mbak. Soalnya mereka sudah menunggu." Airin lalu mengangkat tubuh Luna untuk dia gendong di lengannya. " Saya permisi duluan, Mbak. Assalamualaikum ..." Airin langsung berpamitan daripada dia dipaksa ikut dengan Ayuning dan Gagah.
" Waalaikumsalam ..." sahut Ayuning terpaksa melepas Airin.
Airin bergegas meninggalkan Ayuning dan Gagah setelah berpamitan. Dia merasa seperti lolos dari lubang jarum setelah berhasil meninggalkan kedua orang itu.
Sementara Gagah memperhatikan punggung Airin yang berjalan semakin menjauh darinya. Dia merasa jika Airin sengaja ingin menghindar darinya, karena dia tadi mendengar sendiri jika Lilinana dan Ambar sudah berpamitan pada Airin dan tidak menunggu Airin.
" Kamu tadi sempat berbincang dengan Airin, Gah?" tanya Ayuning pada Gagah.
Gagah menoleh ke arah Ayuning. Dia merasa kakak iparnya seperti sedang berusaha mengorek informasi darinya.
" Sekedar menyapa saja." Gagah lalu menoleh ke arah Clarissa. " Ica ada di sana. Aku tinggal dulu." Gagah lalu berlalu meninggalkan Ayuning dan area permainan anak.
" Pelit sekali bercerita," gerutu Ayuning sambil merogoh tasnya untuk mengambil ponsel miliknya. Sepertinya dia wajib mengabari Mama mertuanya, jika dia bertemu Airin dan Gagah sedang berada di tempat yang sama. Dia merasa itu adalah kabar baik yang harus disampaikan pada Widya.
***
Selepas mengeloni Luna tidur, Airin mengecek ponselnya yang sejak tadi berbunyi. Dia memang mengacuhkan bunyi pesan yang masuk di ponselnya sebelum putrinya itu tertidur. Setelahnya, barulah dia akan melihat siapa yang mengirimkan pesan ke ponselnya.
__ADS_1
Airin melihat beberapa pesan masuk di grup rumpi yang beranggotakan dirinya, Liliana juga Ambar. Dia yakin, kedua sahabatnya itu pasti akan membahas soal Gagah.
" Rin, kamu tidak mau cerita ke kami, Gagah itu siapa?" Itu pesan pertama yang masuk dari Ambar.
" Mas Sonny bilang kalau anak kecil yang bersama Gagah itu kayak yang akrab sama kamu, lho! Masa iya, sekedar nasabah tapi bisa sampai akrab ke ponakannya segala? Curiga aku, nih!" lanjut pesan dari Ambar.
" Wah, tidak asyik banget pakai rahasia-rahasian segala kamu, Rin! Sudah tidak anggap kami teman lagi?" Di bawahnya, Liliana pun ikut berkomentar.
" Iya, nih! Dapat yang ganteng banget tidak mau cerita ke kita!" Ambar menimpali.
" Kalau kamu sudah tidak mau cerita dan sudah tidak menganggap aku dan Ambar sebagai sahabat, bubar saja grup ini!" Bahkan Liliana menebar ancaman.
Airin terbelalak membaca pesan bernada ancaman dari Liliana. Tidak mungkin dirinya tidak menganggap Liliana dan Ambar. Kedua sahabatnya itu sudah menemani dirinya dalam suka maupun duka.
Airin tidak terbuka soal sosok Gagah kepada kedua sahabatnya karena dia memang tidak mengharapkan berhubungan spesial dengan pria itu. Seandainya dia cerita soal rencana Widya dengan Tante Mira, dia yakin kedua sahabatnya itu pasti akan mendukung rencana Tantenya dan Mama Gagah.
Airin akhirnya mengetikkan balasan, " Aku tidak mungkin mengacuhkan kalian. Tapi, aku memang tidak ada hubungan apa-apa sama Pak Gagah." Airin menepis dan menjelaskan kepada kedua sahabatnya itu.
" Itu karena Ibunya Pak Gagah adalah sahabat lama Tante Mira." Airin akhirnya menerangkan siapa sosok Gagah itu.
" Mamanya Gagah temannya Tante kamu? Kamu ikut di rumah Tante kamu 'kan belum lama, tapi bisa akrab banget sama keponakannya Gagah itu, ya? Memang rumah kalian berdekatan?" Tak lama Liliana langsung merespon perkataan Airin dengan pertanyaan menyelidik bak detektif yang sedang mengintrogasi.
" Nah, benar, tuh! Pakai acara pandang-pandangan lagi. Yakin tidak ada apa-apa?" Ambar pun melayangkan pertanyaan yang menyangsikan pengakuan Airin tadi.
Airin mende sah, rasanya sulit sekali meyakinkan kedua sahabatnya itu.
" Kalau kamu masih tidak mau jujur ke kami, mulai sekarang, apa pun masalahmu, tidak usah curhat sama ke aku atau Ambar lagi! Persahabatan kita the end sampai di sini!!!"
Bola mata Airin kembali terbelalak dengan pesan terakhir Liliana, apalagi dengan tanda panah berjejer, menandakan sahabatnya itu sedang dalam mode marah besar.
" Aku setuju dengan Lili. Mulai saat ini aku akan blokir nomer kamu, biar tidak bisa menghubungi aku lagi!" Kali ini giliran Ambar yang menebar ancamannya.
Airin menggelengkan kepala menanggapi aksi temannya yang dia anggap terlalu berlebihan. Dia pun lalu membalas pesan kedua sahabatnya itu.
__ADS_1
" Ya ampun, kenapa kalian berlebihan seperti itu, sih? Aku sama Pak Gagah memang tidak ada hubungan apa-apa, kok." Airin masih mencoba menyangkal.
" Memang sih, Ibunya Pak Gagah itu kemarin mengenalkan aku ke dia, soalnya Pak Gagah itu masih belum menikah." Akhirnya Airin menjelaskan hal yang sebenarnya terjadi, daripada kedua sahabatnya terus merajuk.
Ddrrtt ddrrtt
Hanya hitungan detik dari pesan yang Airin kirim, kini Liliana sudah melakukan panggilan video di grup itu. Airin berjalan agak menjauh dari tempat tidur agar suara mereka tidak mengganggu Luna yang sudah tidur nyenyak. Airin lalu mengusap layar ponselnya untuk menjawab panggilan video di grup chat itu.
" Rin, wait, wait, Mamanya Gagah mengenalkan kamu ke dia. Dan Gagah itu statusnya masih single. Apa Mamanya Gagah itu berencana ingin menjodohkan kalian?" Saat panggilan video tersambung, Liliana sudah meno dong pertanyaan.
" Kalau benar kalian mau dijodohkan, sikat saja, Rin! Gila, ganteng banget orangnya. Rey saja tidak ada apa-apanya." Ambar ikut menimpali.
" Kalian 'kan tahu kalau aku tidak ingin memikirkan menjalin hubungan serius dengan pria lagi saat ini." Airin kembali menegaskan sikapnya yang ingin menyendiri sampai luka hatinya benar-benar bisa dia obati.
" Yaelah, Rin! Move on, dong! Hidup kamu tidak ikut berhenti setelah perceraian kamu dan Rey! Life must go on, Sist! Kalau kamu menutup diri dari pria lain dan memilih hidup sendiri, yang ada di breng sek mantan suamimu itu akan senang karena menganggap kamu tidak bisa melupakan dia. Tapi kalau kamu bisa membuka hati apalagi sampai menikah dengan pria yang lebih dari si Rey, yang ada Rey akan kebakaran jenggot." Liliana menasehati Airin, mencoba mempengaruhi Airin untuk berpikir lebih realistis, karena Airin saat ini masih muda dan masih sangat panjang perjalanan hidupnya.
" Benar, Rin. Tidak ada salahnya kamu memberi kesempatan kepada Gagah untuk mendekati kamu. Lagipula masa Iddah kamu sudah berakhir, kan? Kamu sudah sah jika ingin menikah lagi, lho! Gercep, dong, Rin! Biar si Rey gigit jari." Ambar meledek Airin, membuat Airin memutar bola matanya.
" Oh ya, Gagah itu kerja di mana, Rin? Kalau dilihat dari style nya kayanya pengusaha, deh. Benar tidak tebakanku?" tanya Liliana penasaran.
" Menurut keluarganya dia itu CEO PT Bintang Departement Store." Airin menyebutkan pekerjaan dari Gagah.
" CEO Bintang Departemen Store?" Liliana dan Ambar sama-sama tercengang mendengar jabatan yang dipegang oleh Gagah saat ini.
*
*
*
Bersambung ....
Happy Reading❤️
__ADS_1