JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG

JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG
Pemanasan Bercinta


__ADS_3

Keberadaan Luna di tengah-tengah Gagah dan Airin menjadi pertanyaan kerabat dari pihak keluarga Prasetyo dan Widya. Tidak semua keluarga mereka diberitahu tentang status calon istri Gagah ketika Prasetyo dan Widya ke rumah keluarganya untuk mengabarkan rencana pernikahan Gagah.


"Oalah, istrinya Gagah itu janda, toh? Kok bisa, Gagah cari istri wanita yang sudah pernah menikah? Kayak tidak ada anak gadis perawan saja!" Tante Jehan, adik dari Widya berkomentar mengenai status Airin.


"Benar, Mbakyu. Gagah itu ganteng, pintar, jabatannya direktur utama. Masa tidak bisa dapat yang perawan!?" Tante Menur, istri dari adik Prasetyo ikut menimpali.


"Kok, ya bisa, Mas Pras sama Mbak Widya kasih ijin Gagah milih janda buat jadi istrinya? Tidak seperti Bagus sama Tegar, dapat istri masih gadis, masih perawan." Komentar Jehan kembali.


"Coba Mbakyu yang tanya ke Mbak Widya. Kalau aku mau tanya sama Mas Pras tidak enak, aku jatuhnya 'kan ipar, Mbakyu." ujar Tante Menur menyarankan Tante Jehan, untuk bertanya langsung kepada kakaknya sendiri.


"Nanti coba aku tanya. Kenapa Mbak Widya main setuju-setuju saja sama pilihan Gagah, kayak Gagah tidak laku saja sebagai laki-laki, milihnya wanita berstatus janda. Apa Mas Pras sama Mbak Widya tidak mempertimbangkan bibit bebet bobot dalam milih menantu!? Kalau hanya cantik saja, banyak wanita yang masih gadis cantik-cantik." Tante Jehan menggerutu, terlihat kurang berkenan dengan wanita pilihan Gagah. Ia tidak tahu, justru Widya lah yang menjodohkan anaknya dengan Airin.


Tanpa mereka sadari, Ibu Heny dan Pak Baskoro yang duduk tidak jauh dari mereka mendengarkan percakapan mereka berdua. Sebagai orang tua Airin, tentu saja ucapan kedua kerabat keluarga Gagah itu sangat mengusik hati Pak Baskoro juga Bu Heny. Bagaimanapun juga Airin adalah anaknya. Rasa sedih dan kecewa seketika menyeruak dalam hati Pak Baskoro dan Ibu Heny mendengar Airin seolah diremehkan seperti itu oleh keluarga orang tua Gagah.


Ibu Heny menghela nafas panjang dan membuangnya perlahan. Ketakutan kini mulai melanda hatinya. Ia takut kehadiran Airin tidak diterima oleh keluarga besar Gagah lainnya. Hal itu akan berpengaruh buruk untuk rumah tangga Airin dan Gagah ke depannya.


"Sabar, Bu. Doakan saja semoga rumah tangga Airin dan Nak Gagah baik-baik saja dan dijauhkan dari segala badai yang akan mengganggu." Merasakan istrinya terlihat bersedih, Pak Baskoro yang sebenarnya merasakan hal yang sama dengan sang istri mencoba menenangkan istrinya itu.


"Iya, Pak." sahut Ibu Heny.


"Mungkin memang seperti ini nasib rakyat biasa semacam kita ini. Tapi, kita tidak boleh berhenti memohon, agar selalu dijauhkan dari setiap niat buruk orang-orang kepada keluarga kita dan anak-anak kita." Pak Baskoro menggenggam tangan Ibu Heny, mencoba menenangkan hati istrinya untuk tidak terus bersedih dan berkecil hati.


***


Lewat waktu Dzuhur, tamu yang datang sudah mulai meninggalkan rumah kediaman Prasetyo, termasuk keluarga Om Fajar dan saudara Pak Baskoro lainnya, juga kedua sahabat Airin, Liliana dan Ambar. Hanya tersisa Pak Baskoro, Ibu Heny, Tante Mira dan Luna yang masih ada di rumah Prasetyo. Sementara dari pihak keluarga Gagah, keluarga yang berasal dari luar Jakarta masih berkumpul di rumah Prasetyo.


Airin ingin mengganti pakaian, karena ia juga ingin melaksanakan sholat Dzuhur. Kebetulan MUA yang tadi merias Airin sudah tiba di rumah Prasetyo. Airin diantar oleh Bi Junah ke kamar tamu yang sejak pagi memang digunakan untuk merias keluarga besar Gagah.


Dibantu MUA, Airin melepas kebaya dan membersihkan semua riasan wajah juga rambutnya. Setelah selesai berganti pakaian dengan pakaian yang sudah disiapkan oleh Ibu Heny dan melaksanakan sholat dzuhur, Airin ingin kembali berkumpul dengan keluarga yang lainnya di teras rumah Prasetyo.


"Yu, kamu tahu kalau istrinya Gagah itu statusnya janda?"


Airin menghentikan langkahnya saat ia mendengar seseorang bertanya tentang dirinya. Airin mempertajam pendengarannya. Matanya mengintip ke kamar Bagus yang ada di sampingnya. Ia melihat salah seorang Tante dari keluarga Widya sedang berbincang dengan Ayuning.


"Iya, Tante." Ayuning menjawab kikuk.


"Kamu kok biarkan saja adik iparmu itu menikah dengan wanita yang sudah pernah menikah sebelumnya, Yu? Kamu tidak memberi saran kepada Mama mertuamu untuk menolak calonnya Gagah itu? Kamu sama Putri itu 'kan dekat sekali dengan Mbak Widya. Mestinya kamu bisa kasih saran yang baik ke mertuamu itu." Melalui Ayuning, Tante Jehan mencari informasi kenapa kakaknya meloloskan Airin menjadi menantunya.


Airin menelan salivanya. Hati Airin merasa tercubit mendengar kalimat yang sejujurnya sangat menyakitkan hatinya. Baru saja ia melangkah memasuki mahligai rumah tangganya yang baru dengan Gagah, masalah sepertinya sudah siap menyambut mereka.


"Justru Mama yang menjodohkan Gagah dengan Airin, kok, Tante." jawaban Ayuning seolah menepis tuduhan Tante Jehan, jika Mama mertuanya itu tunduk terhadap keinginan Gagah.


"Masa Mbak Widya tega menjodohkan anaknya yang tampan dan seorang CEO seperti itu dengan seorang janda?" Tante Jehan tak habis pikir dengan keputusan Widya yang memilihkan jodoh yang ia anggap tidak sepadan dengan Gagah.


"Airin itu wanita baik, Tante. Aku rasa Mama mempunyai alasan, kenapa memilih Airin untuk menjadi istri Gagah." Sebagai sesama menantu kelurahan Prasetyo, Ayuning berusaha membela Airin, karena ia sendiri melihat Airin seorang wanita yang baik dalam tidak banyak bertingkah.


Airin sedikit bernafas lega mendengar Ayuning berusaha membela dirinya. Ia takut jika tadi Ayuning akan terpengaruh dengan kata-kata Tante Jehan.

__ADS_1


"Sudahlah, Tante. Mau itu gadis atau janda, yang penting Airin itu sudah masuk kriteria menantu yang diinginkan oleh Papa dan Mama. Lagipula, Gagah juga sangat menginginkan Airin sebagai istrinya. Anaknya Airin juga bisa menerima Gagah sebagai Papa sambungnya." Ayuning mencoba menasehati Tante Jehan agar tidak terlalu mempersoalkan status yang disandang oleh Airin.


"Sudah pasti anaknya mau menerima Gagah, orang Papa sambungnya kaya raya, kok!" Bahkan Luna yang masih kecil saja terkena nyiyiran Tante Jehan.


Kalimat cibiran yang diucapkan Tante Jehan sangat menohok di hati Airin. Membuat hawa panas seketika menyerang matanya dan menimbulkan cairan bening yang mengembun di bola mata Airin. Jika tadi Tante Jehan meremehkan statusnya, ia masih bisa terima. Tapi, kalau Luna yang terkena hinaan Tante Jehan, Airin tidak tahan mendengarnya.


"Astaghfirullahal adzim, jangan berburuk sangka seperti itu, Tante. Apalagi terhadap anak kecil." Ayuning menegur Tante Jehan, yang terlalu berpikiran buruk terhadap Airin dan Luna.


"Sedang apa kamu di sini, Airin?"


Suara Gagah tiba-tiba terdengar, membuat Airin yang sedang mencuri dengar perbincangan antara Ayuning dan Tante Jehan terperanjat. Bukan hanya Airin saja yang terkejut, bahkan Ayuning dan Tante Jehan pun kaget dengan kemunculan Gagah di dekat pintu kamar Bagus dan Ayuning di rumah Prasetyo.


"Gagah? Kamu ... kalian sedang apa?" Tante Jehan mendekat ke arah Gagah. Di antara ketiga anak kakaknya, Gagah yang mempunyai sikap yang keras kepala dibandingkan dengan Bagus ataupun Tegar. Sehingga dia tidak ingin sampai Gagah mendengar apa yang ia ucapkan tadi.


Sementara Ayuning yang berjalan di belakang Tante Jehan memperhatikan Airin yang langsung menundukkan wajahnya dengan mengesat cairan bening dari ekor matanya. Dia menduga jika Airin mendengar apa yang diperbincangkan tadi antara dirinya dengan Tante Jehan. Walau tidak ada kalimat yang menyudutkan Airin keluar dari mulutnya, akan tetapi, Ayuning merasa tidak enak hati, karena Airin mendengar ucapan bernada pedas Tante Jehan yang menghina Airin juga Luna.


"Aku ingin memanggil Airin, karena kami akan mengantar orang tua Airin pulang dan langsung ke hotel, Tante." Gagah ingin menikmati malam pertamanya bersama Airin di hotel yang sudah ia pesan.


"Oh ..." Tante Jehan melirik ke arah Airin yang masih tertunduk.


"Ya, sudah. Kalau begitu Tante langsung berpamitan saja, soalnya selepas Ashar nanti, Tante juga mau langsung pulang ke Solo." Tante Jehan kemudian memeluk keponakannya. "Selamat atas pernikahan kamu, Gagah. Semoga kamu tidak salah memilih istri," ucapnya kemudian.


Terasa sesak di dada Airin, saat telinganya mendengar kalimat yang diucapkan oleh Tante Jehan masih bernada sindiran.


"Tentu saja aku tidak akan salah memilih Airin sebagai istri aku, Tante." Gagah mengurai pelukan Tante Jehan dari tubuhnya, lalu melingkarkan tangannya di pundak Airin dan mendekapnya.


"Dia wanita terbaik yang pernah aku temui selama ini. Dan dia lah wanita yang paling tepat untuk menjadi istriku dan ibu dari anak-anakku, Tante." Dekapan tangan kekar Gagah seolah menangkis semua prasangka buruk yang tadi, dilontarkan Tante Jehan soal Airin.


***


Airin dan Gagah mengantar kedua orang tuanya juga Tante Mira pulang menggunakan mobil yang dikendarai sendiri oleh Gagah. Karena setelah dari mengantar mereka, Gagah akan membawa Airin menikmati malam pegantin di hotel mewah.


Dalam perjalanan menuju rumah Om Fajar, Airin masih saja memikirkan ucapan Tante Jehan, yang nampak tidak menyukainya. Dia tak banyak bicara, hanya sekali waktu ketika ditanya akan menjawab.


Hal yang sama juga dipikirkan oleh Ibu Heny. Meskipun sang suami sudah mengatakan untuk tidak memikirkan apa yang dikatakan oleh keluarga orang tua Gagah. Namun, sebagai seorang wanita yang mempunyai perasaan yang sangat peka, ia pasti merasa sedih anaknya diperbincangkan seperti itu oleh keluarga dari pihak Gagah.


"Apa Luna tidak apa-apa kami titipkan dulu, Pak?" Gagah bingung, sebenarnya ia pun ingin membawa Luna. Tapi, tentu saja sebagai pengantin baru, dia ingin menikmati waktu berdua dengan Airin di malam pertamanya sebagai suami Airin.


Sebelumnya Gagah berencana memesankan kamar untuk orang tua Airin, agar Luna bisa ikut menginap di hotel. Namun, Pak Baskoro menolak, dengan alasan tidak ingin mengganggu pengantin yang ingin menikmati kebersamaan sebagai suami istri.


"Tidak apa-apa, Nak Gagah. Ada Kakek dan Neneknya yang menjaga dan menemani Luna. Dia tidak akan kesepian," sahut Pak Baskoro.


Dari kaca spion, Gagah memperhatikan Airin yang menatap ke luar jendela. Ia merasakan jika ada yang sedang dipikirkan oleh istrinya itu. Apa mungkin Airin sedang merenungi status baru Airin sebagai istrinya? Itu yang sempat terlintas di benak Gagah.


Beberapa menit perjalanan, akhirnya mobil yang mengantar keluarga Airin sampai di rumah Om Fajar. Airin dan Gagah ikut masuk ke dalam, karena ia mesti membujuk Luna terlebih dahulu agar tidak minta ikut pergi ke hotel.


Airin berjalan menaiki anak tangga ingin menuju kamarnya. Dia ingin istirahat sebentar, menenangkan hati dan pikirannya karena omongan Tante Jehan yang menyakitkan baginya.

__ADS_1


"Astaghfirullahal adzim!" Airin memekik, ketika hendak menutup pintu kamar, ternyata Gagah sudah berdiri di belakangnya.


"Kenapa?" Gagah justru bertanya.


"Hmmm, tidak apa-apa." Airin kemudian berjalan masuk ke dalam kamarnya dengan kebingungan.


"Mas mau apa?" tanyanya kemudian


"Saya mau apa?" Gagah menutup pintu kamar Airin dan menguncinya, kemudian berjalan perlahan mendekati Airin.


Jantung Airin kembali berdegup kencang saat Gagah memangkas jarak di antara mereka. Airin ingin mundur, namun kakinya terasa sulit untuk ia gerakan, hingga membuat jaraknya dengan Gagah semakin menipis.


"Saya mau kamu." Gagah menarik pinggang Airin hingga tubuh mereka merapat dengan saling bersentuhan. Buku-buku jari Gagah membelai wajah cantik Airin dan terhenti di bibir sek si Airin. Mengusap daging kenyal yang tadi sempat dia sentuh sebentar. Gagah kembali menipiskan jarak wajahnya dengan wajah Airin.


Airin memejamkan matanya, karena ia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Gagah pasti akan menciumnya, seperti yang tadi dilakukan pria itu di depan penghulu dan banyak orang.


Beberapa detik menunggu, Airin tidak merasakan sentuhan di bibirnya, membuat ia membuka kelopak matanya. Bola mata Airin membulat saat melihat Gagah mengulum senyuman.


"Kenapa memejamkan mata seperti itu? Apa kamu sedang menunggu sesuatu?"


Blush


Serbuan rona merah seketika merayap di wajah putih bersih Airin mendengar ucapan Gagah, seolah dia mengharapkan berciuman dengan Gagah.


Kesal karena merasa dikerjai oleh Gagah, Airin menggeliat, ingin melepaskan diri dari rengkuhan tangan berotot Gagah. Akan tetapi, pria itu tak membiarkan Airin terlepas darinya.


Tangan Gagah menyentuh tengkuk Airin, lalu mendekatkan bibirnya pada bibir Airin hingga bersentuhan. Gagah mencium Airin dengan penuh kelembutan, Ia menarik tengkuk Airin untuk memperdalam sentuhannya di bibir manis wanita yang sudah resmi menjadi istrinya itu.


Gelenyar aneh seketika menyeruak dalam tubuh Airin. Darahnya pun seketika berdesir karena sentuhan yang dilakukan oleh Gagah, apalagi saat tangan Gagah meremas bagian dadanya yang masih tertutup baju. Mungkin detakan jantungnya, dapat dirasakan oleh Gagah.


"Kalau Pak Gagah mencium, kamu balas menciumnya, tunjukkan jika kamu pandai dalam hal melayani suami,"


Kalimat yang diucapkan oleh Liliana seolah tergiang di telinga Airin, hingga Airin tidak hanya membuka bibirnya, namun juga mulai membalas sentuhan bibir Gahah, membuat pagutan mereka semakin berhas rat.


Bibir Gagah kini menyapu leher jenjang Airin, hingga turun ke ceruk dan tulang selangka Airin. Sementara tangannya berhasil menyusup ke balik pakaian sang istri dan meremas bagian kembarnya. Hal itu membuat bulu roma Airin meremang


Brrakk brrakk


"Mama!! Papa!!"


Suara Luna yang memu kul pintu kamar Airin membuat pengantin baru yang sedang melakukan pemanasan dalam bercinta terkesiap. Airin bahkan langsung mendorong Gagah, lalu berlari membukakan pintu untuk Luna.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading❤️


__ADS_2