JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG

JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG
Nasabah Bank Yang Naksir


__ADS_3

Widya menghentikan aktivitasnya memo tong beberapa daun kering dari tanaman hias di teras depan rumahnya saat melihat Gagah keluar dari dalam rumah.


"Kamu mau pergi lagi, Gagah?" tanya Widya saat melihat putranya itu berpenampilan rapih, menggunakan hoodie berwarna navy, jeans berwarna denim dan sneakers berwarna senada hoodie yang dipakainya.


"Aku ada urusan, Ma." Gagah mendekat ke arah Widya, merangkul dan menyematkan kecupan di kening Widya.


"Apa ada bisnis penting sampai kamu harus berangkat pagi-pagi begini?" tanya Widya penasaran, apa yang akan dilakukan putranya karena dua hari ini pergi pagi-pagi? Meskipun sebenarnya dia curiga jika Gagah akan menemui Airin.


"Ya, seperti itulah ... aku berangkat dulu, Ma. Assalamualaikum ..." Tak ingin jujur mengatakan apa yang akan dia lakukan, Gagah memilih berpamitan.


"Waalaikumsalam, kamu tidak sarapan dulu, Gagah?" Widya mencemaskan Gagah akan telat sarapan lagi.


"Nanti saja, Ma." seru Gagah membuka pintu mobilnya. Dan tak lama meninggalkan rumah keluarga Prasetyo Hadiningrat.


Beberapa menit kemudian ...


Gagah memperhatikan rumah bercat abu-abu muda berlantai dua di hadapannya. Dia lalu menatap pesan gambar di ponselnya yang dikirimkan orang suruhannya. Gambar itu nampak sama dengan rumah yang ada di depannya kini.


Gagah benar-benar tidak ingin melepas Airin begitu saja. Dia sampai menyuruh orang untuk mengikuti Airin guna mendapatkan alamat rumah Airin. Dan orang suruhannya itu berhasil mendapatkan alamat Airin saat ini. Karena Gagah melihat motor matic Airin terparkir di halaman rumah itu.


"Benar ini rumahnya." Gagah lalu menaruh ponselnya kembali.


Setelah melepas seat belt dan mematikan mesin mobil Gagah beranjak turun dari mobilnya. Gagah mendekat ke arah gerbang. Dia melihat pintu rumah terbuka, walaupun gerbangnya masih terkunci rapat.


Gagah menekan bel di dekat pintu gerbang, berharap ada orang yang segera keluar dari dalam rumah itu.


Sekitar satu menit menunggu, seorang gadis berseragam putih abu-abu keluar dari dalam rumah dan menghampiri Gagah. Gagah mengira jika itu adalah adik sepupu Airin yang sering diantar Airin ke sekolah setiap pagi sebelum berangkat ke kantor.


"Cari siapa, Om?" tanya Feby saat sudah dekat di pintu gerbang. Bola mata Feby berbinar memperhatikan penampilan charming pria di hadapannya itu.


"Saya ingin bertemu Airin?" tanya Gagah tanpa banyak basa-basi.


"Mbak Airin?" Bola mata Feby kini membulat hingga membuat alisnya tertarik ke atas, "Om cari Mbak Airin?" tanya Feby meyakinkan pendengarannya.


"Iya, dia ada, kan?" Gagah sangat yakin dengan pertanyaannya.


"Oh, ada, Om." Tanpa curiga walaupun belum mengenal Gagah, Feby segera membuka kunci gembok gerbang rumahnya.


"Silahkan masuk, Om." ucapnya kemudian.


"Terima kasih." Gagah memasuki gerbang rumah Om Fajar setelah dipersilahkan masuk oleh Feby.


"Silahkan duduk dulu, Om. Sebentar saya panggilkan Mbak Airin nya." Feby mempersilahkan Gagah duduk di kursi teras rumah sementara dia sendiri hendak masuk memanggil Airin. Namun, dia menarik langkahnya kembali saat sampai di depan pintu masuk.


"Oh ya, Om namanya siapa, ya?" Feby lupa menanyakan nama pria yang mencari kakak sepupunya itu.

__ADS_1


"Saya Gagah," jawab Gagah.


"Iya, Om memang gagah, kok. Ganteng lagi." Feby terkikik menutup mulutnya.


"Om yang ganteng dan gagah perkasa ini namanya siapa? Biar saya bisa kasih tahu Mbak Airin, kalau Om mencari Mbak Airin." Feby yang tidak paham jika yang disebut Gagah itu memang namanya justru menganggap Gagah belum menyebutkan nama.


"Nama saya Gagah, Gagah Prasetyo Hadiningrat." Gagah sampai menyebut nama lengkapnya agar Feby mengerti.


"Oh, namanya Om Gagah. Hihihi ..." Feby kembali tertawa kecil. "Tapi, cocok nama sama orangnya." Masih dengan tertawa Feby masuk ke dalam rumahnya.


"Siapa yang menekan bel tadi, By?" tanya Tante Mira yang baru selesai menyiapkan menu sarapan untuk keluarganya.


"Temannya Mbak Airin, Ma." sahut Feby saat masuk ke dalam rumah.


"Teman Airin?" Tante Mira melirik ke arah jam dinding yang baru menunjukkan waktu jam enam tepat. "Siapa teman Airin yang datang pagi-pagi begini? Ambar? Liliana?" Tante Mira justru menebak dua dari teman Airin itu yang datang.


"Bukan, Ma. Cowok yang datang. Ganteng banget, lho, Ma. Kayak Arjuna." Feby menganggumi ketampanan Gagah.


"Kayak pernah lihat Arjuna saja kamu ini." Tante Mira menggelengkan kepala mendengar ucapan anaknya tadi.


"Tapi beneran ganteng, kok, Ma! Kalau tidak percaya, Mama lihat saja, deh. Feby mau panggil Mbak Airin dulu." Feby lalu berlari kecil menaiki anak tangga.


Sementara Tante Mira yang penasaran dengan tamu yang berkunjung ke rumahnya segera melangkah setelah melepas apron yang dia kenakan.


Betapa terkejutnya Tante Mira saat melihat kemunculan Gagah di teras rumahnya saat ini.


Gagah menolehkan pandangannya ke arah pintu saat mendengar seseorang memanggil namanya. Gagah langsung berdiri saat melihat Tante Mira yang keluar dari dalam rumah.


"Tante ..." Gagah kemudian berjabat tangan dengan Tante Mira.


"Ada apa kamu kemari, Gagah? Apa Mama kamu menyuruh kamu datang ke sini?" Tante Mira menduga jika kedatangan Gagah karena perintah Widya.


"Oh, tidak, Tante. Saya kemari bukan atas perintah Mama saya," tepis Gagah. "Saya ke sini karena ingin menjemput Airin, Tante." lanjutnya kemudian.


"Menjemput Airin? Memang mau ke mana?" Kening Tante Mira berkerut mendengar tujuan Gagah datang ke rumahnya.


"Saya ingin mengantar Airin ke kantor, Tante." sahut Gagah.


Tante Mira terkesiap mendengar tujuan Gagah ke rumahnya.


"Oh gitu. Tapi, Airin biasanya mengatar sepupunya dulu ke sekolah sebelum ke kantor." Tante Mira menerangkan rutinitas Airin sebelum ke kantor.


"Nanti sekalian saja saya antar, Tante." Hal itu sudah diperhitungkan oleh Gagah, sehingga dia bersedia ikut mengantar Feby terlebih dahulu.


"Aduh, jadi merepotkan kamu, Gagah." Tante Mira merasa tidak enak hati pada Gagah.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Tante." jawab Gagah.


"Terima kasih, Gagah. Sudah mau mengantar Airin dan anak Tante." Tante Mira menyampaikan ucapan terima kasihnya.


"Sama-sama, Tante." ucap Gagah


"Oh ya, apa Mama kamu tahu kalau kamu datang menjemput Airin?" Tante Mira merasa penasaran. Karena menurut permintaan Widya, dirinya disuruh berpura-pura tidak tahu soal kedekatan Gagah dengan Airin. Menurut perkiraan Widya, Gagah sengaja menutupinya dari mereka. Tapi, kalau Gagah datang ke rumahnya, artinya Gagah tidak berniat menyembuhkan kedekatan dengan Airin darinya.


"Tidak, Tante. Mama tidak tahu soal kedatangan saya kemari. Hmmm, kalau bisa, Tante juga jangan bilang sama Mama kalau saya datang ke sini." Gagah justru meminta Tante Mira menyembunyikan kedatangannya di rumah itu.


"Kenapa memangnya, Gagah?" Tante Mira ingin tahu alasan Gagah menutupi dari Mamanya.


"Nanti Mama saya banyak ikut campur, Tante. Jadi, biarkan saja Mama tidak mengetahuinya dulu," jelas Gagah merasa jika Mamanya akan heboh sendiri jika tahu saat ini dirinya sedang mendekati Airin.


Tante Mira tersenyum mendengar alasan Gagah. Padahal, Mama dari Gagah itu sudah tahu semuanya.


Sementara di kamar Airin. Saat Feby masuk ke dalam kamar Airin. Airin sedang memakaikan baju Luna setelah mandi.


"Sudah cantik, sudah harum anak Mama." Airin menciumi pipi chubby Luna karena merasa gemas.


"Mbak, ada tamu cari Mbak." Suara Feby yang terdengar di pintu membuat Airin terkejut.


"Tamu? Siapa?" Airin khawatir yang datang adalah Gagah. Namun, dia kurang yakin karena Gagah tidak tahu alamat rumah Tantenya ini.


"Namanya Om Gagah, Mbak." jawab Feby.


Airin terbelalak saat nama Gagah disebut oleh Feby.


"Ya ampun, kenapa dia bisa sampai sini?" Airin merasa cemas dengan kedatangan Gagah di rumah Om nya.


"Dia itu siapa, sih, Mbak? Ganteng banget, sumpah!" Feby penasaran dengan sosok Gagah. Dia bahkan penasaran dengan hubungan Airin dengan Gagah.


"Dia itu ... dia itu nasabah bank di tempat Mbak kerja, By." jawab Airin melepas bajunya dan menggantinya dengan seragam, sedangkan riasan wajah dan rambut sudah dia lakukan sebelum memandikan Luna.


"Nasabah bank? Kenapa sampai nyasar ke rumah ini? Jangan-jangan nasabah bank yang naksir sama Mbak Airin, nih!" tebak Feby meledek Airin.


Airin tersenyum tipis menanggapi ucapan Feby yang kenyatannya memang benar adanya.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading❤️


__ADS_2