JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG

JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG
Saudara Tiri


__ADS_3

Bendera kuning terpasang di dekat pagar rumah keluarga Bintang Gumilang. Suasana duka pun menyelimuti semua penghuni rumah bahkan tetangga sekitar rumah Bintang Gumilang. Sosok Bintang sebagai pengusaha sukses dan dikenal sebagai pribadi yang hangat dan sangat dermawan di lingkungan perumahannya, membuat para tetangga pun ikut merasakan kehilangan sosok pengusaha tersebut.


Di hadapan jenazah Bintang, Farah terisak, ia sangat terpukul dengan kepergian suaminya itu. Tahun-tahun belakangan memang kesehatan Bintang turun naik. Walaupun sering keluar masuk rumah sakit, akan selalu ada kesembuhan bagi sang suami. Akan tetapi, tidak untuk kali ini. Bintang kini telah pergi meninggalkannya, meninggalkan masalah keluarga yang tidak bisa ia atasi sendiri.


Beberapa tetangga sekitar yang mulai berdatangan mengucapkan bela sungkawa dan berempati atas apa yang dirasakan Farah dan keluarganya saat ini. Mereka memberi dukungan kepada Farah agar istri Bintang itu bisa tabah menghadapi cobaan yang sedang dihadapi oleh Farah.


Di samping Farah, dua orang adik iparnya, istri dari adik tiri Bintang berusaha menenangkan Farah yang tidak berhenti terisak. Sementara suami-suami mereka sibuk menerima tamu yang datang bertakziah.


Florencia tak terlihat menunggu jasad papanya yang sudah terbujur kaku siap untuk dimandikan. Florencia sedang mengurung diri di dalam kamar. Dia merasa bersalah atas apa yang terjadi dengan sang papa. Pertengkaran semalam dengan sang papa ternyata berimbas besar bagi keluarganya. Dia harus kehilangan papanya, orang yang selama ini menjadi tempat ia bergantung.


Florencia menangis dengan memeluk lututnya. Dia tak bisa memaafkan dirinya sendiri. Dia merasa menyesal karena kekerasan hatinya, ia harus menjadi yatim. Karena kegilaannya ingin menggeser posisi Gagah, ia harus menjadikan Mamanya seorang janda. Dia merasa sebagai penghancur kebahagiaan keluarganya sendiri. Dan menyesal dan tak bisa memaafkan dirinya sendiri.


***


Gagah memperlambat laju mobilnya saat mendekat ke arah rumah Bintang. Dia melihat ramai orang keluar dan masuk melewati gerbang rumah besar Bintang. Gagah melihat bendera kuning yang terpasang di pagar rumah Bintang, mengisyaratkan keluarga itu sedang berkabung.


Gagah membuka seat belt lalu turun dari mobilnya. Ia melangkah memasuki rumah Bintang.


"Selamat siang, Pak Gagah." sapa Pak Dirman, security di rumah Prasetyo sudah mengenal Gagah.


Gagah melihat aura kesedihan di wajah pekerja di rumah Bintang. Sama seperti dirinya yang juga merasakan kehilangan dengan kepergian Bintang.


"Siang, Pak Dirman. Siapa saja pihak keluarga yang sudah tiba?" tanya Gagah.


"Sudah ada Pak Dicky dan Pak Romy berserta istri-istrinya, Pak." jawab Pak Dirman.


Gagah mengangguk kecil lalu menepuk pundak Pak Dirman dan berucap, "Saya masuk dulu, Pak."


"Silahkan, Pak." jawab Pak Dirman.

__ADS_1


Gagah melangkah ke arah teras rumah. Dia melihat Dicky dan Romi, adik tiri dari Bintang sedang menyambut para pelayat yang ingin memberi penghormatan terakhir kepada Bintang.


Hubungan Gagah dengan kedua adik tiri Bintang memang kurang akrab, atau bisa dikatakan kedua adik tiri Bintang kurang menyukainya. Alasannya tentu saja karena Bintang lebih mempercayai dirinya sebagai penerus jabatannya sebagai CEO di perusahan milik Bintang. Padahal, mereka berharap, mereka lah yang akan diberikan tugas tersebut sebab Bintang adalah kakak tiri mereka. Bintang lebih mempercayakan perusaahan kepada Gagah tentu karena alasannya.


"Assalamualaikum, Pak Dicky, Pak Romi." Gagah menyapa kerabat dekat keluarga Bintang saat ia mendekat ke arah pintu masuk.


Dicky dan Romi saling berpandangan saat melihat kedatangan Gagah di rumah itu.


"Waalaikumsalam ..." Namun akhirnya kedua adik tiri Bintang menjawab salam yang diucapkan Gagah.


"Saya turut berduka atas meninggalnya Pak Bintang, Pak." Gagah mengungkapkan rasa empati atas kehilangan besar yang dirasakan oleh keluarga besar Bintang.


"Terima kasih," jawab Dicky datar.


"Saya ingin menemui Bu Farah." Gagah minta ijin masuk ke dalam rumah Bintang.


Gagah melirik ke arah Romi. Gagah cukup cerdas, ia tahu apa arti dari ucapan Romi. Lengkungan tipis di sudutnya terbentuk. Miris rasanya, di tengah suasana duka, kedua adik tiri Bintang menuduh dirinya hendak mempengaruhi Farah. Dan tentu saja, yang dimaksud oleh kedua adik tiri Bintang adalah jabatan CEO yang ia pegang saat ini


Gagah tahu, kedua adik tiri Bintang sangat menginginkan menguasai Bintang Departement Store. Sayangnya Bintang tidak mempercayai kedua adik tirinya untuk menduduki salah satu jabatan elit di perusahaan miliknya. Guna menyelamatkan perusahaan itu jatuh ke tangan Dicky dan Romi, Bintang menyerahkan kepemimpinan perusahaannya kepada Gagah, hingga kedua anaknya siap dan mampu mengambil alih mengurus perusahaan tersebut.


"Saya bekerja di perusahaan Almarhum Pak Bintang. Saya ingin menyampaikan ucapan belasungkawa kepada Bu Farah. Bukankah cukup wajar saya menyampaikan hal ini kepada beliau?" jawab Gagah dengan kalimat tegas, "Saya rasa Anda terlalu jauh berpikirnya." Sengaja Gagah memberi sindiran kepada adik tiri Bintang yang menuduhnya ingin mempengaruhi Farah.


"Syukurlah kalau kamu menyadari kalau kamu hanya bekerja di perusahaan Mas Bintang, jadi jangan berharap ingin menguasai perusahaan itu, apalagi saat ini Mas Bintang sudah tidak ada." Dicky memperingatkan Gagah.


"Astaghfirullahal adzim ..." batin Gagah dengan mendengus kasar. Sungguh ia tidak memahami di mana letak hati nurani kedua manusia di hadapannya saat ini.


"Anda merasa berhak mengelola BDS karena merasa jika Anda berdua adalah anggota keluarga Almarhum Pak Bintang?" tanya Gagah mencibir.


"Oh, jelas ... walau saudara tiri tapi Mama kami menikah dengan Papa dari Mas Bintang," jelas Romi percaya diri.

__ADS_1


"Anda berdua mengaku sebagai keluarga, tapi sama sekali tak memiliki empati atas apa yang terjadi dengan keluarga saudara Anda sendiri! Jasad Pak Bintang belum dikebumikan, tapi Anda berdua sudah membicarakan soal perusahaan!? Pantas saja Pak Bintang tidak pernah mempercayakan perusahaan milik beliau kepada Anda berdua!" ketus Gagah kemudian berjalan meninggalkan kedua orang yang ia anggap tidak tahu malu itu.


Gagah melihat Farah yang terus menangis di hadapan jasad Pak Bintang. Terasa pilu melihat wanita paruh baya itu kehilangan belahan jiwanya. Walau orang lain, Gagah memang sudah menganggap Bintang dan Farah seperti orang tua sendiri, sehingga ia pun menganggap Florencia seperti adik perempuan baginya.


Gagah mengedar pandangan mencari keberadaan Florencia, namun tak ia dapati gadis itu di antara kerumunan orang yang berkumpul. Sementara tubuh Bintang tertutup kain di hadapan sang istri.


Gagah duduk, ia mendekati Farah dengan bergeser tubuhnya menggunakan lututnya, hingga kini ia berada di samping Farah.


"Bu Farah ..." Gagah mengusap pundak Farah yang benar-benar berduka.


Dengan mata sembab karena tak henti menangis, Farah menoleh ke arah Gagah.


"Gagah ..." Farah kembali tersedu saat melihat kedatangan Gagah.


Gagah langsung melingkarkan tangannya di pundak Farah dan memeluk tubuh wanita paruh baya itu yang semakin terisak dalam pelukannya.


"Saya turut belasungkawa, Bu. Semoga Pak Bintang Husnul Khotimah, dilapangkan alam kuburnya, diterima amal ibadahnya dan ditempatkan di tempat yang layak di surga-Nya Allah SWT." Gagah membisikkan kepada Farah dengan ketulusan, " Ibu harus bersabar dan ikhlas, mungkin ini sudah yang terbaik untuk Bapak," ucapnya kemudian.


Interaksi akrab antara Gagah dan Farah menarik perhatian Lidya dan Sandra, istri dari Dicky dan Romi yang saling berpandangan, dengan tatapan yang hanya dimengerti oleh mereka berdua.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading ❤️

__ADS_1


__ADS_2