JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG

JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG
Tebar Pesona


__ADS_3

Rey mencoba menggerakkan kelopak matanya. Ia merasakan kelelahan yang luar biasa. Tubuhnya pun terasa melemas, bahkan hanya untuk membuka kelopak matanya saja terasa begitu sulit ia lakukan, apalagi untuk menggerakkan bagian tubuh lainnya. Rey tidak tahu kenapa semua terasa sulit untuk digerakkan.


"Rey, kamu sudah sadar, Rey!? Sus, suster ...!"


Samar telinga Rey menangkap suara yang memanggil namanya, namun makin lama suara yang ia kenali adalah suara Mamanya itu makin lama makin menjauh. Rey bingung, kenapa tiba-tiba ia mendengar suara sang Mama, suara itu tadi bahkan terdengar begitu dekat dengannya.


Rey masih berusaha membuka matanya untuk mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi. Hingga akhirnya kelopak matanya bisa ia gerakkan. Pemandangan yang tertangkap netranya saat ini masih buram dan belum terfokus, hingga makin lama terlihatlah langit-langit dan dinding kamar yang berwarna putih juga alat infus di samping ia berbaring.


Melihat alat infus yang tergantung di tiang, Rey menyadari jika saat ini dirinya berada di rumah sakit. Tapi, kenapa dirinya bisa berada di rumah sakit? Saat ini dirinya sedang berbaring di sebelah tiang infus, artinya dirinya lah yang sedang berada di dalam perawatan intensif.


"Rey, kamu sudah sadar, Nak?" Suara Wulan kembali terdengar di telinga Rey bersamaan suara pintu terbuka, namun ia tidak bisa menggerakkan lehernya untuk melihat sang Mama, justru rasa nyeri lah yang saat ini dia rasakan ketika ia berusaha menoleh.


Rey akhirnya dapat melihat wajah Wulan yang terlihat sendu seperti sedang mengalami rasa sedih yang begitu mendalam. Sebenarnya apa yang terjadi dengan dirinya hingga kini berbaring di rumah sakit? Itulah yang ingin Rey ketahui.


"Saya cek dulu kondisi Pak Rey, Bu." Di samping Wulan, terlihat seorang berseragam seperti seorang suster, dan ia yakin itu adalah suster yang sedang merawatnya, namun yang ia tidak mengerti dirinya sedang sakit apa.


"Ma ..." Rey berusaha memanggil Mamanya walau suaranya tercekat di tenggorokan.


"Iya, Rey. Sebentar, suster sedang mengecek kondisi kamu. Mama senang kamu sudah sadar, Rey." sahut Wulan dengan bola mata mengembun menahan keharuan.


"Bagaimana, Sus?" tanya Wulan setelah perawat mengecek kondisi Rey yang baru saja tersadar setelah beberapa hari mengalami masa koma dan tidak sadarkan diri.


"Saya cek semuanya sudah mulai membaik, Bu. Saya akan memberitahu dokter untuk memeriksa kondisi Pak Rey lebih lanjut," sahut perawat tadi, "Saya permisi dulu, Bu." Setelah menjelaskan soal kondisi Rey, perawat itu kembali meninggalkan kamar rawat inap Rey untuk melaporkan kondisi Rey yang sudah siuman.


"Ma ..." Kembali suara Rey terdengar, membuat Wulan menggenggam tangan Rey.


"Ke-na-pa?" lanjut Rey. Sebenarnya ia ingin bertanya lebih banyak pada sang Mama namun untuk mengucapkan sepatah kata saja begitu berat ka lakukan.


"Kamu mengalami kecelakaan, Rey. Sudah seminggu kamu tak sadarkan diri, tapi Alhamdulillah sekarang ini kamu sudah siuman." Wulan menjelaskan kenapa Rey bisa dirawat di rumah sakit.


"Kecelakaan?" Rey membatin. Dia mencoba mengingat apa yang terjadi hingga akhirnya ia mengalami kecelakaan itu? Namun tiba-tiba dia meringis sebab merasakan sakit di bagian kepalanya. "Aaakkkhh ..." Rey sampai memejamkan mata meredam rasa sakit itu.


"Kamu kenapa, Rey?" Melihat Rey meringis, Wulan merasa takut jika sesuatu terjadi kepada anaknya. "Kamu tenang dulu, Rey." Wulan mencoba menenangkan Rey, karena ia menduga Rey bereaksi dengan ucapannya yang mengatakan jika Rey baru saja mengalami kecelakaan.


Rey memejamkan matanya, sepertinya apa yang menimpanya begitu serius sampai ia sama sekali tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Seketika Rey membayangkan jika dirinya akan mengalami cacat dan hal itu adalah hal paling mengerikan baginya.


***


Haikal terlihat serius memperhatikan arahan yang diberikan oleh Ilham, yang akan diberi tugas menggantikan atasan Ilham yang diangkat menjadi pengganti Pak Zaenudin dari divisi marketing yang resign bulan depan.


Kepindahan Haikal ke kantor pusat tidak serta merta membuat Haikal menduduki jabatan yang ditinggalkan oleh Pak Zaenudin, Tentu kantor pusat akan memprioritaskan karyawan pusat yang kompeten untuk mendapatkan posisi yang akan ditinggalkan oleh karyawan sebelumnya.


"Istirahat dulu, Kal. Nanti lanjut lagi setelah makan siang." Saat sudah masuk jam istirahat, Ilham mempersilahkan Haikal jika ingin makan siang dan juga sholat Dzuhur.


"Baik, Pak." jawab Haikal.


"Kamu makan di mana, Kal? Ikut ke kantin saja sama saya, yuk?" Ilham mengajak Haikal pergi makan siang bersamanya di kantin kantor. Meskipun kawasan mall BDS menyediakan food court, tapi sebagian besar karyawan di sana lebih senang makan di kantin perusahaan yang tentu saja harganya lebih terjangkau dengan menu masakan rumahan


"Boleh, Pak. Tapi saya mau Dzuhur dulu." Haikal menyetujui tawaran Ilham, namun dia ingin menjalankan ibadahnya terlebih dahulu sebelum makan siang.


"Kamu ini pria idaman banget, Kal. Sudah ganteng, sopan, rajin ibadah juga. Kamu sudah punya pacar, tunangan, istri?" tanya Ilham penasaran. Dia memandang Haikal sebagai pria baik-baik, pasti beruntung wanita yang dipilih oleh Haikal.


Haikal mengulum senyuman mendengar pujian dari seniornya itu. Jangankan kaum Hawa, bahkan kaum Adam seperti Ilham saja bisa mengagumi dirinya seperti itu.


"Biasa saja, Pak. Saya masih single, kok." Haikal menyebut statusnya saat ini yang masih sendiri.


"Bakal jadi rebutan cewek-cewek di sini kamu, Kal." Ilham terkekeh seraya menepuk pundak Haikal. "Kamu sholat dulu, deh. Nanti kita ke kantin bersama." Ilham segera menyuruh Haikal segera Sholat Dzuhur.

__ADS_1


"Baik, Pak. Saya permisi dulu." Haikal berpamitan ingin melaksanakan sholat Dzuhur sebelum ke kantin dengan Ilham.


Sepuluh menit kemudian, Haikal sudah kembali ke ruangan kerjanya setelah melaksanakan kewajiban empat rakaat, dan akhirnya bersama-sama dengan Ilham pergi ke kantin untuk mengisi perut.


Suasana kantin sedikit berisik ketika melihat kemunculan Haikal. Sudah pasti karyawan wanita lah yang membuat suara-suara bising itu. Ada yang berbisik, ada yang langsung berusaha tebar pesona mencari perhatian Haikal. Tak sedikit juga yang karyawati yang salah tingkah melihat wajah tampan Haikal.


Setelah mengambil makanan dan membayar makanan yang dia pesan, Haikal dan Ilham mencari meja yang kosong.


"Pak Ilham, kenalin yang di sebelahnya kenapa!? Yang ganteng-ganteng kenalin ke kita dong, Pak." Salah seorang karyawati dari beberapa karyawan wanita yang duduk di sebelah Ilham berkomentar.


"Kalian ini gercep banget kalau lihat yang bening-bening," sahut Ilham mengomentari sikap rekan-rekannya.


"Wajarlah, Pak. Namanya juga cewek normal, cowok juga gitu kalau lihat cewek cantik." Karyawati lainnya ikut menimpali.


"Mas namanya siapa? Aku Diana." Wanita yang pertama bicara memperkenalkan dirinya tanpa malu-malu.


"Kalau aku Susan, Mas." Wanita yang kedua tadi ikut memperkenalkan namanya.


Haikal mengembangkan senyuman menghadapi kedua wanita di hadapannya saat ini. Peristiwa seperti ini bukanlah hal yang aneh baginya. Bahkan sejak masuk bangku SMP, sudah banyak wanita-wanita pemberani yang mau menurunkan gengsinya mengajak dirinya berkenalan lebih dahulu.


"Saya Haikal ..." Lalu Haikal menyebut namanya.


"Aaaaiiihh ... senyum Mas Haikal mana tahan manis banget, deh!" Diana kembali vokal berbicara, dia memang sengaja berusaha ingin lebih akrab dengan Haikal.


"Gombal kamu!" celetuk Ilham terkekeh.


"Iiihh, Pak Ilham ...!" Diana memutar bola matanya menanggapi celetukan Ilham.


"Sssttt ... ada bos, tuh!" Karyawati lain yang bersama Diana dan Susan memberitahu kemunculan Gadis dari arah pintu kantin.


Haikal refleks menoleh ke arah pintu saat mendengar kata 'Bos' disebut salah satu dari wanita di meja sebelahnya. Tentu saja pikirannya tidak kepada Gagah, karena menurut kakak iparnya itu, semua pegawai kantor BDS pusat sudah tahu jika posisi CEO di perusahaan itu sudah berganti kepada Gadis.


***


Gadis melangkah ke luar dari ruang kerja ketika memasuki jam istirahat. Biasanya dia akan meminta bantuan Dewi untuk memesankan makanan di kantin dan akan diantar ke ruangannya. Tapi siang ini, dia ingin datang langsung ke kantin untuk memilih makanan yang dia inginkan.


"Mbak Gadis mau pesan makan apa?" Melihat Gadis keluar dari ruangannya, Dewi langsung bangkit mengira Gadis ingin memintanya memesan makanan.


"Aku mau ke kantin saja, Mbak Dewi." sahut Gadis berjalan ke arah lift.


"Oh, baik, Mbak." Dewi kembali duduk di kursi kerjanya.


Setelah pintu lift terbuka, Gadis masuk ke dalam lift untuk turun menuju kantin yang berada di lantai dasar gedung perkantoran itu. Dan setelah keluar dari lift, Gadis berjalan menuju arah kantin.


Gadis melihat kantin itu cukup ramai dengan karyawan-karyawan perusahaan milik Papanya. Kemunculan Gadis di kantin langsung disambut oleh karyawan dengan menyapa dirinya.


"Siang, Mbak Gadis."


"Mau makan siang, Mbak Gadis?"


"Tumben ke kantin, Mbak Gadis?"


"Silahkan duduk di sini, Mbak Gadis."


Itu beberapa sapaan karyawan sekedar basa-basi kepada Gadis. Dan Gadis hanya tersenyum dengan menganggukkan kepala membalas semua karyawannya. Dia lalu berjalan masuk ke dalam kantin. Namun, langkahnya melambat saat ia melihat sosok pria yang belakangan ini mengganggu hatinya.


"Siang, Mbak Gadis. Makan, Mbak." Ilham menyapa Gadis yang berjalan hendak melewatinya.

__ADS_1


"Siang, Mbak." Melihat Ilham menyapa Gadis, Haikal pun ikut menyapa Gadis.


Tak seperti ketika merespon sapaan karyawan lainnya, Gadis justru mengacuhkan sapaan Haikal. Dia kemudian melanjutkan langkahnya untuk mengambil makanannya.


Melihat Gadis terlihat ketus terhadapnya, Haikal spontan menolehkan pandangan ke arah Gadis yang berjalan menjauh darinya.


"Cantik, masih muda, tapi dia bos, Kal. Jangan ketinggiannya ngarepnya." Dengan terkekeh Ilham menyikut lengan Haikal karena menduga Haikal terkagum dan terpesona pada Gadis yang memang cantik dan masih fresh karena usia Gadis masih belia.


Ketahuan sedang memperhatikan Gadis oleh Ilham, Haikal tersenyum kikuk.


"Wah, saingan kita berat, nih. Kalau Mas Haikal ngeliriknya si bos." Susan berbisik berkomentar, dan kata-kata itu terdengar di telinga Haikal.


Haikal tidak mengerti kenapa dirinya dianggap tertarik pada Gadis? Padahal dirinya biasa saja. Ia pun menyadari jika dirinya adalah orang biasa dan tidak mungkin mengharapkan wanita seperti Gadis untuk menjadi miliknya. Bahkan pertemuan pertama mereka saja meninggalkan kesan tidak menyenangkan bagi Gadis dan juga dirinya.


Setelah mengambil beberapa menu makanan, Gadis melangkah masuk ke dalam ruangan khusus di kantin itu. Biasanya ruangan itu dipakai oleh para petinggi perusahaan jika makan siang di kantin.


Gadis mengambil posisi duduk yang dapat memantau Haikal dari dalam ruangan karena aktivitas di ruangan itu tidak dapat terlihat dari luar ruangan. Dari ruangan itu Gadis bisa melihat beberapa pegawai wanita duduk mendekat ke arah Haikal. Dia juga bisa melihat bagaimana Haikal begitu ramah terhadap wanita-wanita yang mengelilinginya.


"Dasar buaya darat! Sudah punya pacar masih saja tebar pesona pada wanita lain!" Gadis merasa kesal melihat Haikal tersenyum pada karyawan-karyawan wanitanya. Dia menganggap jika Haikal sedang memanfaatkan ketampanannya untuk memikat wanita lain dan menganggap Haikal adalah playboy.


Seketika nafsu makan Gadis hilang, hanya dua sendok saja makanan yang masuk ke dalam mulutnya. Hatinya seolah dibakar cemburu melihat Haikal bisa tertawa dengan karyawan-karyawannya sementara terhadapnya Haikal bersikap kaku.


Tak tahan melihat Haikal bersama wanita-wanita yang sebenarnya sedang berusaha akrab dengan Haikal, Gadis akhirnya memilih meninggalkan kantin itu.


Saat melintasi Haikal, bahkan karyawan-karyawan yang sedang mendekati Haikal seolah tidak melihatnya. Tentu saja Gadis semakin dibuat kesal terhadap Haikal.


Gadis kembali ke ruangannya setelah ia gagal menyelesaikan makan siangnya.


"Mbak, Kak Gagah sudah di ruangannya?" tanya Gadis pada Dewi.


"Pak Gagah masih di ruangannya, belum keluar makan siang, Mbak." jawab Dewi, "Mbak Gadis sudah selesai makannya?" tanya Dewi heran sebab Gadis cepat sekali kembali dari kantin.


"Mendadak tidak selera makan, Mbak." sahut Gadis sambil mengetuk pintu ruangan kerja Gagah lalu masuk ke dalam.


"Kak Gagah." Gadis melihat Gagah belum beranjak dari meja kerjanya.


"Ada apa, Gadis?" tanya Gagah menoleh ke arah Gadis.


"Kak Gagah tolong bilang sama adik ipar Kak Gagah agar jangan menimbulkan kericuhan di perusahaan ini!" tegas Gadis memperingatkan Gagah agar menegur Haikal.


Gagah terkesiap mendengar ucapan Gadis. Dia tidak tahu hal apa yang dimaksud Gadis dengan menimbulkan kericuhan.


"Maksud kamu apa? Dan apa yang sudah dilakukan Haikal di sini?" Gagah bertanya heran.


"Kalau Kak Gagah mau tahu, adik ipar Kak Gagah itu sedang menggoda karyawan wanita di kantin sekarang ini. Dia sedang tebar pesona agar banyak yang tertarik padanya. Nanti malah sesama karyawan di sini saring ribut merebutkan dia." Gadis melaporkan perbuatan Haikal menurut pendapatnya. "Lagipula dia itu sudah punya pacar, untuk apa tebar pesona merayu karyawan di sini!?" Setiap kalimat yang terlontar dari mulut Gadis terdengar penuh rasa kesal.


Gagah mengerutkan keningnya mendengar ucapan Gadis yang menyentuh jika Haikal mempunyai kekasih. Dari mana Gadis mendapat kabar jika Haikal sudah mempunyai kekasih, sementara Haikal sendiri mengaku kepadanya jika status Haikal saat ini masih single. Apakah benar Haikal sedang berbohong? Namun ia yakin jika Haikal tidak mungkin berkata dusta kepadanya.


"Haikal punya kekasih? Dari mana kamu tahu Haikal punya kekasih?"


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading ❤️


__ADS_2