JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG

JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG
Aku Belum Mau Tidur, Kok!


__ADS_3

Jam enam lewat tiga puluh menit petang Haikal keluar dari rumah Om Fajar. Ia sudah membersihkan tubuhnya terlebih dahulu karena seharian beraktivitas dan juga sudah melaksanakan ibadah sholat Maghrib nya agar tidak dikejar waktu jika ia sampai telat sebab ia sudah berbuat janji bertemu dengan Denny dan bosnya di Napoleon Caffe. Jarak antara rumah Om Fajar dengan Napoleon Caffe memang tidak terlalu jauh. Mungkin hanya membutuhkan waktu kurang dari sepuluh menit untuk sampai ke caffe itu.


Haikal sudah menghubungi Pak Rudy terlebih dahulu sebelum ia beranjak ke caffe tempat mereka berencana bertemu. Pak Rudy mengatakan jika ia sudah sampai di cafe itu sekitar lima menit lalu. Sesampainya di parkiran caffe, Haikal kembali menghubungi Pak Rudy untuk memastikan posisi Pak Rudy saat ini berada.


"Halo, posisi  Pak Rudy di mana sekarang?" tanya Haikal.


"Saya di belakang Mas Haikal." jawab suara di ponsel Haikal.


Haikal spontan membalikkan tubuhnya mencari orang suruhan Gagah, hingga ia menemukan sosok pria berambut cepak dengan postur tubuh dan perawakan seperti seorang militer.


"Mas Haikal masuk saja dulu, saya menyusul," lanjut suara Pak Rudy di telinga Haikal.


Tanpa menjawab dan hanya menganggukkan kepala saja, Haikal mengakhiri percakapan telepon mereka. Kakinya melangkah ke arah caffe seperti yang disaranakan oleh Pak Rudy untuk menemui Denny. Saat memasuki pintu masuk caffe, matanya mengedar mencari keberadaan Denny, sampai akhirnya ia melihat sesorang melambaikan tangan ke arahnya. Orang itu adalah Denny, namun tak ada orang yang mendampingi Denny, sepertinya pria itu datang sendiri.


Kaki Haikal kembali melangkah menuju meja Denny. Matanya mengedar mencari sosok orang yang ia cari, seperti yang Gagah tunjukan padanya ketika ia melaporkan soal Denny yang memintanya bertemu di Napolen Caffe sore ini. Saat itu Gagah menunjukkan dua foto dua orang pria. Gagah mengenalkan dua orang di dalam foto itu adalah Denny dan Romy kepadanya. Gagah sengaja menunjuk foto itu agar ia dapat mengenali jika orang yang bersama Denny adalah salah seorang dari pria di foto itu.


"Maaf, saya terlambat, Pak Denny." Haikal bersalaman dengan Denny dan menyampaikan permintaan maaf karena membuat Denny menunggunya.


"Tidak apa-apa, Mas Haikal. Silahkan ..." Denny mempersilahkan Haikal duduk.


"Terima kasih, Pak." Haikal menarik kursi lalu mendudukinya, "Oh ya, apa bos Pak Denny tidak jadi datang kemari?" Tanpa berbasa-basi, Haikal menanyakan orang yang ingin Denny pertemukan dengannya.


"Bos saya sedang dalam perjalanan kemari, Mas. Mungkin sebentar lagi sampai," jawab Denny lalu mengecek ponselnya menanyakan posisi bosnya itu saat ini.


"Oh begitu ..." Haikal melirik ke samping kanannya ketika seseorang melintasi mejanya. Orang itu tak lain adalah Pak Rudy yang memilih meja tepat di depan meja Haikal dan Denny.


"Mas Haikal mau pesan apa? Sebaiknya pesan makanan dan minuman saja dulu." Pak Denny memberikan kode kepada pelayan cafe untuk mendekat.


"Selamat malam, silahkan ..." Seorang pelayan wanita mendekat dan menyodorkan daftar menu kepada Haikal. Pelayan wanita itu tersenyum melihat wajah Haikal yang memang sedap di pandang mata.


"Saya pesan Moccacino Latte saja, Mbak." Haikal hanya menyebut satu pesanan saja.


"Lainnya, Mas?" tanya pelayan wanita itu lagi.


"Itu saja, terima kasih." Haikal merasa cukup dengan pesanannya.


"Kenapa tidak memesan makanan, Mas Haikal? Pesan saja tidak apa-apa, biar nanti kami yang bayar." Denny meminta Haikal tidak ragu-ragu memesan makanan karena bosnya yang akan membayar.


"Tidak usah, Pak. Terima kasih," tolak Haikal kembali, "Saya pesan itu saja, Mbak." Haikal kembali menegaskan pesanannya pada pelayan cafe.


"Baik, Mas. Mohon ditunggu, terima kasih." Pelayan cafe itu akhirnya meninggalkan Haikal untuk menyiapkan pesanan Haikal.


Hampir lima menit menunggu, seorang pria datang menghampiri meja Haikal dan Denny. Denny langsung berdiri menyambut pria itu.


"Silahkan, Bos." Denny bahkan menyiapkan kursi untuk pria yang dipanggil bos olehnya.


Haikal memperhatikan orang yang saat ini duduk berhadapan dengannya. Wajah pria itu sangat familiuar dalam ingatannya. Sebab wajah orang itu sangat mirip dengan wajah orang yang ada di foto yang ditunjukkan Gagah padanya siang tadi.


Haikal menghela nafas perlahan, tak menyangka jika tebakan kakak iparnya sangat tepat. Pantas saja kakak iparnya itu sangat dipercaya menghandle perusahaan besar meskipun itu bukan perusahaan priibadi atau keluarga Gagah. Alasannya karena Gagah sangat jeli dan sangat pandai menganalisa. Kakak iparnya itu dapat menebak bagaimana lawan akan bergerak hingga dapat mengantisipasi sebelum lawan menye rang.


"Kamu yang namanya Haikal?" tanya orang yang Haikal ingat pernah disebut Gagah bernama Dicky.


"Benar, Pak. Saya Haikal." Agar orang itu tidak curiga jika dirinya sudah mengenali orang itu, Haikal memperkenalkan dirinya dengan mengulurkan tangan.


"Saya ..." Orang itu terlihat ragu menyebut namanya, "Saya Dicky, saya ini Om dari Gadis, bos kamu." Akhirnya Dicky mengaku juga siapanya.


"Oh, Bapak Om dari Mbak Gadis?" Haikal berakting seolah terkejut dengan pengakuan Dicky, "Maaf, Pak. Saya tidak tahu kalau Bapak ini Om dari Mbak Gadis." Haikal pura-pura merasa bersalah karena tidak berdiri saat kedatangan Dicky seperti yang dilakukan oleh Denny tadi.


"Tidak apa-apa, santai saja." Dicky mengibas tangannya ke udara, menganggap itu bukanlah hal serius dan ia bisa memaklumi Haikal. "Oh ya, saya dengar katanya kamu supir pribadi Gadis, ya? Sudah berapa lama kamu bekerja dengan Gadis?" Dicky belum pernah bertemu dan melihat Haikal sebelumnya, karenanya ia menduga Haikal adalah orang baru yang bekerja pada Gadis.


"Baru beberapa bulan ini, Pak." jawab Haikal.


"Oh, pantas ... saya belum pernah melihat kamu sebelumnya." Dicky mengganggukkan kepala tanda mengerti. "Kamu sebelumnya pernah kerja di mana?" tanya Dicky menyelidik.


"Saya dulu bekerja di Yogyakarta, Pak." jawab Haikal, "Maaf, kalau saya boleh tahu, ada apa Bapak ingin bertemu dengan saya? Apa ada yang ingin Bapak perintahkan kepada saya? Berhubungan dengan pekerjaan saya, Pak?" Tak ingin Dicky bertanya-tanya tentang asal usulnya, Haikal segera melontarkan pertanyaan soal maksud Dicky menghubunginya.


"Begini, Haikal. Keponakan saya itu masih sangat muda dan masih sangat awam dalam mengurus perusahaan. Sebagai Om nya Gadis, saya tidak ingin ada orang lain yang memanfaatkan posisinya saat ini. Jadi saya berusaha melindungi dia. Saya ingin minta kerjasama kamu untuk melindungi ponakan saya itu. Tolong kamu awasi dia, jauhi dia dari orang yang akan mempengaruhi dan merugikan dia." Dicky mulai memaparkan cerita versinya sendiri dengan maksud mempengaruhi Haikal agar percaya ceritanya dan mau ia ajak berkerjasama dengannya.


"Selama ini saya dan Gadis selalu berseberangan pendapat. Saya ingin agar perusahaan peninggalan Papanya itu dikelola oleh pihak keluarga, namun ia mempercayakan kepada orang lain. Gadis selalu berburuk sangka dengan saya, menganggap saya ingin merebut perusahaan Papanya, padahal tujuan saya ini baik, ingin menyelamtkan perusahaan dari tangan orang yang tidak berhak mengurusnya." Dicky bercerita dengan sangat menggebu-gebu dengan berdrama seolah ia adalah dewa penolong yang berusaha menyelamatkan perusahaan Bintang Gumilang dan keluarga Bintang.


Haikal mendengarkan cerita Dicky, walaupun ia terlihat serius mendengarkan, namun hatinya menangkis semua ucapan yang dikatakan Dicky. Haikal sudah mendengar soal ambisi Om tiri Gadis itu, tidak hanya dari Gagah, tapi juga dari mulut Gadis sendiri. Semua yang diceritakan Dicky tentu bertolak belakang dengan yang disampaikan oleh Gagah dan Gadis.

__ADS_1


"Kamu pasti tahu siapa yang mengurus perusahaan BDS, kan? Yang mengawasi Gadis. Dia itu memang orang yang dipercaya Mas Bintang saat Mas Bintang masih hidup. Tapi saat ini Mas Bintang sudah meninggal, bukan tidak mungkin ia ingin menguasai perusahaan itu. Dia bisa memanfaatkan Gadis untuk menjadi bonekanya, mencapai keinginannya. Apalagi selama ini Gadis dan orang tuanya sangat percaya orang itu. Hati orang tidak ada yang tahu, kan?" Dicky mulai menyinggung soal Gagah, meskipun tidak secara terang-terangan terucap nama itu dari mulut Dicky.


Tangan Haikal mengepal, rahangnya pun mengeras. Ingin rasanya ia menin ju wajah Dicky saat ia mendengar Dicky mulai menyebarkan fitnah terhadap kakak iparnya. Dia tahu apa yang dipaparkan oleh Dicky semua itu adalah omong kosong belaka. Dari semua hal yang disampaikan oleh Dicky, Haikal mulai bisa melihat sifat licik yang dimiliki oleh Dicky. Memutarbalikan fakta dan memfitnah orang lain, menuduhkan apa yang tidak dilakukan orang lain padahal Dicky sendirilah yang melakukan hal itu.


"Lantas apa yang Bapak inginkan dari saya?" Haikal mencoba meredam emosi agar ia tak terpancing dan tidak membuat Dicky curiga padanya.


Dicky menarik nafas panjang sebelum menjelaskan tujuannya meminta Haikal bertemu dengannya.


"Begini, Haikal. Saya ingin kamu mengawasi semua yang dilakukan Gadis. Jangan sampai Gadis kecolongan menandatangani sebuah surat pengalihan perusahan pada orang kepercayaannya itu. Kalau bisa, sedikit demi sedikit buat ia tertarik sama kamu." Bahkan Dicky menyarankan agar Haikal memanfaatkan Gadis.


Haikal terkesiap mendengar perintah Dicky. Benar-benar licik pria di hadapannya saat ini. Jika Denny benar-benar sayang terhadap Gadis dan ingin menyelamatkan Gadis dari orang-orang tidak baik, seharusnya Denny tidak mengumpan dirinya yang notabene orang lain untuk menjebak Gadis agar tertarik padanya.


"Maksud Bapak ini bagaimana?" tanya Haikal berlagak tak memahami keinginan Dicky.


"Begini, Haikal. Kalau Gadis bisa kamu luluhkan, kamu akan mudah mempengaruhi Gadis untuk menjauhkan orang-orang yang akan berusaha menguasai perusahaan BDS," kata Dicky, "Ini demi kebaikan Gadis, Haikal." Bertamengkan rasa perduli terhadap Gadis, Dicky menyebutkan apa yang ia lakukan demi menolong Gadis.


"Hmmm, saya tidak ingin terlibat dalam tindakan kriminal, Pak Dicky," ujar Haikal berusaha menolak, namun ia percaya diri jika Dicky akan meyakinkannya.


"Oh tidak, Haikal. Ini tidak ada hubungannya dengan tindak kriminal. Saya juga tidak mau berurusan dengan hukum. Saya hanya ingin menyelamatkan Gadis dan perusahaan Papanya saja." Dicky membantah jika semua yang ia lakukan bertentangan dengan hukum.


Haikal mendengus, seram juga berhadapan dengan orang-orang seperti Dicky yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang diinginkan, sampai mengumpan Gadis pada orang lain yang tidak dikenal. Akhirnya ia mengerti, mengapa kakak iparnya memberikan tugas kepadanya untuk menjaga Gadis, sebab jika Gadis jatuh pada orang yang salah, bukan tidak mungkin Gadis akan terjebak dalam permainan Om tirinya itu.


"Apa saya boleh mempertimbangkan hal ini, Pak?" tanya Haikal.


Dicky melirik ke arah Denny sebelum akhirnya menjawab, "Baiklah, tapi saya harap kamu tidak mengatakan hal ini pada Gadis, sebab Gadis akan menentang, padahal tujuan saya ini baik." Pastilah Dicky tidak mau jika Gadis sampai mencium rencananya itu.


"Baik, Pak." Haikal akhirnya menyetujui, ia memang tidak akan mengatakan hal ini pada Gadis, namun ia akan melaporkannya pada Gagah. Biar nanti kakak iparnya lah yang akan menyusun rencana.


***


Di meja makan, Airin menikmati makan malam bersama suami dan kedua mertuanya. Sementara Luna tidak ikut bergabung makan malam di ruang makan karena Luna sudah makan sebelum waktu Magrib tiba.


Ini adalah salah satu moment yang paling menyenangkan bagi Airin, di mana ia bisa berkumpul dan menikmati kebersamaan dengan keluarga suaminya. Moment makan malam terasa lebih santai dibanding dengan sarapan pagi yang terasa dikejar waktu.


Airin menatap suaminya bergantian menatap kedua mertuanya. Mereka bagaikan malaikat baginya, karena mereka memperlakukan dirinya juga Luna begitu baik dan sangat manusiawi. Lengkungan senyuman terlihat di sudut bibirnya. Pantas saja sahabatnya merasa iri karena ia mendapatkan suami sekaligus mertua yang sangat baik. Tidak semua orang seberuntung dirinya, dan ia patut bersyukur atas apa yang Tuhan beri kepadanya.


"Kamu tidak ingin memeriksa jenis kela min calon bayi kalian, Airin?" tanya Widya, membuat Airin terkesiap.


"Nanti saja, Ma. Rencananya kalau sudah tujuh bulan sekalian, Nanti kami kasih tahu kalau acara nujuh bulanan," sahut Airin.


"Iya, Pa." jawab Airin.


"Nanti kalau kehamilan kamu sudah besar, sebaiknya kalau weekend jangan menginap di apartemen lagi, Rin. Biar kamu tidak kelelahan bolak-balik," saran Widya.


"Iya, Ma." Tanpa meminta persetujuan sang suami, ia langsung mengiyakan permintaan Mamanya.


"Kamu belum minta pendapatku, Ay." protes Gagah merasa istrinya tidak bertanya padanya terlebih dahulu.


"Kamu ini, Gah! Istri kamu menurut sama mertua kenapa diprotes?" Justru Gagah yang ditegur Widya.


"Iya, iya ... yang menantu kesayangan dibelain terus." Gagah menyindir Mama dan istrinya dengan candaan.


Kata-kata Gagah membuat Airin tak enak hati. Untung saja tidak ada Ayuning dan Putri di sana. Dia tidak mau dianggap seperti yang disebutkan oleh Gagah tadi, sebab ia tahu Widya menyayangi semua menantunya tanpa pilih kasih. Jikalau sikap Widya begitu terlihat berbeda ia anggap karena Widya menginginkan Gagah segera mempunyai pendamping hidup. Dan saat Gagah menikah dengan wanita yang diharapkan oleh Widya, ia merasa wajar dengan sikap Widya itu.


"Kamu ini ngomong apa, sih!? Mama tidak pilih-pilih terhadap menantu! Airin, Ayuning ataupun Putri, semua saja saja. Tidak ada menantu-menantu kesayangan!" tegas Widya menampik jika dirinya mengistimewakan Airin.


Airin melirik suaminya, karena ucapan iseng sang suami yang bermaksud bercanda ditanggapi serius Widya. Dia pun semakin tidak enak hati melihat Mama mertuanya itu menegur Gagah.


"Sudahlah, Ma. Jangan diambil serius, Gagah pasti bercanda berkata seperti itu." Prasetyo sampai menenangkan istrinya karena menganggap istrinya pun terlalu berlebihan dalam menanggapi candaan Gagah.


Mereka pun melanjutkan makan malam kembali dan melupakan apa yang menjadi perdebatan antara Gagah dengan Mamanya.


Setelah menyelesaikan makan malam, Gagah dan Airin langsung menuju kamarnya. Dia ingin segera tahu kabar dari Haikal soal pertemuannya dengan Denny.


"Mas jangan asal ngomong kayak tadi, dong! Aku tidak enak sama Papa Mama, apalagi kalau tadi Mbak Ayu dan Mbak Putri dengar." Meskipun pembahasan soal menantu kesayangan telah selesai, namun Airin masih saja membahas hal tersebut.


"Tenanglah, Ay. Mama itu tidak marah." Gagah justru santai menanggapi kritikan dari Mamanya tadi.


Airin memutar bola matanya sebab sang suami tak menanggapi serius tegurannya. Suaminya itu terlihat mengambil ponsel di atas nakas dan langsung serius dengan ponselnya. Akhirnya ia memilih berpindah ke kamar Luna, di mana Luna sedang menonton televisi ditemani Bi Junah.


Sementara Gagah mengecek ponselnya. Ada panggilan masuk dari Haikal dan juga sebuah pesan dari adik iparnya itu. Gagah langsung membuka pesan masuk dari Haikal yang dikirim sekitar sepuluh menit lalu.

__ADS_1


"Assalamualaikum, Kak. Aku sudah bertemu dengan orang itu dan ternyata benar seperti yang Kakak bilang, bos dari Denny itu ternyata Pak Dicky, Om tirinya Gadis."


Gagah mendengus kasar membaca pesan masuk dari Haikal. Dugaannya tepat, saat Haikal mengatakan berjumpa dengan istri dan anak dari Om tiri Gadis, Gagah tidak mengarah dugaan kepada orang lain selain kedua saudara tiri Bintang Gumilang yang tidak tahu diri itu.


Gagah melirik ke arah pintu penghubung dengan kamar Luna. Dia tidak ingin Airin mendengar dirinya berbicang dengan Haikal hingga akhirnya ia memilih kembali keluar dari kamarnya.


"Assalamualaikum, Kak." Suara Haikal terdengar di telinga Gagah saat ia menghubungi Haikal.


"Waalaikumsalam, bagaimana, Kal? Apa yang kalian bicarakan?" Gagah langsung mengintrogasi Haikal.


"Intinya seperti yang Kak Gagah perkirakan, dia ingin memanfaatkan aku untuk mempengaruhi Gadis, Kak." sahut Haikal, "Mereka tidak suka keberadaan Kakak di BDS, bahkan mereka menuduh kalau Kak Gagah ingin merebut BDS dengan memanfaatkan kepolosan Gadis." Haikal memaparkan inti dari kata-kata yang disampaikan Dicky padanya.


"Mereka benar-benar picik!" geram Gagah sebab ia dituduh ingin berbuat jahat pada keluarga Bintgang Gumilang, Padahal mereka sendirilah yang ingin melakukan hal tersebut.


"Lalu aku harus bagaimana, Kak?" tanya Haikal.


"Ikuti saja permainan mereka dulu. Bilang kamu akan menerima tugas yang mereka berikan," saran Gagah.


"Baik, Kak." sahut Haikal.


"Dia tidak tahu siapa kamu yang sebenarnya, kan?" tanya Gagah.


"Tidak, Kak." jawab Haikal kemudian.


"Oke, biarkan itu akan menjadi kejutan untuk mereka karena bermain-main denganku," ujar Gagah, "Ya sudah, Kakak tutup dulu teleponnya. Kakak tidak ingin kakakmu tahu jika kamu sedang menjalankan suatu misi untuk menyelamatkan Gadis. Kakak yakin, kakakmu pasti akan khawatir jika tahu saat ini kamu sedang didekati oleh Om tiri Gadis. Jaga dirimu baik-baik, Kal. Assalamualaikum ..." Gagah memutuskan mengakhiri sambungan teleponnya dengan Haikal.


"Baik, Kak. Waalaikumusalam ...."


Setelah sambungan teleponnya dengan Haikal terputus, Gagah kembali ke kamarnya, sebab ia tidak ingin istrinya itu curiga ia menelepon seseorang sampai membuatnya keluar dari kamar.


***


Haikal meletakkan ponselnya di atas nakas setelah ia menerima panggilan telepon dari Gagah. Kemudian merebahkan tubuhnya dengan melipat tangan di belakang kepalanya. Tak pernah terbersit di pikiran jika ia akan menjalani hidup layaknya cerita yang ada di serial-serial drama. Menjadi asisten pribadi seorang bos cantik, dimanfaatkan oleh oknum yang ingin menguasai harta bosnya, dan jika ia menjadi penolong bagi Gadis lalu ia pun akhitnya terpikat dengan Gadis, lengkaplah sudah kisah romantika yang biasanya hanya ada di drama-drama televisi.


Haikal mengerjapkan matanya, dia mencoba sadar diri jika ia sampai jatuh cinta pada wanita kaya raya seperti Gadis. Dia tidak ingin menyamakan kisahnya dengan kisah Airin. Kakaknya seorang wanita, jika wanita sederhana dipinang pria kaya raya, ia anggap itu hal yang biasa, berbeda jika wanita kaya raya yang mau menjadi pasangan orang tak punya apa-apa seperti dirinya, ia merasa dunia seakan terbalik.


Senyuman terkulum di sudut bibir ketika ia mengingat tingkah Gadis sore tadi ketika merajuk. Gadis marah karena menganggap dirinya akan bertemu dengan seorang wanita. Sebesar itukah rasa suka Gadis terhadapnya? Sampai Gadis tidak dapat menyembunyikan rasa cemburu padanya?


Dia tidak mengerti. apa yang dilihat Gadis darinya? Karena wajah tampan yang dibilang banyak orang? Tapi, bukankah banyak pria yang jauh lebih tampan darinya apalagi di kota Jakarta ini? Bahkan yang tampan dan mempunyai materi sepadan dengan keluarga Gadis juga banyak. Kenapa Gadis justru menyukainya? Benar-benar sulit dimengerti oleh akal sehatnya.


Haikal bangkit dari tidur dan mengambil kembali ponselnya. Ia melihat pembaruan story akun media sosial chatting dan menemukan story yang dibuat Gadis sekitar empat menit lalu. Dia iseng membuka story milik Gadis.



Tak ada kalimat yang diketik Gadis, hanya sebuah gambar yang bertuliskan kata-kata galau, Senyum kembali terkulum di bibir Haikal, namun ia merasa kasihan juga terhadap Gadis, karena secara tidak langsung dirinya lah yang telah membuat Gadis merasa seperti itu.


Haikal akhirnya berinisiatif mengirimkan pesan pada Gadis. Mungkin pesan darinya akan sedikit menghibur hati Gadis yang sedang gundah gulana karena perasaannya tak berbalas.


"Apa perut kamu masih sakit?" Itu bunyi pesan yang dikirim Haikal pada Gadis.


Haikal menunggu hingga lima menit, pesan itu tak dibaca apalagi dibalas oleh Gadis. Namun dua menit kemudian notif pesan masuk di ponselnya berbunyi.


"Sudah." Hanya kata singkat itu balasan dari Gadis.


"Tugas dari Bu Siska sudah selesai kamu kerjakan?" Haikal kembali mengirim pertanyaan pada Gadis.


"Sudah." Kembali jawaban singkat yang sama yang diberikan Gadis atas pertanyaannya.


"Kamu sudah mengantuk, ya?" Melihat Gadis hanya menjawab singkat-singkat, Haikal menduga Gadis ingin beranjak tidur.


"Ya." Gadis menjawab dengan kata yang berbeda tapi lebih singkat hanya menggunakan satu suku kata.


"Ya sudah, jangan tidur terlalu malam. Selamat beristirahat." Haikal ingin mengakhiri chat dengan Gadis dan membiarkan Gadis beristirahat agar besok kembali fresh untuk menjalani aktivitas.


"Aku belum mau tidur, kok!" jawaban Gadis kali ini berbeda dengan jawaban sebelumnya. Jawaban Gadis kali ini seolah mengisyaratkan jika Gadis tidak ingin Haikal mengakhiri percakapan mereka.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading ❤️


__ADS_2