
Airin menurunkan Luna dari mobil setelah ia sampai di lobby kantor suaminya. Dia lalu berjalan dengan menggandeng tangan Luna masuk ke dalam bangunan perkantoran perusahaan retail tersebut.
Percikan rasa cemburu yang ia rasakan di hatinya membuat dirinya tak berpikir panjang dan membawa langkahnya pergi ke kantor suaminya bekerja, hingga akhirnya ia sudah berada di kantor milik Bintang Gumilang tersebut.
"Selamat siang, Bu." Security menyapa Airin, karena ia sudah mengenali Airin sebagai istri dari bosnya.
"Siang, Pak. Apa Bapak ada di ruangannya, Pak?" Airin membalas ramah sapaan security kemudian menanyakan keberadaan Gagah pada security yang berjaga di pintu masuk lobby kantor.
"Pak Gagah sepertinya tadi keluar kantor, Bu." Security yang mengetahui kepergian Gagah memberitahu Airin jika bosnya itu tidak ada di ruang kerjanya saat ini.
"Oh, sedang keluar ya, Pak?" Rasa kecewa seketika hinggap di hati Airin merasa apa yang ia lakukan dengan datang ke kantor suaminya itu hanya sia-sia.
"Saya permisi kalau begitu, Pak." Airin akhirnya berpamitan pada security.
"Tidak menunggu di ruang kerja Pak Gagah saja dulu, Bu?" Security menawarkan.
"Tidak, Pak. Saya kebetulan mau ke mall sekalian mampir di sini dulu. Saya sengaja tidak memberi kabar Bapak, jadi saya tidak tahu kalau Bapak sedang di luar kantor." Tak ingin dianggap miskomunikasi dengan suaminya, Airin sengaja mengatakan jika dia memang tidak memberitahu Gagah soal rencana kedatangannya ke kantor.
"Oh, baik, Bu." Security mengangguk kepala tanda mengerti.
"Ayo, Luna. Katanya mau main perosotan." Kadung malu karena datang tapi suaminya tak ada di tempat, Airin buru-buru mengajak Luna pergi.
"Papanya mana, Ma?" Luna mendongakkan kepala menatap Mamanya.
"Papa sedang sibuk, tidak ada di kantor," jawab Airin, menuntun Luna melangkah ke bangunan mall di sebelah gedung perkantoran Gagah.
"Papa cibuk kayak Papa Ley, ya, Ma?" Luna memasang wajah sedih karena menganggap Gagah pun mulai sibuk dengan pekerjaannya sama seperti Rey.
Airin mengusap kepala putrinya. Dia tidak ingin melihat Luna bersedih dan menganggap jika Gagah tidak mempunyai waktu untuk mereka karena pekerjaannya seperti yang ia tanamkan selama ini tentang Rey kepada Luna.
"Tidak, kok! Kalau kerjanya sudah selesai Papa pulang ke rumah." Airin membela Gagah, tak ingin suaminya itu mempunyai kesan buruk di mata Luna.
"Ayo, katanya Luna mau mainan ..." Berusaha menghibur Luna dan dirinya sendiri, Airin mempercepat langkahnya masuk ke dalam bangunan mall Bintang Gumilang tersebut.
Berselang tiga puluh menit dari kedatangan Airin, mobil milik Gagah sampai di pelataran gedung perkantoran PT. Bintang Departement Store setelah bertemu dengan relasi bisnis dari Singapura yang tidak bisa ia tunda.
Gagah turun dari mobilnya dan berlari kecil menaiki anak tangga di depan lobby kantornya. Kedatangan Gagah sudah pasti disambut oleh security dengan membukakan pintu kaca untuk Gagah.
"Tadi Ibu datang kemari, Pak." Security memberitahu Gagah ketika Gagah melewati pintu yang ia bukakan.
"Ibu?" Kening Gagah berkerut, tidak tahu siapa 'ibu' yang dimaksud oleh security.
"Maaf, maksud saya istri Pak Gagah." Security menjelaskan siapa yang ia maksud.
"Airin?" Gagah terkesiap mengetahui Airin lah yang menemuinya tadi. "Apa dia ada di dalam?" Gagah ingin bergegas ke ruangannya karena beranggapan Airin ada di dalam ruang kerjanya.
"Ibu tidak masuk ke dalam, Pak. Sepertinya Ibu pergi ke arah mall." Security menjelaskan kepada Gagah ke mana Airin pergi.
Gagah memutar arah kembali keluar dari ruangan lobby. Dia mengambil ponsel dari dalam saku blazernya untuk menghubungi Airin. Dia merasa bersalah karena tidak mengetahui kedatangan Airin ke kantornya.
Beberapa kali panggilan teleponnya tak terangkat. Entahlah, apa karena Airin memang tidak mendengar panggilan teleponnya atau Airin sengaja tidak mengangkatnya, Gagah tidak tahu.
"Istri saya ke mall, Pak?" tanya Gagah pada security yang berjaga untuk memastikan.
"Benar, Pak. Tadi ibu sama si kecil jalan ke arah mall," sahut security.
"Oke, terima kasih." Gagah berlari kecil ke gedung sebelah sambil terus berusaha menghubungi Airin.
Tak juga terhubung dengan ponsel Airin, Gagah kini menghubungi Widya untuk menanyakan apakah Airin sudah kembali ke rumah atau belum.
"Assalamualaikum, Ma. Ma, apa Airin ada?" tanya Gagah kepada Widya ketika ia mulai tersambung dengan Widya.
"Waalaikumsalam ... Lho, bukannya Airin ke kantor kamu, Gagah?" Nada terkejut terdengar dari suara Widya saat Gagah menanyakan soal Airin. Setahunya Airin berpamitan ingin menemui Gagah, lalu kenapa Gagah justru menanyakan keberadaan Airin kepadanya? Mungkin itu yang menjadi pertanyaan Widya.
"Iya, tadi Airin ke sini tapi aku tidak ada di tempat. Aku telepon tapi tidak diangkat teleponnya," jawab Gagah, "Ya sudah, aku mau ke mall, barangkali Airin ada di Kidz Zone, Ma. Assalamualaikum ..." Gagah ingin menutup sambungan teleponnya.
"Waalaikumsalam ..." sahut Widya.
__ADS_1
Gagah menaruh kembali ponsel di balik saku blazernya lalu masuk ke dalam lobby mall. Tujuan pertama Gagah tak lain adalah Kidz Zone, karena Luna pasti akan meminta bermain di sana.
Sesampainya di Kidz Zone, petugas Kidz Zone mengenali Gagah. Petugas itu pun langsung menyapa Gagah dengan penuh hormat.
"Selamat siang, Pak."
"Apa istri dan anak saya ada di sini?" tanya Gagah ketika mendekati petugas Kidz Zone.
"Oh, ada apa, Pak. Silahkan masuk saja, Pak." Petugas permainan anak itu mempersilakan Gagah masuk.
Gagah melangkah masuk ke area permainan anak, sementara matanya mengedar pandangan mencari di mana keberadaan Airin dan Luna. Senyuman seketika mengembang di sudut bibirnya, saat ia melihat wanita cantik yang kini telah menjadi belahan jiwanya itu sedang mengawasi bocah cilik bermain dengan magic sand di hadapannya.
Gagah mendekat menghampiri Airin, kemudian duduk di sampingnya.
"Jalan-jalannya berdua saja, tidak ajak-ajak suaminya, Bu?" tanya Gagah saat sudah duduk di sebelah Airin, membuat Airin terperanjat begitu juga dengan Luna.
"Papa ..." Luna kegirangan melihat kehadiran Gagah, sedangkan Airin masih termangu melihat Gagah saat ini sudah berada di sampingnya.
"Kenapa tidak memberi kabar terlebih dulu kalau ingin ke kantor?" tanya Gagah.
Airin mengerjapkan mata, menyadari jika dia seakan terpaku dengan kemunculan Gagah di sampingnya. Airin menduga jika security lah yang memberitahu Gagah hingga suaminya itu mencarinya ke arena permainan anak.
"Hmmm, Luna ingin pergi ke sini, tadi mampir ke kantor Mas, tapi Mas tidak ada." Airin masih belum mau mengakui jika datang ke kantor Gagah adalah keinginannya. Untung saja Luna masih terlalu kecil hingga Luna tidak menyangkal apa yang ia ucapkan sebagai alasan.
"Kenapa panggilan telepon tidak kamu angkat?" Kini Gagah menanyakan alasan Airin tidak mengangkat panggilan teleponnya.
Airin langsung membuka tas dan mengambil ponselnya, dia memang tidak mendengar suara dering ponselnya karena suara-suara di arena permainan anak itu terlalu berisik.
"Mas telepon? Maaf, aku tidak mendengar, Mas." sesal Airin setelah melihat beberapa panggilan tak terjawab dari suaminya.
"Ya sudah tidak apa-apa," sahut Gagah tak mempermasalahkan, "Kalian sudah makan?" tanyanya kemudian.
"Sudah, Mas." jawab Airin, dengan mata memperhatikan suaminya. Airin sebenarnya ingin bertanya apa yang terjadi saat anak Bintang menemui suaminya, tapi ia masih ragu dan takut dianggap terlalu curiga oleh Gagah.
"Hmmm, Mas tadi habis dari mana?" Airin justru menanyakan ke mana Gagah pergi.
"Dengan anaknya Pak Bintang?" Berusaha untuk menutupi rasa penasarannya, namun Airin akhirnya tak tahan untuk tidak bertanya soal sosok anak Pak Bintang yang tadi menemui suaminya.
Gagah melirik Airin, ia dapat menebak jika istrinya saat ini sedang dalam mode cemburu. Sudut bibir pria tampan itu kembali tertarik ke atas saat mengetahui ada nada cemburu dalam pertanyaan yang terlontar dari mulut Airin.
"Kenapa kalau aku pergi dengan anaknya Pak Bintang? Kamu cemburu?" Secara terang-terangan Gagah menuduh jika Airin tengah cemburu terhadapnya.
"Ah, tidak, kok!" Dengan memalingkan pandangan Airin menyangkal hal yang sebenarnya ia rasakan saat ini.
Gagah terkekeh melihat sikap Airin, walau ditepis oleh sang istri, namun ia dapat merasakan jika saat ini istrinya sedang cemburu. Ia lingkarkan tangannya di pundak Airin, menarik tubuh sang istri agar merapat ke arahnya.
Cup
Sebuah kecupan ia berikan di pipi mulus Airin, membuat Airin terkesiap.
"Iiihh, Papa cama Mama pacalan ... Hihihi ..." Luna bahkan merespon sikap mesra kedua orang tuanya itu.
"Mas, ini tempat umum, lho!" Sedangkan Airin langsung memprotes tindakan Gagah yang melakukan kemesraan di tempat umum.
"Tidak apa-apa, kita ini suami istri." Tak perduli dengan protes Airin, Gagah justru makin mempererat rangkulannya. Gagah pun tak perduli beberapa pasang mata di sana yang memperhatikan kemesraan mereka berdua dengan pikiran masing-masing.
"Kita ke kantorku saja." Gagah melepas rangkulannya dan bangkit lalu mengulurkan tangannya ke arah Airin, membantu Airin untuk bangkit juga.
"Luna, ayo kita ke kantor Papa." Airin lalu mengajak Luna untuk membersihkan sisa magic sand yang menempel di tangan Luna, Setelahnya, Airin bersama Gagah kembali ke kantor Gagah.
***
Airin menemani Luna yang tertidur di kamar istirahat di ruangan Gagah. Semestinnya Luna sudah tidur setelah sholat dzuhur tadi, namun karena rasa cemburu yang dirasakan Airin hingga membawa Luna ikut pergi bersamanya.
Airin turun dari tempat tidur setelah ia melihat Luna benar-benar sudah terlelap. Dia lalu melangkah keluar kamar untuk mencari tahu tentang kedatangan anak Bintang kepada Gagah.
"Benar, Pa. Gadis akan mengambil alih posisi CEO di perusahaan ini."
__ADS_1
Airin menarik langkahnya saat mendengar suara Gagah sedang berbicara dengan seseorang melalui sambungan telepon yang ia duga adalah Prasetyo.
"Iya, Pa. Seminggu setelah hari meninggalnya Pak Bintang, secepatnya kami akan mengadakan pertemuan untuk membahas masalah ini."
Airin semakin mempertajam pendengaran untuk lebih menjelas apa yang sedang dibicarakan oleh suami dan Papa mertuanya itu. Airin mendengar Gagah menyebut nama Gadis, seperti yang diucapkan Gagah saat video call tadi. Dia pun mendengar Gagah mengatakan jika Gadis akan menggantikan posisi Gagah sebagai CEO, apa itu artinya Gagah dipecat dari jabatannya saat ini? Hal itu membuat Airin bertanya-tanya.
Airin memang menginginkan Gagah menjauh dari perusahaan ini, menjauh dari Florencia dan kedua adik tiri Bintang yang sempat diceritakan Widya berambisi menguasai perusahaan retail itu. Tapi, rasanya tidak tega jika melihat Gagah harus diberhentikan secara tidak hormat padahal Gagah tidak melakukan kesalahan.
"Baik, Pa. Nanti kita lanjut bicara di rumah, Assalamualaikum ...."
Gagah terlihat mengakhiri percakapan teleponnya dengan Prastyo, membuat Airin akhirnya keluar dari kamar istirahat tanpa menutup pintu karena takut Luna terbangun.
"Mas ..." Suara Airin terdengar mengagetkan Gagah hingga membuat pria itu menoleh ke arah istrinya.
"Aku pikir kamu tertidur ..." Gagah bangkit dari kursinya lalu menghampiri Airin.
"Apa Mas akan berhenti dari jabatan ini?" tanya Airin.
Gagah tersenyum dan melingkarkan tangannya di pinggang Airin.
"Bukankah itu yang kamu inginkan?" tanyanya sambil tersenyum. Dia lalu membawa Airin duduk di sofa.
"Apa Mas dipecat?" tanya Airin merasa bersalah.
"Hahaha ..." Gagah justru tertawa mendengar pertanyaan istrinya, "Kamu pikir suamimu ini seburuk itu sampai harus dipecat?"
"Bu Farah sudah memutuskan jika Gadis, anak bungsu mereka yang akan menjabat sebagai direktur utama di perusahaan ini." Bola mata Gagah bergerak mengedar pandangan ke seluruh sudut ruangan kerjanya. "Tapi, aku akan tetap di sini, karena Gadis akan dalam pengawasanku selama ia mempelajari tugas dan tanggung jawab sebagai seorang direktur utama." Gagah menjelaskan apa yang akan dia lakukan di perusahaan Bintang ke depannya.
"Secara praktek tugasku masih sama, hanya saja nanti setiap keputusan yang aku ambil atas persetujuan Gadis," sambung Gagah.
Kerutan terlihat di kening Airin saat Gagah mengatakan akan menjadi pengawas Gadis. Otaknya langsung menangkap jika suaminya itu akan selalu bertemu dan berdampingan dengan Gadis di kantor ini.
"Mas dan anak Pak Bintang itu akan selalu bertemu setiap hari di sini?" tanya Airin.
"Iya, karena Gadis akan bekerja di sini, kemungkinan di ruangan ini," jawab Gagah.
"Mas akan seruangan dengan anak Pak Bintang itu?" Airin keberatan jika suaminya harus bersama wanita lain di dalam ruangan yang sama.
Gagah merasakan ada ketakutan dan rasa cemburu dari kalimat yang diucapkan oleh Airin.
"Kenapa kamu terlihat cemas seperti ini?" Helaian rambut Airin ia sampirkan ke belakang telinga, "Kamu takut suamimu ini akan tergoda dengan wanita lain?" tanyanya diiringi tawa kecil.
"Apa Gadis akan seperti Florencia?" Airin justru mengalihkan pertanyaan suaminya dengan pertanyaan mengenai sikap Gadis dan Florencia terhadap suaminya.
"Gadis itu masih berusia tujuh belas tahun dan dia masih duduk si bangku SMA," jelas Gagah.
Bola mata Airin kini membulat mengetahui usia Gadis yang ternyata masih sangat belia, namun sudah ingin memimpin perusahaan.
"Memangnya dia bisa memimpin perusahaan, Mas? Apa dia serius ingin memimpin perusahaan ini atau hanya ingin dekat-dekat Mas saja?" Tanpa sadar Airin menunjukkan rasa cemburunya.
"Apa ini tanda-tandanya kamu sedang cemburu?" Gagah justru tersenyum merespon pertanyaan Airin.
Airin terdiam saat suaminya dapat melihat rasa cemburu yang mulai tumbuh di hatinya.
"Kamu harus percaya padaku, Airin. Aku tidak akan menduakanmu dengan wanita mana pun. Gadis dan Florencia mempunyai sifat yang berbeda. Meskipun usia Gadis lebih muda, tapi ia lebih matang dalam bersikap." Gagah ingin Airin dapat mengerti dan tidak membiarkan rasa cemburu itu semakin liar tumbuh di hati Airin.
"Mengenai ruangan kerja, aku dan Gadis tidak mungkin satu ruangan. Jadi, kamu tidak usah khawatir suamimu ini akan tergoda dengan wanita lain, atau ... kalau kamu kurang yakin denganku kamu bisa datang setiap hari bersama Luna kemari agar aku lebih bersemangat." Gagah kembali terkekeh menawarkan Airin untuk mendampinginya setiap hari ia bekerja.
Airin mendelik mendengar permintaan Gagah yang ia anggap konyol. Tidak mungkin ia menemani Gagah setiap hari di kantornya. Apa yang akan dikatakan para karyawan di kantor itu jika dia mengawasi Gagah bekerja hanya kerena rasa takut Gadis akan tertarik pada suaminya dan akan merebut Gagah darinya. Airin merasa itu adalah hal paling memalukan yang tidak mungkin ia lakukan.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading ❤️