
Airin sama sekali tidak menyangka dengan tindakan konyol yang dilakukan Gagah saat ini di hadapannya. Seorang Gagah Prasetyo Hadiningrat yang selalu bersikap perfeksionis tiba-tiba saja melakukan tindakan yang absurd.
Airin tak munafik, saat bersama Rey dulu, dia sering menyenangkan suaminya dengan melakukan seperti yang diminta saat ini oleh Gagah. Tapi, kondisi rumah tangganya dulu dengan sekarang berbeda. Dulu ia dan Rey sama-sama daling cinta, hingga tak ada lagi kata malu jika dia harus menyentuh bahkan memuaskan milik suaminya itu dengan mulutnya. Berbeda dengan rumah tangganya saat ini. Dia masih malu untuk berinisiatif memulai aktivitas yang berhubungan dengan memuaskan kebutuhan biologis.
"Mas, jangan bercanda, deh!" Airin bangkit dan tak meladeni apa yang diinginkan oleh suami, sebab saat ini mereka sudah ditunggu oleh kedua mertuanya.
"Papa Mama juga pasti akan mengerti, kenapa pengantin baru berlama-lama di dalam kamar." Gagah menarik pinggang Airin hingga kini tubuh Airin merapat dengan tubuhnya.
"Mas, astaga!" pekik Airin dengan bola mata membulat, sebab Gagah tetap tak mengijinkannya meninggalkan kamar itu. Airin takut jika Gagah akan kebablasan, sebab mereka sudah ditunggu oleh Pasetyo. Juga karena Gagah harus berangkat bekerja, tidak mungkin mereka melakukan aktivitas itu.
"Aku bilang kamu jangan pergi, kenapa malah mau kabur?" tanya Gagah tak melepas belitan lengannya di pinggang Airin. Senang rasa hatinya melihat wajah putih mulus sang istri yang sudah diwarnai semu merah
"Mas, jangan konyol! Cepat pakai bajunya, nanti ada yang melihat!" Kesal melihat sang suami tetap saja bersikap konyol, Sama sekali tak nampak pria yang berwibawa dengan jabatan CEO melihat Gagah saat ini. Gagah malah terlihat seperti pria me sum yang tak pernah puas melakukan hubungan in tim.
"Kalau kamu bergerak terus, punyaku ini akan terus menegang. Kamu harus tanggung jawab!" Justru Gagah menyalahkan Airin, padahal itu semua karena ulahnya sendiri.
"Mas, lepaskan ...!" Airin tidak perduli apa yang dikatakan oleh suaminya, ia ingin secepatnya keluar dari kamar itu.
Tok tok tok
"Mas Gagah, Mbak Airin, sudah ditunggu Bapak sama Ibu di ruang makan!" Suara ketukan pintu dan suara Bi Onah terdegar bersamaan dari luar kamar Gagah.
Airin terbelalak saat mendengar suara Bi Onah. Dia pun segera mendorong tubuh suaminya dan mengambil handuk yang tadi ditanggalkan Gagah,
"Mas, cepat pakai dulu!" Airin panik, langsung melilitkan handuk itu guna menutupi bagian bawah perut suaminya.
Airin tidak ingin orang lain melihat suaminya tak memakai sehelai benang pun di tubuhnya. Akan sangat memalukan jika sampai Bi Onah melihat Gagah telan jang, bukan hanya Gagah saja yang merasa malu, tapi dirinya pun akan merasakan hal yang sama.
Berbeda dengan Airin yang terlihat panik, Gagah justru lebih santai. Dia malah menyeringai melihat istrinya yang senewen. Gagah yakin, Bi Onah tidak akan berani masuk ke dalam ke kamarnya tanpa mendapatkan ijin darinya. Siapa pun tak sembarang bisa masuk ke dalam kamarnya itu. Apalagi para ART, untuk membersihkan dan merapihkan kamar Gagah saja harus meminta ijin darinya atau dari Widya jika Gagah tidak ada di rumah. Padahal mereka membersihkan kamar itu tiap hari.
Airin melirik suaminya saat mendengar tawa kecil Gagah. Suaminya itu sama sekali tidak bergerak dari tempatnya berdiri ataupun segera memakai pakaiannya. Seketika kening Airin berkerut. Sesantai itu suaminya, sampai tak takut auratnya terlihat oleh Bi Onah? Airin terheran-heran.
__ADS_1
"Bibi tidak akan berani masuk ke kamar ini, sebelum aku beri ijin," ucap Gagah, kemudian mengambil pakaian dalam untuk ia kenakan.
Tok tok tok
"Mas Gagah, Mbak Airin ...!" Suara Bi Onah kembali terdengar.
"I-iya, Bi. Sebentar ..." Airin menjawab, agar tidak mengundang kecurigaan Bi Onah. "Cepat, pakai bajunya, Mas!" Sebelum membukakkan pintu, Airin sempat mengingatkan sang suami. Dia pun memilih turun lebih dahulu untuk menemui anggota keluarga yang lain yang sudah berkumpul di ruang makan.
***
Setelah menikmati sarapan pagi, Gagah meminta waktu kepada Prasetyo untuk berbincang sejenak di ruang kerja papanya. Gagah tentu ingin memberitahu sang papa soal telepon dari Farah tadi yang memintanya untuk datang ke rumah Bintang.
"Ada apa, Gah?" tanya Prasetyo saat mereka sama-sama sudah duduk di sofa.
"Tadi Bu Farah telepon aku, Pa. Beliau meminta aku datang ke rumahnya, sebab ada yang ingin dibicarakan oleh Pak Bintang." Gagah menjelaskan.
Kening pria berusia mendekati enam puluh tahun itu mengerut, "Apa ini ada hubungannya dengan anak mereka?" Sama halnya dengan Gagah, Prasetyo pun menduga jika apa yang ingin dibicaran oleh Bintang masih berhubungan dengan Florencia.
"Papa ingatkan agar kamu tetap tenang, tidak terpancing emosi. Tetap berpikir jernih, karena sekarang ini kamu sudah mempunyai keluarga. Apabila jika ada hal yang akan mengganggu keutuhan rumah tangga kamu dengan Airin, kamu harus dapat bersikap tegas." Prasetyo dengan bijaksana memberikan nasehatnya pada Gagah, "Pernikahan kamu lebih penting, Gah. Apalagi Airin mempunyai trauma dengan pernikahannya yang terdahulu, jangan sampai dia mengalami kekecewaan lagi," lanjut Prasetyo. Prasetyo tidak ingin rumah tangga anaknya menjadi korban hanya karena jabatan Gagah dipertaruhkan.
"Iya, Pa. Aku mengerti," jawab Gagah. Sebenarnya tanpa disuruh oleh Papanya pun, Gagah sudah punya prinsip sendiri.
"Jika kamu terpaksa harus keluar dari BDS dan usaha jasa ekspeditur yang kalian dirikan masih belum siap, kamu bisa menggantikan posisi Papa di kantor." Prasetyo bahkan siap mundur dari jabatan CEO di perusahaan miliknya dan menyerahkan tugas itu kepada Gagah.
"Nanti aku pertimbangkan, Pa." Sudah lama Gagah ditawari pekerjaan di kantor milik papanya sendiri. Namun, ia menolak karena ia ingin mandiri, dan mengasah kemampuannya dengan bekerja di perusahaan milik orang lain, agar penilaiannya lebih objektif dan orang benar-benar melihat kemampuannya memimpin suatu perusahaan besar bukan karena ia anak pemilik perusahaan tersebut.
Gagah melihat Prasetyo sangat mencintai pekerjaann yang sudah dirintis sejak muda. Papanya itu masih segar bugar dan mampu memimpin perusahaannya sendiri. Belum lagi ada Bagus dan Tegar yang sama-sama anak Prasetyo. Meskipun mereka tidak pernah menyampaikan keberatan, namun Gagah tetap menjaga perasaan kedua kakak laki-lakinya jika dia harus mengambil posisi sang papa.
"Ya sudah, sebaiknya kita keluar sekarang. Nanti akan mengundang kecurigaan Mamamu kalau tahu kita berlama-lama di sini." Prasetyo bangkit dari sofa dan mengajak Gagah menyudahi percakapan mereka dan bersiap untuk pergi ke kantor.
***
__ADS_1
Airin memasangkan dasi di kemeja berwarna denim milik Gagah. Bukan pekerjaan sulit untuknya, karena dulu pun ia sering memakaikan dasi untuk Rey, tak jarang ia menggoda Rey dengan gerakan sen sual meliuk-liuk dengan merapatkan tubuhnya pada tubuh Rey. Bisa dibilang, dia siap menjadi liar untuk memuaskan sang suami, tujuannya tentu saja agar suaminya tidak melirik wanita lain karena semua kebutuhannya sudah terpuaskan. Nyatanya, hal tersebut tidak menjamin suaminya tetap setia padanya, bahkan lebih senang bersama dengan selingkuhnya.
Airin mengerjapkan matanya. Tak seharusnya ia membandingkan rumah tangganya ketika bersama Rey dan dengan Gagah. Semestinya ia pun menutup kisah berumah tangga dengan Rey. Karena saat ini suaminya adalah Gagah. Kini ia berumah tangga dengan pria yang berbeda. Pria yang sejauh ini menunjukkan sikap baik, perduli dan sayang terhadap dirinya dan juga anaknya.
"Jika aku sudah tidak menjadi CEO, apa kamu akan tetap mau menjadi istriku?"
Airin terkesiap dari lamunannya saat mendengar pertanyaan suaminya itu. Netra mata Gagah lalu ia tatap lekat. Entah, dia tidak tahu apa yang membuat suaminya berkata seperti itu? Namun, ia tahu jika setelah sarapan tadi, suaminya berbincang dengan Prasetyo di ruang kerja papa mertuanya itu.
"Siang ini Pak Bintang memanggilku untuk datang ke rumahnya." Gagah jujur mengatakan kepada Airin. Walaupun sebenarnya ia ingin merahasiakan hal ini dari Airin, tapi Gagah tidak ingin Airin salah paham, apalagi jika nanti dirinya akan bertemu dengan Florencia. Gagah ingin Airin tahu apa yang akan ia lakukan.
"Ada apa?" tanya Airin, hatinya mendadak cemas. Apa bos dari suaminya akan meminta suaminya menikahi Florencia? Siapa pun yang tahu bagaimana sikap Florencia kemarin, pasti akan berpikiran ke arah sana.
"Aku belum tahu pasti. Tapi, seandainya aku harus berhenti menjadi CEO di sana, apa kamu siap jika suamimu menjadi pengangguran?" tamya Gagah kembali.
"Memangnya Mas akan berhenti bekerja di sana?" tanya Airin.
"Jika apa yang akan dibicarakan oleh Pak Bintang adalah soal Florencia, dan harus mempertaruhkan rumah tangga kita, aku akan mengambil keputusan untuk resign dari sana. Aku akan rela kehilangan pekerjaanku, daripada harus kehilangan kamu dan Luna." Jawaban Gagah terdengar teduh di hati Airin. Airin tak menyangka jika Gagah akan lebih memilih dirinya daripada pekerjaannya.
"Kalau Mas tidak bekerja, biar aku nanti bekerja lagi saja, Mas. Nanti aku melamar di bank yang lain." Airin bersedia harus kembali bekerja jika memang Gagah harus keluar dari pekerjaannya sekarang.
Gagah terkekeh mendengar niat Airin yang rela harus bekerja. Tangannya menyampirkan rambut Airin ke belakang telinga, tentu ia tidak akan tega melihat Airin bersusah payah mencari uang untuk mereka, karena ia masih sanggup melakukannya. Berhenti sebagai CEO dari Bintang Departement Store baginya bukanlah suatu kiamat. Dia masih bisa berdiri tegak meskipun tidak bergabung dengan perusahaan retail terbesar tersebut.
"Kamu pikir aku tidak punya uang untuk membiayai hidup kalian, hmm? Walau aku pengangguran, aku tidak akan mungkin membiarkan kamu bekerja mencari nafkah. Uang aku masih cukup untuk menghidupi rumah tangga kita." Dengan mengembangkan senyuman di bibirnya, Gagah menjelaskan jika dirinya tidak akan menelantarkan keluarganya, tentu saja dengan hasil kerja kerasnya selama ini bekerja di perusahaan milik Bintang Gautama pundi-pundi uangnya tak membuat dirinya kekurangan. Belum lagi jaminan sebagai anggota keluarga Prasetyo Hadiningrat.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading ❤️