
Gagah memperhatikan istrinya yang sudah terlelap. Dirinya justru tidak bisa tertidur karena dia terlalu excited dengan kemungkinan kehamilan Airin. Gagah sungguh tidak sabar menunggu esok pagi untuk mengetahui hasil test urine milik Airin.
Gagah tak menyangka jika dirinya akan menjadi seorang Papa dalam waktu secepat ini, di usia pernikahannya yang baru satu bulan. Dan jika Airin benar-benar positif hamil, ia merasa bersyukur dipertemukan dengan wanita seperti Airin.
Gagah mengulum senyuman ketika ia teringat pernah menolak dijodohkan dengan Airin, bahkan sampai merobek foto Airin. Untung saja itu tidak berlangsung lama dan ia menyadari ternyata Airin wanita yang berbeda dari wanita-wanita yang selama ini mengejarnya hingga akhirnya ia bisa menikahi Airin.
"Aku berharap Allah SWT memberi kepercayaan kepada kita, agar Luna segera mempunyai adik," harap Gagah membelai kepala Airin penuh kasih sayang.
"Oouugghh ..." Airin menggeliat merasakan sesuatu menyetuh kepalanya. Tangannya lalu meraba mencari keberadaan suaminya. Saat ia sudah merasakan tubuh Gagah di dekatnya, dia pun langsung mendekatkan tubuhnya ke tubuh Gagah dan memeluknya erat.
Gagah kembali tersenyum melihat sikap Airin yang memeluknya seolah tidak ingin jauh darinya, bahkan kini istrinya itu menyukai aroma keringatnya, hal tersebut yang membuat dirinya terheran.
Gagah kemudian mengambil tubuh Airin dan membawa Airin ke dalam pelukannya memberikan rasa nyaman bagi istrinya dalam pelukannya. Dia pun lalu mencoba mengistirahatkan tubuhnya dengan memejamkan matanya hingga beberapa saat akhirnya ia pun terlelap dalam tidurnya.
Keesokan paginya ...
Airin terbangun karena tiba-tiba ia merasakan perutnya yang bergolak dan menimbulkan rasa mual. Airin bangkit dan bergegas menyibak selimutnya lalu berlari ke arah kamar mandi.
Gagah ikut terbangun saat menyadari istrinya itu bangkit dari tempat tidur. Dia langsung menyusul Airin kamar mandi.
"Hoek ... Hoek ...."
"Kamu mual, Airin?" Gagah membantu memijat tengkuk Airin, agar Airin dapat mengeluarkan apa yang naik dari dalam perut istrinya itu.
Airin mencuci mulut dari air kran yang mengalir dari watafel setelah selesai mengeluarkan yang membuat mual perutnya. Dugaan jika dia sedang hamil kini semakin menguat setelah ia merasakan morning sickness.
"Mas, tolong ambilkan testpack di nakas." Airin minta bantuan Gagah untuk mengambilkan testpack-nya sebab ia ingin segera mengecek urine-nya.
"Oh, sebentar." Gagah ingin mengambil testpack yang diminta Airin, namun ia khawatir meninggalkan istrinya sendirian di kamar mandi. "Kamu duduklah dulu." Gagah menuntun Airin duduk di kloset duduk sementara ia segera mengambil alat pengecek kehamilan.
Gagah berlari ke luar kamar mandi untuk mengambil testpack juga air mineral kemudian kembali masuk ke dalam kamar mandi dan memberikannya kepada Airin.
"Ini testpack-nya, kamu minum dulu." Gagah menyuruh Airin minum sebab tadi Airin habis mengeluarkan isi perutnya.
"Mas keluar dulu, aku mau pakai testpack." Airin menyuruh suaminya keluar kamar mandi, karena ia malu ingin buang air kecil di hadapan Gagah.
"Memangnya kenapa?" tanya Gagah.
"Aku mau cek urine pakai testpack ini, Mas."
"Ya sudah, tidak apa-apa aku tunggu di sini." Gagah bersikeras menunggu Airin mengecek urine-nya karena ia pun tak sabar untuk melihat hasil testpack-nya.
"Tapi ... aku malu, Mas." Airin berasalan.
"Kenapa harus malu? Aku ini suami kamu, dan aku sudah melihat setiap detail bagian tubuh kamu, jadi kenapa harus malu?" tanya Gagah tak merasa ada yang salah jika dia melihat Airin buang air kecil.
"Sekarang kamu cepat cek pakai testpack itu, aku sudah tidak sabar untuk mengetahui hasilnya," lanjut Gagah.
Akhirnya setelah dipaksa oleh Gagah, Airin segera melakukan pengecekan sample urine dengan testpack yang dibeli oleh Widya.
"Bagaimana?" tanya Gagah saat Airin mencelupkan alat testpack ke dalam wadah yang sudah diisi dengan sample urine-nya.
"Tunggu sebentar, Mas." Setelah beberapa detik Airin mengeluarkan testpack dari wadah urine.
"Sudah ada hasilnya?" tanya Gagah tak sabar.
"Sabar, Mas." Airin memperhatikan testpack itu hingga memperlihatkan tulisan pregnant di alat tersebut. Cairan bening pun langsung mengembun di bola matanya saat mengetahui dirinya benar hamil.
"Pregnant? Kamu positif hamil, Airin?" Gagah mengambil alat pengecek kehamilan itu dari tangan Airin. Tangannya bahkan sampai bergetar menatap benda kecil itu.
"Kamu benar hamil 'kan, Airin?" Gagah pun merasakan hawa panas di sekitar matanya. Rasa haru dan bahagia menjadi satu di hatinya saat mengetahui hasil testpack yang menunjukkan kehamilan Airin.
"Iya, Mas. Aku hamil, perkiraan tiga Minggu usia kandungannya." Airin menyebut usia kandungan yang tertera di alat testpack itu.
"Alhamdulillah." Gagah langsung memeluk Airin dan menghadiahi ciuman di wajah Airin sebagai rasa suka citanya dengan kehamilan Airin.
Gagah bahkan mengangkat tubuh Airin dengan kedua lengannya, kemudian membawa Airin kembali ke kamar. Gagah meletakkan tubuh Airin ke tempat tidur lalu berjalan ke arah pintu, sebab ia ingin mengabarkan hal membahagiakan ini kepada orang tuanya.
"Kita harus kasih tahu Papa dan Mama soal ini," ujarnya kemudian.
__ADS_1
"Nanti saja, Mas. Ini masih pagi, takut mengganggu Papa Mama." Airin melarang Gagah yang ingin membangunkan kedua orang tuanya hanya untuk memberitahu berita gembira itu.
Gagah akhirnya menarik langkahnya dan kembali mendekat ke arah Airin.
"Apa sekarang masih mual?" tanya Gagah teringat jika istrinya tadi mual-mual.
"Sudah tidak, tapi kepalaku agak pusing, Mas." sahut Airin memijat pelipisnya.
"Mau aku panggilan dokter sekarang?"
"Tidak usah, Mas. Tolong pijat kepalaku saja seperti kemarin." Airin justru meminta Gagah melakukan apa yang dilakukan suaminya itu ketika dia merasakan sakit kepala kemarin pagi. Sebab setelah Gagah memijat keningnya, tak lama rasa sakitnya mulai mereda.
Gagah lalu memposisikan duduk di belakang Airin dan mulai memijat kening dan kepala Airin.
"Segini terlalu keras tidak?" tanya Gagah memberi pijatan lembut di kening dan kepala Airin.
"Sudah cukup, Mas." Airin menikmati pijatan suaminya sembari memejamkan mata.
Melihat Airin begitu menikmati pijatan tangannya, kini Gagah menurunkan pijatannya ke pundak Airin, ia memberikan pijatan ringan hingga turun ke pundak lalu bergerak ke depan mendekati bagian bukit kembar Airin.
"Mas, yang pusing kepalaku, jangan melebar ke mana-mana pijatnya!" protes Airin menyadari suaminya mengambil kesempatan untuk meraba bagian tubuhnya yang lain, terutama di daerah bukit kembar favorit Gagah.
Gagah terkekeh, karena Airin mengetahui modusnya.
"Menggerayangi istri sendiri tidak apa-apa, kan?" Gagah berkelit, merasa tak ada yang salah dengan tindakannya tadi. Justru dia kini memeluk tubuh Airin dari belakang, ia pun menaruh kepala di pundak Airin.
"Aku sangat bahagia mendengar kehamilan kamu. Apa kamu juga merasa bahagia?" tanya Gagah ingin tahu bagaimana perasaan Airin tentang kehamilannya ini.
"Aku senang, Mas." jawab Airin.
"Hanya senang saja?" Gagah kurang puas dengan jawaban Airin.
"Bahagia juga," lanjut Airin sebab sang suami memprotesnya karena jawaban pertama tadi.
"Luna pasti senang kalau tahu calon adiknya sudah ada di sini." Tangan Gagah mengusap perut Airin.
"Luna?" Teringat anaknya, Airin melepaskan diri dari pelukan Gagah. Ia lalu beranjak dari tempat tidur ingin ke kamar Luna.
Airin lalu berbaring di samping Luna dan membelai kepala putrinya bersama Rey.
"Semalam Luna tanya, adik bayi di perutku sedang apa? Aku bilang nanti kalau Luna bangun tidur, aku akan kasih tahu adik bayinya sedang apa? Alhamdulillah ternyata aku benar hamil, Mas. Kalau tidak, aku tidak tahu harus menjawab Luna apa?" Airin bercerita apa yang ditanyakan oleh Luna kepadanya.
"Alhamdulillah ..." sahut Gagah, "Mulai hari ini kamu jangan capek-capek, Airin. Jangan melakukan aktivitas yang dapat membuat janin di perut kamu itu kenapa-napa." Gagah sudah mulai posesif terhadap kehamilan Airin.
"Mas tidak usah khawatir, waktu aku hamil Luna dulu aku malah bekerja, dan alhamdulillah kehamilanku baik-baik saja, Mas." Berpengalaman hamil Luna, Airin menganggap tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan kehamilannya.
"Tapi aku tetap tidak ingin kamu terlalu banyak beraktivitas!" Gagah tegas melarang.
"Kalau ibu hamil dibatasi aktivitasnya malah bikin bete lah, Mas." Airin tidak setuju dengan larangan Gagah.
"Kamu tidak kasihan dengan calon anak kita ini?" Gagah menggunakan alasan janin di perut Airin agar Airin menurut dengannya.
"Insya Allah janin di perut aku akan baik-baik saja, Mas. Aku sudah pengalaman hamil dan melahirkan, jadi aku tahu apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh Ibu hamil." Airin berargumentasi, sebab ia merasa kebebasannya akan semakin dibatasi jika Gagah tetap berpendapat seperti itu.
"Kamu mau melawan suami?" Tatapan mata tajam Gagah mengarah pada Airin sebab menganggap istrinya itu membantah keputusannya.
"Tidak seperti itu, Mas." Airin bangkit dan bergeser mendekat ke arah Gagah. Dia mengusap dada suaminya dengan tangannya, "Mas jangan salah paham dengan ucapanku tadi. Aku hanya ingin Mas jangan terlalu mengkhawatirkan aku." Airin mencoba menenangkan Gagah dengan rayuan dan sentuhan.
"Bagaimana aku tidak khawatir? Kamu sedang mengandung anakku, anak kita." Gagah merasa keputusan melarang Airin beraktivitas adalah demi kebaikan istrinya itu.
Tak juga dapat menaklukkan hati suaminya, Airin kemudian memeluk dan menyandarkan kepala di bahu sang suami.
"Iya, Mas. Aku tahu. Aku juga tidak mungkin menyakiti calon anak kita, kok. Mas jangan galak-galak, dong, Mas." Airin bergelayut manja.
Tindakan Airin yang bermanja-manja padanya membuat sikap tegas Gagah melemah, bahkan senyuman terkulum di bibirnya. Pastilah ia merasa senang melihat sikap Airin yang bergelayut manja padanya, padahal selama ini Airin terkesan gengsi melakukan hal itu dalam keadaan sadar. Apakah ini ada hubungannya dengan kehamilan Airin? Bahkan Gagah sempat berpikir jika memang Airin berubah sikap seperti ini karena sedang ngidam atau sedang mengandung, rasanya Gagah ingin membuat Airin hamil terus agar istrinya itu menghilangkan gengsi dan ingin terus dekat dengannya, bahkan makin manja dengannya seperti minta dipijat dan makan sepiring berdua.
"Mama? Papa?" Tiba-tiba Luna terbangun, terkejut melihat Airin dan Gagah ada di hadapannya saat ini.
"Eh, anak Mama sudah bangun?" Airin merentangkan tangan menyambut anaknya yang bangkit dari tidur.
__ADS_1
"Mama cama Papa bobo di cini?" tanya Luna dengan menggosok mata dengan tangannya.
"Papa sama Mama ingin memberitahu berita gembira pada Luna." Gagah menjawab pertanyaan Luna.
Luna menatap serius ke arah Gagah, dia tidak tahu arti kata berita gembira padanya.
"Luna akan punya adik dan adik Luna sudah ada di perut Mama," lanjut Gagah.
Kini pandangan polos Luna menoleh ke perut Airin. lalu mengusap perut Mamanya.
"Adik bayinya lagi apa, Ma?" Luna sepertinya masih penasaran dengan adik bayinya.
Airin membelai kepala Luna dengan senyuman di bibirnya.
"Adik bayi sedang bobo, sayang," sahut Airin.
"Luna mau lihat adik bayinya." Luna masih belum memahami sehingga ia mengatakan ingin bertemu dengan adiknya.
"Luna masih belum bisa melihat adik bayinya sekarang, soalnya adik bayinya masih di perut Mama, sayang." Airin menjelaskan agar Luna dapat mengerti.
"Kenapa adik bayinya ndak kelual, Ma?" tanya Luna.
"Nanti, Luna. Kalau perut Mama sudah membesar, baru adik bayinya pasti lahir, Luna pasti akan bertemu dan melihat dengan adik Luna," lanjut Airin menerangkan.
"Hole ... Luna punya adik bayi!" Luna kemudian berdiri dan melonjak kegirangan.
Airin dan Gagah saling berpandangan dengan senyum di bibir mereka melihat kebahagiaan mereka yang tertular pada Luna.
***
Sebelum pergi ke kantor, Gagah menemani Airin pergi ke dokter untuk memeriksa kandungan Airin. Dia ingin tahu bagaimana kondisi calon anaknya di perut Airin sekarang ini.
Gagah ingin seperti suami-suami pada umumnya, yaitu mengantar istri ke dokter kandungan. Untung saja Airin mendapatkan nomer antrean kedua hingga Gagah tidak terlalu lama menunggu.
"Bagaimana, Dok?" tanya Gagah saat Dokter
Evy selesai memeriksa Airin.
"Selamat ya, Bu Airin, Pak Gagah, memang Bu Airin saat ini sedang hamil dan usia kandungannya saat ini memasuki tiga Minggu."Dokter Evy menyebutkan usia kandungan yang sama dengan usia yang tertera di alat testpack. "Adik cantik mau punya adik, ya?" lanjut Dokter Evy mengajak berbicara Luna yang ada di atas pangkuan Gagah.
"Alhamdulilah ..." sahut Gagah, "Bagaimana kondisi kandungan istri saya, Dok?" tanya kemudian.
"Kondisi kandungan baik, nanti saya beri vitamin agar kandungannya tetap kuat dan sehat," jawab Dokter Evy.
"Dok, istri saya ini saya larang untuk beraktivitas tapi dia susah dilarang. Tolong dokter beritahu agar dia menjaga kandungannya, Dok." Gagah meminta bantuan Dokter Evy untuk menasehati Airin.
"Tapi saya tahu apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, kok, Dok." Airin menyanggah dan memberi alasan..
"Memang jika dalam usia kandungan masih muda, harus bisa menjaga kandungan dengan baik sebab masih sangat rentan. Tapi itu bukan berarti Ibu Airin tidak boleh melakukan apa-apa, Pak Gagah. Ini juga kebetulan hamil anak kedua, kan? Bu Airin pasti sudah berpengalaman, kan, Pak? Apa waktu kehamilan adik cantik ini Pak Gagah posesif juga kepada Bu Airin?" tanya Dokter Evy terkekeh, dia mengira jika Luna adalah anak pertama Airin dan Gagah.
Gagah dan Airin saling berpandangan ketika mendengar guyonan Dokter Evy. Dokter Evy bertanya sebab tidak tahu jika Luna bukanlah anak Gagah, apalagi Luna yang duduk di pangkuan Gagah terlihat dekat dengan Gagah, siapa yang akan menduga jika hubungan Gagah dan Luna adalah Papa dan anak sambung.
"Status saya Papa sambung Luna, Dok." Tak sungkan Gagah menyebut jika dirinya hanyalah Papa sambung bagi Luna, "Tapi saya sudah menganggap dia seperti anak kandung saya sendiri, Dok." Gagah membelai kepala Luna yang dihiasi bandana berwarna pink.
"Oh, maaf, Pak Gagah, Bu Airin. Saya kira adik cantik ini anak Bu Airin dengan Pak Gagah, soalnya terlihat akrab sekali hubungannya. Adik cantik ini juga terlihat nyaman sekali dengan Pak Gagah, mungkin Pak Gagah sudah menganggapnya seperti anak kandung sendiri hingga membuat dirinya merasa nyaman dengan Pak Gagah. Anak kecil biasanya akan peka pada orang-orang yang tulus terhadapnya." Dokter Evy dapat menilai.
"Ketika saya menikahi dan mencintainya Mamanya, secara otomatis saya juga harus menyanyangi Luna, Dok." jawab Gagah.
"Pak Gagah benar-benar suami dan Papa idaman sekali, beruntung sekali Bu Airin ini," ujar Dokter Evy jujur mengakui siapa pun yang menjadi istri Gagah adalah wanita yang paling beruntung.
"Kamu dengar, kan? Kamu beruntung memilikiku." Gagah kini mengusap kepala Airin, membuat Dokter Evy tersenyum melihat interaksi Gagah yang terlihat romantis.
"Wah, saya harus secepatnya membuat resep, karena lama-lama saya bisa diabetes jika ada di tengah-tengah Pak Gagah dan Bu Airin, nih." kelakar Dokter Evy diakhiri dengan tawa kecil.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ...
Happy Reading❤️