JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG

JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG
Menjemput Nenek Luna


__ADS_3

Airin sibuk menyingkirkan tangan Gagah yang menggeranyangi tubuhnya. Dia seperti terpengaruh ucapan Tegar tadi di meja makan. Airin takut kenikmatan yang diberikan dari sentuhan sang suami membuatnya lepas kendali dan mengeluarkan de sahan sebagai bentuk rasa nikmat dan puas dengan tindakan Gagah.


"Mas ... bagaimana kalau anak-anak masuk kemari?" Airin khawatir saat bercinta dengan Gagah, Luna dan keponakan Gagah tiba-tiba masuk ke kamar mereka.


Sebelum melakukan aktivitas bercinta, Gagah sudah mengunci pintu akses ke kamar Luna dan membuka pintu kamar Luna lainnya yang langsung mengakses ke luar kamar Luna. Saat ini Luna tidur bersama Clarissa dan Dea, ditemani salah satu ART yang menjaga sehingga Luna tidak akan ketakutan.


"Mereka tidak bisa masuk, sebab pintu sudah aku kunci." Sejak ditegur Widya, kini sepasang suami istri itu sudah mulai merubah panggilannya.


Gagah kini sudah berada di atas tubuh Airin dan mulai melakukan pemanasan terlebih dahulu. Tangan, lidah dan bibirnya terus bekerja memberikan sentuhan di setiap area sensitif istrinya itu.


"Tubuhmu sangat indah, Airin. Aku sangat menyukainya." Tangan Gagah menjelajah dua pegunungan yang tinggi menjulang dengan puncak yang siap ditaklukkan.


"Oougghh ..." Tubuh Airin mulai menggelinjang saat jari-jari kuat Gagah bermain di bagian paling nikmat yang dipunyai Airin dan paling favorit bagi Gagah.


"Apa kamu siap hamil sekarang, Airin?" tanya Gagah sebelum membenamkan miliknya ke inti Airin." Sebagai pengantin baru, sudah pasti Gagah pun ingin pernikahannya dengan Airin cepat diberikan momongan.


Airin tak langsung menjawab pertanyaan Gagah. Terbersit kembali ketakutannya soal nasib Luna saat ia mempunyai anak dari Gagah. Apakah suaminya dan keluarga suaminya akan membedakan sikap mereka kepada Luna dan pada anaknya kelak bersama Gagah.


"Kenapa diam?" Gagah bertanya saat Airin tidak merespon pertanyaannya.


"Apa sikap Mas terhadap Luna akan berubah setelah kita punya anak nanti?" Airin menyampaikan rasa cemasnya. Ada baiknya ia menyampaikan hal tersebut kepada suaminya.


"Kenapa kamu berpikir seperti itu? Luna adalah hal paling penting untuk kamu, bagaimana mungkin aku mengabaikan Luna?" Gagah membelai kepala Airin. Dia ingin mengikis kecemasan yang dirasakan Airin.


"Sejak aku menjadi suamimu, Luna sudah menjadi anakku juga. Meskipun aku bukan Papa kandung Luna, namun ingin Luna merasakan kebahagiaan layaknya seperti anak kandung selama bersamaku," janji Gagah, "Jadi, tolong buang jauh-jauh kecemasanmu itu, Airin." lanjutnya.


Airin tersenyum seraya menganggukkan kepala. Kini dia sudah tidak mengalami rasa takut lagi tentang nasib Luna ke depannya.


"Jadi, kamu siap memberikan adik bagi Luna?" tanya Gagah kembali dengan mengulum senyuman menggoda.


Airin menatap wajah Gagah. Kali ini tangannya yang mengusap wajah tampan suaminya itu. Tak lama kepalanya mengangguk tanda setuju dengan permintaan sang suami. Setelahnya, Gagah melakukan penyatuan dengan tubuh Airin dan siap memberikan kenikmatan tak terbantahkan menjelang tidur malam ini.


***


Ibu Heny baru selesai melaksanakan sholat Dzuhur ketika ia mendengar bel pintu rumahnya berbunyi. Dia bergegas keluar dari kamar dan beranjak menuju ruang tamu untuk membukakan pintu untuk mengetahui siapa tamu yang datang ke rumahnya siang ini.


Ibu Heny terlihat kaget ketika mengetahui siapa yang datang ke rumahnya. Seorang wanita seusianya yang tak lain adalah Wulan berdiri di balik pintu rumahnya.


"Bu Wulan?"


"Assalamualaikum, Bu Heny." sapa Wulan saat pintu rumah terbuka dan melihat mantan besannya itu.


"Waalaikumsalam, Bu Wulan. Hmmm ... dengan siapa Ibu kemari?" Ibu Heny melongok keluar, ingin mengetahui siapa yang datang bersama Wulan saat ini. Dia khawatir jika sampai Rey juga ikut datang ke rumahnya. Jujur saja, ia merasa malas jika harus bertatap muka kembali dengan mantan menantunya itu.


"Saya datang sendirian, Bu. Tadi naik taksi," sahut Wulan.


"Oh, mari silahkan masuk, Bu." Meskipun Rey sudah melakukan hal yang tidak baik terhadap putrinya, namun Ibu Heny tetap memperlihatkan sikap baik dan santun terhadap Wulan.


Beberapa hari setelah mengetahui kabar dari Airin tentang perceraian Rey dengan Airin, Wulan sempat menghubungi Ibu Heni dan sempat menyampaikan permohonan maafnya kepada Ibu Heny, karena tindakan Rey yang membuat dirinya sangat kecewa.


"Ibu Wulan apa kabar?" Ibu Heny berbasa-basi setelah mempersilahkan mantan besannya itu masuk.


"Alhamdulillah, baik, Bu." sahut Wulan, "Maaf saya baru sempat kemari, Bu. Sebenarnya saya malu harus bertemu muka dengan Ibu." Wulan menyampaikan penyesalannya dan harus menahan rasa malunya karena perbuatan Rey.


Ibu Heny tersenyum mendengar ucapan Wulan. Walau Rey sudah berbuat jahat, dia tidak bisa ikut memusuhi Wulan, karena ia tahu Wulan juga pasti sangat kecewa dengan perbuatan Rey kepada Airin juga Luna. Lagipula saat ini Airin sudah menikah dengan pria yang lebih baik dari Rey, dia tidak perlu menyimpan dendam apalagi terhadap Wulan yang tidak bersalah dalam hal ini.


"Tidak usah merasa seperti itu, Bu. Saya tahu itu bukan kesalahan Ibu Wulan." Ibu Heny menjawab dengan sangat bijak.


"Oh ya, bagaimana kabar Airin dengan Luna, Bu?" Wulan sengaja menanyakan kabar mantan menantu dan cucunya itu. Tak ingin langsung menanyakan soal kabar pernikahan yang disampaikan oleh Rey padanya.


Ibu Heny terdiam dengan pertanyaan Wulan. Tak enak harus mengatakan jika saat ini Airin telah menikah kembali dengan pria lain, karena Airin dan Rey baru saja berpisah meskipun sudah tak ada larangan bagi Airin untuk menikah kembali.


"Hmmm, alhamdulillah Airin sama Luna, mereka sehat dan baik-baik saja, Bu Wulan." Heny memilih menutupi status anaknya, karena dia tidak ingin Wulan salah paham dan berburuk sangka pada Airin.


"Oh ya, Bu. Kemarin Rey menelepon saya dan dia mengabarkan berita yang mengejutkan sekali mengenai Airin. Rey bilang jika saat ini Airin telah menikah lagi. Apa itu benar, Bu Heny?" Makin penasaran karena Ibu Heny tidak menyinggung sola pernikahan Airin, Wulan pun akhirnya bertanya dengan hati-hati mencari kebenaran berita tersebut.


Bu Heny menelan salivanya. Dia lupa kalau Rey sendiri sudah mengetahui pernikahan Airin. Bukan tidak mungkin jika Wulan pun sudah tahu soal pernikahan itu.


"Benar, Bu. Airin memang baru saja menikah sekitar dua minggu lalu." Dengan rasa tak enak hati Bu Heny terpaksa menyanpaikan kebenaran soal pernikahan kedua Airin kepada mantan besannya.

__ADS_1


"Oh ..." Nada kecewa terdengar dari suara Wulan saat mengetahui jika apa yang disampaikan oleh Rey itu benar. Awalnya dia berharap itu hanya akal-akalan Rey saja.


"Tiga bulan setelah perceraian Airin, Airin bertemu dengan anak dari sahabat tantenya di Jakarta, Bu Wulan. Kebetulan sahabat tantenya Airin itu sedang mencari calon menantu untuk anaknya yang belum juga berniat untuk segera melepas masa lajangnya. Dan ketika dikenalkan dengan Airin, ternyata anak teman tantenya Airin itu langsung merasa cocok dengan Airin. Bahkan pria itu langsung datang kemari meminta restu pada saya dan bapaknya Airin." Ibu Heny mulai menceritakan bagaimana Airin akhirnya bisa menikah kembali. Dia perlu meluruskan agar Wulan tidak mempunyai pikiran buruk tentang Airin.


"Semula Airin menolak, karena perceraiannya baru saja terjadi dan dia masih merasa trauma. Tapi karena pria dan keluarganya bersikukuh ingin mempersunting Airin dan keluarga kami juga mendukung agar Airin menerima pinangan pria itu, akhirnya Airin menyetujui dilamar dan dinikahi oleh pria itu. Saya pikir Airin dan Luna sudah sepantasnya mendapatkan kebahagiaan dengan memulai hidup baru dan tidak terus terbelenggu dalam kesedihan setelah pernikahan pertamanya kandas." Ibu Heny tentu tidak ingin putrinya dicap tidak baik, sehingga ia berusaha menjadi perisai bagi Airin jika ada orang yang akan berburuk sangka terhadap putrinya.


Wulan mendesah. Apa yang diceritakan oleh Bu Heny sangat berbeda jauh dengan yang diceritakan oleh Rey. Wulan harus objektif dalam bersikap. Jika dia berposisi terbalik sebagai orang tua Airin, dia pun pasti berharap anaknya mendapatkan suami baru yang jauh lebih baik dari mantan suami anaknya yang telah berselingkuh. Dan kini dia benar-benar menyadari jika anaknya lah yang mutlak bersalah, bukan hanya berselingkuh, bahkan Rey sampai memfitnah Airin. Wulan benar-benar merasa malu, Rey seperti melemparkan kotoran ke mukanya.


"Hmmm, orang mana suami Airin yang sekarang, Bu Heny?" Wulan bertanya untuk menutupi rasa malunya,


"Dia tinggal di Jakarta, tapi orang tuanya asli Jogya juga," ujar Ibu Heny.


"Bagaimana sikap Luna terhadap Papa sambungnya itu, Bu Heny?" Wulan tentu merasa khawatir cucunya tidak mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari suami baru Airin.


"Luna sangat senang mempunyai Papa sambung. Apalagi suami Airin dan keluarganya sangat baik, perhatian dan sangat menyanyangi Luna." Bu Heny berkata sesuai apa yang dia lihat dan rasakan. "Oh, maaf, Bu Wulan. Saya bukan bermaksud membandingkan." Menyadari dirinya terlalu membanggakan sosok menantu barunya di hadapan mantan besannya itu, Bu Heny langsung menyampaikan permohonan maaf agar Wulan tidak merasa tersinggung dengan ucapannya tadi.


Wulan tersenyum getir. Sejujurnya ia merasa sedih dengan perpisahan Airin dengan Rey, karena hal itu secara tidak langsung membuat dirinya semakin jauh dengan cucunya.


"Saya kangen sekali dengan Luna, Bu Heny. Apa saya masih bisa bertemu dengan Luna, Bu?" Wulan takut tidak punya kesempatan untuk bisa bertemu dengan cucunya kembali.


"Bu Wulan ini bicara apa? Tentu saja Bu Wulan bisa bertemu dengan Luna. Bagaimanapun juga Bu Wulan itu Nenek Luna juga, kan?" Bu Heny merasa bersalah karena perkataannya tadi membuat Wulan bersedih.


"Saya ingin sekali berbicara dengan Luna, tapi saya takut karena sekarang Airin punya keluarga baru. Apa Bu Heny bisa membantu saya? Saya ingin bicara dengan Luna melalui video call." Wulan berharap Bu Heny membantu menyambungkan panggilan telepon dengan Luna.


"Tentu saja, Bu Wulan. sebentar, Sebentar saya ambil HP saya dulu. Sekali ambil minum, sampai lupa saya menyediakan minum." Bu Heny berpamitan ke kamarnya terlebih dahulu untuk mengambil ponselnya lalu ke arah dapur membuatkan minuman dan menyiapkan kue-kue ringan untuk disajikan kepada mantan besannya itu.


***


Tak ada aktivitas yang bisa Airin kerjakan setelah dia resign dari bekerja selain membantu memasak di pagi hari, berbincang dengan Mama mertuanya dan menemani Luna bermain di kamarnya.


Seperti siang ini. Setelah menikmati makan siang dan berbincang ringan dengan Widya, Airin berpamitan pada Mama mertuanya kembali ke kamar karena Luna terlihat sudah mengantuk, dan ini sudah waktunya bagi Luna untuk tidur siang.


"Ayo, cepat bobo, sini!" Airin menepuk tempat tidur milik Luna, meminta putrinya itu cepat berbaring, lalu memberikan botol su su untuk anaknya itu


Ddrrtt ddrrtt


"HP Mama bunyi ..." Luna menunjuk ke arah nakas, di mana Airin meletakkan ponsel miliknya tadi.


Airin kembali bangkit mengambil ponsel miliknya untuk melihat siapa yang menghubunginya.


"Papa telepon, ya, Ma?" Luna menduga Gagah lah yang meneleponnya. Sebab setiap hari Gagah selalu menyempatkan diri menelepon Airin dan Luna dari kantornya.


"Bukan Papa, tapi Nenek yang telepon." Airin segera mengangkat panggilan telepon dari ibunya.


"Assalamualaikum, Bu." sapa Airin saat penggilan video itu telah tersambung.


"Waalaikumsalam, Airin. Kamu sedang istirahat?" tanya Ibu Heny.


"Sedang ngelonin Luna bobo siang, Bu." sahut Airin.


"Luna nya sudah tidur, Rin?" tanya Bu Heny.


"Belum, Bu." Airin menoleh ke arah Luna. Terlihat Luna bangkit dari berbaring lalu meletakan botol su su yang telah habis kemudian menghampiri Airin.


"Luna mau liat Nenek, Ma." Luna meminta ponsel Airin. Dia pun ingin berbincang dengan Neneknya itu.


Airin duduk di tepi tempat tidur Luna memperlihatkan layar ponselnya yang nampak wajah Ibu Heny pada Luna.


"Nenek ..." Luna melambaikan tangan ke kamera ponsel Airin.


"Halo, cucu Nenek. Luna mau bobo, ya?" tanya Ibu Heny.


"Iya, Nek." sahut Luna, "Nenek mau bobo ndak?" tanya Luna pada Nenek.


"Nenek sedang ada tamu, Sayang." sahut Ibu Heny.


"Ada tamu siapa, Bu?" Airin terheran, di saat sedang menerima tamu, Ibunya itu justru melakukan panggilan video dengannya.


"Nih, kamu bicara sendiri." Tak lama wajah wajah ibunya menghilang dari layar ponselnya berganti dengan wajah Wulan lah yang memenuhi layar ponsel Airin saat ini.

__ADS_1


"Ibu?" Airin terkesiap karena justru Wulan lah yang sedang berhadapan via sambungan video dengannya.


"Nenek Ulan ..." Luna tentu mengenali wajah orang tua dari Papanya.


"Airin, halo Luna, cucu Nenek. Apa kabar?" Wajah Wulan terlihat sendu bahkan genangan cairan bening menutupi bola mata Wulan.


"A-aku sama Luna Alhamdulillah baik, Bu. Ibu ada di mana?" Airin tak menyangka jika saat ini Ibunya sedang bersama dengan Mama dari mantan suaminya dulu.


"Mama sedang berkunjung ke rumah orang tuamu, Airin. Mama kangen sekali sama Luna. Apa Mama boleh bertemu dengan Luna, Rin?" tanya Wulan penuh harap.


"Tentu saja, Bu." Tidak mungkin Airin melarang Luna bertemu dengan Neneknya, "Apa Ibu mau ke Jakarta?" tanya Airin.


"Kalau Mama memang diijinkan bertemu, siang ini Mama terbang ke sana, Rin." Wulan bersemangat setelah mendapat persetujuan dari Airin.


"Ibu dengan siapa datang ke Jogya?" tanya Airin.


"Mama hanya sendirian, Rin." jawab Wulan.


"Ya sudah, kalau Ibu mau ke sini dan bertemu Luna nanti saya jemput ibu. Kalau Ibu sudah sampai di bandara Ibu kabari aku saja." Airin berencana menjemput mantan Mama mertuanya itu.


"Iya, Rin. Kalau begitu Mama tutup dulu teleponnya. Luna mau tidur, kan? Assalamualaikum." Wulan ingin mengakhiri panggilan teleponnya, karena ia ingin bersiap ke bandara untuk pergi ke Jakarta.


"Iya, Bu. Waalaikumsalam." Panggilan video itu langsung terhenti setelah Airin menjawab salam. Bahkan Airin tidak sempat berpamitan dengan Ibunya sendiri. Rasa bahagia Wulan karena diijinkan bertemu dengan Luna membuat wanita paruh baya itu lupa jika ponsel yang dia pegang bukan miliknya sendiri.


"Luna ayo bobo. Nanti kita mau ketemu dengan Nenek Wulan." Airin kembali menyuruh anaknya untuk tidur.


Sambil mengusap punggung Luna, Airin menyempatkan berkirim pesan kepada Gagah untuk memberitahu soal rencana kedatangan mantan mertuanya itu.


"Assalamualaikum. Mas, Nenek Luna dari Papanya ingin ke Jakarta untuk bertemu Luna. Nanti sore aku mau ijin jemput Neneknya Luna di bandara. Boleh, kan, Mas?"


Bunyi notifikasi pesan terkirim sudah terdengar di ponsel Airin. Dia tak langsung menunggu jawaban dari Gagah, sebab Airin ingin melanjutkan menidurkan Luna terlebih dahulu, agar Luna sudah terbangun saat Wulan sampai di Jakarta.


Ddrrtt ddrrtt


Airin melihat kelopak mata Luna yang hampir tertutup kini terbuka kembali mendengar suara ponsel berbunyi. Airin spontan mereject panggilan masuk yang berasal dari Gagah.


"Aku sedang menidurkan Luna, jangan telepon, Mas." Airin langsung mengetik pesan dan dikirim kembali ke suaminya.


"Menidurkan Luna? Nanti malam giliran aku, kan?"


Balasan pesan dari Gagah membuat Airin menahan senyuman di bibirnya.


"Aku boleh tidak menjemput Neneknya Luna, Mas?" Airin kembali bertanya, ingin mengalihkan pertanyaan Gagah


"Apa Papanya Luna juga ikut?" tanya Gagah sebelum memberikan ijin.


"Tidak, Mas. Hanya mamanya saja yang datang. Neneknya Luna sedang berada ke rumah ibu di Jogya sekarang ini," sahut Airin.


"Jam berapa orang tua Rey akan datang?" tanya Gagah.


"Mungkin agak sorean, Mas." ucap Airin.


"Oke, aku minta nomer telepon Neneknya Luna, nanti aku saja yang jemput beliau ke bandara sekalian pulang kantor." Gagah berinisiatif menjemput mantan mertua Airin itu sendiri daripada membuatkan Airin pergi sendiri yang menjemput, sebab dia takut jika ternyata ada Rey di sana. Sebab dia sudah mengendus gelagat tidak baik dari Rey.


"Mas yang mau menjemput Nenek Luna? Apa tidak merepotkan, Mas?" tanya Airin tak menyangka jika Gagah lah yang akan menjemput Mama Rey, padahal ia memberitahu karena ingin meminta ijin saja.


"Tidak apa-apa, sekalian pulang kantor. Kamu kirim saja nomer HP nya sama foto Nenek Luna, biar aku mudah mengenali," ucap Gagah kemudian.


"Iya, Mas. Terima kasih, ya, Mas." Sepantasnya Airin merasa bersyukur karena ia beruntung, mendapatkan suami seperti Gagah. Sebab pria itu benar-benar melakukan tugasnya sebagai seorang suami dan Papa sambung yang baik untuknya dan juga Luna.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2