JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG

JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG
Nikmatnya Bercinta


__ADS_3

Airin memperlambat laju motornya saat mendekati rumah Om Fajar, karena dia melihat mobil Gagah terparkir di depan rumah Om nya itu.


"Tidak menjemput di kantor, tapi selalu datang ke sini setiap hari. Apa dia tidak berpikir akan mengundang kecurigaan tetangga di sini?" keluh Airin.


Mungkin kalau mobil yang dipakai Gagah adalah mobil sejuta umat yang banyak dipakai masyarakat umum tidak akan terlalu mengundang omongan tetangga sekitar. Tapi mobil yang dipakai Gagah termasuk kategori mobil mewah yang harganya milyaran rupiah.


Motor yang dikendarai Airin kemudian masuk ke dalam pekarangan rumah Om Fajar. Airin memarkirkan dan mesin motornya. Dengan melepas helm di kepalanya Airin berjalan menuju teras rumah Om Fajar.


Airin mendengar suara tawa Luna dari dalam ruangan tamu rumah Om Fajar, hingga dia berjalan mengendap di teras sambil mengintip apa yang membuat Luna tertawa sampai tak menyadari kedatangannya.


Mata Airin terbelalak saat dia melihat Luna tertawa dengan tangan menaburi wajah Gagah dengan baby powder. Airin bergegas masuk ke dalam ruangan tamu karena menganggap apa yang dilakukan oleh putrinya itu sangat tidak pantas.


"Assalamualaikum ... Luna, kenapa Luna seperti itu?" Airin menarik tangan Luna, menjauhkan dari Gagah dan berbicara dengan nada tinggi kepada putrinya.


"Waalaikumsalam ..." Gagah langsung bangkit dari sofa.


"Luna, Mama tidak suka lihat Luna nakal seperti ini!" Airin menegur Luna karena menganggap Luna bersalah.


"Luna tidak nakal, tadi kami sedang bermain suit jari. Siapa yang kalah, akan mendapatkan hukuman ditaburi bedak." Gagah menjelaskan kepada Airin jika apa yang dilakukan oleh Luna tadi karena dirinya kalah permainan adu suit jari dengan bocah cilik itu, bukan kerena Luna nakal dan berbuat kurang ajar kepadanya.


Airin menahan tawa melihat wajah Gagah yang ditaburi baby powder. Dia segera memalingkan wajahnya ke arah Luna karena tak ingin ketahuan Gagah jika dia ingin menertawakan pria itu. Namun, dia melihat wajah ketakutan Luna. Dia merasa bersalah karena tadi telah menuduh dan memarahi putrinya.


"Jangan memarahi Luna seperti itu, kasihan dia." Gagah mendekati Luna. Dia lalu mengambil sapu tangan dari saku celananya kemudian berjongkok di hadapan Luna. Dengan sapu tangan miliknya, Gagah mengusap wajah Luna yang juga terkena baby powder karena wajah Luna juga sempat dia lumuri baby powder.


"Ini, sekarang giliran Luna bersihkan wajah Om Gagah." Gagah menyodorkan sapu tangan miliknya kepada Luna, meminta Luna membersihkan wajahnya.


"Om Gagah jadi jelek pakai bedak ini, ya?" Gagah terkekeh mengajak bercanda Luna yang masih memasang wajah sendu.


Luna menurut apa yang dikatakan Gagah, namun tak tampak senyum di wajah putri Airin dan Rey itu.


Apa yang dilakukan Luna terhadap Gagah membuat Airin memicingkan matanya. Luna terlihat patuh pada Gagah, dan Gagah terlihat sangat melindungi Luna, ketika dia menegur putrinya tadi.


"Sekarang, bagaimana kalau kita ajak Mama Luna main suit juga?" Gagah tersenyum sambil melirik ke arah Airin yang seketika itu langsung mendelik mendegar permintaan Gagah.


Luna menoleh ke arah Airin, dia seakan berharap jika Mamanya mau bermain sehingga tidak marah lagi kepadanya.


"Mama mau mandi, ini sudah mau Maghrib." Airin menolak, lalu kembali berkata, "Sebaiknya Bapak pulang saja," ujar Airin mengusir Gagah secara halus.


"Baiklah, saya pamit dulu kalau begitu." Gagah menoleh ke arah ruangan keluarga rumah Om Fajar mencari keberadaan Tante Mira karena ingin berpamitan.


"Saya mau berpamitan dengan Tante kamu," ujar Gagah.


"Luna, tolong panggilan Nenek. Bilang ke Nenek, Om Gagah mau pulang." Airin mengusap kepala Luna dan menyuruh anaknya itu.


"Iya, Ma." Luna berlari mencari Tante Mira.


"Hmmm, sebaiknya Bapak tidak terlalu sering datang kemari. Saya tidak enak jika banyak tetangga yang akan membicarakan kedatangan Bapak ke sini." Dengan kalimat yang sopan Airin meminta Gagah tidak terlalu sering menemui Luna dengan alasan menimbulkan pergunjingan tetangga.


Gagah menatap wajah cantik Airin. Wajah wanita yang sudah menaklukkan keteguhan akan prinsipnya yang menginginkan seorang gadis yang masih perawan untuk menjadi istrinya.


"Saya jemput di kantor, kamu bilang takut rekan kamu menggunjingkan. Saya datang ke sini, kamu bilang tidak enak kepada tetangga. Lalu, di mana kamu bisa merasa nyaman saat saya temui? Apa saya perlu bawa kamu ke apartemen saya sehingga kamu tidak perlu merasa terganggu dengan orang di sekitar kamu?" Senyum tipis terukir bibir pria tampan itu setelah menggoda Airin.


Bola mata indah Airin membulat mendengar ucapan Gagah, hingga tanpa dapat dibendung membuat wajah wanita cantik itu bersemu merah.


"Kamu sudah mau pulang Gagah?"


Untung saja saat itu Tante Mira muncul, sehingga Airin terbebas dari godaan yang dilancarkan Gagah.


"Iya, Tante. Ini sudah mau Maghrib. Saya permisi dulu, Tante." Gagah berpamitan kepada Tante Mira, lalu menoleh ke arah Luna.


"Om pulang dulu. Lain kali kita main kayak tadi lagi. Nanti Mama Luna harus ikut bermain juga." Gagah mengelus kepala dan wajah Luna.


"Iya, Om." Luna meraih tangan Gagah lalu mencium punggung tangan Gagah.


Gagah tersenyum melihat Luna yang mudah akrab dengannya, sementara Airin semakin heran melihat Luna yang mempunyai sifat introvert ternyata mudah menerima Gagah sehingga mereka terlihat begitu dekat seolah sudah mengenal cukup lama.


"Saya pulang dulu ..." Gagah sempat berucap kepada Airin. "Assalamualaikum ..." lanjutnya.


"Waalaikumsalam ..." sahut Tante Mira dan Airin bersamaan, walaupun suara yang terdengar dari mulut Airin sangat pelan.


"Kenapa diam saja, Rin? Diantar, dong!" protes Tante Mira karena melihat Airin tidak mengikuti langkah Gagah yang berjalan meninggalkan mereka.


Dengan terpaksa Airin mengikuti langkah Gagah hingga sampai gerbang, sementara Gagah sudah masuk ke dalam mobilnya. Gagah membunyikan klakson, memberi kode berpamitan kepada Airin sebelum akhirnya pria itu mengendarai mobilnya menjauh dari pandangan Airin.


"Tadi itu pacarnya Mbak Airin, ya?" Ketika Airin menutup pintu pagar, terdengar Bu Nita, tetangga sebelah rumah Om Fajar bertanya pada Airin.


"Hmmm, bukan, Bu. Tadi itu anak sahabatnya Tante Mira," tepis Airin.


"Oh, kirain calon Papa barunya Luna. Soalnya sering ke sini, pernah antar Mbak Airin pulang kerja juga waktu itu, kan?"


Benar dugaan Airin. Pasti ada satu dua orang tetangga di komplek rumah Om Fajar yang memperhatikan kedatangan Gagah.


Airin tersenyum tipis, dia bingung ingin memberi jawaban apa pada tetangga Om nya itu.


"Allahu Akbar, Allahu Akbar ..." Suara Adzan Maghrib uang berkumandang benar-benar menjadi penyelamat bagi Airin.


"Saya masuk dulu, Bu. Sudah Maghrib." Luna berpamitan, kemudian berjalan masuk ke dalam rumah dengan bernafas lega.


***


Airin baru selesai berdoa selepas sholat Maghrib ketika Tante Mira masuk ke dalam kamar Airin.

__ADS_1


"Ada apa, Tante?" tanya Airin melepas mukenah Luna lebih dahulu.


"Ini punya Gagah bukan, Rin? Tadi Tante lihat ada di karpet ruangan keluarga." Tante Mira menyodorkan sebuah sapu tangan yang Airin ingat itu adalah sapu tangan yang digunakan Gagah mengusap wajah Luna dan wajah Gagah.


"Itu punya Om Gagah, Nek." Luna berlari mengambil sapu tangan dari Tante Mira.


"Kenapa bisa ada di ruang keluarga, ya? Padahal Gagah tidak masuk ke sana tadi." Tante Mira terheran.


"Mungkin tadi jatuh waktu Luna memanggil Tante," sahut Airin. "Tadi Pak Gagah mengelap bedak di wajah Luna dengan sapu tangannya dan gantian menyuruh Luna mengelap wajahnya." Airin menceritakan apa yang terjadi hingga sapu tangan Gagah tertinggal.


"Oh, ya sudah. Nanti suruh bibi cuci saja lalu kembalikan." Tante Mira kemudian berjalan ke arah pintu. "Kalau sudah selesai sholatnya, kita makan sekerang saja, Rin." sambung Tante Mira.


"Iya, Tante." sahut Airin sebelum Tante Mira menghilang dari kamarya.


"Sini sapu tangannya, Luna. Nanti mau dicuci dulu." Sambil melepas mukenanya, Airin meminta sapu tangan milik Gagah dari Luna.


"Hmmm, halum ..." Luna justru menghirup aroma sapu tangan Gagah.


"Luna, itu punya Om Gagah, harus dikembalikan, Nak." Airin lalu duduk di tepi tempat tidur.


"Baunya halum, Ma." Luna mendekatkan sapu tangan milik Gagah ke hidung Airin, membuat wanita itu terkesiap.


Walaupun ada aroma baby powder yang melekat pada sapu tangan itu, namun aroma maskulin lebih kuat menguar saat sapu tangan Gagah menyentuh lubang hidung Airin.


"Mama telepon Om Gagah. Kacih tahu ininya ada di cini gitu, bial Om Gagah main ke cini lagi, Ma!" pinta Luna.


Airin mengerutkan keningnya mendegar permintaan putrinya. Dia heran, bisa-bisanya putrinya itu candu bertemu dengan Gagah.


"Om Gagah itu sibuk, Luna. Nanti saja dikembalikannya kalau sudah dicuci." Airin menolak permintaan Luna.


"Mama mau makan dulu, ayo kita ke ruang makan!" Airin menaruh sapu tangan di atas nakas, kemudian dengan menggandeng tangan Luna, dia keluar untuk makan bersama keluarga Om Fajar.


***


Gagah menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur, dia lalu membuka galeri di ponselnya. Dia membuka kembali foto-foto Luna yang sempat dia abadikan tadi.


"Anaknya mudah diluluhkan, Mamanya sulit sekali ditaklukan." Gagah terkekeh mengingat penolakan-penolakan Airin terhadap dirinya.


Gagah mengusap wajahnya yang tadi sempat ditaburi baby powder oleh Luna. Bahkan dengan keponakannya saja, dia tidak pernah melakukan hal tadi.


"Istri cantik, anak lucu, bisa-bisanya mantan suami Airin itu meninggalkan mereka demi mengejar seorang wanita penghibur." Gagah masih heran dengan sikap suami Airin yang mempunyai keluarga yang sempurna.


"Benar-benar bodoh!" cibir Gagah, tanpa menyadari jika tamu yang dia temui tadi pagi adalah orang yang sedang dia bicarakan saat ini.


Gagah lalu mencari nomer telepon Airin. Dia ingin menghubungi wanita itu.


"Assalamualaikum, apa Luna sudah tidur?" Hanya pertanyaan basa-basi yang dikirim Gagah, karena dia yakin jika Luna sesudah tertidur, karena saat ini sudah menunjukkan jam sembilan malam.


Hingga setengah jam menunggu, ternyata pesan yang dia kirim tidak juga dibaca apalagi dibalas oleh Airin, hingga dia mengirimkan pesan lagi ke nomer Airin.


Gagah benar-benar sedang merasakan kasmaran pada Airin, hingga dia merasakan gelisah ketika Airin tidak juga membalas pesannya. Gagah lalu menaruh ponsel di atas nakas dan kembali merebahkan tubuhnya di tempat tidur mencari kantuk agar dia cepat tertidur. Karena jika dia terjaga, maka pikirannya selalu teringat akan Airin.


Ddrrtt ddrrtt


Lima menit setelah dia meletakkan ponsel di nakas, sebuah panggilan masuk terdengar di ponselnya, membuat Gagah melonjak dari kasur dan menyambar ponsel yang tadi dia letakan di atas nakas.


Dengusan nafas kecewa terdengar saat Gagah melihat nama Tegar lah yang muncul di layar ponsel saat ini.


"Assalamualaikum, ada apa, Mas?" tanya Gagah saat mengangkat panggilan masuk kakaknya.


"Waalaikumsalam, gimana progresnya, Gah? Apa kamu sudah berhasil menaklukan hati janda muda itu, Gah?" Tegar langsung menanyakan kabar soal usaha Gagah dalam melakukan pendekatan pada Airin.


"Masih proses, Mas." jawab Gagah.


"Sudah lakukan apa yang aku sarankan?" tanya Tegar kemudian.


"Aku sudah dekati anaknya. Dan sepertinya Luna makin akrab denganku. Sebentar lagi Mamanya juga menyusul," ujar Gagah percaya diri.


"Bagaimana kalau kita ajak dia makan malam bersama? Aku dan Putri, Mas Bagus dan Mbak Ayu. Dan Kamu dengan janda muda itu."


" Airin, namanya Airin!" Gagah memo tong kalimat Tegar. Dia tidak suka Tegar selalu menyebut Airin dengan sebutan janda muda


"Hahaha, iya sorry." Tegar merespon protes Gagah.


"Sementara ini anak-anak jangan dibawa dulu, biar tidak hilang konsentrasi saat berbincang, Gah. Gimana? Biar dia bisa akrab juga dengan Putri dan Mbak Ayu," lanjut Tegar menyarankan mereka bertemu bersama istri-istri mereka dengan juga Airin.


"Apa Mas Tegar merencanakan hal ini agar bisa bertemu dengan Airin kembali dan ingin berfantasi saat melihat Airin?" tuding Gagah merasa curiga terhadap kakaknya sendiri.


"Si alan, kau! Kau pikir aku tidak punya ahlak ingin merebut calon adik iparku sendiri!?" Tegar menanggapi protes Gagah dengan tertawa.


"Bagaimana? Kalau kamu setuju, nanti aku atur Putri sama Mbak Ayu untuk mencari tempat untuk kita bertemu," tanya Tegar memastikan.


"Aku belum bisa janjikan, Mas. Dia itu agak susah orangnya." Gagah belum dapat memberikan kepastian apakah Airin mau diajak bertemu dengan kakak dan kakak ipar Gagah.


"Ya sudah, kamu bujuklah dia dulu, yakinkan agar dia mau diajak bertemu dengan calon anggota barunya, agar dia terlatih menjadi menantu keluarga Hadiningrat nantinya." Tegar berseloroh.


"Oke," sahut Gagah.


"Ya sudah, aku tutup dulu teleponnya. Jangan lupa bujuk dia. Kalau kamu tidak bisa membujuk, biar aku yang membujuk dia. Tapi, jangan salahkan aku jika nanti dia jadi terpikat padaku!" Tegar kembali terkekeh. "Assalamualaikum ..." Tegar mengakhiri percakapan teleponnya.


"Waalaikumsalam ..." Saat Gagah mematikan sambungan telepon dengan Tegar, dia melihat ada notif pesan masuk. Gagah segera membuka pesan dan berharap jika Airin lah yang mengirimkan pesan.

__ADS_1


Mata Gagah berbinar saat mendapati pesan masuk itu memang berasal dari Airin.


"Waalaikumsalam, maaf tadi saya di luar kamar, Pak." Isi pesan masuk dari Airin.


Gagah segera menghubungi Airin, tidak membalas via pesan lagi.


"Kamu belum tidur?" Gagah menanyakan hal konyol, jika Airin sudah tidur, mana mungkin wanita itu akan merespon pesannya.


"Belum, ada apa Bapak menelepon saya?" tanya Airin.


"Tidak ada apa-apa, Airin. Saya hanya ingin mendengar suara kamu saja," jawab Gagah. Dia sudah seperti seorang yang terkena virus asmara, yang sudah sangat bahagia hanya berbincang dan mendengar suara sang pujaan hati.


Hening ...


"Jam berapa kamu biasa tidur?" tanya Gagah memecah kebisuan, karena Airin tidak merespon perkataannya tadi.


"Tidak tentu," sahut Airin.


"Airin, kakak dan kakak ipar saya ingin mengundang kamu. Mereka merencanakan dinner bersama. Apa kamu keberatan jika saya mengajak kamu?" tanya Gagah, menanyakan kesanggupan Airin untuk bisa ikut berkumpul dengan kakak dan kakak ipar Gagah.


"Memang ada acara apa, Pak?" tanya Airin kemudian.


"Mereka ingin kenal dekat dengan kamu. Kamu juga belum sempat bertemu dengan kakak sulung saya, kan? Papanya Ica." Gagah menyebut alasannya mengajak Airin.


"Kapan acaranya, Pak?" tanya Airin.


"Weekend ini." Gagah asal menyebut, padahal Tegar sendiri belum menentukan waktunya.


"Hmmm, saya belum tahu, Pak." Airin ingin menolak secara halus permintaan Gagah itu.


"Jangan panggil saya Pak terus, Airin. Kamu bisa panggil saya Mas, seperti yang dikatakan sepupu kamu kemarin." Gagah memprotes Airin yang masih saja memanggilnya dengan panggilan formal.


"Maaf saya belum bisa, Pak." sahut Airin.


"Belum bisa apa?" tanya Gagah.


"Memanggil seperti yang Bapak inginkan." Airin memperjelas jawabannya.


"It's oke, tidak masalah kalau kamu belum bisa memanggil saya dengan sebutan Mas. Tapi, kalau saya ajak kamu dinner bersama kakak saya, kamu bisa, kan?" Gagah ibarat memberi pertanyaan jebakan pada Airin.


"Hmmm ...."


"Masa semuanya ditolak!?" keluh Gagah, berharap Airin tidak menolaknya saat ini.


"Baiklah, Pak." lirih Airin terpaksa menerima ajakan Gagah.


Senyuman langsung melebar di bibir Gagah, karena pria itu berhasil membuat Airin menerima ajakannya.


"Terima kasih, Airin." ucap Gagah.


"Apa ada lagi yang ingin Bapak sampaikan? Saya ingin istirahat." Airin ingin segera mengakhiri percakapannya dengan Gagah.


"Saya ingin serius dengan kamu, Airin. Saya harap kamu mau mempertimbangkannya," ungkap Gagah mencurahkan isi hatinya yang dia rasakan saat ini pada Airin. Mungkin benar yang dikatakan Tegar kalau dia tidak cukup romantis dalam mengahadapi wanita.


Kembali hening ...


"Kamu sudah mau tidur, kan? Ya sudah, selamat istirahat. Assalamualaikum ..." Gagah memilih mengakhiri panggilan teleponnya, karena dia yakin, apa yang dikatakannya tadi membuat hati Airin bimbang, dan dia tidak yakin Airin mau melanjutkan komunikasi via telepon mereka.


"Waalaikumsalam ..." sahut Airin sebelum sambungan mereka benar-benar terputus.


***


Airin merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur setelah dia mengakhiri percakapan telepon dengan Gagah. Semakin hari semakin gencar Gagah mencoba memasuki kehidupannya. Dan semua orang terdekatnya mendukung dia untuk membuka hati untuk Gagah, apalagi saat dia melihat Luna begitu akrab dengan Gagah. Sosok pria itu seperti sanggup mencuri perhatian Luna. Bahkan, beberapa hari ini dia tidak pernah mendengar Luna merengek ingin bertemu dengan Rey.


"Ya Allah, apa hamba memang harus menerima dia untuk menjadi pendamping hamba?" batin Airin berada di dalam kebingungan.


Airin kembali bangkit dan meraih ponselnya di atas nakas. Dia mengatur alarm pada ponselnya itu. Dia mengatur waktu jam dua dini hari, karena dia merasakan perlu meminta petunjuk dari Sang Khaliq dengan sholat istikharah di sepertiga malam terakhir.


Airin kembali merebahkan tubuhnya dan menatap Luna yang terlelap dengan memeluk Nola, salah satu boneka pemberian Gagah.


Airin membelai kepala Luna penuh kasih sayang. Dia teringat tawa riang Luna saat menaburi wajah Gagah dengan baby powder. Anaknya itu terlihat sangat bahagia berinteraksi dengan Gagah.


Airin juga dapat melihat Gagah begitu mengasihi putrinya, bahkan terlihat sangat melindungi Luna, ketika dia memarahi Luna sore tadi. Jika dia memang memutuskan untuk mencari pendamping, dia pasti akan mencari pria yang menyanyangi dan juga mau menerima Luna. Dan hal tersebut dapat dilihat dalam sosok Gagah.


Airin menoleh kembali ke atas nakas. Dia teringat sapu tangan Gagah yang tertinggal tadi. Untuk kedua kalinya Airin bangkit dari tempat tidur lalu meraih sapu tangan milik Gagah itu.


Airin mendekatkan sapu tangan itu ke dekat hidungnya sehingga aroma maskulin langsung menguar dan menyeruak ke dalam penciumannya.


Aroma itu memang aroma khas Gagah, karena dia selalu mencium aroma yang sama setiap berdekatan dengan Gagah.


Airin menghirup kembali aroma sapu tangan Gagah seraya memejamkan matanya, hingga aromanya langsung merang sang ke syaraf otaknya, hingga membuat bulu romanya seketika meremang.


"Astaghfirullahal adzim!" Airin mengerjapkan matanya dan meletakkan kembali sapu tangan milik Gagah. Tanpa dia sadari, aroma parfum yang Gagah pakai menimbulkan gelenyar aneh di tubuhnya hanya dengan menghirup aroma sapu tangannya saja.


"Apa-apaan aku ini? Kenapa sampai berpikir sejauh itu?" Airin merasa konyol dengan apa yang dia bayangkan tadi. Mungkin dia tidak menyadari jika sebenarnya dia juga merindukan sentuhan kehangatan dari seorang pria, karena sejak mengetahui Rey selingkuh, dia tidak pernah lagi merasakan nikmatnya bercinta.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading ❤️


__ADS_2