
Setelah bertemu dengan kedua sahabatnya, Airin diminta Gagah untuk datang ke kantor tempat kerja Gagah. Cafe tempat Airin dan kedua sahabatnya bertemu berjarak sekitar dua kilo meter dari kantor Gagah, karena itu Gagah memintanya untuk mampir ke kantor.
Kedatangan Airin di kantor Gagah sudah pasti menjadi perhatian karyawan di kantor itu. Gagah yang selama ini dikenal sebagai pria single dan jarang dekat dengan wanita tiba-tiba saja menikah dengan seorang wanita berstatus janda beranak satu, otomatis menjadi perbincangan karwayan di sana di sela-sela waktu kerja mereka, apalagi saat ini Airin muncul di hadapan mereka.
Airin berusaha mengabaikan para karyawan yang membicarakannya ketika ia melintasi pekerja di kantor suaminya. Airin hanya menebar senyuman berusaha bersikap seramah mungkin terhadap mereka, agar mereka tidak membencinya hanya karena keberuntungan dirinya menjadi istri Gagah.
"Selamat siang, Bu."
Saat keluar dari lift, Airin disapa oleh sekretaris suaminya. "Halo, Luna ..." Dewi menyapa Luna juga saat melihat Luna berjalan berdampingan dengan Airin.
"Siang, Mbak. Bapak ada di tempat, Mbak?" tanya Airin menjawab ramah sapaan Dewi.
"Ada, Bu. Silahkan masuk saja," sahut Dewi.
"Ini untuk Mbak Dewi ..." Airin memberikan satu plastik berisi makanan yang ia pesan sebelum ke kantor suaminya untuk Dewi dan juga Gagah. Dia harus berusaha bersikap baik terhadap karyawan suaminya terutama Dewi, karena Dewi adalah sekretaris Gagah yang pasti akan sering mendampingi Gagah dalam urusan pekerjaan, Setidaknya jika ia bisa mendekati Dewi, ia akan mudah mendapatkan informasi seputar wanita yang sedang berusaha mendekati suaminya di lingkungan kantor itu.
"Waduh, makasih, Bu." Dewi menerima kantong berisi dus makanan dari Airin dengan senyuman mengembang.
"Sama-sama, Mbak. Sekalian saya minta tolong ambilkan piring untuk makan Bapak, Mbak." kata Airin meminta bantuan Dewi.
"Baik, Bu." sahut Dewi bergegas ke arah pantry sementara Airin langsung membawa Luna ke ruang kerja suaminya.
Tok tok tok
"Assalamualaikum ..." Airin membuka pintu setelah mengetuknya terlebih dahulu.
"Waalaikumsalam ..." Suara Gagah menyahuti dari dalam ruangan.
"Papa ..." Luna melepas gengaman tangan Airin kemudian berlari ke arah Gagah.
"Anak Papa habis dari mana ini?" Gagah menyambut Luna dengan merentangkan tangan dan langsung menggendong Luna dengan lengannya.
Dia lalu menghampiri Airin, melingkarkan tangan di pundak istrinya sambil berkata, "Sudah selesai bertemu dengan teman-temanmu?" tanyanya kemudian.
"Sudah, aku belikan makanan untuk Mas. Mas sudah makan belum?" tanya Airin menunjuk kantong yang ada di tangannya.
"Kamu belikan aku apa?" tanya Gagah melihat barang yang dibawa oleh Gagah.
"Steak tuna teriyaki. Mas mau makan sekarang? Aku sudah suruh Mbak Dewi untuk ambilkan piring untuk Mas makan," tanya Airin.
"Boleh, tapi aku selesaikan pekerjaan sebentar," jawab Gagah lalu mendudukkan Luna di sofa.
"Ya sudah, aku juga mau Dzuhur dulu, Mas. Sekalian mau menidurkan Luna, ini sudah waktu tidur siang dia." Sementara sang suami menyelesaikan pekerjaannya, Airin membawa Luna ke kamar istirahat Gagah karena ia ingin melaksanakan sholat sebelum menidurkan Luna.
Setengah jam kemudian Luna sudah tertidur dan Airin kembali menemui suaminya. Dia ingin menyiapkan makanan untuk Gagah. Airin melihat sudah ada piring dan peralatan lainnya yang ia minta dari Dewi tadi.
"Makanannya mau dimakan sekarang tidak, Mas?" tanya Airin melihat suaminya masih serius di mejanya.
"Oh, iya ..." Gagah langsung bangkit dari kursi kebesarannya kemudian menghampiri Airin di meja makan.
"Mau pakai nasi?" tanya Airin.
"Tidak usah, aku sudah makan tadi," jawab Gagah. Sebenarnya Gagah sudah makan siang, namun tak ingin mengecewakan Airin yang sudah membawakan makanan, sehingga Gagah tetap ingin memakan apa yang Airin bawa untuknya.
"Mas sudah makan?" Airin tak tahu jika suaminya itu sudah makan, karena Gagah tadi mengatakan akan memakan makanan yang dia beli. "Kalau Mas masih kenyang, jangan dipaksa, Mas." Tak tega melihat suaminya kekenyangan, Arin melarang Gagah untuk makan lagi.
"Tidak apa-apa," Gagah menarik kursi makan dan mendudukinya, "Duduk sini, temani aku menghabiskan makanannya." Gagah ingin bersama Airin menghabiskan makanan itu.
Sebenarnya Airin pun sudah merasa kenyang, tapi karena suaminya saja mau makan demi menyenangkan hatinya, kenapa dia tidak melakukan hal yang sama? Ini yang jadi bahan pertimbangan Airin sehingga Airin bersedia berbagi makanan itu dengan suaminya.
Airin akhirnya duduk di kursi sebelah Gagah. Dia memotong steak, lalu dia menyuapkan ke mulut Gagah meskipun Gagah tidak memintanya untuk menyuapi.
Apa yang dilakukan Airin tentu saja membuat Gagah terkejut, tak menyangka jika Airin mau melakukan untuknya. Gagah lalu mengambil garpu di tangan Airin, kini dia melakukan hal yang sama seperti yang Airin lakukan padanya.
"Biar aku saja, Mas." Setelah Gagah menyuapkan makanan ke mulutnya, Airin mengambil garpu dari tangan Gagah, lalu kembali menyuapkan makanan ke mulut Gagah bergantian dengannya.
Ceklek
"Siang, Kak. Oh, maaf, Kak."
__ADS_1
Airin dan Gagah langsung menoleh ke arah pintu saat mendengar pintu ruangan dibuka dari luar, hingga memperlihatkan dua orang wanita belia masuk ke dalam ruangan kerja Gagah.
"Flo? Gadis?" Gagah terkejut saat kedua anak Bintang itu tiba-tiba muncul di ruangannya. Dia lalu menoleh ke arah Airin di sampingnya yang juga menolehkan pandangan ke arahnya
Airin bahkan tak menyangka akan bertemu dengan Florencia dan seorang gadis muda lainnya yang dipanggil Gagah dengan nama Gadis.
"Maaf kalau kami mengganggu Kak Gagah dan Kak ..." Gadis menatap Airin, ia tidak terlalu ingat nama Airin.
"Airin ..." Gagah menyebut nama istrinya. Dia bangkit dari kursi dan berjalan menghampiri kedua anak Bintang Gumilang.
"Iya, maaf sudah mengganggu makan siang Kak Gagah dan Kak Airin." ujar Gadis merasa bersalah.
"Tidak apa-apa, duduklah!" Mempersilahkan Gadis dan Florencia duduk, Gagah pun melangkah ke sofa, sementara Airin membereskan bekas makannya.
"Kalian dari mana?" tanya Gagah kemudian.
"Kami dari rumah sengaja datang kemari, Kak. Aku dan Mama sudah memberitahu Kak Flo tentang keputusan kami. Aku mengantar Kak Flo yang ingin minta maaf sama Kak Gagah sekalian Kak Flo ingin berpamitan sebab lusa akan kembali ke Amerika." Gadis yang bercerita sementara Florencia lebih banyak diam dan tertunduk apalagi saat melihat keberadaan Airin di ruangan itu.
Gagah menatap Florencia dengan kening berkerut, tak menduga jika Florencia akan cepat kembali ke Amerika.
"Kamu ingin kembali ke Amerika?" tanyanya kemudian.
"Iya, Kak." sahut Florencia.
"Saya hanya mengingatkan ke kamu Flo, Papa kamu sudah tidak ada, jaga dirilah baik-baik di sana. Papa kalian berharap kalian menjadi orang yang sukses, tolong jangan kecewakan orang tua kalian." Gagah menasehati Florencia karena sebagai wanita yang harus tinggal di luar negeri terutama di Amerika dengan segala kebebasan yang bisa didapat di sana, Gagah khawatir Florencia akan salah dalam pergaulan.
"Iya, Kak." jawab Florencia.
Sementara dari arah meja makan, Airin memperhatikan dua kakak beradik yang sedang berbincang dengan Gagah. Pandangannya terfokus pada sosok Gadis, wanita yang akan dibantu suaminya mengurus perusahaan retail milik Bintang Gumilang.
Terasa konyol jika dia harus mencemburui wanita semuda Gadis. Wanita itu terlihat masih polos seperti gadis seusianya. Apakah mungkin wanita itu akan menyukai apalagi akan merebut suaminya. Hal itu masih menjadi pertanyaan di benak Airin.
"Airin, kemarilah ...."
Airin terkesiap saat terdengar Gagah memanggilnya. Dia lalu berjalan mendekat ke arah Gagah kemudian duduk di samping Gagah. Sepertinya suaminya itu ingin mengenalkan Airin pada Gadis, karena Gadis nanti akan bekerja bersama Gagah di kantor itu.
"Airin, kenalkan ini Gadis. Gadis ini nanti yang akan mengambil alih posisi sebagai CEO di sini tapi masih dalam pengawasanku selama ia belajar mengenal pekerjaannya ini," ujar Gagah.
"Airin ..." Airin menyambut Gadis yang memperkenalkan dirinya.
"Kak, aku minta dukungan Kak Airin. Aku masih harus belajar di perusahaan Papa, dan mungkin akan merepotkan Kak Gagah dalam hal ini. Aku ingin semua berjalan secara profesional. Aku harap Kak Airin jangan ada perasaan curiga atau cemburu karena aku bekerja di sini dengan Kak Gagah, ya." Kata-kata yang terlontar dari mulut Gadis terdengar tulus.
Airin terkesiap mendengar ucapan Gadis. Wanita muda itu seperti mengetahui isi hati Airin yang memang takut Gadis akan menyimpan perasaan cinta terhadap suaminya. Airin tidak menyangka kalimat itu terucap dari mulut Gadis yang masih sangat belia. Sepertinya ia mesti setuju dengan pendapat sang suami yang mengatakan jika Gadis lebih dewasa dalam bersikap dibanding Florencia, setidaknya itulah yang ia lihat dari Gadis.
"Kamu dengar sendiri, kan?" Gagah mencoba menegaskan kepada Airin agar Airin tidak mencemaskannya.
Airin merasa tak enak hati dan malu sendiri dibuatnya. Dia yang lebih tua dari Gadis namun justru dia yang bersikap kekanakan, karena rasa takut akan dikhianati untuk yang kedua kalinya meskipun Gagah jauh dari tipe pria hidung belang.
"Kak Airin tidak usah khawatir, aku tidak segila Kak Flo, kok," celetuk Gadis terkekeh menyindir kakaknya, membuat Flo mendelik ke arah Gadis.
Sementara Gagah tersenyum lalu melirik ke arah Airin di sebelahnya. Tangannya lalu menggenggam tangan Airin, Airin sampai terkejut saat suaminya itu menautkan jemari tangan mereka.
Gadis melihat apa yang dilakukan Gagah pada Airin, dia pun lalu berkata, "Kak Flo tidak ingin mengatakan sesuatu pada Kak Airin?" Gadis sudah tahu kelakuan Florencia terhadap Airin dari mulut Florencia sendiri saat bertengkar dengan Almarhum Papanya hingga dia menganggap Florencia bersalah, terutama pada Airin.
Airin sontak melirik ke arah Florencia yang secara bersamaan juga melirik ke arahnya, namun Florencia buru-buru memutus pandangan karena merasa malu dan bersalah.
"Maaf ..." Namun tak lama suara Florencia terdengar lirih.
"Cuma gitu doang minta maafnya?" sindir Gadis, karena Kakaknya seperti meremahkan kata maaf atas kesalahan Florencia.
Florencia kembali mendelik ke arah adiknya, mungkin adiknya itu tidak merasakan jika dirinya saat merasakan malu, karena ia menyadari apa yang sudah ia lakukan terhadap Airin itu salah.
"Maaf, Kak." Florencia kembali mengulang kalimat permintaan maafnya terhadap Airin.
"Kamu mau memaafkan Flo, Airin?" tanya Gagah pada Airin.
Airin menarik nafas dan menghelanya perlahan. Pantaskah ia menolak permintaan maaf Florencia? Saat ini ia berada di hadapan dua gadis remaja, sebagai wanita dewasa tentu dia harus memberikan contoh yang baik kepada mereka,
"Iya, lupakan saja hal itu," sahutnya kemudian.
__ADS_1
"Sebenarnya istri saya ini mempunyai trauma terhadap orang ketiga di pernikahannya terdahulu, hingga dia tidak ingin terulang di pernikahannya sekarang bersama saya." Di luar dugaan Airin, Gagah justru membuka kisah pilu rumah tangganya bersama bersama Rey dulu.
"Kalau kalian mau tahu, saya yang memaksa menikahi Airin, padahal saat itu dia baru bercerai empat bulan dengan suaminya terdahulu. Tujuan saya ingin mengobati luka hatinya, bukan untuk menambah luka di hatinya. Karena itu saya tidak mungkin menduakan Airin dengan wanita lain, dengan wanita mana pun juga." Gagah makin mengeratkan genggamannya di tangan Airin. Gagah tahu, sebenarnya ia tak perlu menceritakan hal tersebut kepada Gadis dan Florencia, dia hanya ingin menegaskan jika dia tidak akan meninggalkan Airin untuk alasan apa pun juga.
Airin menatap sang suami, tak menyangka suaminya akan mengucapkan kalimat yang membuat hawa panas langsung menyerang daerah matanya.
"Ya ampun, aku tidak tahu hal itu, Kak. Mewakili Kak Flo, aku minta maaf, ya, Kak!?" Gadis cepat bereaksi dengan cerita Gagah tentang Airin.
"Tidak apa-apa, Airin juga sudah ikhlas memaafkan Flo. Sekarang semua sudah jelas, Flo sudah menyadari kesalahannya, Airin juga bisa lebih tenang tidak terus dihinggapi rasa khawatir. Saat ini fokus kita menjalankan perusahaan dengan baik, seperti yang Papa kalian inginkan," tutur Gagah berusaha. bersikap bijaksana.
***
"Kalian habis dari mana?"
Ketika memasuki rumah Bintang Gumilang sepulang dari kantor Gagah, Gadis dan Florencia dibuat terkejut dengan kemunculan Dicky dan Romi yang ternyata sudah tiba di rumah orang tua mereka.
Gadis dan Florencia saling pandang mendengar pertanyaan Om tiri mereka.
"Kami habis bertemu dengan Kak Gagah," sahut Gadis menjawab Dicky yang tadi bertanya kepadanya.
"Bertemu dengan Gagah? Apa yang kalian bicarakan?" Romi penasaran dengan apa yang dibicarakan oleh kedua anak dari kakak tirinya itu dengan Gagah.
"Apa lagi kalau bukan urusan perusahaan?!" sahut Gadis dengan melipat tangan di dadanya.
"Kami tadi membicarakan tentang rencana peralihan kepengurusan perusahaan." Kali ini Florencia ikut menjawab.
"Kepengurusan perusahaan akan diganti?" Dicky merespon dengan senyum merekah di bibirnya, "Akan dialihkan ke siapa kepengurusan perusahaan Papa kamu, Flo?" tanyanya kepo.
"Tentu saja ke tangan pihak keluarga, dong! Memangnya ke siapa lagi? Kak Gagah itu 'kan hanya orang lain, bukan anggota keluarga kita, jadi hanya aku, Gadis atau Mama saja yang berhak ada dalam kepengurusan perusahaan Papa!" tegas Florencia dengan menaikkan dagu ke atas.
Kali ini justru Dicky dan Romi yang saling berpandangan. Sebenarnya mereka berharap mereka juga ikut dilibatkan dalam mengurus perusahaan tersebut agar mereka bisa menikmati atau kalau bisa merebut harta milik Bintang dari pihak keluarga yang berhak.
"Tapi, Flo. Kamu sama Gadis masih kuliah dan sekolah. Mama kamu juga tidak mengerti apa-apa soal mengurus perusahaan. Kenapa tidak diserahkan saja pada Om Romi dan Om Dicky? Om pasti akan bantu kalian berdua, kok." Romi berusaha membujuk Florencia agar memasukkan nama mereka dalam kepengurusan perusahaan nanti.
Florencia menoleh ke arah Gadis lalu bertanya, "Gimana menurut kamu, Dis?"
"Aku tidak setuju, Kak! Om Dicky dan Om Romi juga paham soal mengurus perusahaan." Gadis menentang dengan tegas.
"Kamu jangan meremehkan kemampuan Om kalian ini, Gadis. Om yakin, Om bisa meneruskan perusahaan Papa kalian!" Dicky menegaskan jika ia mampu memimpin Bintang Departement Store menggantikan Gagah.
Florencia mengerutkan keningnya berpura-pura berpikir mempertimbangkan apa yang disarankan oleh kedua Om nya itu.
"Aku setuju dengan Om Dicky, Dis. Kakak, kamu dan Mama belum tentu bisa mengurus perusahaan." Florencia berpura-pura setuju dengan Om nya.
"Terserah Kak Flo saja, deh! Kak Flo 'kan anak pertama," jawabnya dengan mengedikkan bahunya kemudian berlalu meninggalkan kedua Om nya lmenaiki anak tangga menuju kamarnya, begitu juga dengan Florencia mengikuti di belakang Gadis.
Sementara kedua adik tiri Bintang tersenyum senang mendengar keputusan Florencia yang menyetujui rencananya. Seandainya dalam rapat nanti mereka ditolak, mereka bisa mengandalkan Florencia yang menurutnya lebih mudah dihasut ketimbang Gadis dan Mamanya.
"Tanganku sudah gatal, sepertinya sebentar lagi kita akan ketimpaan rejeki nomplok, Rom." ujar Dicky begitu percaya diri akan berhasil merebut harta milik Bintang.
"Sebentar lagi kita jadi bos, akhirnya impikan kita akan terwujud. Bersusah payah Mas Bintang menjauhkan kita dari hartanya, justru anaknya sendiri yang akan menyerahkan harta itu kepada kita." Romi menimpali.
"Itu yang namanya rejekinya orang sabar, Rom. Tuhan memang sayang kita." Dicky tertawa senang.
"Benar, Mas." Romi pun ikut tertawa bahagia.
Tanpa mereka sadari, kedua kakak beradik, Florencia dan Gadis bersembunyi di lantai atas mendengarkan percakapan mereka berdua. Kedua saudara itu saling senyum karena berhasil mengelabuhi kedua saudara tiri Papanya itu.
"Mereka pikir, mereka akan mudah mendapatkan harta Papa? No way!" tegas Gadis.
"Bilang ke Kak Gagah, di rapat nanti, suruh mereka ikut hadir, Dis. Biar mereka dengar sendiri hasil keputusan keluarga kita seperti apa," .ujar Florencia.
"Siap, Kak." jawab Gadis, mereka berdua kemudian melakukan tos dengan menyatukan kedua telapak tangan mereka bersamaan.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ...
Happy Reading ❤️