
Airin baru terbangun dari tidur menemani Luna yang juga sama-sama terlelap. Tubuhnya menggeliat dengan tangan merentang, meregangkan otot-ototnya. Airin menoleh ke arah Luna yang masih belum terjaga. Dia lalu memeluk tubuh Luna dan menciumi pipi chubby anaknya itu.
Ddrrtt ddrrtt
Bunyi getaran dari ponsel Airin di atas nakas membuat Airin bangkit dari posisi tidurnya. Airin melihat nama Wulan yangmenghubunginya, ia pun segera mengangkat panggilan telepon mantan mertuanya itu.
"Assalamualakum, Bu." sapa Airin menjawab panggilan telepon Wulan.
"Waalaikumsalam, kamu sedang istirahat, Rin?" Wulan membalas sapaan.
"Aku baru saja bangun, kok, Bu. Ada apa, Bu?" tanya Airin kemudian.
"Mama hanya ingin memberi kabar jika Rey sudah dibawa pulang ke rumah kemarin sore." Wulan menginfornasikan pada Airin keberadaan Rey saat ini.
"Memang kondisi Mas Rey sudah membaik, Bu?" Airin terkejut karena Rey sudah diperbolehkan pulang, padahal kalau melihat kondisi Rey, sepertinya mantan suaminya itu memerlukan perawatan intensif.
"Dokter bilang Rey bisa melakukan terapi di rumah. Nanti akan ada perawat khusus yang akan menangani Rey, dokter juga akan rutin datang mengontrol kesehatan Rey." Wulan menerangkan siapa yang akan merawat Rey setelah pulang dari rumah sakit.
"Oh, gitu ... syukurlah kalau Mas Rey sudah bisa dirawat di rumah, Bu." Airin senang jika kondisi Rey membaik, sebab Rey adalah Papa dari putri kecilnya, tak mungkin ia mengharapkan hal buruk terjadi pada Rey.
"Rin, Rey bilang ingin bertemu dengan Luna. Apa boleh Rey bertemu dengan Luna? Mungkin jika bisa bertemu langsung dengan Luna bisa membuat semangat Rey untuk sembuh akan bertambah." Saat ini Rey sudah tidak berada di rumah sakit dan tidak banyak alat medis yang menempel di tubuh Rey, tentunya Luna tidak akan merasa takut lagi jika bertemu dengan Rey. Dan jika menjenguk di rumah, Luna akan aman dari virus-virus penyakit daripada membesuk di rumah sakit.
"Hmmm, memang sekarang Mas Rey dirawatnya di rumah mana, Bu?" Wulan memang belum menyebutkan di rumah siapa Rey dirawat. Sebab jika Rey dirawat di rumah Rey sendiri alias rumah mereka saat mereka masih bersama, hal itu akan membuat Airin merasa berat membawa Luna pergi ke rumah itu. Sebab Airin sudah tidak ingin kembali ke rumah yang banyak menyimpan kenangan kebersamaannya dengan Rey.
"Rey di rawat di rumah ..." Wulan menjeda kalimatnya, ia seperti menyadari jika apa yang akan dikatakan olehnya akan mempengaruhi keputusan Airin, mau atau tidak membawa Luna membesuk Rey, sebab tidak mudah bagi Airin untuk menginjakkan kaki ke rumah itu lagi. "Rey ada di rumahnya, Rin." lanjutnya kemudian.
Airin menghela nafas panjang, tepat seperti dugaannya jika Rey saat ini berada di rumah mereka ketika masih berstatus sebagai suami istri.
"Kalau kamu keberataan datang ke sini tidak apa-apa, Rin. Tapi, Mama boleh tidak ajak Luna ke sini untuk bertemu dengan Papanya?" Wulan memaklumi jika Airin merasa berat hati datang ke rumah Rey.
"Hmmm, nanti aku kabari lagi ya, Bu. Aku harus bicarakan dulu dengan Mas Gagah, Bu." Airin meminta ijin berdiskusi dengan suaminya dulu.
"Ya sudah, kamu diskusikan dulu saja dengan Nak Gagah, Ibu juga tidak mau nanti ada kesalahpahaman," ujar Wulan, "Oh ya, Luna sedang apa, Rin?" tanyanya kemudian.
"Luna masih tidur, Bu." sahut Airin.
"Oh, ya sudah. Mama tutup dulu teleponnya ya, Rin. Salam untuk Ibu Widya. Assalamualaikum ..." pamit Wulan.
"Waalaikumsalam, nanti aku sampaikan ke Mama, Bu." Tak lama kemudian sambungan telepon dengan Wulan teputus, Airin pun menaruh kembali ponselnya. Ia melihat jam dinding saat ini baru menunjukkan jam tiga kurang. Airin. kembali kembali membaringkan tubuhnya, tapi tidak untuk terlelap. Ia menciumi pipi Luna agar putrinya itu segera terbangun, sebab saat ini sudah hampir masuk Ashar.
***
Airin menyeduh air panas ke dalam cangkir berisi bubuk kopi dan gula untuk suaminya. Airin ingin membuatkan kopi permintaan Gagah, sementara Gagah menemani Luna di kamar. Sebenarnya Gagah melarang Airin membuatkan kopi untuknya sebab Airin harus turun ke dapur. Namun, bukan Airin namanya jika tidak melakukannya sendiri.
"Biar Bibi saja yang buatkan kopi untuk Mas Gagah, Mbak." Bi Junah meminta pekerjaan yang dilakukan oleh Airin. Tidak enak dia hanya berpangku tangan melihat Airin membuat kopi untuk Gagah.
"Tidak apa-apa, Bi. Ini tinggal diaduk saja, kok." Airin mengaduk kopi hingga aroma khas kopi menyeruak di penciumannya dan menggodanya untuk merasakan kopi yang sudah dia buat, hingga akhirnya ia menyesap perlahan kopi yang seharusnya ia suguhkan untuk sang suami. Airin bahkan menarik kursi makan lalu duduk sambil menyesap kembali kopi itu.
"Bibi kira kopi itu untuk Mas Gagah, Mbak." ujar Bi Junah melihat Airin meminum sendiri kopi itu
"Memang ini untuk Mas Gagah, Bi. Tapi ini enak banget sepertinya, Bi. Jadi kepingin ngopi." Airin terkekeh, "Oh ya, Bi. Cheese cake nya masih ada tidak?" Airin menanyakan cheese cake buatan Bi Junah siang tadi.
"Masih, Mbak. Mbak mau? Nanti Bibi ambilkan dulu." Bi Junah bergegas mengambil cheese cake di dalam kulkas.
__ADS_1
"Makasih, Bi." ucap Airin menerima cheese cake yang disodorkan Bi Junah.
"Minum kopinya jangan banyak-banyak, Mbak. Mbak Airin sedang hamil." Bi Junah menasehati Airin, sebab saat ini Airin sedang hamil muda.
"Iya, Bi. Hanya menyesap sedikit saja, kok." Airin memo tong cheese cake dengan sendok lalu menyuapkan cheese cake ke dalam mulutnya. "Enak sekali ini, Bi. Bibi bisa bikin cake apa saja?" Airin memuji cake buatan Bi Junah.
"Hanya cake biasa saja, Mbak. Cheese cake, black forest, browines, gitu-gitu saja, Mbak." jawab Bi Junah.
"Bibi pernah kursus bikin beginian?" tanya Airin sambil memasukkan cake kembali ke mulutnya.
"Boro-boro kursus, Mbak, Dulu waktu di kampung Bibi tidak punya uang untuk bayar kursus-kursus gitu. Bibi bikin gitu lihat-lihat di U-tube, Mbak." ungkap Bi Junah.
"Cuma belajar otodidak tapi rasanya seenak ini. Kalau buat toko kue pasti laris manis, Bi." Airin terkekeh. Ia sampai lupa jika kopi yang dia buat sedang ditunggu oleh suaminya.
"Buat toko kue? Dapat modal dari mana, Mbak? Uang gaji dari sini sudah buat bangun rumah di kampung, Mbak." jawab Bi Junah.
"Kalau gitu uangnya dikumpulkan lagi, Bi. Biar bisa bikin toko kue, Bi." Airin terkekeh meyemangati.
"Ternyata sedang ngerumpi di sini, pantas saja kopi yang ditunggu-tunggu tidak sampai ke kamar." Suara Gagah tiba-tiba terdengar di pintu dapur membuat Airin dan Bi Junah terkesiap.
"Eh, Mas Gagah." Bi Junah yang ikut duduk di kursi meja makan di dapur langsung bangkit.
"Maaf, Mas, Aku lagi kepingin makan cheese cake buatan Bi Junah." Airin menunjuk po tongan cheese cake yang tersisa.
"Baru makan malam, sudah lapar lagi, Ay?" Gagah mengusap kepala Airin.
"Iya, Mas. Habis tergoda dengan kopi ini jadi kepingin ngemil cheese cake juga." Airin beralasan menyeringai.
"Kopiku kamu minum, Ay? Apa aman untuk Ibu hamil minum kopi?" Bukan karena kopinya diminum, Gagah justru mengkhawatirkan janin di perut Airin.
"Luna sudah tidur," jawab Gagah.
"Kalau begitu kita ke kamar, yuk, Mas. Kasihan Luna ditinggal sendirian."Airin langsung bangkit sambil membawa kopi dan cheese cake. "Bi, tolong buatkan kopi untuk Mas Gagah, ya!" Setelah memberi perintah kepada Bu Junah, Airin berjalan keluar dari dapur menuju kamarnya meninggalkan suaminya di dapur.
Gagah menggelengkan kepalanya melihat sikap sang istri seraya mengulum senyuman karena meninggalkannya sendiri.
"Bibi buatkan kopi dulu, Mas Gagah." Bi Junah langsung mengambil cangkir untuk membuatkan Gagah kopi.
"Tidak usah, Bi. Saya habiskan kopi yang dibawa Airin tadi saja." Gagah memilih kembali ke kamar. Dia menolak dibuatkan kopi oleh Bi Junah karena dia ingin menghabiskan kopi yang dibawa Airin agar Airin tidak banyak mengkonsumsi kopi.
"Ay, sini biar aku yang bawa." Setelah berhasil menyusul sang istri, Gagah meminta kopi dan cheese cake di tangan Airin.
"Ini." Airin menyodorkan kopi dan cheese cake dari tangannya pada Gagah, "Habiskan saja, deh. Aku sudah kenyang, Mas." Dia melanjutkan langkah menuju kamar.
Gagah kembali menggelengkan kepalanya, padahal Airin sendiri yang tadi membawa, seandainya sudah kenyang seharusnya kopi dan cheese cake itu ditinggalkan saja di dapur.
"Oh ya, Mas. Tadi siang Ibu Wulan telepon aku. Katanya Papanya Luna sudah pulang ke rumah." Ketika sampai di kamar Airin ingin menyampaikan permintaan Wulan soal membawa Luna ke rumah Rey.
"Oh ya? Syukurlah kalau begitu." sahut Gagah menaruh kopi dan cake di atas meja. Lalu mendekati Airin.
"Kata Bu Wulan, Papanya Luna ingin bertemu dengan Luna, Mas." lanjut cerita Airin.
"Ya sudah, nanti kita bawa Luna membesuk Papanya." jawab Gagah bijak, dia tak ingin melarang Rey bertemu Luna. Dia mengijinkan karena saat ini Rey sudah tidak dirawat di rumah sakit.
__ADS_1
"Aku tidak mau, Mas." tolak Airin cepat.
Gagah menatap serius sang istri dengan mata menyipit, dia belum tahu alasan Airin menolak membesuk Rey.
"Kenapa memangnya, Ay?" Gagah mencari tahu, "Jangan seperti itu, nanti mereka akan beranggapan buruk kalau kamu menolak." Gagah mencoba menerangkan pada Airin, dampak yang akan terjadi, jika Airin menolak membesuk Rey.
"Bukannya aku tidak mau membesuk, Mas. Tapi sekarang ini dia berada di rumahnya, di rumah kami dulu waktu masih bersama." Airin menjelaskan alasan enggan pergi ke sana.
Guratan kembali terlihat di kening Gagah mendengar alasan Airin. Dia akhirnya memaklumi jika sang istri menolak membesuk Rey.
"Bu Wulan mengerti kalau aku keberatan ke sana, Mas. Tapi Bu Wulan minta ijin membawa Luna bertemu dengan Papanya," jelas Airin.
"Luna yang dibawa ke sana? Bagaimana kalau Luna nanti nangis?" Gagah justru khawatir jika Luna jauh dari Airin dan dirinya.
"Itu juga yang aku khawatirkan, Mas. Menurut Mas bagaimana?" Airin meminta pendapat suaminya.
Gagah menghela nafas mencoba mengambil keputusan yang bijak dalam permasalahan ini.
"Begini saja, nanti biar aku saja yang menemani Luna membesuk Papanya. Kamu kalau mau ikut nanti tunggu di mobil saja, atau kamu tidak usah ikut ke sana, sebaiknya kamu di rumah saja, deh." Akhirnya Gagah mengambil keputusan yang ia anggap cukup bijak, Rey dapat bertemu dengan Luna, dan Luna juga tetap aman karena ada dirinya di samping Luna.
"Mas tidak apa-apa datang ke sana?" Airin tidak enak membuat suaminya repot.
"Tidak apa-apa. Besok saja aku ajak Luna sekalian bawa Luna main ke kantor," ucap Gagah tak masalah harus mengurus Luna, sebab baginya Luna sudah ia anggap seperti anak kandungnya sendiri.
"Terima kasih, Mas." Airin memeluk suaminya, sangat beruntung dirinya memiliki suami seperti Gagah, yang begitu sangat pengertian kepadanya.
"Apa ini kode jika kamu siap melakukannya malam ini?" tanya Gagah mengomentari sikap istrinya yang merapatkan tubuhnya. Sejujurnya Gagah tidak kuat jika harus bersentuhan fisik seperti saat ini, rasanya ingin cepat-cepat menguasai tubuh sang istri.
Airin mendongakkan kepala menatap sang suami, lalu ia mendorong tubuh Gagah hingga suaminya itu terjatuh di atas tempat tidur.
"Hey, ada apa ini? Apa karena kopi tadi membuat kamu bersemangat seperti ini?" Melihat istrinya nampak agresif, Gagah menyindir jika itu terjadi karena Airin baru saja mengkonsumsi kopi, hingga meningkatkan ga irah bercinta sang istri.
Airin kemudian duduk di pangkuan Gagah, menghadap suaminya itu dengan melingkarkan tangan di tengkuk Gagah. Airin pun berinisatif menyatukan bibir mereka, mengecup lembut bibir Gagah yang langsung dibalas Gagah dengan bersemangat.
Tangan Gagah menyentuh leher Airin lalu manarik tengkuk Airin untuk memperdalam ciuman mereka hingga suara decapan menghiasi kamar luas Gagah.
"Sekarang kamu sudah benar-benar jatuh cinta padaku, kan, Ay?" Gagah membelai kepala Airin saat mereka menjeda pagutannya untuk menghirup oksigen.
"Sepertinya memang begitu, Mas." Airin mengulum senyuman dan tersipu malu.
"Apa yang membuat kamu akhirnya mencintaiku?" Gagah tentu penasaran dan ingin tahu isi hati Airin terhadapnya.
"Aku rasa, apa pun yang Mas lakukan terhadapku adalah apa yang diinginkan oleh banyak wanita di muka bumi ini, Mas. Mas memperlakukan aku seperti ratu, Mas memanjakan aku, Mas mau menerima status aku yang waktu itu seorang janda dengan satu anak. Mas juga tidak mempermasalahkan status ekonomi keluargaku yang anak orang biasa saja. Belum lagi sikap Papa dan Mama juga keluarga Mas. Bagaimana aku tidak akan luluh dengan semua itu, coba?" Airin mengutarakan hal yang membuat dirinya bisa menerima Gagah sebagai orang yang layak mendapatkan cintanya. Airin mengabaikan keluarga jauh Gagah yang sempat mencemoohnya hanya karena statusnya dulu. Menganggap dirinya tidak pantas mendampingi Gagah, sebab yang terpenting bagi Airin adalah sikap Gagah sendiri termasuk kedua orang tua Gagah dan kakak-kakak Gagah padanya.
"Kamu salah, Ay. Kamu bukan ratu, tapi kamu adalah bidadari yang Allah kirimkan untukku." Gagah kembali menyatukan pagutan mereka untuk melanjutkan aktivitas percintaan lebih in tim hingga mereka sama-sama mendapatkan kepuasan yang mereka inginkan bersama.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading