
Gadis seperti merasa penasaran dengan sosok Haikal hingga membuat dirinya sampai di rumah orang tua Gagah, untuk mencari informasi tentang Haikal dari mulut Airin. Dan secara tak terduga Airin menyinggung soal Haikal, Ibarat pepatah 'Picuk dicinta ulan pun tiba' ia memanfaatkannya untuk bertanya perihal Haikal.
"Adik Kak Airin itu sudah lama kerja di BDS?"
Airin menghela nafas panjang, tak langsung menjawab pertanyaan Gadis. Sejujurnya ia takut ketahuan Gadis jika suaminya lah yang memberikan jabatan kepada Haikal hingga saat ini Haikal menduduki posisi sebagai supervisor.
"Sejak dia lulus SMA," jawabnya kemudian.
"Memangnya adik Kak Airin itu umur berapa?" tanya Gadis menyelidik.
Airin mengerut keningnya, mengingat usia adiknya saat ini, "Dua puluh empat tahunan," jawabnya.
"Kak Airin sendiri sudah lama kenal Kak Gagah?" tanya Gadis kemudian.
"Sekitar satu bulan sebelum menikah," sahut Airin.
"Oh ..." Gadis menganggukkan kepala. Dia tahu jika Gagah dan Airin baru menikah baru-baru ini, berarti Gagah dan Airin memang belum lama bertemu, hingga dugaannya jika Gagah yang membuat Haikal bekerja di perusahaan Bintang cabang Yogyakarta mulai mengikis.
"Kak Airin punya berapa saudara?" Gadis makin penasaran dengan keluarga Airin.
"Saya hanya dua bersaudara dengan Haikal," jawab Airin mulai meraba-raba pertanyaan-pertanyaan Gadis akan berujung ke mana.
"Adik Kak Airin sudah menikah juga?" Gadis bahkan menanyakan soal status Haikal saat ini.
"Belum, Haikal belum menikah," sahutnya.
"Oh ..." Gadis kembali menganggukkan kepala dengan tersenyum-senyum.
Senyuman di bibir Gadis tertangkap mata Airin. Airin menghubungkan cerita sang suami dengan pertanyaan Gadis. Kecurigaan sang suami yang mengatakan jika Gadis tertarik pada Haikal nampaknya ada benarnya, dan hal itu justru membuatnya cemas. Airin merasa jika Haikal tidaklah sepadan dengan Gadis. Gadis seorang pewaris pengusaha terkenal yang kini sudah menjabat sebagai seorang CEO, meskipun masih dalam pengawasan Gagah. Sementara Haikal, hanya pegawai biasa dan terlahir bukan dari keluarga berada. Sangat jauh jika membandingkan status ekonomi Gadis dengan Haikal.
"Kenapa memangnya, Gadis?" Kini Airin menyelidiki balik.
"Ah, tidak apa-apa, Kak. Hanya tanya saja." Gadis menjawab malu-malu. Untung saja saat ini yang dihadapinya bukan Gagah, hingga dia tidak sampai diledek.
"Orang tua Kak Airin tinggal di mana?" Gadis mengalihkan pertanyaan agar Airin tidak mencurigainya.
"Orang tua saya tinggal di Jogya."
"Oh, adik Kak Airin masih tinggal sama orang tua Kakak?" Namun, pertanyaan selanjutnya Gadis kembali mengarah pad Haikal.
"Iya, karena dia belum menikah jadi masih tinggal sama orang tua."
"Kak Airin asli orang Jogya?"
"Iya, orang tua saja memang asli dari Yogyakarta."
"Oh ..." Gadis lalu memperhatikan Luna yang asyik menyantap pizza pemberiannya. "Papanya Luna sering menemui Luna di kantor, Kak?" Gadis merubah topik pembicaraannya.
"Baru dua kali, tapi itu juga secara tidak sengaja, kebetulan saat saya sama Luna berkunjung ke sana, dan di saat yang bersamaan ada Papanya Luna di kantor BDS." Airin menjelaskan agar Gadis tak salah paham. Dia tidak enak jika Gadis akan menganggap dirinya dan Gagah mencampur waktu kerja dengan urusan pribadi.
"Maaf, Kak. Kak Gagah pernah bilang jika Kak Airin mempunyai trauma tentang perselingkuhan. Kok' Kak Gagah dan Kak Airin masih menerima orang itu dengan baik, sih?" Pertanyaan Gadis makin melebar.
Airin menghempas nafas panjang ketika diingatkan soal perselingkuhan Rey terhadapnya dulu. Seandainya bisa dan tidak berdosa, ingin rasanya dia melarang Rey bertemu dengan Luna. Tapi dia tidak bisa berbuat seperti itu, sebab Rey pun punya hak terhadap Luna karena Luna adalah darah daging Rey.
"Bagaimanapun juga dia adalah Papa kandung Luna, Gadis. Seburuk apa pun sikapnya terhadap saya dulu, saya tidak bisa melarang dia bertemu dengan Luna. Saya dan Mas Gagah hanya berusaha membatasi waktu bertemunya saja, karena kami tidak ingin Luna terlalu lama berada dalam lingkungan yang tidak baik untuknya." Airin menjelaskan bagaimana sikapnya dan Gagah terhadap Rey.
"Kak Gagah dan Kak Airin terlalu baik, hati-hati saja sama orang seperti itu, Kak." Bukannya bermaksud menggurui, Gadis mencoba mengingatkan Airin agar tidak terlalu lunak bersikap pada orang-orang seperti Rey.
Airin tersenyum, dia mempunyai Gagah. Dia yakin suaminya itu selalu memperhitungkan dengan matang dalam mengambil keputusan termasuk dalam memberikan kesempatan Rey bertemu dengan Luna.
__ADS_1
"Saya serahkan semua ke Mas Gagah, Mas Gagah yang mengambil keputusan soal itu," jawab Airin mengandalkan suaminya.
"Kak Airin beruntung dapat Kak Gagah, Kak Gagah orang baik. Bekerja dengan Papa saja, Kak Gagah sangat setia, apalagi terhadap istrinya." Gadis dapat menilai bagaimana sikap Gagah.
Airin mengangguk tanda setuju sambil tersenyum. "Benar, Gadis. Bukan hanya Mas Gagah nya saja, tapi seluruh anggota keluarga di sini sangat baik orang-orangnya."
"Luna mau main ke kantor Papa tidak?" Gadis kemudian menawari Luna ikut ke kantornya.
"Mau, Kak." Luna menjawab bersemangat, tanpa meminta persetujuan Mamanya terlebih dahulu, membuat Airin mengerutkan keningnya.
"Luna 'kan mau bobo. Lagipula Papa sedang bekerja, tidak enak kalau mengganggu Papa bekerja." Airin keberatan takut menganggu waktu kerja sang suami jika dia dan Luna pergi ke kantor BDS.
"Biar Luna sama aku saja, Kak. Nanti aku yang menjaga Luna kalau Kak Airin tidak bisa ikut ke sana." Gadis bersedia menemani Luna dan menjadi pengasuh Luna jika Airin tidak ikut serta.
"Nanti malah mengganggu kamu, Gadis." Airin masih keberatan dengan ide Gadis.
"Tidak apa-apa, Kak. Aku jadi malah tidak bete kalau ditemani Luna. Nanti Luna pulangnya sekalian sama Kak Gagah," ujar Gadis.
Airin bingung untuk menolak, tapi dia juga tidak bisa membiarkan Luna mengganggu pekerjaan suaminya ataupun Gadis di kantor. Sementara ia sendiri sedang tidak ingin keluar rumah karena efek kehamilannya.
"Saya telepon Mas Gagah dulu." Airin bangkit ingin mengambil ponsel yang ada di kamarnya.
"Pakai HP aku saja, Kak." Kasihan melihat Airin harus bolak-balik menaiki anak tangga, Gadis mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya kemudian segera menghubungi Gagah. Dia lupa jika sebelumya dia sembunyi-sembunyi tanpa sepengetahuan Gagah datang ke rumah Prasetyo.
***
Ddrrtt ddrrtt
Gagah melirik ponsel di atas mejanya yang berbunyi. Seketika keningnya berkerut, karena nama Gadis yang muncul di layar ponsel menghubunginya melakukan panggilan video. Pandangan mata Gagah kini beralih ke arah jendela melongok ke depan ruangan kerjanya. Jika Gadis ada di ruangan kerja Gadis, kenapa Gadis melakukan panggilan video padanya? Gagah terheran.
Gagah bangkit dan mengambil ponselnya, namun ia tak langsung mengangkat panggilan video call dari Gadis. Dia lalu berjalan ke arah pintu untuk mengetahui kenapa Gadis menghubunginya.
"Mbak Gadis sedang keluar, Pak." sahut Dewi yang membiasakan diri menyebut Gadis dengan panggilan 'Mbak' sebagai bentuk rasa hormat pada atasannya.
"Keluar?" Gagah melirik ke arah ponselnya. Dia pun akhirnya mengangkat panggilan video dari Gadis, lalu kembali masuk ke dalam ruangannya.
"Halo, Kak. Kak, aku sedang main ke rumah Kak Gagah, nih. Aku mau bawa Luna ke sana tidak apa-apa, kan?"
Kedua alis Gagah terangkat ketika mengetahui Gadis sedang berada di rumah kedua orang tuanya. Apalagi ketika layar ponselnya saat ini dipenuhi oleh wajah wanita cantik yang sudah membuatnya jatuh hati.
"Assalamualaikum, Mas." Airin menyapa suaminya.
"Waalaikumsalam ... Kamu mau ke sini, Airin?" tanya Gagah.
"Gadis yang ingin mengajak Luna, Mas. Tapi, aku takut mengganggu Mas dan Gadis, soalnya aku lagi malas keluar rumah." Airin menjelaskan.
"Nanti aku yang jagain Luna, Kak!" Suara Gadis terdengar walaupun wajahnya tak nampak di layar ponsel Gagah.
"Gimana, Mas?" Airin minta persetujuan Gagah.
"Luna nya mau ikut atau tidak?" Sebenarnya bagi Gagah tidak masalah jika Luna ingin datang ke kantor BDS, namun jika Airin tidak ikut, dia takut jika Luna nantinya akan rewel jika merajuk.
"Luna sudah pasti mau, Mas. Tapi, akunya yang khawatir Luna akan bikin rewel di sana." Jika pergi ke kantor Gagah, Luna pasti tidak akan menolak.
"Ya sudah, tidak apa-apa kalau memang Luna mau ke sini. Nanti aku yang akan jaga Luna." Akhirnya Gagah mengijinkan Luna datang ke kantornya. Dia juga tidak ingin memaksa istri untuk ikut datang ke kantor, sebab dia tak ingin istrinya kelelahan.
"Apa tidak mengganggu, Mas? Luna juga belum tidur siang, Mas." Airin merasa tak enak hati.
"Tidak apa-apa, Luna pasti tidak akan mengganggu. Nanti aku yang menemani tidur di kamar," sahut Gagah tidak mempermasalahkan.
__ADS_1
"Ya sudah, aku mau mengganti baju Luna dulu, Mas. Assalamualaikum ..." Airin berpamitan sebab ingin bersiap mengganti pakaian dan menyiapkan su su formula untuk Luna.
"Waalaikumsalam ..." jawab Gagah, langsung mematikan sambungan video call dengan Airin.
Gagah meletakkan kembali ponsel di atas mejanya, lalu menyandarkan punggung di sandaran kursi kerjanya. Dia heran kenapa Gadis pergi ke rumahnya, dan menemui istrinya? Apa ini suatu kebetulan atau memang kesengajaan? Senyum tipis terlihat di sudut bibirnya, dia mulai berpikir tentang sesuatu yang sudah ia duga sebelumnya tentang Gadis.
***
Setelah selesai mempelajari draft kerja sama yang disodorkan Gagah, Gadis kini menemani Luna bermain di Kidz Zone. Seperti janjinya kepada Gagah dan Airin, dia bersedia menjaga Luna. Sementara Gagah sendiri bisa fokus dengan pekerjaannya.
Ketika sudah selesai bermain, Gadis membawa Luna kembali ke kantornya. Namun, sebelumnya dia membeli ice cream terlebih dahulu. Dia membelikan ice cream cone rasa strawberry untuk Luna, sementara dia sendiri memilih straberry coklat. Mereka bergandengan tangan dengan Luna kembali ke kantor sambil tertawa dan bercanda. Gadis terlihat seperti seorang kakak sulung pada adik bungsunya.
Buugghh
Saat sedang berjalan tiba-tiba seorang wanita yang kerepotan membawa beberapa paper bag belanjaan di tangannya menabrak Luna hingga membuat ice cream yang ada di tangan Luna terlepas, bahkan membuat tubuh Luna terhuyung ke belakang dan terjatuh ke lantai sampai Luna menangis.
Namun wanita yang menabrak Luna seolah tak bersalah, tetap melanjutkan langkahnya tanpa menoleh sekejap pun ke arah Luna. Jelas saja sikap wanita itu membuat Gadis emosi.
Gadis membantu Luna bangun dan menggendongnya lalu mengejar wanita itu dan menarik lengan wanita yang menyebabkan Luna jatuh tadi.
"Eh, Tante. Kalau sudah mencelakai orang itu minta maaf, kek! Jangan acuh saja malah pergi tanpa dosa!" tegur Gadis kesal.
Wanita itu terkejut saat tiba-tiba Gadis menarik tangannya. Dia melihat wanita belia yang tidak ia kenal berkata kasar padanya, lalu menoleh ke arah Luna yang menangis dalam gendongan tangan Gadis. Bola mata wanita itu seketika terbelalak melihat Luna.
"Luna?" Wanita itu adalah Joice, hingga dapat mengenali Luna.
Gadis terkesiap saat melihat wanita itu ternyata mengenali Luna. Namun, meskipun mengenali Luna, Joice tidak menghampiri atau menanyakan apalagi menenangkan Luna yang masih menangis.
Joice kini memperhatikan Gadis. Dia justru menduga jika Gadis adalah pengasuh Luna yang dipekerjakan oleh Gagah, namun tidak mengenakan pakaian seperti baby sitter.
"Kamu pengasuh Luna? Kalau jadi pengasuh itu yang benar! Kalau Papa tiri dia tahu kamu ngasuh anak ini tidak benar dan malah dibikin nangis begini, bisa-bisa kamu kena pecat, lho!" Joice mencibir dan menakuti-nakuti Gadis.
Bola mata Gadis membulat mendengar Joice menyebutnya pengasuh Luna. Namun, dia merasa penasaran, siapa wanita di hadapannya saat ini. Bagaimana Joice mengenal Luna? Apalagi Joice menyinggung soal Gagah.
"Ateu jahat!!" Luna mengayunkan tangannya ingin memu kul Joice. Meskipun dirinya tidak mengingat jika wanita yang di hadapannya saat ini adalah Joice, namun perbuatan Joice yang membuatnya terjatuh, membuat dirinya menyebut Joice adalah orang jahat.
"Iiihh, kamu ini ... masih kecil sudah jelek sikapnya!" Tangan Joice mencubit pipi Luna. Seketika itu juga Gadis refleks menampik tangan Joice secara kasar hingga membuat beberapa paper bag belanjaan yang menggelantung di lengan kanan Joice terjatuh.
"Jangan berani menyakiti Luna!!" hardik Gadis emosi terhadap sikap kasar Joice juga ucapan Joice yang menghina Luna.
"Eh, jadi anak jangan kurang ajar, ya!!" Joice mendorong bahu Gadis hingga terhuyung dua langkah ke belakang, untung saja Gadis dapat menyeimbangkan tubuhnya hingga ia tidak terjatuh, apalagi saat itu dia sedang menggendong Luna.
"Tante yang tidak sopan! Beraninya menghina anak kecil!" Gadis membalas dengan ada menghardik.
"Hei, jadi pengasuh jangan sok belagu!" Joice berkacak pinggang menantang Gadis.
"Kalau menghadapi wanita licik kayak Tante, tidak perlu bicara baik-baik!" balas Gadis tak kalah galaknya. Dia lalu memperhatikan penampilan Joice dengan pakaian ketat dan memakai rok setengah paha juga baju dengan belahan dada yang sengaja dipamerkan.
"Paling juga Tante ini simpanannya gadun belanja-belanja branded kayak gini." Percaya diri jika perkataannya benar, Gadis kini justru mencibir Joice, dan menganggap Joice hanya wanita yang hanya menjual tubuh pada pria-pria hidung belang.
"Eh, kalau kamu mau tahu, bukan aku saja yang seperti itu, majikan kamu juga seperti itu! Memangnya Mamanya Luna tidak begitu? Dia 'kan meninggalkan suaminya untuk mendapatkan pria yang lebih kaya dari papa kandung Luna." Joice mulai menyebar fitnah memutar balik fakta yang sebenarnya.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading ❤️