JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG

JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG
Mengambil Alih Jabatan


__ADS_3

Diantar oleh supir pribadi keluarganya Gadis datang ke kantor milik almarhum Papanya. Gadis bertekad untuk mempertahankan perusahaan peninggalan sang Papa dari rencana jahat kedua Om-nya.


Atas persetujuan Farah, akhirnya Gadis memberanikan diri datang ke kantor Bintang Departement Store untuk menemui Gagah yang masih menjabat sebagai direktur utama di sana karena hendak membicarakan apa yang diamanatkan oleh sang Papa.


Vellfire White Pearl miliknya yang dikendarai oleh Pak Didit, supir pribadi yang selalu mengantarnya ke sekolah, saat ini berhenti di lobby perusahaan Bintang Departement Store.


"Selamat siang, Mbak Gadis." sapa security saat melihat kehadiran putri bungsu pemilik perusahaan dia bekerja seraya membukakan pintu untuk Gadis.


"Siang, Pak." sahut Gadis membalas ramah security yang menyapanya. Gadis sebenarnya lebih humble dibandingkan dengan Florencia. Namun, karena saat ini ia masih berduka, dia tidak bisa melebarkan senyuman membalas sapaan pegawai di perusahaan milik Bintang.


"Saya turut berduka atas meninggalnya Pak Bintang, Mbak Gadis. Semoga Allah SWT membalas semua kebaikan ada amal ibadah beliau." Security menyampaikan belasungkawa atas kepergian Bintang Gumilang menghadap Khaliq nya.


"Aamiin, terima kasih, Pak." balas Gadis. "Kak Gagah ada di kantor, Pak?" tanya Gadis pada security.


"Pak Gagah ada di ruangan beliau, Mbak. Silahkan ..." Security pun mempersilahkan Gadis dengan senang hati karena sikap ramah Gadis kepadanya.


"Terima kasih, Pak." sahut Gadis kemudian berjalan menuju lift untuk menemui Gagah.


"Mbak Gadis, saya turut berduka cita, ya. Semoga Almarhum Pak Bintang Husnul Khotimah."


Saat melalui beberapa karyawan di kantor Bintang Departement Store, hampir semua karyawan mengenakan pita hitam di lengan kemeja tanda duka cita yang mendalam, menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya Bintang Gumilang. Gadis merasakan haru mendapatkan perlakuan dari karyawan sang Papa hingga tak kuasa ia membendung air matanya untuk tak menetes.


"Terima kasih atas doa-doa semuanya terhadap almarhum Papa saya." Gadis menyeka air matanya lalu berpamitan meninggalkan mereka untuk menemui Gagah.


Gadis masuk ke dalam lift. Dia mencoba menenangkan diri sebab sempat menangis saat mendapatkan ucapan-ucapan belasungkawa dari para karyawan tadi.


Tak sampai satu menit, lift yang membawa Gadis sampai ke lantai tempat ruang kerja Gagah berada. Kemunculan Gadis langsung disambut oleh Dewi yang melihat kehadirannya dari arah lift.


"Gadis?" Dewi bangkit dari kursinya lalu keluar dari mejanya menghampiri Gadis, memeluk wanita belia itu. Dewi sudah berjumpa dengan Gadis di pemakaman kemarin, hingga dia tidak mengucapkan kalimat belasungkawa kembali kepada Gadis.


"Kak Gagah sedang sibuk tidak, Mbak?" tanya Gadis.


"Pak Gagah ada sedang menandatangani beberapa proposal kerjasama. Masuk saja, Dis." Dewi mempersilahkan Gadis masuk ke dalam ruangan Gagah yang berada di sebelahnya.


"Terima kasih, Mbak." Gadis pun berjalan ke arah pintu ruang kerja Gagah.


***


Gagah menghubungi Airin dan Luna melalui panggilan video dari ponselnya. Dia merasa rindu dengan kedua orang yang kini sudah menjadi bagian dari hidupnya itu. Bukan hanya Airin, namun Luna pun sudah menjadi bagian penting baginya saat ini.


Tak pernah Gagah merasakan bahagia sebelumnya. Pernikahannya dengan Airin membuat hidupnya lebih berwarna dan bersemangat dalam menjalani hari-harinya.


"Assalamualaikum ..." Gagah menyapa ketika melihat wajah Airin di layar ponselnya. Airin masih mengenakan mukena. Wajah wanita itu semakin cantik dan bersinar di matanya. Sungguh teduh melihat istrinya saat ini. Gagah merasa bersyukur akhirnya dipertemukan dengan seorang wanita yang tidak hanya cantik secara rupa, namun juga cantik hatinya.


"Waalaikumsalam ... Luna, ini Papa telepon, nih." Terlihat Airin menoleh dan menyuruh Luna mendekat hingga kini wajah Luna pun nampak jelas di layar ponsel Gagah. Sama seperti Airin, Luna pun terlihat masih memakai mukena berwarna pink.


"Masya Allah, anak Papa sedang sholat, ya? tanya Gagah pada Luna, dia sudah menyanyangi Luna dan menganggap Luna seperti anak kandung baginya.


"Iya, Pa. Luna abis sholat cama Mama," sahut Luna menjawab dengan pintar.


"Kalau Luna rajin sholat, nanti Papa kasih hadiah, deh. Luna mau Papa kasih hadiah apa?" Demi merang sang minat Luna untuk giat menjalankan kewajiban ibadahnya sedari dini, Gagah ingin memberikan hadiah kepada putri sambungnya itu.


"Jangan diberi hadiah, Mas. Biarkan ia belajar melakukan kewajibannya karena tanggung jawab dia kepada Sang Penciptanya, bukan karena hadiah." Tak setuju dengan niat suami yang ingin memberikan hadiah bagi Luna, Airin melarang niat baik Gagah karena ia anggap akan membuat Luna melaksanakan ibadah hanya untuk mengejar hadiah.


"Untuk menyenangkan hati Luna biar semakin semangat tidak apa-apa, kan?" Bagi Gagah tentu tidak masalah harus memberikan hadiah agar Luna makin menjalankan ibadahnya. Seperti yang orang tuanya lakukan ketika ia dan kedua kakaknya kecil.


"Jangan, Mas. Aku tidak mau Luna nanti berubah malas atau tidak semangat jika tidak diiming-imingi hadiah." Airin tetap keberatan dengan rencana Gagah menghadiahi Luna.


Gagah tersenyum mendengar keteguhan hati Airin yang ingin menanamkan kebaikan pada diri Luna dengan cara yang tepat, seketika itu juga ia menyadari bila ia tak salah memilih pendamping hidup.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu membuat konsentrasi Gagah yang sedang berbicara via video call dengan Airin terpecah, matanya kini menatap ke arah pintu ruangan kerjanya.

__ADS_1


"Siang, Kak. Apa aku mengganggu, Kak Gagah?" tanya Gadis yang muncul setelah pintu ruangan Gagah ia buka.


Gagah terkesiap saat mengetahui yang masuk ke dalam ruangannya saat ini adalah Gadis, putri bungsu Bintang dan Farah.


"Gadis?" Bahkan tanpa sadar Gagah menyebut nama Gadis di hadapan Airin yang masih tersambung video call dengannya.


"Siapa, Mas?" Airin seperti mendengar suara lain di ruangan Gagah, hingga membuatnya bertanya.


"Hmmm, nanti kita sambung lagi video call nya, Airin. Ada Gadis, anak bungsu Pak Bintang datang ke kantor." Tak ingin Airin bertanya curiga, Gagah lalu mengatakan jika yang datang saat ini adalah anak dari Bintang.


"Oh ..." Nada bicara Airin sudah berubah saat tahu Gagah kedatangan anak dari Bintang.


Gagah bukannya tidak menyadari air muka Airin berubah saat dirinya menjelaskan siapa yang datang. Tapi, dia merasa ada hal penting yang akan dikatakan Gadis padanya. Sehingga ia akan memilih menjelaskan nanti kepada Airin setelah ia menyelesaikan urusan dengan Gadis.


"Nanti aku hubungi kamu lagi, Assalamualaikum ..." Gagah mengakhiri panggilan videonya.


"Waalaikumsalam ..." Suara Airin masih terdengar sebelum sambungan telepon mereka benar-benar berakhir.


"Ada apa, Gadis?" tanya Gagah menaruh ponsel di meja kerjanya.


"Apa Kak Gagah sedang sibuk?" tanya Gadis karena melihat Gagah terpaksa mengakhiri sambungan telepon tadi.


"Tidak, Saya tadi hanya menyapa istri dan anak saja," sahut Gagah, "Apa terjadi sesuatu dengan Ibu Farah?" Gagah menanyakan Farah, ia takut terjadi sesuatu yang buruk pada Farah.


"Mama memang tidak enak badan, Kak. Tadi juga bilang pusing, tapi sudah minum obat, kok." Gadis berjalan ke arah sofa lalu mendudukinya.


"Apa tidak ke dokter?" tanya Gagah mengikuti apa yang dilakukan Gadis hingga kini mereka duduk saling berseberangan.


"Mama bilang tidak usah, Kak." jawab Gadis.


"Apa kedatangan kamu kemari dengan sepengetahuan Mamamu?" tanya Gagah kembali.


"Iya, Kak. Karena ada hal penting yang harus aku sampaikan terkait perusahaan ini dan juga amanat dari Papa," jawab Gadis lugas, "Jika bukan karena hal yang penting, aku juga tidak mungkin keluar dari rumah dalam kondisi masih berkabung seperti ini," ucapnya getir.


"Mama sudah cerita ke aku apa yang ingin Papa sampaikan pada Kak Gagah mengenai perusahaan ini, Kak." lanjut Gadis, setelah beberapa saat mengumpulkan kekuatan agar tegar dan tidak menangis.


"Mama bilang kalau Papa ingin Kak Gagah tidak meninggalkan BDS. Papa minta agar Kak Gagah membimbing aku dan Kak Flo dalam mengurus BDS. Intinya, Papa tidak ingin BDS jatuh ke tangan Om Dicky dan Om Romi." Gadis menerangkan apa yang diharapkan oleh Almarhum Papanya.


Gagah menghela nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Sebenarnya ia sudah menduga jika yang ingin dibicarakan Bintang berkaitan dengan posisinya di Bintang Departement Store. Namun ia dapat bernafas lega, karena Bintang tidak memintanya untuk menikahi Florencia seperti yang ia dan keluarganya khawatirkan.


"Aku sudah berdiskusi dengan Mama, tapi belum bicara dengan Kak Flo, karena Kak Flo masih sibuk dengan rasa bersalahnya atas kepergian Papa." Gadis menceritakan bagaimana Florencia saat ini, yang merasa tertekan karena merasa bersalah atas meninggalnya sang papa.


"Aku dan Mama sudah memutuskan jika aku akan bekerja di kantor ini setelah hari ketujuh meninggalnya Papa, dan aku akan memimpin perusahaan ini sebagai CEO," papar Gadis menyebutkan keputusan yang telah mereka sepakati.


Gagah terbelalak mendengar pernyataan Gadis, bukan karena ia keberatan atau kecewa dengan keputusan keluarga Bintang yang menginginkan Gadis menggantikan posisinya sebagai direktur utama di perusahaan Bintang. Namun, status Gadis sebagai pelajar yang masih duduk di bangku SMA-lah yang menjadi permasalahan. Bukankah Gadis masih berstatus pelajar? Gadis juga tidak mempunyai ilmu dan keahlian dalam memimpin suatu perusahaan, lalu bagaimana Gadis bisa menjalankan perusahaan tersebut? Itu yang dikhawatirkan Gagah.


"Maaf, Kak Gagah. Aku dan Mama tidak bermaksud mengkudeta Kak Gagah dari posisi CEO di kantor ini. Apa yang kami putuskan semata karena kami ingin menyelamatkan hak kami dari rencana jahat kedua saudara tiri Papa." Tak ingin menyinggung Gagah karena keputusannya mengambil jabatan Gagah sebagai CEO, Gadis menjelaskan alasan terkuat dirinya dan Farah mengambil keputusan tersebut.


"Saya tidak mempermasalahkan hal itu, Gadis. Perusahaan ini adalah milik Papa kamu, kamu berhak duduk di posisi itu. Tapi ... bagaimana dengan sekolahmu?" Akhirnya Gagah menanyakan apa yang ada dipikirannya.


"Aku akan melanjutkan sekolah secara homeschooling di sini. Aku bisa belajar sambil bekerja, Kak." Dalam semalam, Gadis memutar otaknya, mencari cara agar ia dapat menyelamatkan warisan milik keluarganya dari tangan-tangan tak bertanggung jawab, walaupun ia harus merelakan masa mudanya dengan bergulat dengan pekerjaan di kantor peninggalan sang Papa.


"Tapi Kak Gagah tetap berperan penting di BDS sebab aku akan berada dalam pengawasan Kak Gagah dalam menjalankan perusahaan ini, Kak Gagah tetap punya kuasa besar mengambil keputusan dalam perusahaan atas persetujuan aku. Ini hanya cara kita agar BDS tidak jatuh pada orang yang salah, Kak. Kalau Kak Gagah masih menjabat sebagai CEO, aku yakin Om Dicky dan Om Romi akan menggugat itu, karena menganggap jika Kak Gagah bukan anggota keluarga kami. Tapi, jika aku atau Kak Flo yang menjabat sebagai CEO, aku rasa mereka tidak punya alasan lagi untuk mengambil alih perusahaan ini." Gadis memaparkan secara gamblang alasan dari rencananya mengambil alih posisi direktur utama dari tangan Gagah.


Gagah tertegun mendengar kalimat demi kalimat yang diucapkan Gadis. Wanita di hadapannya ini berusia masih belia, namun sudah berpikiran matang. Melihat Gadis saat ini, Gagah merasa seperti berada di hadapan Bintang. Entahlah, ia seakan beranggapan saat ini Gadis adalah reinkarnasi dari Bintang dalam wujud wanita. Dari segi pemikiran dan cara menyampaikan kata perkata, sangat mirip dengan sosok Bintang. Tak berlebihan jika ia pun berpikir jika Gadis adalah calon penerus perusahaan retail peninggalan Bintang Gumilang. Meskipun wanita dan berusia muda, Gadis sangat dewasa dalam berpikir dan bersikap. Gadis mempunyai karakter yang kuat yang diyakini Gagah akan dapat memimpin Bintang Departement Store.


"Semalam aku mendengar Om Dicky dan Om Romi merencanakan ingin menyingkirkan Kak Gagah dengan menggunakan Kak Flo. Mereka berencana mempengaruhi Kak Flo untuk mengambil posisi Kak Gagah sebagai CEO, agar mereka bisa menyetir Kak Flo supaya tunduk dengan mereka. Syukurlah, aku mendengar rencana licik mereka," tutur Gadis melanjutkan kalimatnya, "Kak Gagah bisa konfirmasi ke Mama untuk memastikan ucapan aku ini benar, Kak." Untuk meyakinkan Gagah agar percaya dengan apa yang ia katakan, Gadis mempersilahkan Gagah mengkonfirmasi pada Farah. Dia bahkan mengeluarkan ponselnya untuk menyambungkan telepon dengan Mamanya.


"Tidak usah, Gadis. Apa yang kamu katakan semuanya sangat masuk akal," sahut Gagah, ia begitu yakin apa yang didengar dari Gadis adalah kebenaran. Seperti ada sesuatu yang mendorongnya untuk mempercayai semua yang diucapkan Gadis, seperti ia mendengarkan Bintang saat bicara padanya.


"Baiklah, rencananya juga kami akan secepatnya membahas soal hal ini dalam rapat yang rencananya akan dilaksanakan beberapa hari ke depan. Saya harap kamu dan Bu Farah juga akan hadir dalam rapat tersebut," ujar Gagah kemudian, menyetujui apa yang diminta oleh Bintang dan Farah yang disampaikan melalui Gadis.


***

__ADS_1


Setelah mengakhiri panggilan video dengan Gagah, Airin lalu melepas mukenah yang dipakai Luna dan juga dirinya. Sejujurnya hatinya merasa tidak tenang saat mengetahui jika sang suami saat ini bersama dengan seorang wanita yang tak lain adalah anak Bintang Gumilang meskipun itu bukan Florencia.


Atas apa yang dilakukan oleh Florencia terhadap Gagah, cukup wajar rasanya jika ia merasa cemas anak Pak Bintang yang lain pun melakukan seperti yang dilakukan Florencia terhadap suaminya. Di ruang kerja Gagah, berdua saja, bukan tidak mungkin anak Bintang akan merayu Gagah.


Mengingat hal itu, percikan cemburu mulai membakar hatinya. Ini tidak dapat dibiarkan, ia secepatnya harus bertindak. Perselingkuhan bukan hanya terjadi karena niat, tapi juga bisa terjadi karena kesempatan. Apalagi dia sendiri mempunyai pengalaman buruk dengan perselingkuhan


"Luna, kita ke kantor Papa, yuk!" Bahkan Airin sampai berinisiatif mengajak Luna menemui Gagah, karena ia tidak ingin sang suami didekati oleh wanita lain.


"Main pelosotan ya, Ma?" Dalam pikiran Luna, jika ke kantor Gagah yang berada dekat mall dia bisa bermain di arena permainan anak.


"Iya, nanti kita ke sana," jawab Airin mengiyakan.


"Holeee ..." Luna melonjak kegirangan.


"Ayo, Luna ganti baju dulu!" Airin menyiapkan pakaian untuk Luna.


Hanya membutuhkan waktu lima belas menit untuk bersiap, kini Airin keluar dari kamarnya dengan menggandeng Luna menuruni anak tangga. Dia ingin meminta ijin kepada Widya terlebih dahulu sebelum pergi ke kantor Gagah.


"Neng Luna mau ke mana?" Bi Darsih yang meilihat Airin dan Luna sudah berdandan rapih langsung bertanya.


"Mau ke kantornya Mas Gagah, Bi." sahut Airin, "Mama ada di mana,. Bi?" tanya Airin pada Bi Darsih.


"Ibu sedang di kamar, Mbak." jawab Bi Darsih.


"Oh, ya sudah, makasih, Bi." Airin lalu melangkah ke arah kamar Widya untuk meminta ijin dan berpamitan.


Tok tok tok


"Nenek sedang istirahat tidak, ya?" Airin bertanya Luna tanpa membutuhkan jawaban.


"Ma ...." Airin kembali mengetuk pintu kamar Widya.


Tak lama pintu kamar Widya terbuka.


"Ada apa, Rin? Lho, Luna mau ke mana?" Seperti ini Bu Darsih, Widya pun menanyakan ke mana Airin akan pergi karena melihat Airin dan Luna sudah berdandan rapih.


"Luna mau ketemu Papanya, Ma." Malu mengatakan jika dirinya lah yang takut Gagah digoda wanita lain, Airin justru memakai alasan Luna yang ingin ke kantor Gagah.


Widya terbelalak mendengar jawaban Airin, "Kamu ingin bertemu dengan mantan suami kamu?" Widya salah sangka dan menduga jika Airin ingin bertemu dengan Rey.


"Oh, bukan itu, Ma. Maksudnya kami ingin ke kantornya Mas Gagah sekalian aku mau ada beli sesuatu di mall." Airin menjelaskan karena Widya salah paham.


"Oh ... kirain kamu mau bertemu dengan laki-laki itu. Ya sudah, kalau kamu mau ke kantornya Gagah. Kamu diantar siapa?" Widya menghela nafas lega setelah mendapatkan klarifikasi dari Airin.


"Nanti Pak Birin saja yang antar, Ma."


"Ya sudah, hati-hati, ya."


"Iya, Ma. Kami berangkat dulu ya, Ma. Assalamualaikum ..." Airin mencium tangan Widya dan menyuruh Luna untuk melakukan hal yang sama dengannya.


"Waalaikumsalam ...."


Setelah berpamitan Airin dan Luna pun meninggalkan kamar Widya, bersama dengan Sobirin, mereka berdua diantar ke kantor Gagah.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading ❤️

__ADS_1


__ADS_2