
Sabtu malam di rumah keluarga Prasetyo nampak ramai dengan anak, menantu dan cucu Prasetyo dan Widya. Mereka mengadakan acara makan malam bersama keluarga yang memang selalu rutin dilakukan setiap satu bulan sekali untuk menjalin keakraban sesama keluarga anak-anak Prasetyo dan Widya.
Sebelum mereka makan bersama, saat ketiga anak Prasetyo berbincang dengan orang tuanya membahas soal rencana pendirian perusahaan baru dan ketika Luna bermain di kamarnya bersama dengan keponakan Gagah lainnya, Airin sengaja ditarik oleh Ayuning dan Putri mengobrol di kamar Bagus.
Mereka ingin membahas masalah Florencia. Sebelumnya Ayuning dan Putri sudah diberitahu oleh Widya tentang kedatangan Florencia beberapa hari lalu ke rumah itu.
"Rin, Mama cerita ke aku dan Putri, katanya anaknya Pak Bintang datang kemari, ya?" tanya Ayuning memulai percakapan mereka.
"Kamu jangan dengar omongan dia, Rin. Dia itu stres, tidak tahu malu kalau sampai menginginkan Gagah yang sudah menikah." Putri ikut menimpali.
Sebenarnya Airin tidak ingin membahas masalah Florencia kembali, namun melihat dukungan sesama iparnya itu membuat hatinya merasa tenang. Kini, bukan hanya Prasetyo dan Widya saja yang berada di belakangnya menentang Florencia. Tapi, saudara dan ipar Gagah juga ikut mendukungnya.
"Terima kasih Mbak Ayu dan Mbak Putri mendukung saya. Sebenarnya saya kaget juga ketika tahu anak dari pemilik perusahaan tempat Mas Gagah bekerja ternyata menyukai Mas Gagah. Jujur saja, saya masih agak trauma dengan perselingkuhan, takut akan terulang kembali pernikahan saya kandas karena hadirnya orang ketiga." Airin mengatakan apa yang menjadi ketakutannya saat ini.
"Kamu tidak usah khawatir, Rin. Gagah tidak seperti itu, dia itu sulit jatuh cinta. Apalagi modelan kayak Florencia, jauh banget dari tipe Gagah." Putri merasa yakin jika adik iparnya tidak akan berani selingkuh.
"Iya, Rin. Gagah itu apa-apa ingin yang perfect. Kalau Flo sudah kelihatan sekali tidak ada sopan santunnya terhadap Mama dan kamu. Sudah pasti Gagah tidak akan tertarik dengan wanita seperti itu." Ayuning menyambung ucapan Putri, membenarkan jika Gagah tidak mungkin akan terpengaruh pada Florencia.
"Aku saranin kamu harus berani melawan pada orang yang berniat tidak baik dengan rumah tanggamu ternasuk Flo. Walaupun dia anak dari orang yang mempunyai pengaruh besar di perusahaan Gagah, kamu tidak perlu takut. Apalagi Gagah juga rela kehilangan pekerjaannya daripada harus menuruti anaknya Pak Bintang itu. Menghadapi calon pelakor itu tidak boleh lembek, Rin. Nanti kita malah diinjak-injak oleh mereka." Putri sangat berpengalaman menghadapi wanita-wanita yang masih saja mengejar-ngejar Tegar, meskipun mereka telah menikah. Sehingga dia membagi tips agar Airin tidak mengalami lagi diselingkuhi oleh suami.
"Nah, tuh! Kalau urusan menghadapi pelakor, Putri memang ahlinya." Ayuning tertawa meledek Putri.
Kening Airin berkerut mendengar sindiran Ayuning terhadap Putri. Dia memang tidak tahu kisah-kisah asmara keluarga kakak-kakak Gagah.
"Apa rumah Mbak Putri dan Mas Tegar pernah diganggu pelakor?" Merasa penasaran, Airin pun bertanya kepada Putri.
"Sebelum menikah, dia sudah sering menghadapi wanita yang mengganggu hubungannya dengan Tegar, Rin. Tegar itu dulunya senang PHP-in cewek-cewek. Playboy lah gitu ..." Ayuning sedikit membuka kisah cinta Tegar dengan Putri.
Kedua alis lebat Airin terangkat mendengar cerita Ayuning tentang kisah cinta Tegar dengan Putri. Memang ia pun dapat melihat jika Tegar lebih luwes dalam menghadapi wanita seperti saat berbicara dengannya. Tidak seperti Gagah ataupun Bagus yang terlihat lebih serius dan terkesan kaku
"Untungnya sekarang ini Tegar sudah insyaf," sambung Ayuning kembali.
"Coba saja kalau masih berani main perempuan, aku bawa kabur anak-anak. Tidak aku kasih ijin ketemu mereka. Belum lagi ancaman Papa dan Mama yang akan bertindak tegas Mas Tegar kalau berani ninggalin anak istri demi pelakor, bikin dia ciut nyali tidak berani dekatin wanita lagi." Putri bercerita dengan emosional.
Airin dapat mengerti kenapa Putri berkata seperti itu, karena Airin pun mengalami sendiri,. Apalagi yang ia alami lebih parah daripada yang dialami oleh Putri. Airin berpikir, mungkin karena masalah yang terjadi dengan Tegar dan Putri tidak separah konflik dirinya dengan Rey, sehingga membuat rumah tangga kakak iparnya itu masih bertahan hingga saat ini. Berbeda dengan dirinya, meskipun Rey telah dihukum dengan perceraian, bahkan orang tua Rey juga telah menghukum dengan melarang Rey pulang ke Bali, nyatanya Rey masih saja berhubungan dengan Joice. Tak ada sedikitpun niat dalam hati Rey untuk berubah dan menyadari kesalahannya.
"Syukurlah kalau Mas Tegar lebih menomersatukan keluarga, Mbak." ucap Airin. Hatinya masih terasa ngilu setiap membuka kisahya dengan mantan suaminya dulu.
"Eh, Rin. Maaf ... aku tidak bermaksud mengingatkan kamu dengan masa lalu kamu." Menyadari air muka Airin berubah saat membahas masalah perselingkuhan, Putri langsung meminta maaf. Dia takut Airin akan tersinggung dengan ucapannya itu.
"Tidak apa-apa, Mbak. Mungkin saya memang tak seberuntung Mbak Putri ..." sahut Airin.
"Isshh, siapa bilang kamu tidak beruntung, Rin. Sekarang ini suami kamu jauh lebih baik dari mantan kamu dulu, kan?" Ayuning menepis anggapan Airin yang merasa kisah cintanya tidak seberuntung Putri dan Tegar.
"Oh, iya, Mbak. Maaf ..." Airin segera menyampaikan permintaan maaf, dia tidak enak jika sampai Gagah mendengar dirinya masih meratapi rumah tangganya dengan Rey yang telah berakhir.
"Terus, bagaimana hubungan kamu dengan Gagah? Bagaimana rasanya menikah karena dijodohkan, Rin? Pasti beda dengan pernikahan terdahulu, ya?" Putri iseng menanyakan, karena ia tahu jika Airin belum mempunyai rasa cinta dengan Gagah ketika menikah.
Airin terkejut, tak menyangka akan mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Putri. Dia pun tidak tahu harus menjawab apa. Dia tidak bisa membandingkan bagaimana rasa hatinya saat menikah dengan Rey dan ketika menikah dengan Gagah, karena situasinya berbeda. Namun, dia bersyukur menikah dengan pria yang baik dan sangat bertanggungjawab dengan keluarga. Apalagi dirinya dan Luna diterima baik dengan keluarga besar Gagah. Suatu hal yang mungkin belum tentu bisa ia dapati jika pria yang menikahinya bukan Gagah.
"Kamu ini, Put. Tanyanya yang bikin wajah Airin memerah saja," ujar Ayuning seolah kurang suka dengan pertanyaan Putri, "Tapi, aku juga penasaran, Rin. Kamu menikmati tidak waktu pertama kali make love sama Gagah?" Ayuning melanjutkan ucapannya dengan pertanyaan yang lebih parah ketimbang Putri. Apalagi istri dari kakak pertama Gagah itu terkekeh menyadari pertanyaan yang ia lontarkan sangat konyol.
__ADS_1
Rona merah seketika mulai menyelimuti wajah Airin. Membahas masalah hubungan intim dengan Gagah pada kakak-kakak iparnya itu tentu saja membuatnya malu.
"Astaga, Mbak Ayu. Dirimu lebih parah pertanyaannya, lho!' Putri ikut terkekeh seakan tak memperduli dengan semu merah yang sudah menghiasi wajah putih Airin.
"Hahaha, tidak apa-apa, ya, Rin? Kita ini wanita dewasa, saling berbagi pengalaman dan ilmu." Ayuning kembali berseloroh tak menghentikan tawanya.
"Kalian sedang membahas apa? Kelihatannya asyik sekali." Tiba-tiba suara Widya terdengar dari pintu kamar Bagus membuat ketiga menantunya itu menengok ke arahnya.
"Eh, Mama ..." Ayuning dan Putri mengucapkan kalimat yang sama secara berbarengan, sedangkan Airin langsung menggigit bibirnya, karena ia akan merasa semakin malu jika Mama mertuanya mendengar percakapannya tadi dengan Ayuning dan Putri.
"Tadi kami sedang tanya Airin, pengalaman malam pertama dengan Gagah kemarin lho, Ma." celetuk Ayuning membuat Airin mendelik ke arah kakak iparnya. Tak menyangka Ayuning berani mengatakan hal tersebut di hadapan mama mertua mereka. Airin memang tidak mengetahui kedekatan Widya dan para menantu-menantunya, sehingga dia merasa aneh saat Ayuning berani berkata seperti pada Widya.
Widya menggelengkan kepala mengetahui apa yang sedang dibahas para menantunya. Namun, tentu saja hatinya merasa bahagia karena semua menantunya terlihat akur. Kehadiran Airin sebagai keluarga baru di keluarga Prasetyo pun bisa diterima baik oleh kedua menantu lainnya. Tak ada rasa iri apalagi sikap dengki di antara mereka bertiga. Tak ada kata bersaing di antara menantunya untuk mendapat perhatian dan kasih sayang darinya, karena Widya memperlakukan semua menantunya sama.
"Ya sudah, nanti lagi disambung obrolannya. Kita makan saja dulu. Papa dan suami-suami kalian sudah menunggu di meja makan." Widya mengajak ketiga menantunya untuk bergabung malam malam bersama suami, anak dan cucu-cucunya.
"Iya, Ma." sahut Ayuning, "Yuk, Rin. Biar kamu tidak tegang terus, kita makan dulu." Ayuning masih sempat meledek Airin kembali sambil merangkul Airin agar Airin lebih santai dengan guyonannya.
***
Semua anggota keluarga besar Prasetyo berada alam satu meja untuk menikmati makan malam bersama. Para istri pria-pria anggota keluarga Prasetyo bergantian menyiapkan nasi dan juga lauk-pauknya untuk suami-suami mereka tak terkecuali Airin. Airin mengambil makanan untuk Gagah dan juga Luna.
Apa yang dilakukan Airin tentu saja mengundang perhatian Tegar. Sudah pasti pria yang punya kebiasaan bercanda itu tak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk meledek adiknya.
"Ehemm, gimana sekarang, Gah? Punya istri itu enak, kan? Ada yang mengambilkan makanan seperti sekarang ini?" tanya Tegar iseng, "Kamu tahu, Airin. Ketika dia masih bujangan, dia hanya gigit jari melihat kami, karena setiap acara makan seperti ini, tidak ada yang melayaninya di saat kami dilayani istri-istri kami." Sambil menyeringai Tegar mulai berkelakar.
"Jangan mengarang cerita, Mas! Siapa yang gigit jari?!' tepis Gagah, sebab ia memang tidak pernah melakukan apa yang disebutkan oleh kakaknya.
"Hahaha ... jangan malu mengaku pada Airin, Gah. Sekarang ini dia sudah menjadi istrimu, tidak apalah aku buka sedikit aibmu itu." Sanggahan Gagah membuat Tegar semakin bersemangat menggoda. Dia memang selalu mencairkan suasana serius terlihat lebih santai.
"Sudah-sudah, jangan berdebat!" tegur Prasetyo mendengar kedua putranya itu mulai berdebat.
"Kalian ini, sepertinya tidak enak kalau tidak berdebat." Widya menyambung ucapan suaminya.
"Kamu jangan kaget, Rin. Harus terbiasa mendengar Tegar dan Gagah berdebat seperti ini, Rin." Ayuning ikut berkomentar. Karena awalnya ia pun sangat kaget melihat perbedaan sikap Tegar dengan Bagus dan Gagah yang terkesan lebih serius.
"Ma ..." Bagus kini menegur Ayuning karena ikut berkomentar. Dia tidak ingin istrinya terlalu ikut campur jika Tegar dan Gagah sedang berdebat dengan saling menyindir. Sementara Putri hanya menggelengkan kepala, karena setiap acara kumpul keluarga seperti ini, suaminya selalu saja mencari perkara.
Prasetyo kini memimpin doa sebelum menyantap makanan yang tersaji di meja. Dan keluarganya pun mulai menikmati menu makan malam yang dibuat oleh Bi Darsih dan Bi Junah.
"Ma, Ica mau bobo di lumah Kakek, ya! Ica mau main cama Luna," Clarissa meminta ijin kepada Mamanya.
"Ica mau mau main sama Luna? Wah, pasti Luna senang Ica menemani Luna main di rumah Nenek." Widya menyahuti permintaan cucunya.
"Tapi Ica jangan nakal, lho!" Ayuning memperingatkan Luna, "Mas Fatur mau ikut menginap juga?" Fatur adalah anak pertama Bagus dan Ayuning yang berusia delapan tahun.
Fatur menggelengkan kepala, "Tidak, Ma." Dilanjut dengan menjawab.
"Dea juga bobo di sini juga ya, Ma? Besok 'kan libur." Anak kedua Putri dan Tegar yang berusia lima tahun juga berkeinginan yang sama dengan sepupunya.
"Ya sudah, tapi jangan nakal juga, lho!" Putri pun menyampaikan pesan yang sama seperti Ayuning kepada anaknya.
__ADS_1
"Reihan juga, ya, Ma." Anak pertama dari Tegar dan Putri mengikuti adiknya.
"Mas Reihan bukan perempuan, tidak boleh main sama perempuan!" Dea melarang sang kakak yang ingin ikut menginap di rumah kakek neneknya.
"Siapa yang mau main sama perempuan? Mas Reihan mau lihat ikan-ikannya Kakek, kok." tepis Reihan membantah.
"Ya sudah, tapi jangan berantem kalau mau pada menginap di rumah kakek, ya!" Putri kembali memperingatkan kedua anaknya itu.
"Titip anak-anak ya, Pa, Ma." ujar Ayuning pada kedua mertuanya.
"Kenapa kalian juga tidak menginap di sini saja? Besok Bagus dan Tegar tidak bekerja, kan?" Widya tentu lebih senang jika anak dan menantunya juga ikut menginap di rumahnya.
"Nanti saja, Ma. Di pertemuan bulan depan saja kami menginap di sini, soalnya besok kami ada acara ke Bogor," sahut Bagus.
"Aku ngikut Mas Bagus saja, Ma. Tidak enak jika hanya salah satu anak Mama saja yang menginap, tidak seru." Tegar menimpali.
"Kalau kamu mau ke Bogor, Fatur di sini saja sama Nenek." Widya menyarankan agar Fatur juga dititipkan di rumahnya, karena Bagus dan Ayuning akan keluar kota.
"Fatur mau latihan basket sama Om Sandy, Ma." Fatur memberi alasan karena ia mempunyai acara latihan basket dengan adik dari mamanya. Sandy adalah adik Ayuning yang ikut tinggal di rumah kediaman Bagus dan Ayuning, kerena ia kuliah di Jakarta. Sementara orang tua Ayuning tinggal di Kediri.
"Oh, ya sudah ..." sahut Widya.
"Nanti Ica bobonya di kamal Luna, ya, Nek. Kamal Luna bagus, banyak pelmainannya." Clarissa memilih ingin tidur bersama Luna.
"Dea juga, Nek." sahut Dea.
"Kalau itu, Ica sama Dea bilang dulu ke Om Gagah sama Tante Airin," sahut Widya.
Di rumah prasetyo ada dua kamar anak-anak yang ia sediakan untuk cucu-cucunya. Namun memang kamar itu tidak seperti kamar Luna yang disulap Gagah seperti tempat bermain anak, membuat setiap anak yang melihat kamar Luna merasa betah dan ingin bermain di sana, termasuk Clarissa dan Dea.
"Om Gagah, Tante Airin, boleh tidak Dea sama Ica bobo di kamar Luna?" Dea minta ijin pada Gagah dan Airin.
Airin mengangguk dengan mengembangkan senyuman menyetujui permintaan kedua keponakan suaminya itu.
"Tentu saja boleh," jawab Gagah.
"Asyik ...." sahut Dea senang disambut sukacita oleh Clarissa.
"Hei, kalian berdua harus ingat. Ada anak-anak di kamar sebelah, jadi jangan menimbulkan suara-suara aneh kalau sedang menikmati surga dunia yang membuat anak-anak bertanya-tanya, ada apa di kamar Om dan Tante mereka," celetuk Tegar dengan menyeringai.
Sontak ketujuh orang dewasa yang berkumpul dalam satu meja itu memusatkan pandangan ke arah Tegar, yang terlihat santai seakan tidak bersalah telah mengucapkan kalimat yang tidak seharusnya dibicarakan di muka umum apalagi di depan anak-anak.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️
__ADS_1