JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG

JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG
Terlalu Lebay


__ADS_3

Airin terkejut saat melihat kemunculan Gagah dari pintu masuk bank. Matanya spontan melirik ke arah arloji di tangannya. Saat ini waktu baru menunjukkan pu kul sebelas, lebih awal dari yang dijanjikan pria itu untuk menjemputnya.


"Ya ampun, kenapa dia sudah datang?" Airin membuang pandangan agar tidak diketahui Gagah jika dia sedang memperhatikan pria itu.


Airin memijat pelipisnya. Kelakuan Gagah benar-benar membuat kepalanya pusing. Dia mencoba berkonsentrasi kembali dengan nasabah yang saat ini sedang dia layani.


Gagah sendiri ternyata tidak langsung menghampiri Airin. Pria itu justru menemui Andika terlebih dahulu, untuk meminta ijin kepada bosnya Airin, karena dia ingin membawa Airin istirahat lebih awal.


Langkah Gagah yang mengarah ke lift tertangkap mata Airin hingga membuat kening Airin berkerut.


"Mau ke mana dia?" Airin bertanya-tanya karena Gagah tidak menunggunya di kursi tunggu.


"Astaga, kenapa aku jadi malah kepo begini?" Airin menggelengkan kepala mencoba kembali fokus dengan pekerjaannya.


Setelah sampai di ruangan pimpinan Central Bank, Gagah disambut oleh Andika dengan ramah.


"Selamat siang, Pak Gagah. Mari silahkan duduk ..." Andika mempersilahkan Gagah duduk di sofa di depan meja kerjanya.


"Terima kasih, Pak Andika. Apa saya mengganggu waktu Pak Andika?" tanya Gagah, karena dia tidak mengabari tentang kedatangannya ke Central Bank.


"Tidak juga, Pak Gagah." jawab Andika, walaupun sebenarnya dia agak heran dengan kedatangan Gagah yang tiba-tiba tanpa kabar terlebih dahulu.


"Apa ada yang bisa saya bantu, Pak Gagah?" tanya Pak Andika selanjutnya.


"Saya hanya ingin minta ijin Pak Andika, karena saya ingin menjemput salah seorang karyawan Pak Andika." Gagah merasa perlu ijin kepada Andika, karena dia tidak ingin Airin terkena teguran Andika karena pergi sebelum waktu jam istirahat.


"Karyawan saya? Siapa maksud Pak Gagah?" Karena Gagah tidak mengatakan nama orang yang ingin diajak pergi, sehingga membuat Andika bertanya.


"Dia salah seorang karyawan yang bertugas di customer service, Pak Andika. Namanya Airin." Gagah sepertinya tidak ragu membuka kedekatannya dengan Airin pada Andika.


"Airin?" Andika cukup terkejut mendengar orang yang ingin diajak pergi Gagah adalah Airin.


Airin adalah karyawati berparas cantik, Bisa dikatakan, dia adalah karyawan wanita paling cantik yang saat ini bertugas di Central Bank yang dipimpin oleh Andika. Dia adalah primadona di bank itu ketika belum menikah. Tidak hanya sesama karyawan, banyak juga nasabah yang tertarik dan jatuh cinta pada sosok Airin kala itu. Dan setahu Andika, Airin saat ini susah berstatus menikah. Karenanya, dia merasa heran mendegar Gagah ingin membawa Airin pergi.


"Pak Gagah mengenal dekat Airin?" tanya Andika penasaran.


"Benar, Pak Andika. Airin itu keponakan dari sahabat Mama saya." Kenyataan tentang hal tersebut dapat dipergunakan oleh Gagah untuk beralasan.

__ADS_1


"Oh, begitu ..." Andika tidak ingin terlalu ikut campur urusan pribadi Gagah. Dia lalu menjawab, "Saya panggilkan dia dulu, Pak Gagah." Andika lalu bangkit dan berjalan menuju intercom di mejanya untuk menyuruh sekretarisnya memanggil Airin.


***


Suara telepon yang ada di bagian customer service berdering. Dini yang berada di dekat telepon langsung mengangkat gagang telepon tersebut.


"Selamat siang, dengan Dini ada yang bisa kami bantu?" tanya Dini saat mengangkat panggilan telepon tadi.


"Din, Airin ada?" tanya Melly, sekretaris Andika.


"Airin?" Dini seketika melirik ke arah Airin. "Ada, mau bicara?" tanyanya kemudian.


"Bilang saja disuruh menghadap Pak Andika sekarang," ujar Melly.


"Tapi, Airin sedang menerima nasabah, bagaimana?" Dini melihat Airin masih melayani nasabah.


"Bisa dihandle sama yang lain, tidak? Soalnya Pak Andika yang panggil," tanya Melly, menyuruh rekan customer service yang lain melayani nasabah yang sedang dihandle oleh Airin.


"Oke, Mbak." Setelah Melly menutup telepon, Dini lalu menghampiri Airin.


"Maaf, mengganggu sebentar, Om." Dini permisi terlebih dahulu pada nasabah yang dilayani Airin.


Airin membulatkan matanya saat Dini menginformasikan jika dirinya diminta menghadap Andika. Dia sangat yakin jika itu pasti ulah Gagah. Bukankah Gagah tadi menaiki lift? Dia menduga jika Gagah menemui Andika.


"Ya ampun, apa yang dikatakan Pak Gagah pada Pak Andika, ya?" Airin seketika merasa cemas. Dia takut Gagah akan bicara macam-macam pada Andika.


"Aku tidak tahu, Din." sahut Airin berpura-pura tidak tahu.


"Ya sudah, kamu ke atas dulu, deh. Nanti aku yang melanjutkan pekerjaan kamu." Dini ingin membantu menghandle pekerjaan Airin.


"Tidak usah, Din. Sebentar lagi juga selesai." Airin menolak meninggalkan pekerjaannya, lagipula dia sudah hampir selesai melayani nasabah di depannya.


"Oh, ya sudah." Setelah Airin menolak menghentikan pekerjaannya, Dini kembali ke tempatnya untuk memanggil nasabah berikutnnya untuk dia layani.


Lima menit kemudian, Airin segera beranjak dari tempatnya ke arah lift untuk menghadap Andika. Airin menghela nafas, sementara hatinya berdebar. Apa yang dikatakan Gagah kepada Andika, sehingga Andika memanggilnya? Apa Gagah akan bercerita soal rencana makan siang mereka?


"Jangan sampai Pak Gagah cerita mengajakku makan siang. Pak Andika pasti akan berpikiran buruk tentangku," cemas Airin.

__ADS_1


"Mbak Mel, Pak Andika memanggil saya?" tanya Airin pada sekretaris Andika.


"Iya, masuk saja, Rin. Sudah ditunggu dari tadi," sahut Melly.


"Iya, Mbak." Airin bergegas ke arah pintu ruangan Andika.


Tok tok tok


Airin mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam ruang kerja bosnya. Gagah lah yang pertama kali terlihat dalam tangkapan mata Airin ketika dia masuk ruangan Andika, karena Andika duduk membelakanginya.


"Permisi, Pak. Bapak memanggil saya?" Airin kemudian menghampiri Andika.


"Airin, Pak Gagah ini minta ijin ke saya. Beliau ingin menjemput kamu untuk istirahat lebih awal karena kamu punya acara dengan keluarga Pak Gagah." Andika menjelaskan apa yang diminta Gagah.


"Ya ampun, kenapa dia sampai bicara seperti itu pada Pak Andika? Terlalu lebay dia itu! Masa mengajak makan siang saja sampai lapor Pak Andika segala? Bikin malu aku saja!" gerutu Airin kesal. Dia sampai melempar tatapan tajam pada Gagah, yang terlihat santai tanpa menatapnya.


"Apa pekerjaan kamu sudah selesai Airin?" tanya Andika.


"Sudah, Pak." jawab Airin.


"Ya sudah, kamu bersiaplah, kasihan Pak Gagah sudah menunggu lama." Andika menyuruh Airin bersiap.


"Baik, Pak. Saya permisi ..." sahut Airin kemudian meninggalkan ruang kerja Andika. Sungguh rasa malu yang dirasa oleh Airin saat ini, karena Andika sampai tahu urusan pribadinya. Dia juga takut bosnya akan menganggap buruk dirinya karena perceraiannya dengan Rey belum beredar di kantor Central Bank.


"Kalau begitu saya permisi dulu, Pak Andika. Terima kasih dan maaf sudah merepotkan Anda." Gagah bangkit dan berjabat tangan dengan Andika untuk berpamitan.


"Sama-sama, Pak Gagah." jawab Andika.


Setelah berpamitan dengan Andika, Gagah pun akhirnya keluar dari ruangan pimpinan Central Bank. Dia memilih menunggu Airin di mobilnya.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading ❤️


__ADS_2