JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG

JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG
Sudah Pernah Bertemu


__ADS_3

Gagah dan Airin sama-sama terperanjat, ketika mereka tidak melihat bocah cilik itu di tempatnya bermain tadi. Kepanikan seketika itu melanda mereka berdua.


Mereka terlalu asyik membicarakan urusan mereka sendiri, tanpa memperhatikan keberadaan Luna yang tiba-tiba menghilang dari hadapan mereka. Bahkan, jika saja tidak diberitahu orang lain, mereka berdua tidak menyadari jika Luna sudah tidak ada di tempatnya bermain.


"Luna!"


Gagah dan Airin langsung bangkit. Mereka berlari ke sana kemari mencari keberadaan Luna di sekitar taman itu. Namun, Luna tidak juga ditemukan.


"Bu, tadi Ibu lihat anak kami dibawa ke mana?" Gagah kembali mendekati ibu yang memberitahu mereka tentang menghilangnya Luna. Dia bahkan menyebut Luna dengan anak kami, seakan dia sudah menjadi orang tua bagi Luna.


"Ke arah jalan sana," jawab ibu tadi.


"Laki-laki atau perempuan orang yang bawa anak kami, Bu?" Gagah mengintrogasi si ibu, untuk mencari informasi.


"Sepertinya laki-laki, Mas."


"Tadi orang itu bawa anak kami ke arah mana, Bu?" selidik Gagah.


"Ke arah sana." Si Ibu menunjuk ke arah sebelah kanan.


"Baik, terima kasih untuk infonya, Bu." Gagah segera mengajak Airin ke arah yang ditunjuk ibu tadi untuk mencari keberadaan Luna.


Sementara cairan bening langsung menetes di pipi Airin. Sedangkan mulutnya terus berteriak memanggil nama putrinya itu. Dia memyesal karena terlalu asyik membicarakan soal pernikahan dengan Gagah, ia lalai mengawasi anaknya yang sedang bermain di tempat umum.


Begitupun dengan Gagah. Ia merasa sangat bersalah, menganggap dirinya sebagai penyebab hilangnya Luna. Tidak dapat ia bayangkan jika terjadi sesuatu yang buruk terhadap Luna, pasti Airin akan menyalahkannya. Atau, mungkin lebih parahnya, Airin akan membatalkan rencana untuk menikah dengannya.


"Luna ...!" teriak Gagah berharap Luna mendengarnya memanggil nama bocah itu.


"Astaghfirullahal adzim, kamu di mana, Luna? Hiks ..." Airin kalut, pikiran dan hatinya sangat kacau. Rasa takut kehilangan anaknya membuatnya menangis, tanpa merasa malu, saat itu dirinya menjadi perhatian orang sekitar taman.


"Kita cari, Luna. Kamu jangan khawatir, Airin. Kita harus tenang." Sungguh, kalimat yang diucapkan Gagah bertolak belakang dengan hatinya, karena dia sendiri pun merasakan kekhawatiran dan jauh dari kata tenang sebelum Luna mereka temukan.


"Maaf, Pak. Apa bapak tadi lihat anak perempuan kecil, usia sekitar tiga tahunan, pakai baju merah, rambut pendek diikat dua, lewat sini?" Gagah bertanya pada seseorang pengunjung taman yang sedang duduk bersantai bersama keluarga orang itu.


"Wah, anak kecil dari tadi banyak di sini, Mas. Saya kurang paham yang mana yang mas cari," sahut si bapakm Suasana taman yang ramai dengan banyaknya anak-anak yang bermain di taman, membuat bapak itu tidak tahu, anak yang mana yang dimaksud oleh Gagah.


Gagah langsung mengeluarkan ponselnya. Dia membuka galeri dan memperlihatkan gambar Luna yang tadi sempat dia rekam dengan kamera ponselnya.


"Yang ini, Pak. Apa Bapak melihat anak kami ini?" tanya Gagah saat menunjukkan foto Luna.


Kening si bapak berkerut memperhatikan dengan lekat foto Luna.


"Anak ini tadi saya lihat. Kalau tidak salah, dia mengikuti badut Mampang ke arah sana," ucap si bapak menunjuk arah Luna pergi.


"Oh, terima kasih untuk informasinya, Pak. Permisi." Gagah langsung menggenggam tangan Airin, membawa Airin mencari Luna ke tempat yang ditunjuk oleh bapak itu.


Tak jauh dari sana, terlihat beberapa anak berkumpul mengelilingi seseorang yang mengenakan kostum boneka Mampang. Mata kedua orang itu langsung mencari keberadaan Luna di antara anak-anak yang berkumpul itu. Dan benar saja, Luna ada di antara anak-anak yang sedang mengelilingi badut berkostum boneka Mampang.


"Luna ...!" Airin bergegas menghampiri Luna dan memeluk erat putrinya. Ia menciumi wajah sang putri, hingga air matanya tak terasa kembali menetes di pipinya.


"Luna ..." Gagah pun menarik nafas lega, karena bocah cilik itu berhasil ditemukan dengan selamat.


"Mama? Kenapa Mama nangis?" Tanpa merasa bersalah, Luna bertanya. Ia masih belum paham, jika apa yang dia lakukan sudah membuat Airin dan Gagah cemas. Yang dia lihat saat ini adalah Airin menangis sambil memeluk tubuhnya, itulah yang membuat Luna merasa keheranan, Bocah berusia tiga tahu itu pun melirik ke arah Gagah yang mendekat ke arahnya.


"Om Gagah nakalin Mama, ya!?" Bahkan, Luna menuduh Gagah melakukan kesalahan terhadap Mamanya.


"Mama menangis karena tadi Luna pergi tidak bilang-bilang sama Mama sama Om Gagah. Tadi Om Gagah sama Mama Airin kebingungan cari Luna yang menghilang. Mama dan Om Gagah takut Luna diambil orang jahat." Gagah menjelaskan agar Luna mengerti dan tidak menuduhnya yang menyebabkan Airin menangis.


"Waktu Om Gagah menghilang saat Luna bangun tadi pagi, Luna menangis tidak?" Gagah mencontohkan apa yang dialami Luna dengan Airin.

__ADS_1


"Nangis, Om."


"Tuh, Luna ditinggal Om Gagah nangis, kan? Sekarang, Mana Airin juga nangis karena ditinggal pergi sama Luna tadi," tutur Gagah.


"Luna nakal ya, Om?" tanya Luna dengan polos. Namun, bocah itu seolah menyadari dirinya bersalah.


"Luna tidak nakal, kok. Hanya saja, Luna tidak boleh pergi tanpa ijin Mama dan Om Gagah terlebih dulu." Gagah tidak ingin menyalahkan Luna, apalagi sampai memarahinya. Luna masih terlalu kecil. Dia hanya menasehati Luna agar tidak membuat cemas orang tuanya.


"Luna jangan pergi jauh-jauh dari Mama, ya! Mama takut Luna hilang." Airin masih saja mengeluarkan air matanya.


"Maafin Luna, ya, Ma!?" Jari mungil Luna mengusap air mata di pipi Airin. Hal itu semakin membuat air mata Airin semakin deras. Rasa haru karena permintaan maaf Luna tak dapat membendung air matanya untuk terus mengalir.


"Mama Airin jangan menangis terus, Luna 'kan sudah minta maaf." Gagah ikut menyeka air mata Airin dengan buku-buku jari tangannya.


Airin sontak terperanjat dan menjadi salah tingkah. Jika tadi air matanya semakin deras ketika disentuh Luna, kini air matanya itu seketika mendadak berhenti mengalir ketika Gagah ikut-ikutan menghapus air matanya.


"I-iya." Airin buru-buru menyeka air matanya sendiri agar tidak terus menitik.


"Kalau begitu, kita pulang saja, yuk! Siang nanti kita akan pulang ke Jakarta." Merasa waktu menikmati jalan-jalan bersama di pagi hari sudah cukup, Gagah mengajak Airin dan Luna pulang.


"Tapi, kita mampir dulu sebentar jemput Mama sama Tante kamu di hotel. Aku juga ingin bicarakan keputusan kamu pada Mama. Biar nanti Mama dengan orang tua kamu, membicarakan rencana pernikahan kita."


Airin menganggukkan kepala lalu menundukkan wajahnya. Dia masih malu saat Gagah menyebutkan soal rencana pernikahan mereka, hingga membuat wajahnya seketika menghangat. Apalagi saat ini Gagah melingkarkan tangan di pundak Airin, lalu membawa Airin dan Luna pergi ke hotel tempat Widya dan Tante Mira menginap. Detak antung Airin semakin tidak terkontrol debarannya.


***


Setelah dijemput dari hotel, Widya membicarakan soal kelanjutan hubungan Airin dan Gagah yang sudah sampai pada titik terang, bersama kedua orang tua Airin. Widya sendiri sudah melakukan pembicaraan telepon dengan sang suami, untuk membahas rencana selanjutnya, karena Airin menolak diadakan resepsi dalam waktu dekat ini.


"Pak Baskoro, Ibu Heny. Jika Bapak dan Ibu tidak keberatan, bagaimana jika acara akad nikahnya di laksanakan di rumah kami saja? Karena Airin 'kan tidak menginginkan resepsi dulu. Tapi, kami berencana mengundang kerabat terdekat di rumah kami." Hasil dari kesepakatan dirinya dan suaminya, Widya berharap Pak Baskoro dan Ibu Heny bersedia mengadakan akad pernikahan Gagah dan Airin di rumah kediaman Prasetyo.


Pak Baskoro dan Ibu Heny saling berpandangan, mendengar permintaan Widya. Begitu juga dengan Gagah dan Airin. Bagi Gagah sendiri, di mana pun akad nikah itu terselenggara, tidaklah menjadi masalah untuknya. Karena kepastian akan segera menikah Airin lebih berarti baginya.


Meskipun lazimnya akad nikah itu dilaksanakan di rumah mempelai wanita. Akan tetapi, Pak Baskoro tidak ingin egois dengan memaksakan pernikahan harus dilakukan di rumahnya.


Ada beberapa faktor yang membuat Pak Baskoro tidak bersikeras akad nikah diadakan di rumahnya. Mengingat ini bukan pernikahan pertama Airin. Status sosial keluarga Gagah dengan jabatannya sebagai CEO, yang mengharuskan keluarga Gagah mengumumkan pernikahannya kepada kerabat dekat Gagah. Hingga karena Gagah yang belum pernah menikah sebelumnya. Sehingga akhirnya Pak Baskoro menyerahkan keputusan kepada Airin. Dia yakin, Airin pun tidak akan melakukan penolakkan dengan permintaan Widya tadi.


"Gimana, Rin? Apa kamu bersedia, jika akad nikah dan acara syukurannya diadakan di rumah kami?" Widya kini bertanya kepada Airin, yang terlihat terkejut saat Pak Baskoro memberikan hak kepadanya untuk mengambil keputusan.


Airin menoleh kedua orang tuanya. wajah bahagia dapat dia lihat dari air muka kedua orang tuanya itu. Mungkin kehadiran Gagah seakan membawa ketenangan di hati orang tuanya. Tentu saja, dengan adanya Gagah di samping Airin, pasti akan membuat mereka merasa tenang, karena Airin sudah mendapatkan pendamping yang akan melindungi Airin dan juga Luna.


"Kalau Bapak dan Ibu setuju, saya nurut Bapak dan ibu saja." Benar seperti dugaan Pak Baskoro, Airin pasti tidak akan menolak.


"Alhamdulillah, syukur kalau Airin tidak keberatan. Untuk waktu dilaksanakan akad nikahnya, kita bicarakan lebih lanjut setelah saya kembali ke Jakarta," ucap Widya.


"Nanti, saya dan suami saya akan datang kemari lagi untuk melamar Airin secara resmi." Widya juga tentu tidak ingin melupakan acara lamaran resmi terhadap Airin, meskipun kehadirannya saat ini sudah cukup mewakili niatan anaknya meminang Airin.


"Jadi merepotkan Bu Widya dan Bapak tidak, jika harus datang kemari lagi?" Ibu Heny merasa tidak enak jika orang tua Gagah harus bolak-balik ke Yogjakarta.


"Tidak apa-apa, Bu Heny. Sekalian nanti kami akan mampir ke Solo, untuk memberi kabar pada keluarkan kami di sana, soal rencana pernikahan Gagah ini." Keluarga besar Prasetyo yang kini banyak menetap di Solo, sudah pasti wajib diberitahu soal berita bahagia ini.


"Oh, begitu. Ya, sudah. Jika menurut Bu Widya itu yang terbaik, kami siap menerima kedatangan Bapak dan Ibu di sini." Ibu Heny merasa senang, meskipun Airin bukan lagi seorang gadis perawan, akan tetapi, keluarga Gagah memperlakukan Airin dan keluarganya sangat baik. Sama sekali tidak merendahkan status ekonomi keluarga Airin.


***


Senin siang, sewaktu istirahat. Airin sengaja menjadwalkan bertemu dengan kedua sahabatnya, Liliana dan juga Ambar. Airin ingin menceritakan soal keputusannya untuk menerima Gagah menjadi pendamping hidupnya yang baru. Ia tidak bisa mengesampingkan dua orang yang selama ini mendukungnya, terutama saat ia menghadapi masalah terbesar dalam hidupnya, yaitu perselingkuhan Rey.


Liliana dan Ambar setia menemani saat ia berada dalam posisi terpuruk. Tidak mungkin ia melupakan mereka saat ia hendak menyongsong kebahagiaan masa depannya kelak.


"Ada hal penting apa, sampai kamu dadakan hubungi kita untukbertemu, Rin?" tanya Liliana seraya menyerahkan buku menu kepada pramusaji yang melayani mereka, setelah ia dan yang lainnya selesai memesan makanan.

__ADS_1


"Sabtu kemarin aku dan Luna pulang ke Jogya.” Airin masih malu melanjutkan ceritanya. Ia yakin, temannya itu akan heboh jika tahu apa yang sebenarnya terjadi.


“Lalu?” tanya Liliana.


Bola mata indah Airin menatap bergantian pada kedua sahabatnya, yang terlihat menanti jawaban darinya.


"Apaan, sih, Rin? Pakai melirik kayak gitu?" tanya Ambar cueiga menanggapi tatapan mata Airin.


"Mas Gagah dan Mamanya ikut menemani dan bertemu dengan kedua orang tuaku di Jogya," lanjut Airin menceritakan soal pertemuan Gagah dan Mamanya dengan orang tua Airin.


"Hahh? Dia datang bertemu orang tua kamu?" Liliana terperanjat dengan cerita Airin.


"Iya," sahut Airin.


"Kamu dengar apa yang Airin bilang tadi tidak, Li?" Ambar pun ikut merespon.


"Iya, CEO itu datang bertemu orang tua Airin. Tadi aku juga sudah bilang itu, kan?" sahut Liliana.


"Bukan yang itu!" tepis Ambar.


"Lalu yang apa?" Pandangan Liliana kini mengarah pada Ambar. Ia sama sekali tidak mengerti apa yang sedang dibahas oleh Ambar.


"Kamu dengar tidak? Tadi Airin panggil apa ke bos itu? Mas Gagah ... Oh, sudah ganti panggilannya sekarang? Bukan Pak Gagah lagi, nih? Sudah ada kemajuan rupanya?" Ambar meledek Airin, soal panggilan kepada Gagah yang diawali dengan kata 'Mas'.


"Ya iyalah ada kemajuan, Bar. Sampai si bos itu bersama Mamanya datang bertemu dengan orang tua Airin. Kamu pikir itu hanya iseng doang?" Liliana memutar bola.


"Hehehe, iya juga, sih." Ambar menyeringai, "Terus, bagaimana hasilnya? Apa dia melamar kamu? Orang tua kamu menerima tidak? Pasti diterima, kan? Lalu, kapan rencana pernikahan kalian? Di mana nikahnya?" Rentetan pertanyaan seketika itu dilontarkan Ambar. Tanpa menunggu Airin menjawab satu per satu.


"Kamu nanya kayak orang nemu barang discount buy 1 get 2, deh, Bar! Semua diborong!" cibir Liliana bereaksi akan pertanyaan-pertanyaan beruntun yang diajukan Ambar pada Airin.


"Soalnya aku kepo abis, Li." Ambar kembali terkekeh


"Jadi, gimana si bos itu bisa ikut ke rumah orang tuamu di Yogya, Rin?" Berbeda dengan Ambar, Liliana memilih menjeda pertanyaan. Ia akan melempar pertanyaan berikutnya. setelah pertanyaan sebelumnya dijawab Airin.


"Mas Gagah ingin kenal keluargaku dan meminta restu dari orang tuaku," ujar Airin.


"Orang tuamu setuju?" tanya Liliana lagi. Sebenarnya pertanyaan Liliana sudah terwakilkan oleh Ambar. Ia hanya mengulang pertanyaan Ambar tadi.


Airin merespon dengan menganggukkan kepalanya pelan sambil menjawab, "Iya."


"Kamu juga menerima dia, kan?" Liliana makin penasaran, hingga terus mengorek informasi dari Airin.


"Apa boleh buat, semua sudah menjadi pendukung Mas Gagah, termasuk Luna," lirih Airin.


"Kamu kenapa masang wajah sedih, sih, Rin? Calon kamu itu bukan kaleng-kaleng, lho! CEO gitu, lho! Harusnya kamu happy, dong! Pria yang kamu dapatkan saat ini, jauh melebihi mantanmu dulu. Kalau aku jadi kamu, aku undang tuh, si Rey. Biar dia melek dan sadar, kalau dia itu tidak ada apa-apanya dibanding dengan calon Papa barunya Luna." Ambar merasa gemas karena Airin terlihat kurang bersemangat dalam menerima Gagah.


"Aku tidak bisa membayangkan jika Rey tahu, kalau Airin akan menikah dengan seorang bos, bisa mendadak stroke dia. Hahaha ..." Liliana terbahak senang, jika ucapannya untuk Rey terkabul.


"Mereka sudah pernah bertemu, kok." sahut Airin, membuat kedua sahabatnya itu kembali terkejut.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2