
Airin melihat Luna memeluk Gagah dengan kepala bersandar manja pada bahu sang suami. Senyuman mengembang di bibir wanita berwajah cantik itu. Hatinya pun seketika menghangat melihat interaksi akrab antara Luna dan Gagah layaknya anak dan Papa kandung. Luna belum lama mengenal Gagah, tapi hati bocah itu begitu mudah terpaut dengan Gagah.
Mungkin Airin mesti bersyukur. Dengan status dia sebelumnya sebagai seorang janda beranak satu, dia bisa bertemu dengan Gagah, pria single, berwajah tampan dan berprofesi sebagai CEO. Belum lagi sikap Gagah yang begitu menyayangi Luna. Sejauh ini, apa yang ditunjukkan oleh Gagah termasuk dalam kategori pria idaman.
Airin melangkah mendekati kedua orang yang saat ini berada di hadapannya itu.
"Mas, apa Luna tidak bisa ikut tidur dengan kita? Saya kasihan kalau Luna harus tidur sendirian." Airin merasa tak tega membiarkan putrinya tidur sendiri di kamar terpisah.
"Luna, Luna mau cepat punya adik, tidak? Kalau Luna ikut tidur dengan Mama sama Papa, nanti adik bayinya tidak datang-datang." Gagah masih memakai alasan yang sama untuk mempengaruhi Luna agar menurut terhadapnya. Dan hal tersebut membuat Airin memutar bola matanya.
"Mau, Pa. Napa, cih? Adik bayinya lama cekali ndak datang-datang?" tanya Luna menanyakan apa yang pernah dijanjikan Gagah kepadanya.
"Makanya kalau Luna ingin adiknya cepat datang, Luna harus bobo sendiri. Kalau Luna minta bobonya sama Papa Mama, nanti Papa sama Mama susah bikin adik bayinya." Gagah melirik ke arah Airin dengan mengedipkan matanya, menggoda sang istri.
"Ya ampun ..." batin Airin mengeluhkan kelakuan sang suami.
"Memang bikin adik bayi itu gimana, cih, Pa?" Pertanyaan polos tiba-tiba meluncur dari bibir Luna.
Airin sontak membulatkan matanya mendengar pertanyaan kritis dari sang anak. Matanya kini mendelik ke arah sang suami. Karena ulah suaminya itu, Luna akhirnya menyampaikan pertanyaan yang tidak seharusnya diucapkan bocah itu.
Bukannya merasa bersalah. Gagah justru menyeringai mendengar Luna bertanya padanya mengenai cara membuat adik bayi. Dia ingin tertawa lepas, akan tetapi sorot mata tajam sang istri membuatnya hanya terkekeh saja.
"Cara membuat adik bayi itu ...."
Airin kembali melebarkan bola matanya dengan terus menatap sang suami. Dia menggelengkan kepala, berharap Gagah tidak mengatakan hal yang tidak Luna mengerti.
"Cara membuat adik bayi itu, kita harus berdoa sama Allah SWT. Kalau Luna mau punya adik, Luna harus berdoa kepada Allah, agar diberikan adik yang lucu dan sehat." Gagah melanjutkan ucapannya.
Airin menarik nafas lega, karena dia takut jika Gagah akan mengatakan hal yang tidak pantas untuk diketahui oleh anak seusia Luna.
"Kamu tenang saja, saya tidak mungkin mengatakan hal seperti itu kepada Luna." Gagah kembali menyeringai dengan memberikan kerlingan matanya pada Airin.
"Luna mau doa cama Allah, Pa. Bial adik bayinya cepat datang." Luna percaya apa yang dijelaskan oleh Gagah.
"Anak pintar ..." Gagah mengangkat tubuh Luna, lalu menjatuhkannya ke atas tempat tidur.
"Kalau Luna mau bobo, nanti Papa atau Mama akan temani di sini. Kalau Luna terbangun Papa dan Mama tidak ada di sini, Luna masuk ke kamar Papa dari pintu itu, di sana Papa sama Mama bobonya. Jadi, Luna tidak usah takut, ya!?" Gagah pandai menyampaikan penjelasan kepada Luna, melakukan pendekatan yang membuat bocah itu merasa nyaman dan terlindungi olehnya.
"Iya, Pa." sahut Luna menganggukkan kepalanya.
"Sekarang sudah malam, Luna harus bobo." Gagah ikut merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan mengusap kepala Luna.
"Iya, Pa." Tangan mungil Luna melingkar di dada bidang Gagah, seolah tidak ingin jauh dari Papa sambungnya itu.
Dengan tatapan haru Airin duduk di tepi tempat tidur Luna. Matanya kini menatap Gagah yang menyanyikan lagu pengantar tidur untuk Luna. Airin menduga jika Gagah memang sering melakukan hal tersebut kepada keponakan-keponakan Gagah, sehingga Gagah hapal lagu tersebut.
"Kamu tunggulah dulu di kamar sebelah. Setelah Luna tertidur, saya akan menyusul." Gagah menyuruh Airin untuk kembali ke kamar terlebih dahulu, dan membiarkan dirinya menidurkan Luna agar bocah itu tidak merajuk harus tidur sendiri.
Airin menganggukkan kepala, lalu bangkit dan berjalan meninggalkan kamar Luna. Airin kemudian membuka koper yang dia bawa dari rumah Om Fajar, untuk dia simpan di dalam lemari.
Setelah memindahkan pakaian ke dalam lemari, Airin duduk di tepi tempat tidur. Matanya yang belum puas melihat isi kamar Gagah, kini kembali menyapu pandangan ke setiap sudut ruangan.
Airin mengerjapkan mata seraya menepuk-nepuk wajahnya, mencoba meyakinkan, jika apa yang ada di hadapannya saat ini adalah nyata, bukan sekedar halusinasinya semata.
"Mimpi apa aku ini? Aku bisa menjadi istri seorang bos?" Airin menangkup wajah dengan tangannya sendiri.
Senyum di bibir Airin kini mengembang. Membayangkan nasibnya yang berubah drastis. Tercampakkan sebagai istri sah, dan kini mendapatkan pendamping yang jauh di atas mantan suami yang mengkhianatinya.
"Kenapa senyum-senyum seperti itu?" Suara Gagah terdengar dari arah pintu penghubung antara kamar Luna dengan kamarnya.
Airin terperanjat saat mendengar suara Gagah. Dia tidak menyangka jika suaminya saat ini tengah bersandar di pintu memperhatikannya.
__ADS_1
"Hmmm, Luna sudah tidur, Mas?" Airin salah tingkah dan bangkit dari duduknya.
"Luna sudah tidur, tinggal Mamanya yang harus saya temani tidur." Gagah terkekeh kemudian berjalan mendekat hingga kini jarak mereka semakin menipis. Tangan Gagah merengkuh pinggang ramping, hingga tubuh mereka merapat.
Satu tangan Gagah lainnya menaikkan dagu Airin, matanya menatap bibir manis istrinya, tak tahan ingin merasakan candu yang ia dapatkan dari sang istri.
"Mas ..." Tangan Airin menahan dada Gagah, karena suaminya itu ingin menciumnya.
"Bagaimana kalau Luna bangun?" tanya Airin.
"Luna sudah tidur. Saya sudah membuat kamar yang nyaman untuk Luna agar dia tenang dan nyaman dalam tidurnya." Gagah begitu percaya diri jika Luna tidak akan terbangun.
"Tapi, Mas. Luna sering bangun malam ..." Airin tahu bagaimana Luna. Terkadang terbangun ingin minum atau buang air kecil.
"Terbangun tengah malam, bukan sekarang, kan?" Gagah tak memperdulikan protes yang dilakukan oleh sang istri. Dia langsung menyatukan bibir mereka. Melakukan sentuhan lembut namun memabukkan.
Airin tak kuasa menolak, Selain karena kewajibannya melayani suami, Airin juga sepertinya mulai menikmati sentuhan yang diberikan sang suami kepadanya, bahkan ia pun mulai membalas apa yang dilakukan Gagah terhadapnya.
Gagah menyentuh tengkuk Airin dan semakin memperdalam ciumannya. Dia merasa indahnya menjalani suatu pernikahan dan mempunyai seorang pendamping hidup.
"Mas, sudah ..." Airin meminta Gagah menyudahi aksinya.
"Kenapa?" tanya Gagah melepas pagutannya. Keningnya berkerut saat Airin meminta untuk menghentikan menciuminya.
"Hari ini istirahat dulu. Saya capek sekali." Selama di hotel, Airin tak dibiarkan lepas dari Gagah. Pagi dan malam, Airin selalu melayani permintaan Gagah, sehingga dia meminta suaminya itu untuk tidak mengajaknya bercinta malam ini.
"Kalau istirahat, bagaimana calon adik Luna bisa ada di sini?" Gagah meraba perut Airin, dia tentu tidak ingin ditolak oleh istrinya.. Dia sudah merasakan nikmatnya surga dunia, yang membuatnya ingin melakukannya terus dan terus bersama Airin.
Lengan Gagah bahkan langsung mengangkat tubuh Airin dan membawa Airin ke atas ranjang untuk melakukan melanjutkan aktivitas mereka lebih in tim.
"Mas, jangan pakai buka-bukaan. Saya takut Luna akan terbangun. Tutupi selimut juga!" Masih khawatir aksi mereka akan dilihat oleh Luna, Airin meminta Gagah untuk tidak menanggalkan semua pakaian mereka, terutama bagian atas.
***
Airin mencium pipi chubby Luna yang masih terlelap dalam tidurnya. Benar seperti yang Gagah katakan. Luna sama sekali tak terjaga tadi malam. Mungkin benar, suasana ruangan kamar Luna yang sangat nyaman, membuat anaknya itu belum terbangun sampai jam lima pagi ini.
"Luna belum bangun?" tanya Gagah yang kini muncul di kamar Luna.
"Belum," sahut Airin.
Gagah beranjak mendekat dan menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur tepat di samping Luna. Tangan kokohnya melingkarkan di tubuh kecil Luna. Ia pun memejamkan matanya, melanjutkan tidurnya dengan wajah menghadap pipi Luna.
Perhatian dan kasih sayang yang ditunjukkan Gagah pada Luna makin membuat hati Airin tersentuh. Namun, ada sedikit kekhawatiran di dirinya, jika nanti Gagah memiliki anak darinya, apakah Gagah akan menyayangi Luna seperti sekarang ini? Atau, Gagah akan membeda-bedakan status anak sambung dan anak kandung? Itu sekelebat rasa cemas yang muncul di pikirannya.
Airin mengerjapkan matanya. Dia tidak ingin terpengaruh dengan pikiran-pikiran buruk itu. Airin memutuskan meninggalkan kamar Luna untuk membantu pekerjaan ART di rumah mertuanya itu.
"Selamat pagi, Bu ..." Saat Airin ingin turun ke lantai bawah, dia berpapasan dengan Widya yang menaiki anak tangga.
"Pagi ... kamu mau ke mana, Airin? Panggil Mama saja, Airin." Widya sudah beberapa kali menegur Airin yang selalu lupa menyebut Widya dengan panggilan 'Ibu', padahal Widya sudah meminta Airin untuk memanggilnya Mama, sama seperti anak dan menantunya yang lain.
"Maaf, Ma." Airin menyampaikan permintaan maafnya.
"Kamu mau ke mana? Gagah belum bangun?" tanya Widya kemudian.
"Mas Gagah menemani Luna tidur, Ma." sahut Airin.
"Bagaimana? Luna suka tidak dengan kamarnya?" tanya Widya.
"Suka sekali, Ma. Dia senang sekali punya kamar yang bagus apalagi ada permainannya seperti itu." Airin menceritakan bagaimana perasaan sang putri ketika melihat kamar yang disulap seperti arena permainan anak. Siapapun yang melihat kamar Luna, pasti akan betah berada di dalamnya.
"Biar Luna betah di sini. Gagah bilang kamu belum resign dari pekerjaan kamu, kan? Jadi, kalau Luna ditinggal di rumah, dia tidak merasa bosan dan kesepian." Widya menjelaskan alasan Gagah membuatkan interior kamar Luna senyaman itu, lengkap dengan playground nya
__ADS_1
"Terima kasih banyak, Ma. Mas Gagah dan keluarga Mama sudah mau menerima saya dan Luna." Ucapkan terima kasih saja rasanya tidak cukup untuk membalas kebaikan Gagah beserta keluarganya.
"Mama justru senang kamu mau menjadi istri Gagah, Airin. Usia Gagah sudah tidak muda, sudah tiga puluh tahun, tapi dia susah sekali kalau disuruh menikah. Untung saja ketemu kamu, dia langsung terpikat, jadi Mama tidak perlu susah-susah mencarikan jodoh lagi untuk Gagah." Widya sedikit curhat kepada menantu barunya itu bagaimana sikap Gagah selama ini.
Airin tersenyum mendengar ucapan Mama mertuanya. Sejujurnya, dia merasa penasaran akan kisah cinta Gagah sebelumnya. Karena dia sendiri tidak mendapatkan informasi soal tersebut dari Widya maupun dari Tantenya. Dia ingin tahu, apakah sebelumnya Gagah pernah gagal dalam percintaan yang akhirnya membuat pria itu sulit untuk jatuh cinta lagi? Tapi, tidak mungkin dia tanyakan hal tersebut pada Widya. Ia takut disebut lancang, dan terlalu ingin tahu masa lalu suaminya itu.
"Oh ya, kamu mau ke mana, Airin?" Widya mengulang pertanyaan untuk yang ketiga kalinya.
"Hmmm, saya ingin bantu-bantu di dapur, Ma." ujar Airin berkata jujur.
"Tidak perlu repot-repot, Airin. Urusan dapur sudah ada Darsih sama Junah yang menanggani pekerjaan di dapur." Widya melarang Airin yang ingin membantu pekerjaan ART nya.
"Tidak apa-apa, Ma. Daripada tidak ada yang saya kerjakan. Sekalian saya bisa tanya-tanya sama bibi, makanan apa saja kesukaan Mas Gagah." Tidak enak hanya berpangku tangan, meskipun ia seorang menantu keluarga besar Prasetyo, Airin bersikukuh ingin membantu pekerjaan di dapur.
"Ya sudah, tapi jangan yang berat-berat kerjanya, ya!" Akhirnya Widya mengijinkan Airin untuk bergelut di dapur. Karena menurut Tante Mira yang dia dengar, Airin seorang wanita yang rajin. Sebagai seorang istri, sebenarnya Airin seorang istri idaman, tidak hanya melayani kebutuhan biologis seorang suami, tapi juga pandai melakukan pekerjaan rumah dengan baik, termasuk memasak, meskipun Airin sendiri bekerja.
"Terima kasih, Ma. Saya ke dapur dulu, Ma." Setelah berpamitan kepada Mama mertuanya, Airin pun lalu beranjak ke arah dapur untuk membantu menyiapkan sarapan pagi untuk keluarga Gagah.
"Selamat pagi, Bi." sapa Airin saat tiba di dapur.
"Selamat pagi, Mbak." Bi Darsih dan Bi Junah menjawab bersamaan salam yang diucapkan oleh Airin. Mereka berdua terkejut dan tak menyangka jika Airin akan turun ke dapur.
"Sedang menyiapkan sarapan ya, Bi? Ada yang bisa saya bantu, Bi?" Airin melihat beberapa buah kentang dalam wadah juga pisau dan talenan di sampingnya.
"Oh, tidak usah, Mbak. Biar kami saja yang mengerjakan." Bi Darsih melarang Airin ikut bekerja di dapur, karena dia tidak enak menyuruh menantu majikannya itu ikut berkecimpung dengan pekerjaan ART di dapur.
"Tidak apa-apa, kok, Bi. Tadi saya sudah minta ijin sama Mama dan Mama memberikan ijin saya ikut membantu memasak." Airin menggunakan alasan sudah mendapat ijin dari Widya.
"Ini kentang ingin dibuat apa, Bi?" Merasa percaya diri jika para ART tidak akan menolaknya lagi, Airin menarik kursi dan duduk lalu mengambil wadah kentang tersebut ke depan mejanya.
"Mau bikin perkedel, Mbak." sahut Bi Darsih.
"Kentangnya mau digoreng dulu atau dikukus, Bi?" tanya Airin, sebab dia tahu, ada beberapa cara orang membuat perkedel kentang, tergantung selera masing-masing.
"Ibu suka yang digoreng, Mbak." jawab Bi Darsih kembali.
"Oh, saya bantu kupas kentangnya, ya!" Airin lalu mengambil satu buah kentang untuk ia kupas kulitnya. "Bi, bisa tolong ambilkan air dalam wadah baskom untuk kentangnya?" tanya Airin pada Bi Junah yang sedari tadi terlalu asyik memandangi wajah cantik Airin.
"Oh, i-iya, Mbak. Sebentar ..." Bi Junah berlari untuk menyiapkan apa yang Airin minta.
"Terima kasih, Bi." ucap Airin setelah Bi Junah memberikan apa yang diminta olehnya.
"Sama-sama, Mbak. Masya Allah, Bu Widya tidak salah memilih menantu, ya, Bi Darsih? Sudah cantik, mau pegang pekerjaan rumah juga." Bi Junah masih terkagum dengan sosok Airin.
"Bibi terlalu memuji saya. Saya masih belajar, kok, Bi." Airin merendah. Tak ingin terlalu tinggi dipuji oleh ART di rumah orang tua suaminya itu.
"Untung Mas Gagah cepat sadar, dan tidak terus-terusan menolak Mbak Airin. Kalau Mas Gagah terus menolak, sayang banget Mas Gagah kehilangan calon istri seperti Mbak Airin ini." Bi Junah mengungkapkan apa yang tidak diketahui oleh Airin selama ini.
Seketika kening Airin berkerut mendengar penjelasan Bi Junah soal penolakan Gagah. Dia sama sekali tidak paham maksud perkataan ART keluarga suaminya itu.
"Maksud, Bibi?" Penasaran dengan perkataan Bi Junah, Airin pun akhirnya melontarkan pertanyaan, ingin mendapat jawaban dari hal yang tidak dia mengerti soal penolakan Gagah. Apakah Gagah pernah menolaknya? Sebab sejak pertama bertemu dengan Gagah, pria itu sudah memperlihatkan ketertarikan pada dirinya.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading ❤️
__ADS_1