
Setelah Gagah kembali dari rumah sakit ke kantornya, pria itu meminta Gadis untuk menghadap ke rumah kerjanya. Meskipun saat ini Gadis adalah CEO di perusahan retail tersebut, namun Gadis tidak pernah menyuruh Gagah yang datang ke ruang kerjanya jika dia memerlukan penjelasan atau mengantar dokumen yang sudah ia pelajari dan tanda tangani. Hal itu Gadis lakukan sebagai rasa hormat Gadis terhadap orang yang sudah banyak membantu mengurus usaha Papanya.
Tok tok tok
Bersamaan pintu ruangan Gagah diketuk, Gadis muncul dari balik pintu membawa berkas yang ingin dia tanyakan pada Gagah.
"Sudah selesai membesuknya, Kak?" Gadis menarik kursi di depan meja kerja Gagah dan duduk berhadapan dengan Gagah. "Bagaimana kondisi Papanya Luna, Kak?" tanyanya kemudian.
"Dia masih kritis dan kemungkinan mengalami kelumpuhan jika sadar nanti," jawab Gagah.
"Mungkin itu adalah balasan atas perbuatan dia yang sudah mengkhianati Kak Airin," sahut Gadis.
"Semalam Pak Rey mengalami kecelakaan bersama Joice, dan wanita itu meninggal seketika di TKP." Gagah menjelaskan soal Joice, karena Gadis sempat bertemu dan bertengkar dengan Joice sebelumnya.
"Hahh? Nenek lampir ... eh, maksudnya wanita selingkuhan Papanya Luna itu mati?" Gadis terperanjat mengetahui Joice meninggal, apalagi dia merasakan baru kemarin-kemarin berdebat dengan wanita itu.
Gagah mendesah dan menjawab, "Iya."
"Hiihhh ... serem ..." Gadis mengedikkan bahunya, sebab mengingat pertemuan mereka belum lama ini, yang menimbulkan kesan yang tidak mengenakan. "Itu karma kali ya, Kak? Karena mereka berdua sudah menyakiti Kak Airin, apalagi wanita itu ... tidak ada bagus-bagusnya sikapnya." Gadis yang mempunyai kesan tak baik terhadap Joice menganggap apa yang terjadi pada Joice adalah balasan setimpal atas sikap dan perbuatan Joice yang dzolim pada Airin dan Luna.
"Tidak baik bicara seperti itu, Gadis. Meskipun mereka sudah melakukan kesalahan, tidak baik kita mensyukuri musibah yang sudah mereka alami." Gagah menegur Gadis, bagaimanapun juga ia harus mencontohkan kebaikan kepada Gadis, sebab kelak Gadis akan menjadi pemimpin perusahaan, dan Gadis harus belajar berempati atas musibah yang dialami oleh siapa pun meskipun orang itu tidak bersikap baik terhadap diri mereka sendiri.
"Maaf, Kak. Aku terlalu terbawa perasaan." Gadis beralasan seraya menyeringai.
"Lalu, apa Kak Airin dan Luna sudah tahu kondisi Papanya Luna?" tanya Gadis, dia memang serba ingin tahu dengan keluarga Gagah, seolah ia merasa menjadi bagian dari keluarga besar Gagah.
"Semalam Luna menangis dan mengamuk, sepertinya Luna merasakan apa yang sedang dirasakan oleh Papanya saat ini. Dan tadi pagi Om nya Luna memberitahu soal kecelakaan itu kepada istri saya, jadi dia sudah tahu, tapi tidak dengan Luna. Luna tidak boleh tahu dulu tentang kondisi Papanya sampai kondisi Papanya itu membaik. Saya khawatir Luna akan ketakutan atau histeris jika tahu bagaimana kondisi Papanya saat ini," papar Gagah.
"Iya juga, ya!? Kasihan kalau Luna tahu ..." balas Gadis.
"Bagian mana yang belum kamu pahami soal proposal itu?" Gagah menanyakan apa yang ingin dijelaskan pada Gadis tadi.
"Ini, Kak. Soal sistem pembayaran, di sana tertulis pembayaran maksimal empat belas hari kerja setelah dokumen diterima, berarti ada kemungkinan sebelum empat belas hari pembayaran bisa dilakukan?" tanya Gadis.
"Iya benar, itu tanggal paling lambat dari jadwal pembayaran. Tapi seperti sebelum-sebelumnya, pembayaran itu akan dilakukan tepat empat belas hari itu hari kerja, Jarang ada pembayaran kurang dari empat belas hari kecuali terbentur dengan libur panjang atau cuti bersama, kita usahakan pembayaran akan dilakukan satu atau dua hari sebelum hari libur." Gagah menjelaskan apa yang tidak dimengerti oleh Gadis.
"Berarti mereka tidak bisa mengajukan pembayaran seminggu saja misalnya?" tanya Gadis kembali.
"Jangan membiasakan apa yang selama ini tidak kita lakukan. Biarkan saja berjalan sesuai prosedur sebelum-sebelumnya. Kalau kita menyetujui salah satu permintaan mereka, nanti yang lain akan mengikuti," sahut Gagah dengan tersenyum.
"Oh, oke, Kak." jawab Gadis.
"Oh ya, soal rencana promosi beberapa pegawai dari kantor cabang, Minggu depan kemungkinan mereka sudah mulai ditarik ke pusat." Gagah memberitahu soal rencana pemanggilan beberapa pegawai kantor cabang yang akan mengisi posisi yang akan ditinggalkan oleh karyawan BDS pusat.
"Oke, Kak. Dari cabang mana saja?" tanya Gadis.
"Bandung, Surabaya, Semarang dan Jogya," jawab Gagah.
"Oh ya, Kak. Mereka 'kan selama ini domisili di luar Jakarta, lalu bagaimana jika mereka berkantor di sini? Apa perusahaan menyediakan tempat tinggal?" tanya Gadis kembali.
"Posisi yang mereka dapatkan di kantor pusat lebih tinggi dari apa yang mereka pegang di cabang, otomatis salary yang mereka dapatkan akan lebih besar dari salary mereka di cabang. Pusat juga sudah menawarkan terlebih dahulu kepada pegawai yang masuk kriteria apalah bersedia untuk pindah ke pusat? Dan mereka tentu sudah tahu resikonya pindah ke Jakarta." Gagah menjawab pertanyaan Gadis.
"Oke, oke ..." Gadis cukup mengerti. Tapi, dia tidak menyadari jika salah satu pegawai BDS cabang yang akan bekerja di pusat adalah Haikal.
Gagah sendiri tidak memberitahu Gadis soal itu, dia sengaja merahasiakannya sebagai kejutan untuk Gadis. Dia berharap kehadirkan Haikal di kantor pusat akan menambah semangat Gadis untuk bekerja. Gagah merasa kasihan melihat Gadis, di usia belia di mana seharusnya Gadis menikmati masa muda dengan bersenang-senang, justru Gadis harus bekerja. Dia khawatir Gadis akan seperti dirinya, terlalu asyik mengurus perusahaan sehingga tidak mempunyai waktu untuk mengenal lawan jenis dan telat untuk jatuh cinta.
***
Seperti yang diminta oleh Widya, siang ini Ayuning, Putri dan anak-anak mereka datang ke rumahnya untuk bertemu dengan Luna. Meskipun belum seceria biasanya, namun Luna sudah tidak terlalu rewel tapi hanya ingin bergelayut manja di pangkuan Airin.
Clarissa dan Dea, kedua anak Ayuning juga Putri mencoba mengajak Luna bermain masak-masakan, sebab Luna selalu bersemangat jika bermain masak-masakan. Namun, Luna masih belum bersemangat ikut bermain.
"Aku ikut prihatin atas apa yang terjadi dengan Papa kandungnya Luna, Rin." ujar Ayuning menyampaikan rasa empatinya.
"Terima kasih, Mbak." sahut Airin mengusap kepala Luna.
"Semoga Papanya Luna cepat sadar, tapi jangan sampai dia amnesia. Takutnya dia masih merasa menjadi suami kamu, Rin. Itu 'kan bahaya." Putri justru berprasangka yang menakutkan.
__ADS_1
"Kamu ini terlalu kebanyakan nonton drama-drama, Put." timpal Ayuning terkekeh.
"Eh, siapa tahu, Mbak. Kalau dia amnesia dan masih menganggap Airin masih menjadi istrinya, terus keluarganya minta Airin berpura-pura bersandiwara demi kesembuhan anaknya, gimana?" Putri terlalu asyik dengan imajinasinya.
"Kamu mau, Rin? Kalau suruh bersandiwara seperti itu?" Ayuning bertanya pada Airin, dia mulai terpengaruh dengan ucapan Putri.
"Itu tidak mungkin, Mbak. Ibu Wulan tahu aku sudah menikah dengan Mas Gagah, tidak mungkin beliau akan melakukan hal seperti itu." Airin yakin jika Wulan dan keluarganya tidak mungkin akan melakukan hal tersebut kepadanya, apalagi saat ini dirinya sudah menikah, berbeda jika dirinya masih sendiri.
"Semoga saja Papa kandung Luna tidak sampai amnesia," harap Ayuning kemudian.
"Aamiin ..." sahut Airin.
"Luna, ayo main macak-macakan, nanti Luna jadi cep nya," ajak Clarissa.
"Iya, Luna. Ayo, kita main macak-macakan." Dea pun mengajak Luna.
"Tuh, Ica sama Dea ajak Luna main, ayo cepat main sama Ica sama Dea, Luna." Ayuning membujuk Luna untuk ikut bergabung dengan Clarissa dan Dea.
"Cama Mama ..." Luna berucap manja ingin ditemani Mamanya.
"Yuk, sama Mama, sama Bude Putri sama Bude Ayuning juga main masak-masakannya." Putri bangkit dan mengajak Ayuning juga Airin agar Luna pun mau ikut bermain.
***
Ddrrtt ddrrtt
Bu Heny mengambil ponsel yang bergetar di atas nakas di kamarnya. Dia baru masuk kamar setelah mengambil air wudhu karena ingin melaksanakan sholat Ashar. Bu Heny melihat nama Airin yang muncul di layar ponselnya saat ini.
"Assalamualaikum, Rin." Bu Heny dengan cepat mengangkat panggilan telepon Airin.
"Waalaikumsalam, Ibu sedang sibuk?" tanya Airin.
"Tidak, Nak. Ada apa, Rin?" tanya Ibu Heny sambil mengenakan mukenah bagian bawah.
"Bu, ada berita tak mengenakkan. Mas Rey kecelakaan bersama wanita selingkuhannya semalam. Wanita itu meninggal, di tempat, sementara Mas Rey masih koma." Airin menyampaikan berita soal musibah yang dialami Rey pada ibunya.
"Bu, kalau Mas Rey sudah membuat hati Ibu sakit karena perbuatannya terhadapmu dulu, mohon dimaafkan, ya, Bu. Agar Allah SWT memberi dia kesembuhan dan bisa bertobat memperbaiki kesalahannya yang sudah dia perbuatannya selama ini." Airin harus bersikap bijaksana. Sebagai seorang ibu, tidak mustahil jika Ibu Heny merasakan sakit hati melihat putrinya disakiti oleh Rey, sebab itu Airin minta keikhlasan sang Ibu untuk memaafkan Rey, seperti dirinya pun berusaha ikhlas sebab saat ini dirinya sudah mendapatkan kebahagiaan yang nyata bersama Gagah.
"Iya, Nak. Ibu doakan Rey bisa diberi kesembuhan. Sudah tidak ada alasan untuk ibu merasa sakit hati, karena perbuatan Rey, akhirnya kamu mendapatkan jodoh yang lebih baik." Ternyata Ibu Heny pun mempunyai pikiran yang sama dengan Airin.
"Alhamdulillah jika Ibu bisa memaafkan." Airin bernafas lega.
"Luna sudah tahu Papanya kecelakaan, Rin?" tanya Ibu Heny.
"Luna belum tahu Papanya saat ini kecelakaan, tapi dia bisa merasakan jika Papanya saat ini sedang kritis, Bu. Sebab sejak semalam Luna menangis terus sampai dibacakan doa sama Papa." Airin menceritakan apa yang terjadi pada anaknya. "Sampai saat ini Luna masih murung dan seceria biasanya," lanjut Airin.
"Kasihan Luna ..." lirih Ibu Heny ikut merasakan sedih mengetahui cucunya bersedih.
"Aku tidak bisa membayangkan kalau Luna tahu keadaan Papanya memprihatinkan, Bu." ucap Airin, "Tadi saja Luna bilang ingin bicara dengan Papanya, lalu aku sambungkan ke Robby, tapi kami masih sembunyikan dari Luna soal kondisi Papanya," sambung Airin.
"Kamu dan Gagah harus kasih perhatian yang ekstra pada Luna, Rin. Agar dia tidak terlalu keingetan sama Papanya terus, setidaknya sampai Rey sudah sadar dan bisa berkomunikasi dengan baik." Ibu Heny menasehati Airin.
"Iya, Bu." sahut Airin.
"Sekarang Luna sedang apa?" tanya Ibu Heny.
"Sedang di bawah sama anak-anaknya Mas Bagus dan Mas Tegar," jawab Airin, "Ibu sedang apa?" tanyanya kemudian.
"Ibu mau sholat Ashar, Rin." jawab Ibu Heny.
"Oh, ya sudah, kalau begitu aku tutup dulu teleponnya, Bu. Assalamualaikum ..." Mengetahui sang ibu ingin beribadah, Airin memutuskan mengakhiri panggilan teleponnya dengan Ibu Heny.
"Waalaikumsalam ..." sahut Ibu Heny, kemudian ia menaruh ponselnya kembali di atas nakas dan segera memakai atasan mukenah untuk melaksanakan sholat Ashar empat rakaat.
***
Ada yang mengganggu pikiran Airin saat ini, tentu saja tuntutan hukum yang mungkin akan dihadapi oleh Rey jika Rey sampai tersadar. Rey tidak dapat mengelak dari kesalahan karena mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi hingga harus menyebabkan meninggalnya seseorang.
__ADS_1
Tentu saja Airin tidak ingin hal tersebut sampai menimpa Rey, bagaimanapun juga Rey adalah Papa kandung Luna, dia tidak ingin hal itu akan menjadi beban bagi Luna.
Airin menghampiri Gagah setelah ia menidurkan Luna yang malam ini tidur di kamar mereka sebab Airin tidak tega melihat Luna tidur sendirian.
"Mas ...."
"Hmmm, ada apa?" tanya Gagah menoleh ke arah Airin.
"Apa Papanya Luna akan diproses hukum?" tanya Airin.
"Jika pihak korban menuntut, bisa saja. Tapi, jika ingin diselesaikan secara kekeluargaan, aku rasa dia bisa terbebas dari proses hukum." Gagah menjelaskan.
"Apa Mas bisa membantu Papanya agar dia jangan sampai di penjara?" Airin bertanya ragu, karena takut suaminya salah paham. "Aku takut ini akan berimbas pada Luna, Mas." Airin memberikan alasan kenapa dia bertanya seperti itu.
Gagah mengulurkan tangannya meminta Airin mendekat padanya. Seperti biasa, Gagah meminta Airin duduk di pangkuannya.
"Apa pun yang kamu inginkan, aku usahakan untuk mengabulkannya," sahut Gagah dengan mencium pundak Airin.
Airin terkesiap sebab tanpa pikir panjang Gagah mengabulkan permintaannya, karena awalnya ia sempat ragu dan menduga Gagah akan menolak atau mungkin Gagah akan curiga atau cemburu padanya,
"Mas mau membantu?" tanyanya tak percaya.
"Bukankah itu yang kamu harapkan?" Gagah balik bertanya.
"Iya, Mas. Tapi ...."
"Ini semua demi Luna, kan? Dia sudah tidak ada hubungan dengan dia, dia bukan siapa-siapa lagi bagi kamu, tapi Luna selamanya akan tetap berkaitan dengan Papa kandungnya." Jawaban yang diberikan Gagah membuat Airin semakin terkagum pada suaminya itu.
"Terima kasih, Mas." Airin menyandarkan kepalanya di bahu Gagah. "Mas baik sekali," ungkap Airin memuji suaminya.
"Apa kamu baru menyadarinya sekarang?" tanya Gagah dengan memicingkan matanya membuat Airin tersipu malu.
"Apa kamu puas sekarang?" tanya Gagah kemudian.
"Puas? Puas karena apa, Mas?" tanya Airin menatap serius suaminya.
"Puas karena wanita itu meninggal," jawab Gagah.
"Astaghfirullah adzim! Kenapa Mas berpikir seperti itu!?" protes Airin menyanggah tuduhan Gagah. "Mana mungkin aku ikut merasa senang dan bahagia melihat musibah terhadap orang lain," tepis Airin kemudian.
"Ya sudah, tidak usah cemberut seperti itu wajahnya." Gagah terkekeh mencu bit pipi Airin.
"Bagaimana kabar calon baby Papa ini?" Gagah kini mengusap perut Airin, "Hari ini Papa sama Mama sibuk sama Kakak, ya, Sayang?" Gagah merasa bersalah sebab seperti melupakan janin di perut sang istri.
"Tidak apa-apa, Pa. Hari ini Kak Luna sedang sedih." Airin seolah menjawab pertanyaan Gagah.
Gagah mengeratkan pelukannya pada tubuh Airin, dia benar-benar merasa bahagia dengan kehadiran Airin dan Luna ditambah calon bayi mereka di perut Airin dalam hidupnya saat ini.
"Aku harap, musibah yang menimpa Papanya Luna semakin membuat kita semakin kuat. Sekarang ini tidak akan ada lagi yang akan mengganggu keutuhan rumah tangga kita," harap Gagah terhadap rumah tangganya bersama dengan Airin.
"Mas ...."
"Hmmm ...."
"Bagaimana kalau Papanya Luna amnesia dan mengira jika aku masih menjadi istri dia?" Tiba-tiba saja Airin teringat kata-kata Putri siang tadi.
"Apa???" Gagah langsung mendelik tajam ke arah Airin.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading ❤️
__ADS_1