
Gadis melirik ke arah Haikal yang duduk di sampingnya dengan mata terpejam dan tangan melipat di dada. Hampir satu jam perjalanan, tak banyak kata-kata yang keluar dari mulut Haikal, Pria itu justru asyik terlelap seolah tak menganggap kehadiran seorang wanita cantik di sebelahnya.
Gadis mendengus kasar, percuma ia berpindah tempat dengan Luna jika Haikal malah mengacuhkannya. Sebenarnya ia berharap Haikal akan menunjukkan perhatian seperti yang pria itu lakukan semalam kepadanya
Gadis lalu mengalihkan pandangan ke kursi Luna dan Airin. Luna juga terlihat mengantuk sementara Airin mengusap kepala anaknya agar Luna dapat tertidur lelap.
Gadis ingin marah, namun ia tidak tahu bagaimana meluapkannya. Dia menyadari jika Haikal belum menjadi kekasihnya, namun sepertinya ia terlalu berharap banyak pada pria itu.
Sekitar pu kul satu siang, pesawat yang membawa rombongan kecil Airin tiba di Bandara Internasional Yogyakarta. Airin berniat membeli bakpia patok favoritnya di tempat pembuatannya langsung terlebih dahulu. Dia membeli banyak bakpia untuknya dan sebagai oleh-oleh untuk keluarga di Jakarta juga untuk keluarga Gadis. Setelah selesai belanja mereka pun langsung menuju rumah orang tua Airin.
Kedatangan Airin dan rombongannya disambut Ibu Heny yang sudah menunggu di teras rumahnya. Dia senang anaknya bisa ke Yogyakarta meskipun dengan alasan ngidam yang pasti akan membuat orang yang mendengarnya menggelengkan kepala.
"Nenek ...!" Saat turun dari mobil ojek online, Luna langsung berlari dan berteriak memanggil sang Nenek.
"Aduh, cucu Nenek." Ibu Heny menangkap tubuh Luna yang belari ke arahnya dan menggendongnya.
"Assalamualaikum ..." Airin, Haikal dan Gadis mengucap salam bersamaan seraya berjalan ke arah Bu Heny.
"Waalaikumsalam ..." jawab Ibu Heny, namun pandangan matanya tertuju pada Gadis yang berjalan dari arah belakang Airin. Dia tak tahu soal keikutsertaan Gadis ke rumahnya, sehingga kehadiran bos dari anak dan menantunya itu membuatnya kaget.
"Lho, Nak Gadis ikut juga?" tanya Ibu Heny menerima uluran Airin tapi tatapan mata dan pertanyaannya tertuju pada Gadis.
"Iya, Tante. Tante apa kabar?" Gadis kini menyalami Ibu Heny juga mencium punggung tangan orang tua dari pria yang disukainya.
"Alhamdulillah, baik." Ibu Heny melirik ke arah Haikal seolah meminta penjelasan dari anaknya itu kenapa Gadis bisa ikut ke Yogyakarta.
"Gadis ingin ikut menemani aku kemari, Bu. Ingin tahu rumah Kakek Neneknya Luna katanya." Justru Airin yang memberikan penjelasan, meskipun Gadis tidak menjelaskan alasan ikut dengannya ke Yogyakarta.
"Oh gitu, mari silahkan masuk, Nak Gadis. Maaf, kondisi rumahnya seperti ini." Ibu Heny mempersilahkan Gadis masuk.
"Terima kasih, Bu." sahut Gadis.
"Luna, ayo turun! Kasihan Nenek berat gendong Luna." Airin menyuruh anaknya agar turun dan tidak terus digendong Neneknya.
"Tidak apa-apa, Rin. Tidak setiap hari Nenek gendong Luna, kan?" Ibu Heny menciumi pipi Luna, tak mempermasalahkan dengan bobot Luna yang makin bertambah. "Oh ya, kalian sudah makan siang belum?" tanya Bu Heny.
"Kami sudah makan di pesawat tadi, Bu." sahut Airin kemudian duduk di sofa seraya mengusap-usap pinggangnya.
"Mama, Luna mau mancing ikan, Ma." Seperti sudah menjadi kebiasaan bocah cilik itu, setiap berkunjung ke rumah Neneknya, rutinitas pergi ke pemancingan ikan harus ia lakukan.
__ADS_1
"Sama Om Haikal saja perginya, Mama capek." Airin menolak, dan menyuruh adiknya yang mengantar Luna ke tempat pemancingan umum.
"Nanti sorean saja mancing ikannya, Luna. Itu masih panas, Nak." Ibu Heny melarang cucunya pergi saat ini.
"Iya sore saja mancingnya. Om Haikal juga capek mau istirahat dulu," jawab Haikal
Airin bangkit dan menghampiri Luna, "Luna juga bobo lagi, yuk! Nanti kalau sudah bangun tidur baru ke pemancingan sama Om Haikal dan Kak Gadis." Lalu menggandeng tangan Luna ingin membawa Luna ke kamar, karena ia juga ingin beristirahat.
Gadis terkesiap hingga menoleh ke arah Airin saat ia disebut Airin akan menemani Luna memancing bersama Haikal.
"Kal, kamu antar Gadis ke kamar tamu." Airin menyuruh Haikal, "Gadis, kamu istirahat saja dulu di kamar, di sini anggap saja rumah sendiri," Airin menyeringai sebelum akhirnya berpamitan kepada Ibunya dan membawa masuk Luna ke dalam kamar.
Belum habis rasa terkejut Gadis, kini Airin sudah berkata seakan dirinya diterima di rumah orang tua Haikal. Tentu saja hal itu membuat hatinya berseri-seri.
"Biar Ibu saja yang antar Gadis ke kamar." Berbeda dengan Airin, Ibu Heny memilih dirinya yang mengantar Gadis, sebab ia anggap kurang elok jika Haikal dan Gadis berada dalam satu kamar walaupun hanya bertugas mengantar saja. "Ayo, Nak. Ibu antar ke kamar tamu, tapi harap maklum dengan kondisi kamarnya." Bu Heny memohon Gadis dapat memaklumi keadaan rumahnya, sebab ia dan suaminya tidak ingin memanfaatkan menantunya yang kaya raya lalu membangun rumah besar dan mewah.
"Oh, iya, Tante." Gadis kemudian berdiri mengikuti arah langkah Ibu Heny, sementara Haikal pun berjalan ke kamarnya.
***
Pintu kamar tamu dibuka Bu Heny. Pandangan mata Gadis langsung mengedar ke seluruh sudut kamar tamu rumah orang tua Haikal. Bukan bermaksud tidak sopan, tapi siapa pun pasti akan refleks melakukan hal yang sama dengannya jika memasuki ruangan yang baru pertama kali dikunjungi.
"Semoga kamu betah di sini, Nak." harap Bu Heny.
"Iya, Tante." sahut Gadis.
"Panggil Ibu saja seperti Airin dan Haikal, Nak." Ibu Heny menepuk pundak Gadis, meminta memanggilnya 'Ibu' agar lebih akrab.
"Oh, iya, Tan ... eh, Bu." Gadis tentu saja menyetujui permintaan Ibu Heny. Dia menganggap itu adalah pertanda jika ia sudah diterima baik oleh keluarga Haikal.
"Ibu tinggal dulu, kamu istirahat saja biar nanti sore bisa ikut Haikal antar Luna ke pemancingan," ujar Bu Heny berpamitan.
"Iya, Bu. Terima kasih ..." sahut Gadis membiarkan Bu Heny keluar dari kamar itu.
Setelah menutup pintu kamar, Gadis menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur yang tidak terlalu empuk seperti yang ada di kamarnya, namun Gadis tidak mempermasalahkan hal itu, sebab rasa bahagianya menutupi segala kekurangan fasilitas yang dia dapatkan saat ini.
***
Gadis memperhatikan Haikal yang sedang memancing ikan di pemancingan umum. Ini pertama kalinya ia ikut ke tempat pemancingan. Tentunya kehadiran Gadis yang cantik dengab wangi khas orang-orang kaya menjadi pusat perhatian orang yang ada di sana.
__ADS_1
"Om, Luna mau mancing juga." Luna meminta alat pancing yang ada di tangan Haikal.
Keasyikan Gadis memandang Haikal terganggu saat mendengar suara Luna.
"Luna mau ikut mancing? Sini ...!" Haikal membiarkan Luna duduk di pangkuannya sementara alat pancing ikut dipegang juga oleh Luna.
Gadis tersenyum melihat sepasang Om dan ponakan itu. Haikal terlihat sabar dalam mengasuh Luna, terlihat sekali jika Haikal begitu menyayangi keponakannya.
"Om, belat Om. talinya ada yang talik-talik." Luna beteriak, sebab ia merasakan senar alat pancingnya tertahan di bawah air kolam.
"Wah, kita dapat ikannya, Luna." Haikal langsung mengangkat alat pancingnya dan menggulung senar pancingnya. Dan benar saja seekor ikan terlihat tersangkut di kali pancing.
Gadis ikut senang sampai bertepuk tangan saat Luna berhasil menangkap satu ikan berukuran besar.
"Ikannya besal, Om. Holeee ... Luna dapat ikan besal." Luna melompat kegirangan.
"Kamu ingin coba mancing juga?" Pertanyaan Haikal membuat Gadis terkesiap.
"Aku tidak bisa memancing," tolak Gadis.
"Mau aku ajari?" tanya Haikal kemudian.
Seketika pikiran Gadis membayangkan akan mendapatkan perhatian seperti yang didapatkan Luna. Haikal akan berdiri di belakangnya lalu membantunya melontarkan tali senar, memegang joran pancing dan menunggu umpan yang dipasang di kail dimakan oleh ikan, lalu dia dan Haikal akan menggulung tali senar pancingan itu. Ah, betapa senangnya, itulah yang ada dalam angan-angan Gadis
"Aku mau, Kak." angguknya setuju.
"Ini." Haikal menyerahkan alat pancing yang sudah ia pasangkan umpan. "Kamu lontarkan saja talib senarnya, tunggu sampai terasa berat seperti ada yang menarik dari dalam kolam baru kamu angkat dengan menggulung senangnya," ujar Haikal menjelaskan apa yang harus dilakukan Gadis. Setelah itu Haikal duduk mengambil botol air mineral dan meneguknya.
Gadis seketika memberengutkan wajahnya. Ternyata Haikal hanya mengajarkan teori saja, bukan praktek seperti yang ia bayangkan tadi. Dia pun terpaksa melakukan apa yang diperintahkan oleh Haikal dengan menggerutu dalam hati.
Air muka Gadis yang berubah tertangkap mata oleh Haikal. Pria itu hanya menahan senyuman, membayangkan apa yang sedang dirasakan oleh Gadis. Dia tahu, jika Gadis mengharapkan lebih dari sekedar ucapannya tadi.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading❤️